Paris, 2021.
Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.
Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.
Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.
Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.
Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.
Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Je Suis Là Pour Toi ( Aku Di Sini Untukmu), Miss.
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
Wulan memilih kursi outdoor di cafetaria sekolah untuk menikmati makan siangnya. Sembari mengunyah cheesy crouton yang ada dalam french onion soupnya, matanya tak beralih dari buku yang ada di tangannya. L'existentialisme est un humanisme (eksistensialisme adalah humanisme) karya filsuf kontemporer Perancis, Jean - Paul Sartre yang selalu menemani Wulan di waktu senggangnya.
"Bonjour (halo) , Wulan ...."
Suara itu memaksa Wulan mengangkat kepalanya. Wajah Max dengan senyumnya yang tersungging manis terpampang di hadapannya. Menatapnya dengan tatapan jahil yang membuat Wulan memutar kedua bola matanya jengah.
Max meletakkan buku sketsa berwarna cokelat muda ke atas meja, lalu memainkan pensilnya di jemari tangannya.
"Kau masih marah padaku?" tanya Max yang merasa diacuhkan oleh Ibu Gurunya itu.
"Aku tidak marah," jawab Wulan tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang tengah dibacanya. "Kau mau memesan sesuatu?"
"Bien sûre (tentu)," sahut Max cepat. "Aku pesan satu senyuman darimu," kekehnya.
"Max!" Wulan mendecak. "Menyebalkan sekali," gerutunya sembari menutup buku di tangannya.
Max tergelak. Dilihatnya pipi Wulan bersemu merah. Ia segera meraih buku sketsanya dan membukanya. Lalu ia mulai memainkan pensil di atasnya.
"Hei, Anak Nakal!" panggil Wulan setengah berseru. "Kau masih berhutang penjelasan padaku."
"Apa?" tanya Max tanpa melihat ke arah Wulan. Ia masih sibuk menggambar sesuatu di atas kertas.
"Apa yang terjadi malam itu? Kenapa kau datang ke apartemenku dengan wajah babak belur?"
"Ada yang memukuliku."
"Kenapa?"
"Mana aku tahu, Miss." Max memandang sekilas pada Wulan. Lalu kembali sibuk dengan buku sketsanya.
"Tidak mungkin ada yang memukulimu tanpa alasan."
Max menghela nafasnya pelan. "Mungkin rivalku berjualan cannabis," ujarnya asal. Namun sejurus kemudian ia menutup mulutnya ketika melihat Wulan membelalakkan matanya karena terkejut dengan jawabannya.
"Merde (sial)," maki Max yang merasa keceplosan.
"Kau berjualan cannabis?" Wulan terpekik. Namun suaranya terdengar berbisik. Sembari kepalanya menoleh ke sana kemari memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka. "Kau gila, Max!"
"Tenanglah, Miss," ucap Max seraya menutup buku sketsanya. "Jangan panik."
"Kau tahu resikonya kan, Max?"
"Aku tahu," jawab Max dengan santainya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong jaketnya. "Boleh aku merokok, Miss?"
"Tidak!" seru Wulan sembari merebut bungkus rokok dari tangan Max. Lalu menjauhkannya dari jangkauan anak itu. "Jangan merokok di lingkungan sekolah. Kau ini, memang benar - benar bandel!" hardiknya.
Max meringis. Ia senang melihat Wulan marah - marah seperti itu. Ibu Gurunya itu terlihat meggemaskan.
"Hentikan, Max. Kau akan bermasalah dengan polisi," ujar Wulan. Membicarakan tentang pekerjaannya berjualan cannabis.
"Selama ini aku tidak pernah mendapat masalah," sanggah Max. Ia membuka kembali buku sketsanya, lalu melanjutkan coretannya.
"Belum saja," sahut Wulan cepat. "Cannabis hanya boleh digunakan untuk keperluan medis, Max. Bukan diperjualbelikan oleh sembarang orang."
"Aku tahu, Miss. Kau tidak perlu menjelaskannya."
"Kau harus berhenti, Max," kata Wulan. "Aku tidak mau kau celaka."
Max menaikkan alisnya. Lalu senyum miringnya terbit. "Kau sangat memperdulikanku, Miss."
Wulan menepuk jidatnya pelan. "Aku peduli pada semua murid - muridku."
Max mendecak. "Kau selalu saja mengatakan hal seperti itu."
"Jangan mulai, Max!" Wulan memberi peringatan.
"Miss ...." Max bergumam memanggil Wulan yang kini telah berkutat dengan bukunya kembali. Ia memeriksa coretannya sejenak. Memberi sentuhan terakhir selama satu menit.
"Hmmm ...."
"Aku bersimpati padamu," ucapnya sembari menutup buku sketsanya.
"Apa maksudmu, Max?" Wulan tak begitu menanggapi kata - kata pemuda itu. Pikirannya terbagi dengan buku bacaannya.
"Masalahmu dengan mantan suamimu itu," kata Max. "Aku ingat sewaktu si jelek itu memamerkan kekasihnya padamu. Kau terlihat sangat terpukul."
"Tahu apa kau, Max. Aku baik - baik saja, okay?"
"Miss ... aku tahu kau tidak baik - baik saja. Aku pernah melihatmu menangis di pinggir jalan."
"Apa?" Kini perhatian Wulan sepenuhnya tertuju pada Max. Ia meletakkan bukunya ke atas meja. Lalu menyipitkan matanya memandang penuh curiga pada anak itu.
Max mengangkat tangannya. "Aku tidak menguntitmu, Miss. Sumpah," tegasnya. "Aku tidak sengaja melihatmu waktu itu, di depan toko liquor."
Wulan mendecak. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Miss Wulan ... seandainya ada pria yang ... menyukaimu, apa kau akan membuka hatimu untuknya?" tanya Max hati - hati. "Tapi bukan Damien," lanjutnya dengan cepat.
Entah bagaimana, rasanya Wulan ingin tertawa keras mendengar penuturan anak bengal di hadapannya ini. Namun yang keluar dari mulutnya hanya kekehan kecil.
"Aku serius." Max melipat kedua lengannya di depan dada. Mata birunya menatap Wulan lekat - lekat.
"Kenapa aku harus membicarakan masalah pribadiku dengan anak bandel sepertimu?" tanya Wulan. Namun tak ia tujukan pada Max. Lebih kepada pertanyaan untuk dirinya sendiri.
Max menghela napasnya pelan. "Kau tidak pernah menganggap serius kata - kataku, Miss."
"Sebenarnya kau ini sedang bicara apa, Max?"
"Intinya aku hanya ingin kau tahu sesuatu." Max menelan ludahnya. "Je suis la pour toi (aku di sini untukmu), jika suatu saat kau memutuskan untuk membuka hatimu kembali."
Wulan terpaku mendengar ucapan Max. Untuk sesaat ia berusaha mencerna kata - kata anak umur enam belas tahun di depannya ini. Lidahnya pun terasa kelu hingga tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Ya sudahlah, Miss. Lupakan saja. Sepertinya otakku sedang tidak beres." Max menyobek kertas dari dalam buku sketsanya dan menyerahkannya pada Wulan.
"Kenapa wajahku terlihat jelek sekali?" protes Wulan begitu melihat gambar dirinya di atas kertas.
Max terbahak. "Memang wajahmu terlihat seperti itu saat sedang cemberut," ujarnya seraya bangkit dari duduknya dengan cepat, menghindari Wulan yang sudah bersiap - siap untuk memukulkan buku ke kepalanya.
***
STALINGRAD, SURESNES.
"Senang berbisnis denganmu."
Max memasukkan beberapa lembar euro ke dalam dompetnya. Lalu mengulurkan telapak tangannya yang terkepal, disambut oleh kepalan tangan seseorang bermantel hitam di depannya.
"Ciao," ujar Max sembari melambai padanya dan berlalu.
Ia berjalan menelusuri trotoar lengang komplek apartemen kumuh Stalingrad menuju gedung di mana ia tinggal.
Matanya menangkap sesosok gadis yang tengah duduk bersandar di dinding gedung, menelungkupkan kepala pada lututnya dan tubuhnya tergoncang karena tangisan. Di sebelahnya tampak satu botol whiskey yang telah kosong setengahnya.
Ia pun mendekat. Kepalanya menggeleng begitu mengetahui siapa gadis itu.
"Nadia!" panggilnya.
Nadia mendongak. Wajahnya sembab oleh air mata dan juga maskara hitam yang meleleh di pipinya.
"Max ...." Bibir Nadia bergetar. Air matanya bertambah deras.
Max berjongkok di depan Nadia dan menyentuh lengan gadis itu lembut. "C'est quoi ça encore (ada apa lagi ini)?" tanyanya. "Si Brengsek itu lagi, hah?"
Tangis Nadia semakin menjadi. Dia menghambur ke pelukan Max dan terisak - isak di sana.
"Hei, Nad, calme toi (tenanglah)," hiburnya sembari mengusap lembut punggung gadis itu.
"Dia meninggalkanku. Damien benar - benar meninggalkanku. Dia bilang akan mengejar Guru baru sialan itu!" serunya di sela - sela tangisannya.
Dada Max berdebar kencang. Rasa geram tiba - tiba memenuhi ruang hatinya. Tangannya pun terkepal.
"Max ...." lirih Nadia. "Aku hamil ...."
"Quoi (apa)?" Max mendorong tubuh Nadia secara spontan. "Qu'est que tu dis (apa yang yang kau katakan)?" erangnya.
Nadia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya kembali pecah.
"Putain de merde (sialan)!"
"Fils de pute (baji ngan)!"
"Quelle connard alors (dasar kepa rat)!"
"Je vais le tuer, putain (aku akan membunuhnya, sialan)!"
Entah berapa banyak kata - kata sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. Ia menendang bak sampah yang berada tak jauh darinya. Sementara Nadia hanya menangis dan menutupi telinganya. Ia tak sanggup mendengar makian Max.
"Putain (sialan)!" Max memijit keningnya. Ia mengatur napasnya yang terengah. Bayangan wajah teduh Nyonya Dasia Kareem terlintas begitu saja. Ia tak akan sanggup melihat wanita itu bersedih. Ibu angkatnya itu seorang Muslim yang taat, menjunjung tinggi aturan - aturan agamanya. Ia pasti akan sangat terpukul mendengar anak gadis satu - satunya, yang menjadi tumpuan harapannya, hamil tanpa suami di usia yang masih enam belas tahun.
"Oh, putain!"
Lagi, Max memaki.
***
***
***
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
modyaaarrrrr😡😡😡
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍