Anastasya menikah dengan Abimayu karena perjodohan orang tua mereka. Namun setelah menikah Abimayu bersikap acuh kepada Ana karena dia belum bisa menerima Ana dalam hidupnya. Sedangkan Ana telah lama jatuh cinta kepada Abimayu sejak pertama kali melihatnya. Ana terus berusaha untuk membuat Abimayu agar bisa menerima dirinya. Tapi Abimayu tetap tidak bisa menerimanya setelah mengetahui Ana adalah wanita yang suka pergi ke klub malam.
Mampukah Ana meluluhkan Abimayu sampai Abimayu menerimanya?
Mampukah Ana bertahan mencintai Abimayu disaat Abimayu selalu mengabaikannya?
jangan lupa lanjutkan baca kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adwiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Abimayu memberikan kode melalui matanya kepada Ana supaya membantu Umi Aida yang ingin mencuci piring. Ana sempat melihat arah mata yang di tuju Abimayu, tapi dia tidak peduli.
"Aku kepanasan," ucap Ana sambil menarik hijab dari kepalanya.
Abimayu melebarkan bola matanya melihat Ana.
"Aku benar-benar kepanasan, Mas! Aku tidak berbohong! sambil Ana mengisahkan tangan di wajahnya.
Umi Aida yang awalnya membelakangi mereka membalikkan tubuhnya mendengar perkataan Ana.
"Tidak apa, Nak. Di rumah juga hanya ada kita saja." Umi Aida berkata karena melihat Ana yang sudah berkeringat sambil.
"Maaf, Umi. aku benar-benar gerah." Ana tambah berani karena Umi Aida tidak mempermasalahkan dirinya yang membuka hijabnya, kecuali Abimayu yang sejak tadi terlihat menahan kesal melihat Ana.
Abimayu hanya malu kepada Umi Aida ketika dia melihat rambut Ana yang berwarna. Makanya, dia melarang keras Ana agar tidak membuka jilbab di kepalanya saat berada di rumah orang tuanya.
"Umi saja tidak masalah," sindir Ana kepada Abimayu.
Mendengar itu Umi Aida tersenyum lalu kembali berbalik melanjutkan pekerjaannya.
Abimayu berdiri dan berjalan mendekati umi nya yang sedang membersihkan piring kotor. Dia berniat akan membantu.
"Tidak usah, Nak! Biar Umi saja!" sambil menahan tangan Abimayu yang sudah ingin memegang piring kotor.
"Biasanya juga Abi membantu Umi. Kenapa sekarang tidak boleh." Abimayu berkata dengan sedikit kesal karena selama ini, dia selalu membantu umi nya mencuci piring saat dia berkunjung.
"Kali ini biar Umi sendiri saja, tidak malu dilihat sama istri kalau suaminya suka cuci piring?" goda Umi Aida.
"Kenapa harus malu, Umi. Daripada kita hanya bisa jadi orang yang tidak bisa apa-apa." Abimayu berkata untuk menyadarkan Ana.
"Hemmmmm, beruntungnya Ana punya seorang suami yang penolong begini, jadi dia tidak perlu susah lagi jika ada piring kotor di rumah." Umi Aida sambil melihat ke arah Ana, karena dia hanya berniat untuk menggoda sepasang suami istri itu.
Di tempat duduknya, Ana juga tersenyum kecil mendengar perkataan Umi Aida karena yang dikatakan oleh mertuanya itu berbanding terbalik dengan keadaan yang sebenarnya.
"Kalian istirahat dulu saja! Biarkan Umi yang membereskan semuanya," suruh Umi Aida kepada Abimayu dan Ana.
Ana hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari kursi tempatnya duduk. Meski dia sudah tahu maksud dari Abimayu, dia tetap mengabaikan karena selama ini dia tidak pernah mengerjakan yang namanya pekerjaan rumah. Dia akan menggunakan uangnya untuk membayar seorang pelayan mengerjakan semuanya. Makanya tidak ada niat hatinya sedikit pun untuk membantu Umi Aida saat ini.
Ana berpamitan lebih dulu untuk istirahat, karena merasa sangat lelah.
"Abi, jangan terlalu keras dengan Ana." Umi Aida berkata pelan setelah Ana pergi meninggalkan mereka.
"Abi hanya mengingatkan, Umi."
"Umi tahu, tapi kamu tidak boleh menegurnya dengan cara keras, lagian tidak masalah jika Ana membuka hijabnya saat di rumah, di sini juga hanya ada kita."
"Tapi, Um...,"
"Abi, kamu jangan katakan jika kamu tidak tahu bagaimana hukum berhijab bagi wanita."
"Abi tau, Umi."
"Lalu kenapa kamu seolah melarang Ana untuk membuka hijabnya ketika di rumah, meskipun ini adalah sebuah pesantren, tapi jika Ana di rumah, tidak masalah dengan semua itu." Umi Aida akhirnya memberikan pemahaman lagi kepada Abimayu.
"Bukan karena itu, Umi."
"Jika bukan karena itu, apalagi, Nak?"
Abimayu hanya diam sambil menghela nafas. Uminya hanya mengetahui Ana yang tidak ingin memakai hijabnya ketika di rumah, makanya dia menegurnya karena terlihat keras memberitahu Ana. Padahal uminya tidak mengetahui jika Ana akan lebih dari sekedar tidak berhijab dari situ jika di luar rumah. Bagaimana jika uminya tahu Ana yang sebenarnya?
Umi Aida masih tidak mengizinkan Abimayu untuk membantunya, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke kamar menyusul Ana.
Saat tiba di kamar, Abimayu melihat Ana yang telah mengganti pakaiannya.
"Kamu jangan pernah keluar dari kamar menggunakan pakaian begini." Abimayu mengingatkan saat Ana telah mengganti pakaiannya yang tertutup dengan pakaiannya yang dia bawa dari rumah, dan pakaian itu seperti biasa, terlihat seksi.
"Kenapa semuanya harus tidak boleh aku gunakan? ini pakaianku, aku berhak memakainya!" protes Ana.
"Ini bukan tempat di mana kamu bisa berpakaian semaunya! Di sini ada peraturan dan tata caranya berpakaian, tidak seperti di luaran di mana kamu bisa berpakaian semaumu."
"Ini juga masih di dalam rumah, Mas." Ana berkata sedikit kuat karena tidak tahan terus di sudutkan Abimayu masalah pakaian yang dia pakai.
"Pelan kan sedikit suaramu! Jangan sampai terdengar oleh umi," tegur Abimayu.
"Biarkan saja umi mendengar, aku tidak peduli."
Keangkuahan Ana kembali muncul setelah dia berhasil menahannya sejak tadi. Semuanya disebabkan oleh Abimayu karena yang dilakukan Ana semua salah di matanya.
"Aku ingatkan lagi, jangan keluar memakai pakaian ini! Jika kamu keluar dari kamar, pakai pakaian yang sudah aku belikan, dan jangan lupakan hijabmu!"
"Aku tidak suka memakai pakaian seperti itu, Mas. Rasanya sangat gerah dan panas." Ana tetap membantah perkataan Abimayu.
"Setidaknya, selama di sini kamu jangan tunjukkan dirimu yang menjijikkan itu kepada orang tuaku. Biarkan mereka mengetahui kamu adalah seorang wanita yang baik, sopan dan penurut. Biarkan orang tuaku berfikir seperti itu, meskipun sebenarnya kamu tidak pantas mendapatkan gelar itu."
Ana menatap Abimayu dengan tajam karena ucapan Abimayu kembali menyakiti hatinnya.
"Ayo istirahat! aku lelah dan ingin istirahat!" ajak Ana akhirnya karena lelah berdebat dengan Abimayu.
"Terserah kamu, ingat apa yang aku katakan. Jangan keluar dengan pakaian burukmu ini!hargai orang tuaku yang mengikhlaskan anaknya menikahi wanita kotor sepertimu. Lakukan itu untuk orang tuaku. Jika kamu tidak mendengarkan, jangan salahkan aku kalau orang tuamu mengetahui masa lalumu."
Ana terdiam, karena ancaman Abimayu mampu membuatnya takut. Saat ini dia memang masih menyembunyikan dari orang tuanya tentang dia yang sering pergi ke klub malam, karena sejak dulu orang tuanya sangat melarangnya untuk mendatangi tempat itu.
Meskipun dia suka pergi ke klub malam, tapi dia bisa menjamin bahwa dirinya tidak pernah di sentuh oleh pria di klub itu, karena jika dia pergi ke situ, dia tidak akan melakukan hal yang macam-macam. Dia hanya menikmati musik sambil berjoged dengan Risa, dan mereka sama sekali tidak pernah minum di klub itu. Meskipun orang lain tidak percaya jika mereka mengatakan diri mereka tidak pernah di sentuh oleh pria, mereka tidak akan peduli, karena hanya diri mereka lah yang tahu apa yang dilakukan mereka sebenarnya.
Melihat Ana yang terdiam, Abimayu merasa menang karena mampu membuat sang istri yang keras kepala tidak melawannya lagi.