Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.
Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.
Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Rachel mengangkat lilin itu tinggi-tinggi dan memeriksa lantai sejauh jangkauan penerangan yang milikinya. Ia tahu para tikus ini menyukai gudang bawah tanah yang gelap dan lembap, sedangkan ia sama sekali tidak menyukainya, ia sangat takut dan jijik dengan tikus.
Saat tak ada sesuatu yang melintas di lantai, dilewatinya dua peti selebar dua meter dan mengarah ke kotak sekring. Di sana ada sepeda statis yang pernah digunakan kakek Robert untuk menjaga kebugaran tubuh. Ada juga lemari setinggi jarak ubin ke langit-langit yang berisikan botol-botol tua. Kakeknya itu pernah dibuat kagum oleh pemotong botol seharga sepuluh juta rupiah. Dan di sana, Rachel melihat sambil mendesah lega, ada kotak sekring yang ia cari-cari. Diletakkannya lilin itu di atas tumpukan kotak, lalu dibukanya pintu besi besar itu dan ia menatap ke dalamnya. Sama sekali tidak ada sekring di situ.
“Apa-apaan ini?” rutuknya. Kemudian sewaktu ia bergerak untuk melihat lebih dekat lagi, kakinya merasakan sesuatu merayap melintasi lantai beton itu. Terguncang kaget, diredamnya teriakan dan hasrat untuk lari. Sambil menahan napas ia menunggu di dalam kegelapan.
Ketika ia sudah dapat mengendalikan dirinya untuk lebih rileks, diangkatnya lilin itu lagi lalu membungkuk rendah. Lusinan sekring berserakan di kakinya. Ia memungut dan kemudian menggenggamnya. Gudang bawah tanah mungkin punya kuota tikusnya sendiri tapi tikus-tikus itu tidak cukup cekatan untuk bisa mengosongkan kotak sekring.
Rachel merasa sedikit gentar, yang diabaikannya saat mulai mengumpulkan sekring-sekring itu. Tipuan, katanya pada diri sendiri. Hanya tipuan konyol. Menjengkelkan, tapi tidak separah yang terjadi di ruang kerjanya. Ini malah sama sekali bukan tipuan yang cerdik, pikirnya. Ia mengembalikan sekring ke tempatnya sama mudahnya dengan mengeluarkannya dari kotaknya.
Bekerja dengan cepat, dan mencoba untuk tidak melihat ke belakang Rachel mengembalikan sekring-sekring itu ke tempatnya. Siapa pun yang telah berhasil memasuki ruang bawah tanah dan memainkan permainan ini sudah membuang-buang waktunya.
Setelah selesai, ia berjalan ke arah tangga. Namun desah leganya berubah menjadi panik. Pintu yang sudah ia biarkan terbuka kini tertutup rapat. Selama beberapa saat ia hanya bisa terpaku, menolak untuk mempercayai kenyataan itu.
Diputarnya pegangan pintu itu, ditekannya, didorong dan diputarnya lagi. Lalu ia melupakan segalanya kecuali rasa takut dikurung di tempat gelap. Rachel memukul-mukul pintu itu, berteriak, memohon, lalu menjatuhkan diri dengan lunglai di anak tangga teratas. Tidak ada orang yang bisa mendengarnya. Nyoman dan Jesica ada di bagian lain dari rumah itu.
Selama lima menit ia menyerah pada rasa takut dan mengasihani diri sendiri. Ia sendirian, sungguh-sungguh sendirian, terkurung di gudang bawah tanah yang gelap yang tak seorang pun akan mendengarnya sampai pagi. Udara sudah dingin dan bertambah dingin. Saat pagi tiba… lilin-lilinnya sudah terbakar habis, hingga ia tidak punya penerangan lagi. Itulah yang terburuk, hal terburuk, tidak mempunyai cahaya.
Cahaya, pikirnya, dan menyebut dirinya sendiri idiot seraya mengusap air matanya. Bukankah ia baru saja memperbaiki lampu? Bergegas naik, Rachel memijit tombol di ujung tangga teratas. Tak terjadi apa-apa. Meredam teriakannya, diangkatnya lilinnya. Stop kontak di dinding dekat tangga sudah kosong.
Jadi, mereka berpikir untuk mencabut bola lampunya. Ternyata tipuan ini cukup cerdik. Ditelannya kepanikannya dan mencoba untuk berpikir. Mereka menginginkannya menjadi bingung tak keruan, dan ia menolak untuk memberi mereka kepuasan itu. Kalau ia berhasil menemukan siapa dari keluarganya yang penyayang itu memainkan permainan nakal ini…
Sekarang ia akan mencari jalan keluar dulu. Ia menggigil, tapi ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu disebabkan kemarahannya. Ada saatnya berbohong pada diri sendiri untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Ia memegang sisa lilin itu tinggi-tinggi, dipaksanya dirinya untuk menuruni tangga itu lagi ketika berdiri gemetar ketakutan di atas sepertinya terasa sangat lebih mudah.
Gudang bawah tanah itu berukuran dua kali lebih besar dari apartemennya, terbuka dan mirip gudang tanpa ada satu dari banyak ornamen dekorasi yang cenderung disukai Kakek Robert. Tempat itu gelap dan agak lembap dengan lantai beton serta dinding batu yang bergema. Sekarang ini Rachel tidak akan memikirkan laba-laba maupun makhluk-makhluk kecil yang bergegas lari ke pojok. Pelan-pelan, mencoba bersikap tetap tenang, ia mencari jalan untuk keluar,
Tak ada pintu, tapi ia berdiri beberapa kaki di bawah tanah. Seperti di dalam kuburan. Pikiran semacam itu tidak membantu menenangkan sarafnya yang sedang tegang, jadi ia berupaya memikirkan hal lain saja. Ia baru beberapa kali pergi ke gudang bawah tanah itu, sehingga tidak terlalu paham seluk-beluknya. Kini ia harus memikirkannya lagi dan berpura-pura telapak tangannya tidak basah oleh keringat.
Dilewatinya setumpuk kotak setinggi bahu, lalu berteriak keras sewaktu menabrak sarang laba-laba. Lebih jijik dibandingkan takut, dikibaskannya sarang jaring itu. Ia bukan jenis orang yang gemar membuat dirinya sendiri tampak konyol, walaupun tidak ada seorang pun yang hadir untuk menontonnya. Seseorang harus membayar hal ini, batinnya sambil berpikir keras demi mencari jalan keluar.
Kemudian ia melihat jendela, sekitar satu setengah meter di atas kepalanya dan berukuran mungil. Meskipun jendela itu lebih kecil ukurannya dari jendela yang biasa dibangun di atas pintu, Rachel nyaris pingsan karena lega. Setelah menaruh lilinnya di sebuah rak, ia mulai menumpuk kotak-kotak itu. Otot-ototnya terasa nyeri dan punggungnya seakan protes, tapi ia terus mengangkut dan menyusun kotak-kotak itu di dinding. Serpihan tajam pertama yang menggores kulitnya membuatnya menyumpah-nyumpah.
Setelah serpihan ketiga, ia berhenti menghitung. Tersengal-sengal, dengan peluh mengalir di kulit, ia bersandar di tangga buatannya. Sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah menaikinya. Dengan lilin di sebelah tangan, lalu ia menggunakan tangan yang sebelah lagi untuk membantu dirinya naik ke atas. Nyala lilin itu bergoyang kian kemari.
Kotak-kotak itu berdecit dan menjerit sedikit. Suatu gagasan terbentuk di benaknya bahwa kalau ia jatuh, ia bisa berbaring lunglai di atas beton dingin dengan tulang patah sampai esok pagi. Didorongnya tubuhnya untuk naik dan sama sekali menolak untuk berpikir.
Ketika sudah mencapai jendela, ia menemukan gerendel kecil yang sudah berkarat dan sulit dibuka. Sambil menyumpah-nyumpah dan berdoa, diseimbangkannya lilin pada kotak di bawahnya dan digunakannya kedua tangannya. Ia mencoba membuka gerendel itu, tapi kemudian tersangkut lagi.
Jika saja ia sempat berpikir untuk mengambil peralatan sebelum memanjat ke atas. Ia mempertimbangkan untuk turun kembali dan menemukan sepotong peralatan, lalu berbuat kesalahan dengan melihat ke belakang. Tumpukan kotak itu kelihatan lebih reyot lagi dari atas sangat menyeramkan.
selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰