NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 | KESEPAKATAN DINGIN

Sepasang chunky sneakers itu berhenti tepat di depan pintu masuk Ethereal Blue. Sang pemilik sepatu cukup tahu diri untuk tidak melangkah terlalu dekat dengan Summer yang kini terlihat tertegun.

Keheningan berdetak dengan cara yang terkesan carut-marut, seturut dengan perasaan gugup yang menghinggapi Alkaios. Napasnya sudah garau, namun ia memaksakan diri untuk menampilkan versinya yang paling tenang dan bersinar, seolah-olah bertemu kembali dengan Summer Victoria bukanlah sesuatu yang mendebarkan.

Tahu-tahu tangan Alkaios sudah terangkat, sebentuk senyuman mengembang di bibirnya. “Hai, lama tidak bertemu, Summer.”

Alkaios mungkin akan kabur terbirit-birit kalau Summer menyambutnya dengan ramah layaknya berjumpa dengan teman lama. Tentu saja reaksi perempuan itu persis seperti yang diperkirakannya: gigi terkatup, jemari mengepal di sisi tubuh, tatapan menghunus dan siaga seakan tengah bersiap menyambar pisau untuk dilemparkan ke muka Alkaios yang tampan—setidaknya ia masih tampan dalam keadaan genting seperti ini.

Namun, orang tampan juga bisa canggung kalau tangannya yang terangkat untuk menyapa tidak kunjung bersambut. Tentu Alkaios tidak mengharapkan sambutan normal, namun Summer setidaknya bisa membentaknya, mengusirnya, atau melemparkan vas tinggi di meja di dekatnya—apa pun yang bisa membuat Alkaios menurunkan tangannya tanpa terlihat bodoh.

Karena tidak ada tanda-tanda Summer akan beranjak dari tempatnya atau menyemburkan umpatan, akhirnya Alkaios berdeham kecil dan pelan-pelan menurunkan tangannya. Kalimat “pasti terlihat tolol” berputar-putar di kepalanya sementara diam-diam ia menelan ludah.

“Apa kau akan menjawab dengan baik kalau aku menanyakan kabarmu?” Alkaios kembali membuka suara setelah keheningan yang terasa seperti seabad.

“Tidak,” jawab Summer kelewat ketus—yang membuat senyum tipis penuh kelegaan terselip di sudut bibir Alkaios. “Kalau kau ke sini untuk makan, sebaiknya kau pergi sekarang karena restoran sudah tutup.”

“Aku tahu. Aku ke sini karena ada urusan. Boleh … aku mendekat?” Alkaios bertanya ragu, mulai mencoba peruntungannya.

“Tetap di tempatmu.” Summer menyorot tajam dan dingin.

“Baiklah, baiklah.” Kedua tangan Alkaios terangkat, ingin memberi tahu jika Summer tidak perlu repot-repot melemparnya dengan meja—karena meja hitam itu terlihat berat—untuk memastikan ia tetap berada di depan pintu masuk. “Kelihatannya kau baik-baik saja, aku lega ….”

“Apa kau ke sini hanya untuk menunjukkan betapa murah hati dan lugunya dirimu? Kalau ingin berbasa-basi sebaiknya kau angkat kaki dari sini karena aku muak melihatmu.”

Kata-kata menyinggung Summer ini malah membuat kelegaan semakin membajiri Alkaios. “Senang melihatmu berubah banyak. Seharusnya sejak dulu kau memaki dan menendangku, dengan begitu siapa tahu kau bisa sedikit memaafkanku sekarang.”

Summer menggulir matanya ke kiri dengan jemu. “Keluar dengan kakimu sendiri sekarang atau kupanggil polisi untuk menyeretmu pergi.”

“Summer,” panggil Alkaios, suaranya melindap seperti gumaman rendah. “Aku tahu kau masih sangat membenciku. Aku juga tahu jika aku tidak berhak meminta pengampunanmu. Tapi, izinkan aku meminta maaf dengan layak, atas memori menyakitkan yang aku berikan padamu, atas ketakutan yang harus kau alami, dan atas tindakan rendahan dan pengecutku.”

“Kau akan bilang jika tindakanmu dulu adalah bentuk kesalahan karena belum dewasa?”

Ruangan itu menyisakan lengang sejenak, lalu Alkaios berucap dengan nada muram, “Tidak, aku tidak berniat berkata begitu. Tingkat kedewasaan sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk menyakiti orang lain. Aku tidak ingin berdalih.”

Perubahan laten membayang pada air muka Summer, seolah Alkaios bisa melihat celah kecil di pintu baja tangguh nan tinggi. Mungkin akhirnya kesungguhan Alkaios berhasil melunakkan sesuatu dalam diri Summer.

“Itu murni kesalahanku, tindakan yang bodoh.” Alkaios tidak ingin membuang peluang ketika pertahanan Summer sedikit melonggar seperti ini. Ia harus maju bagaimanapun caranya. “Aku tidak meminta kau memaafkanku, tapi jika ada yang ingin kau lakukan padaku untuk menyalurkan kemarahanmu, aku akan menerimanya dengan senang hati.”

“Kau akan menerimanya?” Summer tertawa mencemooh.

Yah, rupanya Alkaios masih sangat menyedihkan dalam memanfaatkan situasi. Celah itu baru saja ditambal Summer dengan semen berlapis, lalu Summer membangun benteng pertahanan baru yang lebih kokoh. Alkaios bukan penggemar Julius Caesar, jadi ia tidak akan memakai cara blokade rumit dan kejam untuk mendesak Summer agar keluar dari bentengnya dan memaafkannya dengan terpaksa. Alkaios lebih suka menggunakan cara seperti mekanisme quantum tunneling, di mana ia bisa menembus benteng pertahanan Summer tanpa perlu meninggalkan lecet sedikit pun di gerbangnya, tahu-tahu ia sudah berada di dalam sana, bahkan Summer sendiri tidak akan sadar jika ia sudah memaafkan Alkaios.

“Pergilah. Hanya itu satu-satunya cara kau membantuku,” kata Summer, kemuakan tergambar jelas di wajahnya. “Jangan berani muncul di hadapanku lagi, dan hiduplah seperti kau tidak pernah mengenalku.”

Tanpa menunggu reaksi Alkaios, Summer berbalik. Rambut hitam panjangnya yang sedikit beriak seirama dengan langkahnya yang cepat, memunculkan perasaan keruh yang berpelintir semrawut dalam diri Alkaios.  Ia merapatkan bibir, hanya sebagai persiapan untuk melontarkan sebaris kalimat dalam nada nyaris datar, namun mampu meningkahi malam yang dingin.

“Archilles Meridian … apa kau tidak ingin tahu kenapa dia tidak datang malam ini?”

Langkah Summer sempurna terhenti.

...****...

“Sekarang, boleh aku duduk?”

Bibir Summer terasa rekat oleh keterkejutan. Keterdiamannya dijadikan Alkaios sebagai alasan untuk melangkah mendekat dan duduk di kursi yang dekat dengannya. Namun, air muka Alkaois menunjukkan jika ia tidak keberatan kembali berdiri di depan pintu masuk kalau-kalau Summer membalikkan meja di dekatnya.

“Dia tidak akan datang malam ini,” sambung Alkaios, dengan intonasi tenang. “Allura demam.”

Summer lupa cara bernapas, semata-mata karena keterperangahan yang masih mengimpitnya.

“Melihatmu menunggunya begini, aku bisa langsung menyimpulkan jika kalian tidak bertukar nomor kontak. Sabtu malam di Ethereal Blue adalah satu-satunya cara kalian bertemu dan berinteraksi.”

Tenggorokan Summer terasa perih saat ia berusaha membuka suaranya. “Bagaimana—”

“Tentu saja aku tahu,” Alkaios memotong, tersenyum simpul—jenis senyuman yang pernah Summer lihat pria itu berikan pada Meissa Edwards sementara Summer tunggang langgang untuk menyelamatkan buku resep pemberian neneknya. “Aku belum memperkenalkan diri dengan baik, ya? Aku juga bagian dari keluarga Meridian. Ibuku adalah adik Dimitri Meridian, ayah Archilles. Jadi, yah, Archilles adalah sepupuku … satu-satunya, berbeda nama belakangnya saja karena aku ikut nama keluarga Ayah. Dan beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja melihatnya kemari dengan cara yang menurutku agak mencurigakan, berakhir mengetahui jika dia menemuimu. Kebetulan yang luar biasa.”

Oh, tidak sengaja melihat Archilles—bahkan kaktus Kian yang diberi nama Genevieve Reine Vanderbilt mungkin akan terbahak-bahak sampai durinya rampal mendengar bualan Alkaios. Summer mendadak mengerti mengapa menggunakan “kebetulan” sebagai senjata berdalih terdengar menyedihkan bagi Archilles.

Namun, sebelum itu—sial, berarti ada dua masalah di sini. Pertama, pertemuan rahasia ini bocor. Kedua, posisi Summer akan terbalik menjadi di bawah Alkaios. Ketidakhadiran Archilles menjadi terkesan tidak penting kalau mengingat sekarang Summer memiliki masalah yang lebih krusial. Alkaios sudah punya alat untuk mengendalikan Summer.

“Kau berpikir aku akan mengancammu? Astaga, kau pikir aku seburuk apa?” Alkaios menopang dagunya dengan tangan, pura-pura memberengut.

Summer mendengus. “Lalu apa yang ingin kau lakukan?”

“Membantumu.” Kesungguhan terpancar dalam mata biru pria itu seiring lenyapnya ekspresi main-mainnya. “Ayo kita bekerja sama.”

“Bekerja sama?” Summer menaikkan satu alisnya. “Kau pikir aku butuh bantuan?”

“Aku yakin kau akan butuh bantuanku. Bagaimanapun aku memiliki akses leluasa dalam keluarga Meridian. Aku jelas akan berguna.”

Ada sesuatu yang diinginkan pria itu. Summer bisa langsung mengetahuinya meskipun Alkaios sama sekali tidak memasang tampang mencurigakan. Sudah lebih dari enam tahun sejak Summer terakhir kali melihatnya. Dalam rentang waktu itu, semua orang jelas berubah. Layaknya Summer sendiri yang menjelma menjadi gadis licik dan manipulatif, ia yakin Alkaios juga telah menanggalkan sisi remaja ingusan yang kehidupannya hanya berputar pada harga diri tidak masuk akal dan percintaan bodoh.

“Memangnya apa yang akan kau dapatkan dalam kerja sama ini?” Summer menatap menyelidik pada Alkaios.

“Kau mempertimbangkan untuk mengubah pandanganmu terhadapku,” jawab Alkaios dengan nada penuh, tak tepercik keraguan sedikit pun. “Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang tersisa untukku bisa mengucapkan permintaan maaf dengan benar.”

Apa Alkaios bisa dipercaya? Tentu saja Summer meragukannya. Meskipun ia terlihat sungguh-sungguh dan tulus, ada sekelumit perasaan janggal yang Summer rasakan. Mungkin ini bagian dari perasaan benci terhadap pria itu, mungkin juga karena faktor lain. Semuanya terlalu mendadak, mengejutkan, dan berkerumun dalam pikiran Summer, mengentak-entak hingga membuat napasnya memberat.

Detik semakin berdetak menuntut, Summer mengatupkan matanya erat-erat, lalu berucap satu tingkat lebih keras dari desau angin, “Baiklah.”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!