NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Rasa Yang Tak Bisa Ditakar Resep

Minggu pagi yang seharusnya cerah terasa kelabu di dalam rumah Hannah. Matahari bersinar terik di luar sana, menerobos masuk lewat ventilasi, namun atmosfer di ruang tengah terasa sedingin kutub utara.

Pintu kamar Hannah yang terkunci rapat akhirnya terbuka sedikit. Hannah mengintip keluar. Sepi.

Ia melangkah keluar menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Akbar sedang berdiri di ruang tamu. Suaminya sudah rapi. Bukan dengan kaos oblong santai seperti Minggu biasanya, melainkan dengan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan yang licin. Rambutnya disisir klimis, aroma parfumnya sudah memenuhi ruangan.

Akbar sedang memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya. Saat melihat Hannah keluar, ia menoleh dan tersenyum senyum yang sedikit redup, tidak secerah dulu.

"Sudah bangun, Dek?" sapa Akbar lembut.

Hannah mengangguk kaku, memeluk gelas kosong di dadanya seperti tameng. "Mas mau ke mana? Rapi banget."

"Ada tinjauan lapangan mendadak ke lokasi proyek yang di Bogor. Klien minta meeting di sana sekalian makan siang," jelas Akbar sambil mengancingkan manset lengannya. "Mas pergi sama tim inti. Ada Pak Haryo, tim arsitek, sama Annisa juga karena dia yang pegang data keuangannya."

Nama itu disebut lagi. Annisa.

Dada Hannah terasa sesak seketika. Bayangan wanita tanpa wajah di mimpinya kembali menari-nari, kini perlahan mulai memiliki wajah Annisa yang cantik dan anggun.

"Oh," respon Hannah singkat.

Akbar berjalan mendekat, menatap istrinya penuh harap. "Dek, ikut yuk? Bogor udaranya sejuk. Nanti pas Mas meeting, kamu bisa tunggu di kafe atau jalan-jalan di Kebun Raya. Pulangnya kita bisa mampir beli asinan atau lapis talas. Mas nggak tega ninggalin kamu sendirian di rumah seharian."

Tawaran itu sangat menggoda. Hati kecil Hannah berteriak ingin ikut. Ia ingin menempel pada suaminya, menunjukkan pada Annisa bahwa Akbar adalah miliknya.

Namun, bisikan jahat dari rasa insecure-nya jauh lebih kuat.

"Buat apa ikut? Cuma jadi nyamuk? Cuma jadi anak bawang yang plonga-plongo dengerin mereka ngomongin proyek? Nanti kamu cuma bikin malu Mas Akbar di depan klien."

Hannah menunduk, menatap lantai granit yang dingin.

"Nggak usah, Mas," tolak Hannah pelan. "Hannah... Hannah mau ngerjain tugas kuliah. Banyak deadline besok."

Bohong. Tugasnya sudah selesai semua kemarin sore.

Wajah Akbar menyiratkan kekecewaan yang nyata. Bahunya sedikit turun. "Beneran nggak mau ikut? Mas bisa tungguin kamu siap-siap kok."

"Nggak, Mas. Pergi aja. Nanti Hannah malah ganggu kerjaan Mas," jawab Hannah keras kepala.

Akbar menghela napas panjang. Ia tidak bisa memaksa. Sejak insiden pisah kamar, ia berusaha memberikan ruang sebanyak mungkin agar Hannah tidak merasa tertekan.

"Ya sudah kalau itu mau kamu. Mas berangkat ya. Jaga diri di rumah. Kalau ada apa-apa, telepon Mas. Jangan di-silent HP-nya," pesan Akbar.

Akbar mencium kening Hannah sekilas sangat cepat, karena Hannah sedikit menghindar lalu berjalan keluar.

Hannah berdiri mematung di ruang tamu. Ia mendengar suara mobil berhenti di depan pagar. Itu mobil jemputan kantor.

Rasa penasaran mendorong Hannah untuk mengintip dari balik tirai jendela.

Di depan pagar, sebuah mobil Innova hitam berhenti. Pintu tengah terbuka. Sosok Annisa terlihat duduk di sana. Wanita itu tersenyum menyambut Akbar yang masuk ke dalam mobil. Meski hanya sekilas, Hannah bisa melihat betapa serasinya mereka. Akbar dengan batik wibawanya, dan Annisa dengan gamis kerja yang elegan. Mereka terlihat seperti pasangan profesional yang siap menaklukkan dunia.

Sementara Hannah? Ia menunduk melihat penampilannya sendiri: daster rumahan motif bunga-bunga yang sedikit kusam dan jilbab instan yang karetnya sudah longgar.

"Menyedihkan," rutuk Hannah pada dirinya sendiri saat mobil itu melaju pergi, membawa suaminya dan wanita yang ia takuti.

Rumah itu kembali sunyi. Kesunyian yang mencekik.

Air mata Hannah mulai menggenang, tapi ia menolaknya. Ia tidak mau menangis lagi. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus membunuh waktu dan membunuh perasaan ini.

"Masak," gumam Hannah. "Aku harus masak yang susah. Yang ribet. Biar otakku nggak mikirin mereka."

Hannah berlari ke dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan semua bahan yang ada. Ia membuka YouTube di ponselnya, mencari resep masakan yang belum pernah ia coba sebelumnya. Pilihannya jatuh pada Lasagna. Masakan Italia yang rumit, butuh banyak tahapan: membuat saus daging (bolognese), membuat saus putih (bechamel), merebus lembaran pasta, dan menyusunnya berlapis-lapis.

"Oke. Fokus, Hannah. Fokus," perintahnya pada diri sendiri.

Mulailah kekacauan di dapur itu. Hannah mencincang bawang bombay dengan kasar. Air matanya meleleh karena pedasnya bawang, atau mungkin itu hanya alasan agar ia bisa menangis tanpa merasa lemah.

Cring! Suara sutil beradu dengan wajan.

"Kurang lada. Kurang garam," gumam Hannah sambil mencicipi saus dagingnya.

Pikirannya melayang. Sekarang Mas Akbar lagi apa ya? Apa dia duduk sebelahan sama Mbak Annisa di mobil? Apa mereka ngobrolin masa lalu? Apa Mbak Annisa bawain bekal juga buat Mas Akbar?

"Aaaargh!" teriak Hannah frustrasi. Ia mengaduk saus bechamel-nya dengan emosi, membuat cipratan susu tumpah ke kompor.

Ia menyibukkan diri selama tiga jam penuh. Dapurnya berantakan seperti kapal pecah. Tepung di mana-mana, kulit bawang berserakan di lantai, dan tumpukan piring kotor menggunung di wastafel. Tapi Hannah tidak peduli. Yang penting otaknya sibuk.

Pukul satu siang, Lasagna itu matang.

Aroma keju panggang dan daging berbumbu menyeruak, memenuhi seisi rumah. Baunya sangat lezat, persis seperti di restoran mahal. Hannah mengeluarkan loyang panas itu dari oven dengan sarung tangan tebal.

Tampilannya sempurna. Keju mozzarella-nya meleleh kecokelatan, sausnya mendidih di pinggiran loyang. Sebuah mahakarya kuliner.

Hannah meletakkan loyang besar itu di tengah meja makan. Ia mengambil piring, sendok, dan garpu. Ia duduk sendirian di meja makan yang dirancang untuk empat orang itu.

Hannah memotong sepotong besar Lasagna, meletakkannya di piringnya. Uap panas mengepul.

"Selamat makan, Hannah," ucapnya lirih pada ruangan yang kosong.

Ia menyuapkan potongan pertama.

Rasanya... enak. Sangat enak. Gurih, creamy, dan dagingnya empuk. Ini adalah masakan tersulit dan tersukses yang pernah ia buat.

Tapi, saat Hannah mencoba menelan, tenggorokannya terasa terganjal batu.

Matanya menatap kursi kosong di hadapannya. Kursi tempat Akbar biasa duduk. Seharusnya, di jam segini, Akbar ada di sini. Memuji masakannya dengan mata berbinar, minta tambah porsi kedua, dan mengelus kepala Hannah sebagai tanda terima kasih.

"Wah, istri Mas makin jago masak. Ini enak banget, Dek!"

Suara pujian Akbar itu terngiang di telinga Hannah, tapi itu hanya imajinasi.

Realitanya, Akbar sedang makan siang di Bogor. Mungkin di restoran Sunda dengan pemandangan sawah, tertawa bersama Annisa dan kliennya, menikmati obrolan berbobot yang tidak bisa Hannah berikan.

Makanan lezat di mulut Hannah tiba-tiba terasa hambar. Seperti mengunyah karet.

Hannah meletakkan sendoknya dengan keras. Dentingnya menggema di ruang makan yang sunyi.

Pertahanannya runtuh total.

Hannah menelungkupkan wajahnya ke meja, di samping piring Lasagna yang baru dimakan sesuap. Bahunya berguncang hebat. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.

Ia menangis bukan karena Lasagna-nya tidak enak. Ia menangis karena kesepian yang ia pilih sendiri. Ia menangis karena ia sadar, ia telah mendorong pergi satu-satunya orang yang ingin menemaninya.

"Mas Akbar..." panggil Hannah di sela isakannya. "Hannah kangen..."

Ia ingin Akbar pulang. Ia tidak peduli lagi soal mimpi itu. Ia tidak peduli soal Annisa yang pintar. Ia hanya ingin suaminya ada di sini, menghabiskan Lasagna ini bersamanya, dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Tapi rumah itu tetap hening. Hanya suara kulkas yang mendengung dan sisa uap panas dari Lasagna yang perlahan mendingin, sama seperti hati Hannah yang membeku dalam penyesalan.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!