Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.
Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.
Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTMGT 24
Happy reading readers
Mau ingetin jangan lupa like komen dan vote nya ya
Terimakasih.
Matursuwun.
🍀🍀🍀
Seseorang pun tersenyum puas, ia mengangkat gelas yang berisi wine ke udara layaknya orang bersulang.
"Selamat menikmati abang ku sayang, baik-baik istirahatnya."
Dante merasa semuanya sudah berada di bawah kendalinya. Suasana pesta nampak ramai, para tamu mulai memasuki ruang tersebut. Maylin yang sedari sore sudah mempersiapkan dirinya sesempurna mungkin masuk ke hall dengan sangat anggun. Matanya melihat ke segala arah mencari sosok Juna.
"Akhirnya kau muncul juga." Suara Dante mengagetkan Maylin.
"Heh, kau rupanya." Ucap maylin mendengus.
"Kenapa, kecewa karena yang datang bukan abangku?" Tanya Dante meledek. Maylin hanya memutar bola matanya malas. Ia mengambil segelas wine dan meneguknya mengacuhkan pertanyaan Dante.
"Sudahlah May, kakak sepupuku itu tidak pernah menyukaimu. Ia hanya menganggapmu adik kecilnya." Ucap Dante.
"Terus aku harus pindah haluan untuk menyukaimu begitu? Tak sudi. Sudah terserah lah kau Dante, suka-suka kamu saja mau ngomong apa aku tak peduli." Ucap Maylin sambil pergi meninggalkan Dante.
"Cih… siapa yang sudi denganmu. Gadis manja."
Di sudut lain tampak Darma, Anjeli, dan Alina tengah duduk di meja paling depan. Anjeli merasa gelisah dan tidak tenang tiba-tiba perasaannya sangat tidak enak mengingat Juna. Darma yang melihat raut muka sang istri pun menggenggam tangan istrinya.
"Sayang, ada apa. Apa kamu tidak enak badan?"
"Bukan mas, aku tiba-tiba kepikiran Juna dan perasaanku tidak enak."
"Itu hanya perasaanmu saja. Bocah tengil itu pasti tidak akan melakukan hal-hal sembrono hanya demi menghindari acara hari ini"
Anjeli pun mengangguk mendengar penuturan suaminya dan meyakinkan hatinya untuk tenang.
Waktu bergulir orang yang dinanti pun datang, ya dia adalah Dewantara. Semua yang hadir ingin menjumpai dan menyalami Dewantara. Namun Dewa tidak terlalu fokus kepada orang-orang itu. Ia mencari sosok cucu sulungnya. Matanya mengedarkan pandangan ia menangkap sosok Darma, Anjeli, Alina, dan Dante. Tapi ia tidak menemukan Juna.
Hah….. Dewa menghela nafasnya dalam. Anak itu benar-benar tidak muncul, apakah aku harus menyerah terhadap anak itu, batin Dewa.
Acara puncak mulai, Dewa berdiri di depan podium dan memberikan sambutan. Semuanya nampak bertepuk tangan mendengar kata sambutan dari Dewa.
"Sekian dan terimakasih, selamat menikmati pestanya." Ucap Dewa mengakhiri sambutannya.
Dante yang mendengar pidato sang kakek sangat kesal. Ia tidak menyangka bahwa ketidak hadiran Juna juga merubah rencana kakeknya itu. Dante berharap jika tidak ada Juna sang Kakek akan tetap mengumumkan pewaris DCC, namun perkiraannya salah. Dante menggertakkan giginya menahan kesal, ia pun bergegas meninggalkan pesta meski pesta belum usai.
"Sial… Sial… Sial… apa hanya ada Juna di mata kakek. Apa kurangnya aku.. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi mengapa aku tidak pernah dilihat oleh kakek." Marah Dante memukul-mukul setir mobilnya.
🍀🍀🍀
Di Rumah Sakit Mitra Harapan, Teo tengah cemas menunggu Bosnya yang tengah mendapat tindakan. Ia bingung, ingin melapor kepada Tuan besar Darma tapi dilarang oleh Juna.
Ah… bodo amat. Mending aku laporan saja daripada nanti salah. Biar masalah dimarahi bos jadi urusan nanti. Teo mengambil keputusan untuk menelpon Darma. Ia mengabarkan tentang kecelakaan Juna.
Darma yang mendapat kabar tentang putranya itu pun bergegas meninggalkan acara pesta, bahkan ia juga tidak berpamitan kepada Dewantara. Ia meminta Suryo untuk mencari pintu belakang agar tidak dihadang oleh awak media.
"Benar kan mas, apa yang aku rasakan tentang Juna, hiks…" Anjeli menangis pikiran buruk memenuhi kepalanya mendengar Juna kecelakaan bahkan mobilnya sampai terbakar.
"Iya… maaf aku yang tidak peka. Sudah jangan menangis ya. Semoga Juna tidak apa-apa." Darma menenangkan istrinya itu, namun di hati kecilnya sungguh ia sangat khawatir.
Mereka berdua bergegas ke rumah, hanya berdua. Alina, mereka sudah lebih dulu mengantarkannya pulang. Walaupun Alina tadi sempat merengek ingin ikut tapi oleh Anjeli diberi pengertian agar besok saja menjenguk abangnya. Alina mengerti dan patuh.
Plak ketuplak ketuplak… langkah kaki Anjeli dan Darma menggema di koridor rumah sakit itu.
"Kamu yang menelponku tadi?… bagaimana dengan keadaan putraku." Tanya Darma.
"Siap tuan, saya Teo. Ya saya yang menelpon tuan tadi. Saat ini bos masih ditangani dokter." Ucap Teo tenang, ia menunduk hormat. "Maaf tuan kalau saya telat memberi kabar, tadi sebelum bos pingsan dia berkata untuk tidak menghubungi anda berdua. Bos Juna tidak ingin anda berdua khawatir." Terang Teo menambahkan.
Anjeli menangis mendengar penuturan Teo. Bahkan di saat - saat seperti ini pun Juna masih mengkhawatirkan orang tuanya. Darma mengajak Anjeli untuk duduk menenangkan diri. Darma masih berpikir, siapa sebenarnya Teo ini, mengapa ia begitu patuh kepada Juna dan memanggilnya bos. Selama ini dia tidak pernah mendengar nama Teo baik dari mata-mata nya ataupun dari Juna sendiri. "Tidak mungkin Teo ini teman Juna, teman Juna hanyalah 3 orang itu", gumam Darma.
Tak berselang lama tiga orang yang baru saja ada dalam pikiran Darma pun datang
" Om, tante, bagaimana keadaan Juna?" Ucap Charles sambil menyalami Darma dan Anjeli diikuti oleh Sukhdev dan Rama.
"Masih di dalam. Bagaimana kalian tahu?" Tanya Darma.
"Teo yang mengabari kami." Jawab Rama.
Darma hanya mengernyitkan keningnya, semuanya kenal dengan Teo. Berarti Teo ini sudah lama kenal dengan 4 sekawan ini. Gumam Darma kembali.
3 jam berlalu akhirnya dokter keluar dan membawa Juna ke ruang ICU.
"Bagaimana putraku Dok?" Darma menghadang dokter tersebut.
"Mohon tenang tuan, saat ini kondisi pasien sudah stabil. Syukurlah dia sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja luka di tangan dan kakinya lumayan parah. Walaupun kakinya tidak sampai patah tadi ada retakan di sana, dan tangan kanannya yang mengalami patah tulang. Namun kami sudah memasang pen jadi sudah tidak apa-apa hanya tinggal pemulihan. Ini yang akan menjadikan observasi adalah luka di kepalanya. Sejauh ini tidak ada yang membahayakan namun kita harus pantau untuk dua hari kedepan apakah ada gejala seperti pusing yang berlebih atau mual muntah. Kita berdoa semoga semuanya baik-baik saja." Ucap Dokter memberi penjelasan. Semua orang tampak lega paling tidak Juna sudah melewati masa kritisnya.
"Sebaiknya tuan dan nyonya kembali ke rumah dulu. Biar saya yang menjaga bos Juna." Ucap Teo memecah keheningan.
Dharma dan Anjeli saling pandang, namun Anjeli menggeleng. Ia ingin di sini saja menunggui putranya siuman. Darma pun pasrah dan menuruti kemauan istrinya. Suryo yang paham dengan situasi tersebut bergegas undur diri untuk menyiapkan keperluan Tuan, Nyonya, dan tuan mudanya tanpa harus mendapat instruksi lagi dari Darma.
"Kami akan di sini. Kau pulanglah. Dan kalian lebih baik kalian pulang istirahat ini sudah larut malam." Ucap Darma sambil menatap 3 teman Juna. Mereka pun mengangguk patuh. Rama, Charles, dan Sukhdev undur diri begitu juga dengan Teo. Namun Darma menahan Teo.
"Kamu yang bernama Teo tunggu dulu sebentar."
Teo berhenti dan menjawab, "siap tuan."
"Kamu sebenarnya siapa." Tanya Darma kepada Teo.
"Saya Teo tuan."
"Aku tau kau Teo, kau sudah mengenalkan dirimu tadi. Tapi kamu siapanya Juna kenapa kamu tau Juna di RS?"
"Oh itu, saya tau Bos Juna di RS karena saya yang membawanya tuan. Bos Juna bos saya Tuan. Saya anak buah bos Juna. Maaf Tuan saya tidak bisa menjelaskan banyak. Nanti saya di keeek (tangannya diangkat ke depan lehernya seperti gaya menyembelih hewan) sama bos Juna kalau banyak bicara. Kata bos orang yang banyak bicara hidupnya singkat. Permisi Tuan." Teo undur diri secepatnya. Dia tidak mau salah bicara.
Darma hanya pasrah melihat Teo yang kabur. Usia Teo mungkin masih jauh dibawah Juna, dan terlihat Teo ini begitu patuh dengan Juna. Haah…. Kenapa kelakuannya sama seperti Juna, gumam Darma sambil membuang nafasnya kasar.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏💐🥰
kepercayaan dmn jadinya🙏