Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Esok paginya.
Ruksa menjalani kehidupan sekolah seperti biasanya, seakan-akan apa yang di lihat dan di alaminya malam itu tak pernah terjadi. Ia bahkan melupakan tindakan EL yang di lakukan terhadapnya.
Akan tetapi berbeda dengan Mikael Lewis atau sering di sapa EL itu, meski kedua bibir itu tak saling bertemu. Namun tetap saja, dia merasa bahwa sikapnya itu terbilang tidak sopan dan seperti mencari kesempatan dalam kesempitan.
Ia tak berhenti mengutuk tindakannya malam itu dengan memukuli tubuhnya sendiri. Ia bahkan tak bisa tidur hingga menjelang pagi.
Di dalam kepalanya terus terngiang-ngiang akan kejadian semalam, tangannya memegangi bibirnya, jika saja ibu jari nya tak menghalangi diantara bibir mereka, maka mereka . . .
EL menggelengkan kepalanya dengan cepat, menyingkirkan pemikiran kotornya.
Untuk pertama kalinya, EL yang selalu berpenampilan rapih dengan atribut lengkap yang melekat di tubuhnya, untuk hari ini ia melupakan dasi yang merupakan ikon wajib yang harus di kenakan.
Darian, selaku orang yang selalu berada di samping EL sangat terkejut melihat sikap ketua osis yang dikaguminya itu, untuk pertama kalinya ia mendengar, bahwa sang ketua osis telah melupakan atribut wajib yaitu dasi kebanggan sekolah mereka. Padahal seingatnya pria itu tak pernah melupakan satu benda apapun.
Sebenarnya apa yang mengganggu pikirannya hingga melupakan sesuatu? Bahkan wajahnya memerah sejak tadi. Batin Darian.
Kendati begitu ia tak berani menanyakan hal tersebut secara langsung kepada EL.
Selama jam makan siang berlangsung, Ruksa tak berhenti berpikir, sebenarnya siapa yang mengendalikan sekelompok remaja itu? Sangat tak mungkin bagi mereka berbuat seperti itu tanpa adanya seseorang berpengaruh yang berdiri di belakang mereka.
Tapi siapa? Mungkinkah salah satu dari tikus-tikus yang ingin merebut kekuasaan ayahnya? Tapi terlalu banyak kandidat tikus yang ingin merebut kekuasaan ayahnya.
Ia pun mengambil ponselnya dan mengecek kondisi terkini dari Aldan.
Tanpa sadar tangannya meremas erat ponselnya ketika melihat sebuah poto yang di kirimkan oleh Dania. Poto itu memperlihatkan tubuh Aldan telah dipenuhi oleh selang-selang yang menempel di seluruh tubuhnya yang kurus kering itu. Membuat hatinya semakin teriris-iris di tambah banyaknya luka lebam di tubuh itu.
Di rumah sakit, Dania memandangi terus layar ponselnya, menunggu balasan dari Ruksa. Namun, meski sudah menunggu cukup lama, tapi sampai detik ini tak ada balasan dari wanita itu.
Waktu pun terasa berjalan sangat lama, ia pun hanya bisa terus memandangi layar komputer yang memantau kondisi Aldan. Namun lama kelamaan ia pun menjadi bosan lalu tertidur begitu saja.
Saat terbangun, Ruksa sudah berada di ruangan itu seraya sibuk dengan ponselnya. Namun Dania tertegun ketika melihat penampilannya yang sudah berubah.
Semua jerawat yang memenuhi wajah itu, tampak sudah berkurang, tak ada lagi rambut kepang dua, yang ada rambut semi bergelombang dengan poni lucu yang membuat wajah itu terlihat lebih baik dari sebelumnya, meski pun kacamata itu masih melekat di wajah itu.
Sadar tengah diperhatikan, Ruksa pun menghentikan jarinya dan mengalihkan pandangannya pada Dania yang masih menatapnya.
" Sudah bangun? Ayo pergi. " ujar Ruksa tanpa basa-basi, wanita itu beranjak dari kursi lalu berjalan menuju keluar ruangan, tidak lupa ia menenteng tas gendong di pundaknya.
" Kenapa masih bengong? Lo mau gue mati kelaparan?! "
Dania pun tersadar dari lamunannya, lalu meminta maaf.
" Ck, sudahlah lupakan saja, ayo buruan. "
Dengan patuh, Dania pun mengekori Ruksa dari belakang, yang berakhir pada sebuah restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari rumah sakit.
Tak lupa, sebelum mereka berdua pergi untuk mencari makan. Dania pun meminta Ismail untuk menjaga Aldan selama mereka pergi. Di sana keduanya memesan dua paket beef burger berukuran jumbo lengkap dengan minumannya.
Di dalam hati Dania merasa malu terhadap Ruksa, sebab wanita itu terlihat bersikeras membuat hidupnya menjadi lebih baik, bahkan memperbaiki cara berpakaian dirinya. Sangat berbanding balik dengannya yang selalu menyulitkan hidup wanita itu.
" Oi! kok bengong, bagaimana dengan keadaan Aldan sebelumnya? Apa ada masalah serius? "
Dania pun tersadar dari lamunannya, ia menjelaskan bahwa Aldan sempat mengalami kritis, tapi kata dokter dia baik-baik saja. Hanya saja mereka tak tahu kapan dia bakal siuman? Beruntung dia tidak jatuh pada kondisi vegetatif.
Mendengar hal tersebut, Ruksa pun menghela nafasnya dengan kasar. Andaikan saja waktu itu dirinya tak lari begitu saja, mungkin setidaknya saudaranya itu tak akan mengalami koma seperti itu.
Brak!!! Ruksa tiba-tiba memukul meja makan itu dengan sangat keras, membuat pengunjung di sana mengalihkan perhatiannya pada mereka berdua, namun ia tak peduli akan hal itu.
" Dasar para bocah sialan! " Umpatnya, " Lihat saja, gue bakalan. bejek bejek tulang mereka sampai halus, dan bakalan gue buang ke laut biar jadi makanan ikan di sana. . . Tidak, sepertinya itu terlalu baik untuk mereka, kalau begitu akan gue gantung tubuh mereka tanpa di beri makan atau pun minum, biarkan mereka mati secara perlahan. " tambahnya dengan penuh amarah.
" Jadi. . siapa dia? " tanya Dania hati-hati, sebab ia tak mau menjadi pelampiasan amarah wanita itu.
Kedua mata Ruksa mendelik tajam pada Dania, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri ketakutan. " Maaf, aku tak . . .
" Dia tuh saudara gue, meski kita nggak pernah berbicara, tapi kakek buyutnya adalah orang yang baik dan juga orang berjasa yang telah membantu bokap gue. Dan juga dia adalah satu-satunya anggota keluarga Wisesa yang paling baik, sedangkan yang lainnya hanyalah setan yang haus akan harta. " selanya seraya menjelaskan hubungan antara dirinya dan juga Aldan.
Dania pun membulatkan bibirnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian bertanya langkah apa yang mereka ambil untuk selanjutnya, sebab dirinya sudah mengundurkan diri dari rapat pemegang saham yang akan di gelar besok.
" Lupakan masalah itu, lebih baik kita fokus yang satu ini saja, setelah semuanya kembali normal, Gue yang bakal urus sisanya. Tugas lo cukup jagain Aldan, jangan sampai ada orang lain yang masuk ke ruangan itu kecuali Purwadi Wisesa, sebab dia adalah paman gue dan sekaligus kakek buyut dari Aldan. Mengerti? "
" Iya, aku mengerti tapi . . .
Tiba-tiba ponsel milik Ruksa berdering, menyela pembicaraan mereka. Wanita itu pun undur diri dari hadapan Dania untuk mengangkat panggilan tersebut.
Dania pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Padahal dirinya ingin memberi bantuan yang lainnya. Seperti mencari tahu siapa yang telah melukai Aldan? Atau pun mencari tahu sebuah informasi yang nantinya akan membantu wanita itu.
Namun sepertinya Ruksa tak membutuhkannya, sebab dirinya hanyalah sebuah beban. Meski sudah bertukar jiwa pun ia masih tak berubah, sama seperti dulu. Sama-sama hidup di bawah perintah orang.
Tak lama kemudian, Ruksa pun kembali dengan raut tergesa-gesa. Sebelum pergi, wanita itu mengatakan untuk menghubungi Purwadi Wisesa dan memberi tahukan keadaan Aldan padanya.