NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kota mulai diselimuti cahaya temaram ketika Jema berjalan keluar dari mobil menuju lobi apartemennya. Penampilannya rapi blazer krem lembut, rambut terikat sederhana, wajah bersih dengan makeup tipis. Ia tampak seperti wanita pekerja elegan yang baru pulang kerja.

Namun langkahnya cepat, matanya awas.

Seolah ia terbiasa menjaga diri sendiri.

'Apa mereka terus mengawasi ku' batin nya

Saat ia membuka tas untuk memasukan kunci mobil, bayangan seseorang jatuh di hadapannya.

Jema mendongak dan mendapati seorang pria tinggi, berwibawa, menatapnya dari jarak yang terlalu dekat untuk seorang asing.

Lucane Alexander.

Ia tampak seperti seseorang yang tidak pernah harus menjelaskan dirinya kepada siapa pun tegas, dingin, dan mahal dari ujung rambut hingga sepatu.

Jema tidak mundur, tidak takut.

Hanya menaikkan satu alis dengan elegan.

“Ada yang bisa aku bantu?”

Nadanya sopan, tetapi dingin waspada.

Lucane memperhatikan wajahnya.

Lebih lama dari seharusnya.

Penampilan Jema sama sekali bukan tipe “gadis biasa, namun ada sesuatu dalam sorot matanya tegas, tak mudah digoyahkan.

Tanpa basa-basi, ia berkata

“Saya ingin bicara denganmu.”

Jema menutup tasnya perlahan.

Gerakannya tenang, tapi sikapnya jelas menjaga jarak.

“ aku tidak terbiasa berbicara dengan pria asing yang muncul begitu saja di parkiran.”

Lucane setengah terkejut jarang sekali seseorang berani bicara padanya seperti itu.

Ia mencoba lagi, lebih langsung.

“Namamu Jema Élodie Moreau.”

Jema merasakan aliran adrenalin di tubuhnya.

Ia tidak menunjukkan ketakutan hanya menegakkan bahu dan menatapnya lebih tajam.

“Dan apa hubungan Anda dengan itu?”

Lucane menghentikan langkahnya, memberi ruang.

Suara rendahnya terdengar sangat terkendali.

“Saya datang karena ada janji yang dibuat antara papaku dan papamu.”

Tatapan Jema langsung berubah.

Ada getaran halus di sana jelas ia tidak menyukai seseorang menyebut ayahnya begitu saja.

Namun ia tetap tenang.

“Papa ku sudah meninggal. Dan aku rasa, apa pun yang terjadi di antara orang tua kami, bukan urusan seorang pria asing yang bahkan tidak memperkenalkan diri.”

Cara bicara Jema tajam, tetapi tetap elegan.

Ia tidak berteriak ia menusuk dengan kata-kata yang terstruktur.

Lucane mengangguk kecil.

Ia menghargai ketegasannya.

“Lucane Alexander.”

Suara itu berat dan resmi.

“Saya pewaris keluarga Alexander.”

Jema menatapnya beberapa detik.

Bukan terpukau lebih seperti menilai apakah ia berkata jujur atau tidak.

“Keluarga Alexander…”

Nada Jema turun, matanya mengencang.

“Kalau begitu, untuk apa pewaris Alexander mendatangi ku”

'Alexander!!! Ck!! dia fikir siapa dia' batin jema kesal

Lucane tidak berkedip.

“Kamu adalah seseorang yang harus saya temui.”

Jema menghela napas, tenang namun jelas tidak menyukai permainan ini.

“Baik.”

Ia melipat tangan di depan dada bukan bar-bar, tapi dominan, menunjukkan ia tidak tunduk pada tekanan siapa pun.

“Jelaskan, untuk apa anda mencari ku”

Lucane mendekat sedikit sekadar menunjukkan keseriusan.

“Papaku membuat sebuah janji. Dan kau adalah bagian dari janji itu.”

Hening sejenak.

“Ini tentang pernikahan yang…” ia menimbang kata-kata, “…yang belum pernah diberitahukan padamu.”

Jema terbelalak. namun dia tidak panik atau histeris.

'Ketenangan macam apa ini' batin nya

Sebaliknya, ia tertawa kecil pendek, kering, tidak berlebihan.

“Begitu.”

Sorot matanya menjadi semakin tajam.

“Dan Anda pikir aku akan menerima informasi seperti itu tanpa bukti dan tanpa konteks?”

Lucane hampir tersenyum hampir.

Gadis ini jauh dari yang ia bayangkan.

“Tidak. Itu sebabnya saya ingin membicarakannya dengan benar.”

Jema menatapnya lama.

Tidak ada ketakutan, hanya ketegasan.

“Baik. aku akan mendengarkan.”

Ia melangkah melewati Lucane menuju restoran samping apartemennya.

Di belakangnya, Lucane berdiri terpaku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sebuah gadis membuatnya merasa tertantang.

Restoran itu sunyi, hanya suara denting gelas kristal yang sesekali terdengar.

Lucane duduk sempurna, tampak seperti seseorang yang sudah memastikan dunia tunduk padanya bahkan sebelum ia berbicara. begitu juga dengan Jema yang duduk tenang tanpa ekspresi.

Lucane melirik sekilas.

Sedikit… menilai.

Liam berdiri di sisi mereka, menyerahkan map hitam tebal.

Lucane membuka map itu, tapi sebelum ia memulai, Jema bersandar dan berkata tanpa ekspresi,

“Langsung ke intinya saja. Aku alergi drama panjang.”

Nada suaranya tidak keras.

Tapi dingin. Dan menusuk.

Lucane menutup map setengah gerakan kecil, tapi cukup menunjukkan bahwa ia menyadari siapa yang sedang ia hadapi.

“Ini bukan drama.”

Tatapannya tajam, tenang.

“Ini keputusan.”

Jema tersenyum kecil.

Bukan ramah, lebih seperti silakan coba kendalikan aku.

“Keputusan yang dibuat tanpa persetujuanku?”

Lucane memiringkan kepala sedikit.

“Pernikahan ini kewajiban keluarga.”

Jema mengetuk meja dengan ujung jarinya satu kali, ringan, tapi jelas.

“Dan bagaimana kalau aku tidak tertarik?”

Nada suaranya santai, tapi ada tantangan di dalamnya.

Lucane meletakkan map itu sepenuhnya, lalu menatap Jema dengan tenang tenang yang mematikan.

“Yang kau hadapi bukan ketertarikan, Jema.”

“Tapi konsekuensi.”

Jema tertawa pelan pendek, elegan, tapi jelas ia tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan.

“Konsekuensi apa? Kau mau menegur aku setiap pagi?”

Liam hampir tersedak napas.

Lucane Tidak bereaksi.

Mata pria itu tetap tenang tanda ia sedang memutuskan seberapa jauh ia ingin membiarkan Jema bermain.

“Aku tidak perlu menegurmu.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lebih rendah.

“Kau akan tahu sendiri batasnya.”

Jema mendengus kecil.

Elegan, tapi jelas meremehkan.

Ia lalu mengambil map itu tanpa izin, membalik halaman dengan cepat.

Ketika menemukan pasal yang tidak ia sukai, ia tidak menunjuk.

Ia langsung menarik pensil dari tasnya dan mencoret satu bagian.

Liam hampir menjatuhkan napasnya.

“Pasal 7?” tanya Lucane datar.

“Kendali mutlak suami? Tidak cocok.”

Jema menutup map itu dengan lembut tapi tegas.

“Kalau kau mau istri boneka, kau salah pilih target.” ucap Jema berani

Lucane tidak marah. Tidak tersinggung.

Dia hanya menatap Jema lebih lama dari sebelumnya menilai ulang.

“Aku tidak butuh boneka.”

“Aku butuh istri yang mengerti posisinya.”

Jema mencondongkan tubuh ke depan, mendekat beberapa centimeter.

Tatapan matanya dingin, tapi berani.

“Kalau posisiku di bawahmu, jangan berharap aku duduk manis.”

Ia berhenti.

“Karena aku tidak pernah lahir untuk menjadi ‘manis’.”

Liam memejam mata sebentar.

Ini bukan percakapan biasa ini duel.

Lucane akhirnya membuka map itu lagi, tapi bukan untuk membiarkan Jema menang.

Ia mengetuk bagian yang tadi Jema coret.

“Kau boleh mencoret apa pun yang kau mau.”

Nada suaranya tetap sangat tenang.

“Tapi syarat terakhir tetap milikku.”

Jema mengangkat alis.

“Syarat apa?”

Lucane mendekat sedikit, mata dinginnya mengunci milik Jema.

“Saat kau masuk dalam keluarga ini, kau mengikuti aturanku.”

Jema tidak mundur.

Tidak gentar satu inci pun.

Ia tersenyum tipis.

“Lalu kau harus siap menghadapi seseorang yang tidak pandai taat.”

Lucane membalas dengan senyum yang jauh lebih dingin, lebih dominan.

“Bagus.”

“Aku tidak pernah memilih yang mudah.”

Dan hening itu menjadi jembatan ketegangan di antara mereka dua pribadi kuat, dua dunia berbeda, tapi sama-sama enggan tunduk.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!