"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Waktu berlalu begitu cepat. Tiga bulan telah terlewati sejak badai besar yang menguji cinta dan identitas Gladis.
Kini, luka di tangannya hanya menyisakan bekas tipis yang memudar, seiring dengan hatinya yang kian tenang setelah kebenaran tentang orang tua kandungnya terungkap.
Gladis berdiri di balkon kabin, membiarkan angin laut membelai wajahnya.
"Masih lima bulan lagi aku di atas kapal mewah milik suamiku," gumam Gladis dengan senyum kecil.
Hidupnya terasa begitu sempurna sekarang, jauh dari gangguan Paman Dayu atau bayang-bayang Angela. Namun, saat ia beranjak kembali untuk duduk di sofa, tiba-tiba sebuah rasa tidak nyaman menyerang ulu hatinya.
Perutnya terasa bergejolak hebat, seolah-olah kapal sedang dihantam ombak besar, padahal laut saat ini sedang sangat tenang.
"Mungkin aku salah makan tadi pagi," gumam Gladis sambil memijat keningnya yang mulai berkeringat dingin.
Ia melirik jam di dinding. Arkan masih berada di anjungan, memimpin navigasi kapal menuju perairan Mediterania.
Gladis menarik napas panjang, berniat tidak memberitahu suaminya karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Arkan yang sedang bertugas.
Gladis melangkah menuju meja rias, berniat mengambil minyak angin.
Di sana, ia melihat botol parfum cadangan milik Arkan yang sedikit terbuka.
Tanpa sengaja, aroma maskulin yang biasanya sangat ia sukai itu tercium kuat di indra penciumannya.
"Huekkk!"
Bukannya merasa tenang, aroma itu justru membuat perutnya mual bukan main.
Rasa mual yang begitu hebat membuat pandangannya mendadak gelap.
Dunia di sekitarnya seolah berputar dengan cepat.
Gladis mencoba berjalan menuju kamar mandi, namun baru saja sampai di depan pintunya, kekuatannya habis total.
Brukk!
Gladis langsung pingsan tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi, tergeletak sendirian di dalam kabin yang sunyi sementara Arkan masih belum menyadari kondisi istrinya.
Arkan melangkah menyusuri koridor kapal dengan perasaan ringan.
Sebelum kembali ke kabin, ia menyempatkan diri mampir ke dapur utama untuk mengambil es krim vanila pesanan khusus yang selalu bisa membuat mata Gladis berbinar.
"Pasti dia senang sekali," gumam Arkan sambil tersenyum tipis, membayangkan ekspresi manja istrinya saat menyambut camilan dingin itu.
Namun, begitu pintu kabin terbuka, pemandangan di depannya membuat jantung Arkan seolah berhenti berdetak.
Wadah es krim di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai, isinya tumpah tak berarti.
"Gladis!"
Arkan berteriak panik saat melihat tubuh mungil istrinya tergeletak tak berdaya di depan pintu kamar mandi.
Ia berlari secepat mungkin, mengabaikan kakinya yang terkadang masih terasa kaku jika dipaksa bergerak tiba-tiba.
"Sayang! Gladis, bangun!" Arkan mengangkat tubuh Gladis dan membaringkannya di atas tempat tidur dengan tangan gemetar.
Ia menepuk-nepuk pipi Gladis perlahan, namun wajah istrinya tetap pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi dahi.
Arkan segera meraih telepon internal kapal dengan gerakan kalut.
"Gerald! Panggil Dokter Sarah ke kabinku SEKARANG! Gladis pingsan!" perintahnya dengan suara yang pecah karena ketakutan.
Sambil menunggu, Arkan terus menggenggam tangan Gladis yang terasa dingin.
Tak lama kemudian, Dokter Sarah datang bersama asistennya.
Arkan dipaksa mundur sedikit agar dokter bisa memeriksa kondisi Gladis.
"Tadi dia bilang mual?" tanya Dokter Sarah sambil memeriksa denyut nadi dan pupil mata Gladis.
"Aku tidak tahu, Sarah! Aku baru saja kembali dari anjungan dan menemukannya sudah seperti ini di depan kamar mandi," jawab Arkan frustrasi.
Dokter Sarah terdiam sejenak, lalu ia memperhatikan botol parfum Arkan yang terbuka di meja rias dan aroma es krim yang tumpah di lantai.
Sebuah senyum penuh arti muncul di wajah sang dokter saat ia mengeluarkan alat tes kecil dari tas medisnya.
"Arkan, tenanglah. Sepertinya ini bukan karena infeksi yang dulu," ucap Dokter Sarah misterius.
Dokter Sarah meletakkan stetoskopnya kembali ke dalam tas medis, lalu menoleh ke arah Arkan yang berdiri mematung di sudut ruangan dengan wajah yang sangat tegang.
Sarah menghela napas panjang, namun kali ini ada binar jenaka di matanya.
"Arkan, tenanglah. Istrimu tidak apa-apa," ujar Dokter Sarah sambil merapikan selimut Gladis.
"Tidak apa-apa bagaimana? Dia pingsan di lantai, Sarah! Wajahnya pucat!" seru Arkan, suaranya naik satu oktaf karena rasa khawatir yang luar biasa.
Sarah terkekeh kecil, ia melirik ke arah botol parfum Arkan yang terbuka dan es krim yang tumpah di lantai.
"Dia pingsan karena tubuhnya sedang mengalami perubahan hormon yang drastis. Dan sepertinya, hidungnya menjadi sangat sensitif terhadap aroma tertentu."
Arkan mengerutkan kening. "Perubahan hormon? Maksudmu...?"
Dokter Sarah tersenyum lebar dan menepuk bahu Arkan dengan mantap.
"Selamat, Kapten. Istrimu sedang mengandung. Usia kehamilannya mungkin baru berjalan sekitar enam atau tujuh minggu. Itulah alasan kenapa dia mual hebat dan pingsan saat mencium aroma yang menyengat."
Arkan tertegun. Lidahnya seolah kelu. Ia menatap Gladis yang masih terpejam, lalu beralih menatap tangannya sendiri yang gemetar.
"Hamil? Gladis, mengandung anakku?"
"Benar. Dan bersiaplah, karena selama lima bulan sisa perjalanan kita di atas kapal ini, kamu mungkin tidak akan diperbolehkan memakai parfum itu lagi," goda Sarah sambil menunjuk botol parfum Arkan.
"Dia akan sangat sensitif terhadap bau suaminya sendiri di trimester pertama ini."
Tepat saat itu, Gladis mulai melenguh pelan. Matanya terbuka sedikit demi sedikit, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Arkan yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Arkan..." bisik Gladis lemah.
"Jangan bangun dulu, Sayang," Arkan segera mengusap kening Gladis dengan penuh perasaan.
Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku kenapa? Tadi aku merasa sangat mual," tanya Gladis bingung.
Arkan mengecup tangan Gladis lama sekali, lalu membisikkan kabar itu tepat di telinga istrinya.
"Kamu tidak sakit, Sayang. Di dalam sini ada nakhoda kecil kita yang sedang tumbuh."
Gladis terdiam, tangannya perlahan bergerak menyentuh perutnya yang masih rata.
Matanya membelalak tak percaya menatap Arkan dan Dokter Sarah secara bergantian.
Melihat Gladis yang tiba-tiba menutup hidung dengan wajah pucat dan ekspresi menderita, Arkan panik bukan main.
Ia mengira istrinya masih merasa sakit, namun perintah Gladis berikutnya benar-benar di luar dugaan.
"Arkan, lepas! Lepas pakaianmu sekarang!" rintih Gladis dari balik telapak tangannya.
"Bau parfummu membuatku ingin mati!"
Arkan mematung sejenak, menatap seragam kaptennya yang biasanya ia banggakan.
"Tapi sayang, ini parfum favoritmu—"
"Sekarang, Arkan! Atau aku akan pingsan lagi!" seru Gladis dengan suara yang teredam tangannya sendiri.
Dokter Sarah yang masih berdiri di dekat pintu tidak bisa menahan tawa kecilnya.
Ia merapikan tas medisnya sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sang
Kapten yang gagah kini tampak kebingungan menghadapi perintah sang istri.
"Sudah kubilang, Arkan. Selamat menikmati fase 'alergi suami'. Itu hormon yang bicara," ucap Dokter Sarah sambil melangkah keluar.
"Aku akan siapkan vitamin dan obat mual untuk Gladis. Dan saranku segera mandi dengan sabun tanpa aroma!"
Setelah Dokter Sarah menutup pintu kabin dengan tawa yang masih terdengar, Arkan langsung bergerak cepat.
Dengan gerakan canggung namun patuh, ia melepas jas kapten dan kemeja putihnya, lalu segera melemparkannya ke dalam keranjang pakaian kotor yang jauh dari tempat tidur.
Ia hanya mengenakan kaos dalam putih polos, lalu kembali mendekati Gladis dengan hati-hati.
"Sudah lebih baik? Aku sudah membuang 'racun' itu, Sayang."
Gladis perlahan menurunkan tangannya dari hidung.
Ia menghirup udara dalam-dalam, memastikan aroma maskulin yang menyengat itu sudah hilang.
Wajahnya yang tadi pucat kini sedikit lebih rileks, meskipun ia masih tampak lemas.
"Maafkan aku,.Arkan. Aku tidak tahu kenapa, tapi baunya benar-benar membuat perutku teraduk-aduk," bisik Gladis sambil menatap suaminya dengan rasa bersalah.
Arkan duduk di tepi ranjang, menjaga jarak agar aroma tubuhnya tidak kembali memicu mual Gladis.
Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh haru.
"Tidak apa-apa. Jangankan melepas baju, jika nakhoda kecil kita ini memintaku membuang semua parfumku ke laut, akan aku lakukan sekarang juga."
Gladis tersenyum lebar, air mata haru kembali menggenang.
Ia meraih tangan Arkan dan menempelkannya di perutnya yang masih datar.
"Ada bayi di sini, Arkan. Aku masih tidak percaya."
"Aku juga, Sayang. Lima bulan ke depan akan menjadi perjalanan paling berharga dalam hidupku. Menjaga kalian berdua di tengah samudra ini."
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget