Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 MULAI TERUNGKAP
"Apa?"
"Kenapa? Apa kau terkejut?" Arabella menatap Gendis dengan tatapan mencibir.
"Laura, jangan dengarkan dia. Apa yang dia katakan itu bohong!"
"Bohong?" Arabella mencibir ke arah Arga.
Sementara Gendis mengepalkan tangannya. Dia sangat penasaran dengan pembicaraan Arga dan Arabella, tetapi dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat agar mereka berdua mengungkapkan sedikit demi sedikit rahasia yang tersimpan dua tahun lalu.
Dia sungguh tidak menyangka kalau saat itu Arga ternyata hanya diperalat oleh Arabella.
Namun, tidak peduli apakah dia diperalat atau tidak, tetap saja, Arga adalah target utama balas dendamnya.
Setelah Arga berhasil berada dalam genggamannya, baru dua akan mencari cara untuk menghancurkan mantan sahabat terkutuknya itu.
"Semua yang aku ucapkan adalah kebenaran. Aku tidak sedang berbohong!"
"Arabella!"
Arabella tersenyum smirk saat mendengar teriakan Arga. Dalam hati dia tertawa puas.
Dia sangat yakin, perempuan cantik yang bersama Arga saat ini pasti akan meninggalkan pria itu setelah tahu tentang masa lalunya yang buruk.
"Laura, sebaiknya kamu masuk ke kamar. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan perempuan tidak tahu malu itu." Arga mendekati Gendis, sementara Arabella terlihat kesal.
"Aku akan tetap di sini. Aku ingin tahu-"
"Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti. Aku janji." Arga meraih tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.
Dia sungguh takut seandainya Gendis berubah pikiran. Perasaannya pada Gendis saat ini adalah nyata adanya.
Dia benar-benar jatuh cinta pada perempuan ini.
"Aku janji, akan menceritakannya padamu," ulang Arga.
"Tapi aku penasaran, kenapa perempuan itu sepertinya sangat membencimu." Gendis menatap kedua mata Arga yang terlihat gelisah.
"Perempuan itu mantan pacarku. Dia marah karena saat itu aku lebih memilih perempuan lain."
"Maksudnya?"
"Dia telah membohongiku. Aku meninggalkannya karena dari awal dia telah membohongiku."
"Laura, percayalah padaku. Aku tidak seperti yang dia bicarakan saat ini." Arga mengeratkan pelukannya.
Setelah itu, dia menyuruh Gendis masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu kamar, Arga kembali mendekati Arabella.
Perempuan itu berdiri dengan angkuh. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Arga yang terbakar emosi langsung mendekati Arabella. Gerakan tangannya begitu cepat mencengkeram leher Arabella, hingga perempuan itu tidak sempat menghindar.
Kedua mata pria itu menyorot tajam. Aura kemarahan terlihat di wajahnya yang seketika berubah menakutkan.
Arabella memegangi kedua tangan Arga yang mencengkram lehernya.
Kakinya gemetar karena ketakutan.
Sorot mata itu, sama persis saat pria itu menyiksa Gendis dua tahun yang lalu.
Saat itu, dia menghasut Arga dengan menceritakan semua kebohongan tentang Gendis.
Arga yang saat itu sangat mencintainya, langsung terbakar emosi, kemudian menyiksa Gendis karena dia menganggap kalau Gendis sudah mengganggu orang yang dicintainya.
"Aku sudah memperingatkanmu berulang kali, Arabella. Tapi kenapa kau masih saja datang ke sini dan menggangguku?" Suara berat Arga terdengar. Kedua matanya berkilat penuh amarah.
Sementara, cengkraman tangannya semakin erat mencekik leher Arabella.
Arabella hampir saja kehilangan napas. Kedua matanya melotot, sementara tangannya memberontak agar Arga melepaskan cengkeramannya.
"Arga!"
Suara teriakan Gendis mengagetkan Arga. Laki-laki itu melepaskan cengkeraman tangannya pada leher Arabella, kemudian mendorong tubuh perempuan itu hingga terlempar ke lantai.
Wajahnya Arabella memerah. Perempuan itu terbatuk kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kalau kau kembali membuat masalah denganku, aku benar-benar akan membunuhmu, Arabella!"
Arabella menatap Arga dengan ketakutan. Perempuan itu tidak menyangka kalau Arga tanpa pikir panjang langsung mencekik lehernya.
*Ternyata kau masih sama dengan Arga yang dulu. Berdarah dingin ketika sedang marah.
Sialan*!
"Kali ini kesabaranku sudah habis, Arabella. Kalau kau berani menggangguku sekali lagi, aku pasti akan benar-benar melenyapkanmu!" Arga menatap tajam penuh amarah pada Arabella.
"Aku sudah mengembalikan semua harta yang kau curi dari Gendis. Apa lagi maumu sekarang, hah?"
Arabella masih menetralkan deru napasnya. Tangannya terkepal erat.
"Apa kau benar-benar ingin tahu apa yang aku inginkan, Arga?"
Arabella menatap Arga sambil memegangi lehernya yang masih terasa sakit.
"Aku menginginkanmu! Aku ingin kau kembali bersamaku!"
Arga mencibir mendengar ucapan perempuan di depannya itu.
"Kembali bersamamu? Menjadi budak untuk memuaskan semua keinginanmu?"
"Tidak lagi, Arabella! Aku bukan lagi pria bodoh yang bisa kau manfaatkan seperti dulu."
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti saat kau menyuruhku menghancurkan Gendis!"
"Kenapa kau masih saja memikirkan perempuan buruk rupa itu, Arga? Dia sudah mati! Perempuan itu tidak akan pernah kembali meskipun kau menangisinya setiap hari!"
Arabella meringis saat sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Arga dengan penuh amarah melayangkan tamparan pada wajah cantik Arabella.
"Sekali lagi kau menyebut namanya dengan mulut kotormu itu, aku pastikan, kau akan merasakan yang lebih sakit dari ini, Arabella!"
Arga kembali meraih rahang Arga, kemudian menghempaskannya dengan kasar.
Gendis yang saat ini berada di luar kamar, sangat terkejut melihat perlakuan Arga pada Arabella. Perempuan itu tadi sengaja berteriak untuk mencuri perhatian Arga.
Namun, Arga tidak datang mendekatinya. Merasa penasaran, Gendis perlahan keluar dari kamar.
Kenapa kau begitu marah saat Arabella menyebut namaku?