NovelToon NovelToon
Identitas Yang Tertukar

Identitas Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Anak Genius
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.

Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Deru mesin Campervan abu-abu milik Niza akhirnya mati saat roda-rodanya berhenti sempurna di area parkir khusus pendaki di kaki Gunung Salak. Udara sore pegunungan yang sangat dingin seketika menyergap saat pintu mobil dibuka, membawa aroma khas tanah basah, pinus, dan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan.

Setelah mengurus izin pos pendakian untuk esok hari, rombongan kecil itu memutuskan untuk beristirahat. Untuk malam ini, Niza dan Nina menginap di kamar penginapan sederhana yang dikelola warga lokal. Sementara itu, Dias, Yoga, dan para pemuda lainnya lebih memilih merasakan sensasi campervan, mengubah bagian belakang Van Niza yang lapang menjadi tempat tidur dengan matras dan sleeping bag.

Di area halaman rumput tak jauh dari Van, sebuah api unggun kecil sudah menyala berkobar, mengusir rasa menggigit dari hawa dingin malam. Suara letupan kayu bakar beradu hangat dengan tawa renyah yang memecah keheningan perdesaan.

"Nah, ini baru namanya penikmat alam!" seru Dias sambil menusukkan sosis dan bakso ke bambu, lalu memanggangnya di atas bara api unggun.

Dias yang biasanya berpenampilan rapi dengan kemeja PNS-nya, kini hanya memakai jaket gunung tebal dan kupluk rajut, duduk santai di atas kursi lipat camping.

"Mas Dias ini kalau di kantor kecamatan kelihatannya wibawa sekali, tapi kalau sudah kena api unggun begini kelakuannya balik seperti anak SMA," ejek Yoga sambil memetik gitar akustik kusam yang dibawanya, memancing tawa dari Santi dan Niza yang duduk melingkar di atas matras.

"Lho, justru ini namanya fleksibel, Ga!" balas Dias tak mau kalah sambil terkekeh renyah. "Di kantor mengurus surat warga, di gunung mengurus sosis bakarnya Niza supaya tidak gosong!"

Niza tertawa lepas, sebuah tawa yang benar-benar bersih dan bebas dari rasa sakit misterius yang beberapa hari lalu sempat menyiksanya. Wajahnya merona segar tersapu cahaya keemasan dari lidah api. Dengan lincah, Niza membalikkan jagung bakar di atas panggangan kecil sambil meniup-niup tangannya yang kedinginan.

"Awas ya, Mas Dias, kalau sosisnya gosong, Mas Dias tidak boleh dapat jatah jagung manis buatan Niza," paut Niza bercanda, memamerkan senyumnya yang hangat.

"Wah, tidak bisa begitu! Jagung buatanmu itu item wajib kalau ke gunung, Za!" protes Dias jenaka sambil menyerahkan sosis panggang yang sudah matang pada Santi dan Niza.

"Untung kita terbiasa hidup di desa yang udaranya dingin, coba kalau kita asli orang kota, bisa beku di tempat seperti ini" celetuk Nina yang membuat semua orang tertawa.

Alunan petikan gitar Yoga mulai mengalir santai menyanyikan lagu-lagu perkemahan pop era nostalgia. Suara tawa, gurauan sederhana tentang pengalaman konyol mereka di desa, hingga aroma jagung bakar mentega yang harum memenuhi malam itu.

Bagi Dias dan teman-temannya, Niza adalah jiwa dari kelompok ini. Meskipun Niza tumbuh dengan fisik yang sangat kuat dan sering bertindak sebagai perisai pelindung jika ada masalah di desa, di tengah api unggun seperti ini, keceriaan dan adabnya yang santun membuat semua orang merasa nyaman.

"Besok jalur pendakian lumayan terjal lho, Za," kata Nina sambil mengunyah jagung bakarnya. "Kamu yakin fisikmu aman?"

Niza menepuk dadanya pelan dengan percaya diri, tersenyum lebar. "Tenang saja! Samsak tinju di rumah saja sampai jebol, apalagi tanjakan Gunung Salak! Yang penting kita saling jaga dan adab di gunung tetap nomor satu..., paling saat turun biasanya mulai ada drama"

"Nah, betul itu kata Niza," puji Dias sambil menyeruput kopi hitam panas dari gelas sengnya. "Yang penting besok jalannya santai saja, tidak usah sok pasang target cepat-cepatan. Kita menikmati perjalanan."

semuanya mengangguk patuh pada laki-laki yang usianya paling dewasa itu.

Saat lagu demi lagu selesai dinyanyikan dan teman-temannya mulai membereskan sisa makanan untuk bersiap tidur, Niza berdiri sejenak di tepi lapangan rumput. Ia menatap ke atas, ke arah puncak Gunung Salak yang berdiri tegap namun misterius di bawah guyuran cahaya bulan dan bintang-bintang.

Angin malam berembus lembut, menerpa jilbab sederhananya. Niza meraba liontin patah berukir NiZa di balik jaket tebalnya.

Rasa tenang mengisi dadanya. Tidak ada lagi denyut perih di punggung, tidak ada lagi rasa terbakar di pipinya. Jiwa perisainya terasa begitu utuh dan siap untuk melangkah mendaki keesokan harinya.

*

*

*

Di Kampus ternama pusat kota Jakarta.

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke area koridor utama gedung perkuliahan yang ramai. Di sana, panggung sandiwara yang dirancang Filio mulai dimainkan dengan begitu rapi dan penuh kebohongan.

Tania melangkah pelan menyusuri lorong dengan membawa beberapa tumpuk buku tebal di pelukannya. Ia memakai gamis yang rapi, selalu memilih warna gelap agar tak mencolok, ia selalu berusaha menutup rapat bekas luka bakar di punggungnya serta sisa memar di pergelangan tangannya. Jiwa lembut Taniza yang selalu ingin berprasangka baik membuat Tania merasa lega karena sejak Amer pulang lalu dilanjut keberangkatan Ameer, Filio bersikap begitu manis padanya.

Namun, di ujung lorong, dua orang teman sekelompok Filio yang sudah disetting sebelumnya sengaja menghadang jalan Tania.

"Eh, lihat nih! Si babu berkedok mahasiswi lewat lagi!" seru salah satu teman Filio dengan suara keras, menarik perhatian puluhan mahasiswa yang sedang lalu lalang di koridor.

"Aduh, bawa buku banyak banget. Mau sok rajin atau memang tugasmu cuma jadi pembawa barang?" cibir teman satunya lagi sambil dengan sengaja menyenggol bahu Tania.

BRUKKK!

Tumpukan buku tebal di pelukan Tania terlepas dan berserakan di atas lantai marmer yang dingin. Tania terlonjak kaget, matanya yang sayu mendadak berkaca-kaca. Dengan tangan yang masih terasa kaku dan lebam, Tania berlutut pelan untuk memunguti bukunya satu per satu diiringi tawa ejekan dari orang-orang di sekitarnya.

"Maaf... Maafkan Tania..." bisik Tania sangat pelan, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan air matanya yang mulai menetes.

Di saat semua orang menonton dengan tatapan meremehkan, tiba-tiba sebuah langkah kaki tergesa-gesa mendekat.

"STOP! Cukup! Apa-apaan kalian ini?!"

Suara lantang Filio bergema mendominasi koridor. Filio melangkah maju dengan raut wajah marah yang sangat meyakinkan, memotong tawa teman-temannya dan berdiri tepat di depan Tania seolah-olah menjadi pahlawan pelindung.

"Filio...?" cicit teman-temannya yang berpura-pura terkejut.

"Kalian tidak punya perasaan ya?!" bentak Filio penuh keadilan palsu, menunjuk wajah teman-temannya. "Tania ini memang bekerja di rumahku, tapi dia di sini berkuliah untuk menuntut ilmu! Aku tidak akan membiarkan siapa pun menindas atau memperlakukan Tania secara semena-mena di kampus ini!"

"Filio, kok kamu berubah sih, dulu kamu selalu menindasnya, kenapa sekarang membelanya?!" salah satu teman Filio berpura-pura tidak terima.

"Semua orang bisa berubah.... yang jahat bisa jadi baik, yang baik belum tentu tidak bisa menjadi jahat "Balas Filio menatap tajam temannya itu.

Filio kemudian berlutut di samping Tania. Dengan senyum manis yang sangat lembut dan pura-pura penuh kasih sayang, Filio membantu mengambilkan buku-buku Tania yang berserakan, lalu merapikannya di pelukan Tania.

"Kamu tidak apa-apa, kan, Tania? Maafkan teman-temanku ya..." tutur Filio dengan suara halus yang sengaja diperkeras agar terdengar oleh semua orang di koridor.

Tania mendongak dengan mata bersimbah air mata. Hatinya yang polos dan selalu mendambakan kasih sayang keluarga terenyuh hebat. Tania menyunggingkan senyum tulus yang sangat tersentuh.

"Tania tidak apa-apa, Filio... Terima kasih banyak ya... Filio baik sekali," bisik Tania penuh rasa terima kasih dan keikhlasan.

Melihat pemandangan itu, bisik-bisik pujian langsung membahana di sepanjang koridor kampus.

"Wah, Filio ternyata baik banget ya..."

"Iya, padahal cuma pelayannya, tapi dibela sampai segitunya di depan umum."

"Mulia sekali hatinya, tidak sombong sama sekali."

Di balik pujian yang mengalir dan air mata haru Tania, Filio menyunggingkan senyum tipis yang amat kelam. Topeng saudara sepupu pahlawan ini berhasil ia tancapkan di mata semua orang di kampus. Apalagi ia tahu ada orang-orang kepercayaan kakak sepupunya yang tersebar di mana-mana. Jika kelak terjadi musibah atau kecelakaan yang membuat Tania lenyap seperti yang direncanakan ibunya, tidak akan ada satu orang pun di kampus yang akan mencurigai Filio, karena di mata dunia, Filio adalah sosok malaikat pelindung bagi Tania.

Tania sama sekali tidak menyadari racun di balik senyuman sepupunya itu. Di dalam hatinya, Tania berdoa agar kedamaian ini bertahan selamanya, tanpa tahu bahwa bahaya yang lebih besar justru sedang mengintai di balik topeng kebaikan tersebut.

1
suti markonah
siap² filio chana..pembalasan dendam akan segera di mulai
suti markonah
ameer dah ada rasa sm tania tp blm menyadari
Sri Supriatin
g sabar nunggu lanjutannya🤭👍👍👍
M⃟3💋AisyahRendra
Lihatlah Chana... Lihatlah Filio....
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆
Sri Supriatin
Tks thor upnya🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bravo Tania sy support mendekati 17 aug. Merdeka😍😍😍
Sri Supriatin
akhirnya menuju bahagia n cepat sehat Tanisa 🙏🙏🙏
suti markonah
suatu saat kakek akan mendapatkan dua tania yg sm persis kek..yg 1 nya lg ngungsi di desa kaki gunung
Sri Supriatin
tks upnya Thor semangat Agustus n mereka /Heart//Heart/
Sri Supriatin
lanjut thor dimulai dgn bau2 cinta di desa n masion 🤣🤣🤣
suti markonah
tania jangan lupa stempel setrika panas di tubuh filio ya..klo bisa di muka nya..klo yg di siksa filio aku rela..tp klo yg di siksa taniza hatiku sebagai pembaca mendidih..
Sastri Dalila
😅😅😅
Sastri Dalila
🤭🤭
suti markonah
bab nya salah ketik ya thor?.harus bab 22
Meiny Gunawan
selamat pagi othor semangaatt ya💪 semoga sehat selalu😍
M⃟3💋AisyahRendra
jadi kalau Tania asli nikah sm Ameer kuat plus kuat 🤭 dan Dias sm Taniza 😅 tapi klo kebalik yaa gapapalah krn jodoh ga akan lari kemana.. gaskuy lanjut lagi kak, baca beberapa bab ini bikin aku tegang tahan napas krn dag dig dug hmm 🤣🤣
Anonim
lanjuuutt thor
Sri Supriatin
lanjuuut thoor😍😍😍
Sri Supriatin
cerita dong Taniza...please👍👍
Sri Supriatin
kasian Ameer...Tanianya sdh slmt...semoga cepat dipertemukan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!