NovelToon NovelToon
Untukmu, Anakku Yang Pertama

Untukmu, Anakku Yang Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Untukmu, Anakku Yang Pertama
​Penulis: Aksara Handini
Genre: Drama / Keluarga / Inspiratif
​Sinopsis / Deskripsi Cerita
​Menjadi seorang ibu muda bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika garis takdir menuntut Ibu Dini untuk berjuang sendirian demi buah hati tercintanya, Aidil. Bagi Dini, Aidil bukan sekadar anak pertama, melainkan simbol harapan, kekuatan, dan alasan terbesarnya untuk terus berdiri di tengah badai kehidupan.
​"Janji yang tak pernah ia langgar, bahkan saat dunia meninggalkannya."
​Ketika dunia membelakangi mereka dan ujian datang bertubi-tubi, Dini tak pernah menyerah. Ia mengorbankan setiap impian pribadinya demi memastikan Aidil mendapatkan masa depan yang layak. Setiap detik perjuangannya kini bukan lagi tentang dirinya sendiri, melainkan tentang senyuman dan masa depan anak laki-laki kecilnya itu.
​"Untukmu, Anakku Yang Pertama" adalah sebuah kisah yang menguras emosi tentang ketulusan kasih sayang seorang ibu, besarnya pengorbanan yang tak terhitung,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?

Pagi setelah Dini memberikan jawabannya kepada Kala, suasana Dapur Ibu Dini terasa berbeda.

Setidaknya bagi Dini.

Bagi orang lain, semuanya berjalan seperti biasa.

Kukusan mengepul sejak subuh. Aroma pandan dan santan memenuhi dapur. Mbak Ning sibuk mengatur pesanan. Santi mondar-mandir membawa kotak-kotak kue.

Namun bagi Dini, ada satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.

Kita bicarakan tanggal baik.

Ia benar-benar mengatakannya.

Artinya—

ia benar-benar akan menikah lagi.

“Din!”

Dini tersentak.

“Apa?”

Mbak Ning berdiri di depannya sambil membawa mangkuk berisi adonan.

“Aku sudah panggil tiga kali.”

“Maaf.”

“Kamu kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

Mbak Ning menyipitkan mata.

Kemudian tersenyum lebar.

“Sedang membayangkan jadi pengantin?”

“Mbak!”

Orang-orang di dapur langsung tertawa.

Santi ikut menggoda.

“Bu Dini nanti kalau sudah menikah jangan lupa sama kami.”

Dini berkacak pinggang.

“Memangnya aku mau pindah negara?”

“Siapa tahu habis nikah jadi sibuk.”

“Kerja!”

Dini mengambil lap dan melemparkannya pelan kepada Santi.

Suasana dapur kembali dipenuhi tawa.

Namun seseorang tidak ikut tertawa.

Aidil.

Anak itu duduk di sudut sambil menggambar.

Sejak pagi, ia lebih pendiam daripada biasanya.

Dini baru menyadarinya.

“Aidil.”

Tidak ada jawaban.

“Nak?”

Aidil mengangkat kepala.

“Iya, Bunda?”

Dini mendekat.

“Kenapa diam?”

“Enggak apa-apa.”

Jawaban itu membuat Dini tersenyum.

Anak sekecil itu sudah mulai menggunakan jawaban orang dewasa.

Dini duduk di sampingnya.

“Gambar apa?”

Aidil buru-buru menutup buku gambarnya.

“Rahasia.”

Dini tertawa.

“Bunda enggak boleh lihat?”

Aidil menggeleng.

“Buat Om Kala.”

Dini mengusap rambutnya.

“Ya sudah.”

Ia hendak berdiri.

Namun tangan kecil Aidil menarik bajunya.

“Bunda.”

“Iya?”

“Bunda jadi nikah sama Om Kala?”

Dini terdiam.

Ternyata anak itu mendengar pembicaraan orang-orang.

Dini kembali duduk.

“Iya.”

Aidil menatapnya.

“Kapan?”

“Belum tahu. Masih dibicarakan.”

Anak itu menunduk.

Dini mulai merasa ada sesuatu.

“Aidil senang?”

Tidak ada jawaban.

“Nak?”

Aidil akhirnya bertanya,

“Kalau Bunda nikah, Aidil tinggal sama siapa?”

Jantung Dini seolah berhenti.

Ia langsung menarik tubuh kecil itu.

“Ya sama Bunda.”

“Enggak ditinggal?”

“Siapa bilang?”

Aidil memainkan ujung bajunya.

“Reno.”

“Reno siapa?”

“Teman Aidil.”

Dini menahan napas.

“Dia bilang kalau Bunda punya suami baru, nanti Bunda punya anak baru.”

Dini diam.

“Terus Aidil dikasih ke orang lain.”

Hati Dini seperti diremas.

Anak-anak terkadang mengatakan sesuatu tanpa memahami betapa dalam dampaknya.

Dini memegang kedua pipi Aidil.

“Lihat Bunda.”

Aidil mengangkat wajah.

“Aidil tidak akan Bunda kasih ke siapa pun.”

“Benar?”

“Benar.”

“Kalau punya adik?”

“Kalau nanti Aidil punya adik, Aidil tetap anak Bunda.”

Aidil berpikir.

“Bunda sayang adik?”

“Iya.”

“Terus Aidil?”

“Sayang.”

“Banyak mana?”

Dini tersenyum.

“Kasih sayang Bunda bukan kue.”

Aidil mengerutkan dahi.

“Kok kue?”

“Kalau Bunda punya satu kue lalu dibagi dua, masing-masing dapat setengah.”

Aidil mengangguk.

“Tapi kasih sayang berbeda.”

“Kenapa?”

“Kalau anak Bunda bertambah, kasih sayang Bunda juga bertambah.”

Aidil terlihat mulai memahami.

Dini mencium keningnya.

“Kamu adalah anak pertama Bunda.”

“Selamanya?”

“Selamanya.”

Aidil akhirnya tersenyum.

Namun Dini tahu persoalannya belum selesai.

Karena ada satu pertanyaan lain yang mungkin belum berani ditanyakan anaknya.

Bagaimana dengan Kala?

Sore itu Kala datang bersama kedua orang tuanya.

Pembicaraan mengenai pernikahan berlangsung sederhana.

Tidak ada tuntutan pesta besar.

Tidak ada pembicaraan tentang gengsi.

Ibu Kala justru berkata,

“Yang penting sah dan kalian menjalani rumah tangga dengan baik.”

Dini mengangguk.

“Saya juga maunya sederhana, Bu.”

“Uangnya lebih baik dipakai untuk rumah atau usaha.”

Dini langsung menyukai kalimat itu.

Kala tersenyum.

“Nah, cocok.”

Dini melirik.

“Siapa bilang?”

Semua tertawa.

Akhirnya mereka menentukan waktu pernikahan.

Tidak terlalu lama.

Beberapa minggu lagi.

Dini menarik napas.

Semuanya terasa nyata sekarang.

Setelah pembicaraan selesai, Kala mencari Aidil.

Anak itu berada di halaman belakang.

Sendirian.

Kala menghampiri.

“Sedang apa?”

Aidil buru-buru menyembunyikan sesuatu.

“Enggak.”

Kala duduk di sebelahnya.

“Rahasia?”

Aidil mengangguk.

“Buat siapa?”

Aidil diam.

Kala tidak memaksa.

Mereka duduk bersama.

Beberapa menit kemudian, Aidil akhirnya menyerahkan selembar kertas.

“Buat Om.”

Kala menerimanya.

Gambar tiga orang.

Dini.

Aidil.

Kala.

Di atasnya ada sebuah rumah dengan matahari besar.

Kala tersenyum.

“Bagus sekali.”

Aidil menunduk.

“Om.”

“Hm?”

“Om nanti tinggal sama Aidil?”

“Iya.”

“Setiap hari?”

“Kalau pekerjaan enggak membawa Om pergi, iya.”

Aidil diam lagi.

Kala memperhatikan wajahnya.

“Ada yang mau ditanyakan?”

Anak itu mengangguk.

“Tanya saja.”

Aidil membutuhkan waktu cukup lama sebelum akhirnya berkata,

“Kalau Om nikah sama Bunda...”

Kala menunggu.

“Om jadi apa?”

Pertanyaan sederhana.

Namun Kala langsung memahami maksudnya.

Ia tidak ingin memberikan jawaban sembarangan.

“Menurut Aidil?”

Aidil mengangkat bahu.

“Suaminya Bunda.”

“Benar.”

“Terus buat Aidil?”

Kala terdiam.

Ia berjongkok di depan anak itu.

“Om tidak tahu.”

Aidil bingung.

“Kok enggak tahu?”

“Karena itu bukan Om yang menentukan.”

“Terus siapa?”

“Kamu.”

Aidil menunjuk dirinya.

“Aidil?”

Kala mengangguk.

“Kamu sudah punya ayah kandung.”

Wajah Aidil berubah sedikit.

Ia mengenal nama Yudi.

Walaupun hubungan mereka tidak dekat.

“Om tidak akan meminta Aidil melupakan siapa pun.”

Kala berbicara perlahan.

“Kalau Aidil mau tetap panggil Om Kala, boleh.”

Aidil mendengarkan.

“Kalau mau panggil Om juga boleh.”

Kala tersenyum.

“Yang penting Aidil nyaman.”

Anak itu menunduk.

Kemudian pertanyaan berikutnya muncul.

“Om sayang Aidil?”

Kala tersenyum.

“Sayang.”

“Kalau nanti Om punya anak sendiri?”

Pertanyaan itu membuat dada Kala sesak.

Ternyata ketakutan Dini benar.

Aidil sudah memikirkannya.

Kala menarik anak itu mendekat.

“Aidil.”

“Iya?”

“Dengar baik-baik.”

Anak itu menatapnya.

“Kalau nanti Om dan Bunda punya anak, dia memang akan menjadi anak kandung Om.”

Aidil mulai menunduk.

“Tapi itu tidak membuat Aidil kehilangan tempat.”

“Kenapa?”

“Karena keluarga bukan perlombaan.”

Aidil mengerutkan dahi.

Kala tertawa kecil.

Ia mencoba menggunakan bahasa yang lebih sederhana.

“Misalnya Aidil punya dua mainan kesukaan.”

“Iya.”

“Kalau punya mainan baru, apa mainan lama langsung dibuang?”

Aidil cepat menggeleng.

“Enggak!”

“Nah.”

Kala menyentuh dadanya.

“Hati juga begitu.”

Aidil memperhatikan.

“Di sini tempatnya luas.”

Ia menunjuk dada sendiri.

“Cukup untuk Bunda.”

Kemudian menyentuh hidung Aidil.

“Cukup untuk kamu.”

Aidil tertawa.

“Dan kalau suatu hari ada adik, masih cukup untuk dia.”

Mata anak itu mulai berbinar.

“Benar?”

“Benar.”

Aidil terdiam cukup lama.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat Kala kehilangan kata-kata.

“Kalau begitu...”

Ia menggigit bibir.

“Boleh enggak Aidil panggil Om... Ayah?”

Kala membeku.

Di balik pintu dapur, Dini yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka langsung menutup mulutnya.

Air mata mengalir.

Kala tidak langsung menjawab.

Ia menelan ludah.

Matanya memerah.

“Aidil yakin?”

Anak itu mengangguk.

“Tapi bukan sekarang.”

Kala tersenyum.

“Kapan?”

“Nanti kalau Om sudah nikah sama Bunda.”

Kala tertawa di antara rasa harunya.

“Baik.”

Aidil mengangkat jari kelingking.

“Janji?”

Kala mengaitkan kelingkingnya.

“Janji.”

Dini berbalik sebelum mereka mengetahui dirinya berada di sana.

Ia berjalan masuk ke dapur.

Air matanya terus jatuh.

Mbak Ning yang melihatnya langsung panik.

“Din?”

Dini menggeleng.

“Enggak apa-apa.”

“Terus kenapa nangis?”

Dini tersenyum.

“Aku bahagia.”

Malamnya, Dini dan Kala duduk di depan ruko setelah Aidil tertidur.

“Aku dengar percakapan kalian.”

Kala menoleh.

“Yang mana?”

“Soal panggilan Ayah.”

Kala diam.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena tidak memaksanya.”

Kala menghela napas.

“Din.”

“Hm?”

“Aku ingin bicara soal satu hal.”

Dini menatapnya.

“Setelah kita menikah nanti, jangan pernah merasa kamu harus memilih antara aku dan Aidil.”

Dini terdiam.

“Kalau suatu hari aku salah kepada Aidil, tegur aku.”

Kala menatapnya serius.

“Jangan membelaku hanya karena aku suamimu.”

Mata Dini kembali panas.

“Dan sebaliknya.”

Kala tersenyum.

“Kalau Aidil salah, kita ajari bersama.”

Dini mengangguk.

“Kala.”

“Iya?”

“Aku punya permintaan.”

“Apa?”

“Jangan pernah membandingkan Aidil dengan anak kita nanti.”

Kala diam.

“Sekalipun suatu hari kita punya anak kandung.”

“Aku janji.”

“Jangan cepat janji.”

Dini memandangnya serius.

“Pikirkan dulu.”

Kala benar-benar diam beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

“Aku tetap berjanji.”

“Kenapa?”

“Karena aku menikahimu bukan hanya ketika hidupmu kosong.”

Kala menggenggam tangannya.

“Aku menikahimu bersama semua yang sudah menjadi bagian hidupmu.”

Air mata Dini jatuh.

“Aidil bagian terbesar dari hidupku.”

“Aku tahu.”

“Usaha ini juga.”

“Aku tahu.”

“Mbak Ning?”

Kala mengernyit.

“Itu bisa dinegosiasikan.”

Dini tertawa.

Dari dalam dapur tiba-tiba terdengar teriakan.

“AKU DENGAR!”

Kala langsung berdiri.

“Waduh.”

Mbak Ning keluar membawa sapu.

“Kala!”

Kala berlari.

Dini tertawa sampai perutnya sakit.

Untuk beberapa saat, hidup terasa begitu ringan.

Dua minggu menjelang pernikahan, Dini mulai mempersiapkan semuanya.

Ia menolak pesta mewah.

“Aku tidak mau berutang cuma untuk pesta satu hari.”

Kala setuju.

Mereka memilih akad dan syukuran sederhana di halaman Dapur Ibu Dini.

Para perempuan peserta pelatihan menawarkan diri membuat makanan.

Bu Salma bersikeras menyediakan beberapa hidangan.

Mbak Ning mengangkat dirinya sendiri sebagai koordinator acara.

“Siapa yang mengangkat Mbak?”

“Aku.”

“Memangnya boleh?”

“Boleh.”

Dini menyerah.

Di tengah kesibukan itu, ia berdiri suatu sore di depan papan nama usahanya.

DAPUR IBU DINI.

Dini menyentuh tulisan tersebut.

Dari perempuan yang pernah diusir dalam keadaan hamil...

menjadi ibu tunggal.

Pencuci pakaian.

Penjual kue.

Pemilik usaha.

Dan sekarang—

ia akan menjadi istri lagi.

Tetapi kali ini berbeda.

Pernikahan bukan akhir dari perjuangannya.

Bukan pula tujuan terbesar hidupnya.

Kala adalah teman perjalanan.

Bukan penyelamat.

Dini tetap memiliki mimpi.

Ia masih ingin memperbesar usaha.

Masih ingin membuka tempat pelatihan bagi perempuan.

Masih ingin memastikan Aidil mendapatkan pendidikan terbaik.

Dan untuk pertama kalinya, Dini tidak merasa harus memilih antara menjadi perempuan mandiri atau memiliki keluarga.

Ia bisa menjadi keduanya.

Malam sebelum akad, Dini duduk di samping Aidil yang sedang tidur.

Baju koko kecil untuk esok hari tergantung di lemari.

Dini membelai rambut anaknya.

“Besok hidup kita berubah sedikit, Nak.”

Aidil membuka mata.

Ternyata belum tidur.

“Bunda.”

“Iya?”

“Besok Om Kala jadi Ayah?”

Dini tersenyum.

“Iya, kalau Aidil masih mau.”

Aidil mengangguk.

Kemudian memeluk pinggang ibunya.

“Bunda jangan takut.”

Dini terkejut.

“Siapa bilang Bunda takut?”

“Aidil tahu.”

Dini tertawa kecil.

“Kok tahu?”

“Bunda kalau takut suka pegang tangan sendiri.”

Dini melihat tangannya.

Benar.

Jemarinya sedang saling menggenggam erat.

Anak kecil itu ternyata memperhatikannya.

Aidil memegang tangan ibunya.

“Sekarang Aidil pegang.”

Air mata Dini jatuh.

Ia mencium kening anaknya.

“Terima kasih.”

Aidil kembali memejamkan mata.

Beberapa menit kemudian napasnya teratur.

Dini memandangnya lama.

Dulu ia bertahan hidup demi anak ini.

Besok, mereka akan membuka pintu untuk seseorang masuk ke keluarga kecil mereka.

Bukan untuk menggantikan siapa pun.

Bukan untuk menghapus masa lalu.

Tetapi untuk membangun masa depan.

Dini melihat baju pengantin sederhana yang tergantung di sudut kamar.

Dadanya masih berdebar.

Namun kali ini ia tidak ingin melarikan diri.

Ia siap.

Besok—

Dini akan menikah dengan Kala.

Dan ketika ijab kabul selesai, satu suara kecil akan memanggil Kala dengan sebutan yang selama ini hanya tersimpan dalam hati Aidil.

Ayah.

— BAB 34 SELESAI —

Bab ini langsung menyambung ke Bab 35: “Hari Ketika Dini Memilih Bahagia” yang sudah kita buat, sehingga urutannya sekarang sudah lengkap.

1
Lisa
Rendi harus mempertimbangkan dgn sungguh²..menyerahkan data ke pihsk lawan atau tetap berada di pihak dapur Dini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!