Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil?
Bel kembali berdentang memenuhi seluruh area taman kanak-kanak, pertanda istirahat telah tiba.
Kleng... kleng...
Suara riuh anak-anak langsung memenuhi koridor sekolah.
“Jangan lupa tugasnya, besok dikumpulkan, ya,” ujar Ainun sambil tersenyum hangat kepada murid-muridnya.
“Baik, Bu Ainun!” jawab mereka hampir bersamaan.
“Kalian boleh istirahat.”
Satu per satu anak-anak keluar dari kelas.
Setelah ruang kelas benar-benar kosong, ia merapikan beberapa buku gambar yang masih tertinggal di atas meja, lalu mengembuskankan napas pelan.
Ia meraih tas selempangnya, kemudian melangkah keluar kelas menuju ruang guru.
Baru beberapa langkah... Mendadak langkahnya terhenti. Pandangannya mengabur. Lantai di bawah kakinya seolah bergoyang pelan.
Ainun refleks mundur hingga punggungnya bersandar pada dinding koridor. Jemarinya mencengkeram tali tas erat-erat, berusaha mempertahankan keseimbangan.
'Ya Allah... kenapa kepalaku pusing sekali?'
Ia memejamkan mata sesaat, lalu menarik napas perlahan. Namun, rasa pening itu tak juga mereda. Bahkan pandangannya semakin berkunang-kunang.
“Bu Ainun?”
Suara seseorang membuat Ainun membuka mata. Di hadapannya, Bu Melda menatapnya dengan wajah penuh khawatir.
“Bu Ainun, Ibu kenapa?” tanyanya sambil mendekat.
Ainun mencoba tersenyum, tetapi wajahnya sudah terlihat pucat.
“Kepala saya... pusing sekali, Bu,” jawabnya lirih.
Bu Melda langsung memegang lengan Ainun, khawatir wanita itu kehilangan keseimbangan.
“Waduh, wajah sampean pucat begini.” Ia mengernyit cemas. “Sampean belum sarapan, ya?”
Ainun hanya mengulas senyum tipis. “Iya... tadi cuma sempat beli roti.”
“Lho, terus rotinya dimakan, kan?”
Ainun terdiam beberapa detik sebelum menggeleng pelan.
“Belum sempat.”
Bu Melda mengembuskan napas panjang.
“Ya ampun, Bu Ainun. Ayo, saya antar ke ruang UKS dulu. Sampean harus istirahat.”
Ainun tak lagi memiliki tenaga untuk menolak.
“Iya, Bu,” jawabnya pelan.
Bu Melda segera merangkul pundaknya dengan hati-hati, lalu menuntunnya menyusuri koridor menuju ruang UKS.
Ainun mengikuti langkah wanita itu perlahan.
Setiap langkah terasa semakin berat, sementara kepalanya masih berdenyut hebat.
. . .
Setibanya di ruang UKS, Bu Melda membantu Ainun duduk di atas brankar.
Namun, belum sempat mengatur napas, perutnya tiba-tiba bergolak hebat.
Ainun refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Bu Ainun?” panggil Bu Melda cemas.
Tanpa sempat menjawab, Ainun segera bangkit dari brankar dan berlari kecil menuju wastafel yang berada di sudut ruangan.
Ia mencengkeram bibir wastafel erat-erat.
“Uwek...”
Tubuhnya sedikit membungkuk saat berusaha memuntahkan isi perutnya.
Namun, karena sejak pagi belum ada makanan yang benar-benar masuk ke lambungnya, yang keluar hanya cairan bening.
Rasa mual itu membuat kepalanya semakin berputar.
Napasnya memburu ketika tubuhnya perlahan bersandar pada dinding di samping wastafel.
‘Kenapa begini...?’
Bu Melda segera menghampirinya dan mengusap pelan punggung Ainun.
“Bu, sepertinya sampean masuk angin.” Nada suaranya penuh kekhawatiran. “Ayo duduk dulu. Saya panggilkan dokter UKS.”
Ainun mengangguk lemah. “Iya, Bu.”
Dengan langkah pelan, ia kembali ke brankar dan duduk di tepinya.
Pandangan Ainun menyapu ruangan itu sekilas.
‘Taman kanak-kanak ini memang berbeda. Karena sekolah swasta, fasilitasnya juga lengkap. Bahkan UKS di sini memiliki dokter yang berjaga setiap hari.’
‘Bahkan makanan pun selalu di atur sesuai standar dan gizi.’
Tak berselang lama, pintu UKS terbuka. Seorang dokter wanita mengenakan jas putih masuk sambil membawa map rekam medis.
Wanita itu menghampiri Ainun, lalu tersenyum ramah.
“Selamat siang, Bu Ainun,” sapanya lembut. “Saya dengar Ibu kurang enak badan.”
Ainun membalas senyum itu tipis. “Iya, Dok.”
Dokter itu menarik kursi, lalu duduk di hadapan Ainun.
“Coba Ibu ceritakan, apa yang sedang Anda rasakan?”
Ainun menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Kepala saya pusing sejak tadi pagi, Dok.” Ia menelan ludah. “Terus... baru saja perut saya juga mual.”
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ruangan itu diliputi keheningan.
Ainun menunggu jawaban dari dokter dengan jemari yang saling bertaut di atas pangkuannya.
Dokter itu menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Bu Ainun, tolong buka sedikit kancing bajunya. Saya ingin memeriksa dulu.”
“Iya, Dok.”
Ainun mengangguk pelan. Jemarinya segera membuka satu kancing paling atas seragam yang dikenakannya.
‘Untung saja dokternya perempuan.’
Dokter mengambil stetoskop yang menggantung di lehernya, lalu memasang kedua earpiece ke telinga.
“Tarik napas yang dalam, Bu.”
Ainun menurut.
Udara dingin dari kepala stetoskop menyentuh dadanya hingga membuat bahunya sedikit menegang.
“Sekali lagi,” pinta dokter lembut.
Ainun kembali menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan.
Beberapa saat kemudian, dokter memindahkan stetoskop ke beberapa titik sebelum akhirnya melepaskannya.
“Sudah, Bu.”
Stetoskop itu kembali menggantung di leher sang dokter.
Ainun segera merapikan kembali kancing bajunya. Tatapannya tak lepas dari wajah dokter yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana, Dok?” tanyanya pelan. “Saya cuma masuk angin, kan? Soalnya dari pagi memang belum sempat sarapan.”
Dokter tidak langsung menjawab.
Ia menatap Ainun beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang akan diucapkannya.
“Maaf, Bu Ainun,” ucapnya hati-hati. “Saya khawatir kalau saya langsung menyimpulkan penyebab keluhan Ibu.”
Kening Ainun langsung berkerut. “Maksud Dokter?”
Dokter meletakkan pulpennya di atas meja, lalu menatap Ainun dengan tenang.
“Sebaiknya Ibu melakukan pemeriksaan lanjutan di klinik obstetri dan ginekologi atau dokter kandungan.”
Ainun membeku. “Dokter kandungan...?” gumamnya lirih.
Dadanya mendadak berdebar lebih cepat.
‘Kenapa harus ke dokter kandungan...?’
Ia menatap dokter itu tanpa berkedip.
Dokter itu menatap lembar data di tangannya, lalu kembali mengalihkan pandangan kepada Ainun.
“Bu Ainun, saya boleh bertanya sesuatu?”
Ainun mengangguk pelan. “Silakan, Dok.”
“Ibu sudah menikah?”
Pertanyaan itu membuat Ainun terdiam sesaat.
“B-belum, Dok,” jawabnya lirih. “Ada apa memangnya, Dokter?”
Dokter mengernyit tipis. Jemarinya mengetuk pelan map rekam medis. “Tidak ada apa-apa, Bu Ainun.”
Ainun hanya mengangguk pelan.
Pernikahannya memang berlangsung mendadak. Bahkan, tak ada rekan guru yang ia undang ke acara pernikahan itu.
Dokter itu lalu menarik napas.
“Hanya saja… dari keluhan yang Ibu sampaikan, ditambah mual dan pusing yang Ibu rasakan, saya justru lebih mengarah pada kemungkinan kehamilan.”
Kalimat berikutnya terdengar begitu jelas di telinga Ainun.
“Menurut dugaan saya... Ibu sedang hamil.”
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar.
‘Hamil...?’
Kelopak mata Ainun berkedip pelan. Ia menggeleng kecil, seakan tidak mampu menerima apa yang baru saja didengarnya.
Perlahan, telapak tangannya bergerak menyentuh perutnya yang masih tampak rata.
‘Aku... hamil?’ Napasnya mulai memburu. ‘Bagaimana mungkin?’
Pikirannya langsung melayang pada malam-malam yang selalu ingin dilupakannya.
‘Mas Sagara selalu memberiku pil setiap selesai...’
Jemarinya tanpa sadar mengepal.
‘Aku nggak pernah tahu pil apa itu. Yang kutahu, itu obat agar nggak terjadi kehamilan. Kalau begitu... kenapa aku bisa hamil? Aku nggak pernah telat meminumnya.’
Rasa takut perlahan merambat memenuhi hatinya.
Bayangan wajah Sagara yang dingin muncul begitu saja di benaknya.
‘Kalau Mas Sagara tahu... apakah beliau akan menerima anak ini?’
Bibir Ainun bergetar pelan.
‘Atau... beliau justru akan memaksaku menggugurkannya?’
Tanpa terasa, matanya mulai memanas.
Dengan susah payah, ia menelan rasa takut yang mengimpit dadanya, lalu mengangkat wajah menatap dokter.
“Dok...” suaranya terdengar lirih. “Setelah ini saya akan periksa ke dokter kandungan.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Tapi... saya mohon.” Jemarinya saling menggenggam erat. “Tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun dulu.”
Dokter menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
“Baik, Bu Ainun.”
Nada suaranya terdengar menenangkan.
“Saya akan menjaga kerahasiaan kondisi Ibu. Namun, sebaiknya Ibu segera melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan agar mendapatkan kepastian dan penanganan yang tepat.”
Ainun mengembuskan napas perlahan.
“Iya, Dok.”
Meski bibirnya menjawab, pikirannya masih dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang.
‘Kalau dugaan dokter itu benar... bagaimana aku harus mempertahankan anak ini di tengah pernikahan yang hanya sementara?’
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪