NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mentari perlahan mulai tergelincir ke ufuk barat, menyisakan bias jingga keemasan yang memantul indah di kaca jendela mobil SUV hitam milik Devan. Waktu kunjungan di Panti Asuhan Kasih Bunda telah usai. Saat Alya dan Devan berdiri di teras depan untuk bersiap pamit, suasana mendadak menjadi sedikit riuh oleh suara anak-anak kecil yang enggan melepas kepergian mereka.

"Kak Devan jangan lama-lama ya kalau mau main ke sini lagi!" seru seorang anak laki-laki bertubuh gempal sambil menarik-narik ujung jaket Devan dengan manja.

"Iya, janji. Nanti Kakak mari lagi pas akhir pekan depan," jawab Devan lembut sambil mengusap kepala anak tersebut penuh kasih sayang.

Pandangan Devan kemudian beralih ke arah Alya yang dikelilingi oleh sekelompok anak perempuan. Mereka menggenggam erat tangan Alya, seolah tidak ingin gadis berhati tulus itu beranjak pergi.

"Kak Alya, kuenya tadi enak banget! Besok-besok kalau bikin kue lagi, bawa ke sini lagi ya, Kak!" ucap seorang anak perempuan berambut kepang dua dengan mata berbinar-binar penuh harap.

Alya berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan anak-anak tersebut, lalu tersenyum tulus sembari merangkul pundak mereka secara bergantian. "Iya, Sayang. Kak Alya janji, kapan-kapan kalau ada waktu luang, Kak Alya pasti bakal main ke sini lagi bawain kue yang banyak buat kalian. Kalian yang rajin ya belajarnya."

"Horeee! Janji ya, Kak!" teriak mereka serempak dengan gelak tawa riang.

Ibu Maria yang berdiri di ambang pintu tersenyum hangat menyaksikan pemandangan tersebut. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, lalu merangkul pundak Alya dan Devan bergantian. "Hati-hati di jalan ya, Nak Devan, Nak Alya. Terima kasih banyak untuk kunjungan dan kue-kue lezatnya hari ini. Kehadiran kalian berdua benar-benar membawa kebahagiaan luar biasa untuk anak-anak."

"Sama-sama, Bu Maria. Devan pamit dulu ya, Bu," ucap Devan sopan, mencium tangan Ibu Maria diikuti oleh Alya.

Setelah melambaikan tangan terakhir kalinya kepada anak-anak panti yang berbaris di halaman, Devan membukakan pintu mobil untuk Alya. Mobil pun perlahan melaju meninggalkan pekarangan panti, membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu penerangan jalan.

Suasana di dalam kabin mobil terasa jauh berbeda dibandingkan saat perjalanan berangkat tadi. Jika sebelumnya udara dipenuhi dengan ketegangan dan rasa canggung yang pekat, kini atmosfer di sekitar mereka terasa begitu hangat, lembut, dan dipenuhi oleh desiran halus yang tak kasat mata.

Alya duduk bersandar di kursi penumpang, menatap keluar jendela ke arah kerlip lampu kota. Pikirannya melayang menembus kejadian demi kejadian sepanjang hari ini—mulai dari jebakan keji Clara yang hampir meruntuhkan dunianya, ketegasan Pak Joko, hingga pembelaan luar biasa dari Devan yang berujung pada kehangatan sore di panti asuhan. Tanpa sadar, sebuah senyuman kecil terukir di sudut bibirnya.

Di sisi lain, Devan yang sedang fokus menyetir sesekali melirik ke arah Alya melalui ekor matanya. Cowok itu menyadari betapa kuatnya gadis di sampingnya ini. Di balik kerapuhan fisik karena kurang tidur dan tekanan bertubi-tubi, Alya memiliki keteguhan hati yang jauh melampaui usianya. Ada sesuatu dari diri Alya yang berhasil meruntuhkan dinding pertahanan dingin yang selama ini dibangun Devan terhadap dunia luar.

"Al..." panggil Devan pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kabin mobil.

Alya menoleh, mengerjap perlahan. "Ya, Devan?"

Devan tersenyum tipis, matanya tetap lurus menatap jalanan di depan. "Gimana perasaan lo sekarang? Capek banget ya?"

Alya menggeleng pelan, lalu menghela napas lega. "Jujur, tadinya aku mikir hari ini adalah hari paling sial dalam hidup aku, Dev. Rasanya semua beban di dunia kayak numpuk jadi satu di pundak aku pagi tadi. Tapi... setelah diajak ke panti asuhan tadi, semua rasa sesak itu kayak hilang begitu aja. Makasih banyak ya, Devan. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku cuma bakal meratapi nasib di kamar seharian."

Devan terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Lo gak perlu berterima kasih, Al. Lo gak salah apa-apa, dan lo gak pantas diperlakukan seperti itu sama orang licik kayak Clara. Apa yang terjadi hari ini murni bentuk pertanggungjawaban gua buat ngelurusin keadaan."

Kata-kata Devan terdengar begitu tulus, membuat dada Alya berdesir hangat untuk kesekian kalinya. Perjalanan sore itu terasa begitu singkat. Tak terasa, mobil SUV hitam milik Devan sudah berbelok masuk ke gang sempit menuju kawasan rumah Alya.

Mobil berhenti tepat di depan rumah berdinding papan kayu milik keluarga Alya. Suasana sekitar tampak tenang karena hari sudah mulai malam. Alya segera membuka pintu mobil dan turun, disusul oleh Devan yang mematikan mesin mobilnya. Devan ikut turun dan mengambil sisa kotak kue kosong dari jok belakang untuk diserahkan kepada Alya.

"Udah sampai," ucap Devan lembut saat berdiri di hadapan Alya di bawah teras rumah yang diterangi lampu kuning temaram.

Alya menerima kotak-kotak tersebut dengan senyuman manis. "Makasih banyak ya, Devan, buat semuanya hari ini. Mau mampir dulu sebentar ke dalam? Ada Ibu di rumah."

Devan tersenyum ramah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Lain kali ya, Al. Udah malam juga, gak enak sama ibu lo kalau bertamu kemalaman. Lo harus istirahat total malam ini biar besok badan lo segar lagi."

"Iya, Devan. Hati-hati di jalan ya pulangnya," jawab Alya tulus.

Setelah melambaikan tangan sekali lagi, Devan membalikkan badan dan masuk ke dalam mobilnya. Alya berdiri di teras, memperhatikan mobil Devan yang perlahan mundur, berputar arah, dan meluncur pergi meninggalkan gang rumahnya hingga bayangan kendaraannya benar-benar hilang dari pandangan.

Alya menarik napas panjang, meresapi ketenangan malam yang menyelimuti hatinya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui ibunya.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju di jalanan utama kota, Devan menyetir dengan sebelah tangan sementara tangan kanannya meraih ponsel yang tergeletak di *dashboard*. Ia membuka aplikasi pesan instan, mencari kontak Alya yang baru saja ia simpan siang tadi.

Tanpa membuang waktu, jemari Devan dengan cepat mengetikkan sebuah pesan singkat untuk memastikan urusan pembayaran kue yang sempat tertunda akibat drama hari ini.

*"Halo, Alya. Maaf ganggu istirahat malam kamu. Boleh tolong kirimin nomor rekening kamu? Biar aku transfer pembayaran untuk dua ratus kue yang kita bawa ke panti tadi sore ya. Selamat istirahat."*

Devan menekan tombol kirim, lalu menyunggingkan senyuman tipis penuh arti saat melihat status pesannya berubah menjadi terkirim. Malam itu, di bawah naungan langit kota yang damai, lembaran baru dalam hubungan mereka perlahan-lahan mulai terbuka.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!