NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tik tok tik tok.

Suara lambat jarum jam dinding memecah keheningan di dalam kamar presidensial Hotel Grand Surya.

Waktu sudah menunjuk tepat ke angka delapan pagi.

Sony duduk dengan santai di atas sofa kulit tunggal sambil memegang sebuah cangkir porselen putih.

Sruput.

Dia menyesap kopi hitamnya pelan-pelan sambil menatap lurus ke arah layar televisi seratus inci di depannya.

"Selamat pagi pemirsa, Breaking News pagi ini mengejutkan seluruh negeri."

Suara tegang pembawa acara berita terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.

"Sebuah kebocoran data rahasia berskala masif baru saja dikirimkan secara anonim ke seluruh meja redaksi media nasional."

Nadhira yang duduk di sofa seberang Sony menatap layar televisi itu dengan mata terbuka lebar.

Kedua tangannya meremas bantal sofa dengan sangat kuat karena perasaan gugup yang luar biasa.

"Data tersebut mengungkap indikasi kuat korupsi, pencucian uang, hingga dugaan pembunuhan terencana yang melibatkan para petinggi Grup Dimas."

Layar televisi itu tiba-tiba berganti menampilkan salinan dokumen keuangan palsu dan juga beberapa klip video cctv yang buram.

Semua data itu adalah data dari flashdisk yang dicuri oleh Nadhira sebelumnya.

"Mereka benar-benar menyiarkannya."

Nadhira bergumam dengan suara yang bergetar.

"Semua stasiun televisi besar menyiarkannya secara bersamaan pagi ini."

Leo yang berdiri dengan tegap di sudut ruangan langsung mengangkat remote televisi di tangannya.

Klik klik klik.

Dia memindahkan saluran televisi dari satu ke yang lain dengan sangat cepat.

"Skandal Mega Korupsi Grup Dimas Mengguncang Negara."

"Kehancuran Mendadak Kerajaan Bisnis Pratama."

"Bukti Baru Kasus Pembunuhan yang Ditutupi Rapat oleh Grup Dimas Terungkap."

Setiap saluran televisi menampilkan judul berita utama yang kurang lebih sama persis.

"Bagaimana keadaan di internet saat ini, Leo?" tanya Sony dengan nada tenang sambil meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kaca.

Leo menatap layar tablet di tangan kirinya dan mulai menggeser layarnya ke bawah.

"Sesuai dengan rencana Anda, Tuan."

"Tagar TangkapDimas dan SkandalDimasGroup saat ini merajai puncak tren media sosial di seluruh negeri."

"Publik benar-benar marah besar melihat semua bukti kejahatan yang disiarkan barusan."

Sony hanya tersenyum tipis mendengar laporan dari bawahan setianya itu.

"Lalu bagaimana dengan pasar saham mereka?" tanya Sony lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

"Begitu bursa saham dibuka lima menit yang lalu, saham Grup Dimas langsung terjun bebas, Tuan."

"Para investor asing menarik dana mereka secara massal pagi ini karena panik."

"Mereka sudah merugi hingga triliunan rupiah hanya dalam hitungan beberapa menit saja."

Nadhira menelan ludahnya dengan susah payah mendengar laporan gila itu.

Dia memang tahu kalau data di dalam flashdisk itu sangat berbahaya bagi kelangsungan Grup Dimas.

Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau efek kehancurannya akan secepat dan semengerikan ini.

"Kau ini sebenarnya monster macam apa, Sony?" tanya Nadhira tanpa sadar menatap pria di depannya.

"Kau menghancurkan kerajaan bisnis yang dibangun bertahun-tahun hanya sambil duduk santai minum kopi di sini."

"Lalu bagaimana kau bisa membuat semua stasiun televisi itu setuju untuk menyiarkan berita ini secara serentak?"

"Bukankah para petinggi media itu biasanya sangat takut dengan pengaruh besar Grup Dimas?"

"Apalagi Dimas dikenal sering menekan dan mengancam redaksi berita yang berani macam-macam padanya."

Sony menoleh perlahan dan menatap Nadhira dengan pandangan datar.

"Uang dan kekuasaan yang jauh lebih besar, Nadhira."

"Di dunia yang busuk ini, kesetiaan para penjilat itu sangat murah harganya."

"Mereka hanya akan setia pada pihak yang bisa memberikan keuntungan paling besar untuk mereka."

"Dan ketika Leo mewakiliku menawarkan uang sepuluh kali lipat lebih banyak dari yang biasa Dimas berikan."

"Ditambah dengan ancaman nyata akan menghancurkan stasiun televisi mereka jika berani menolak."

"Mereka semua langsung berubah menjadi anjing penurut yang sangat manis."

Nadhira terdiam rapat mendengar penjelasan yang sangat masuk akal sekaligus menakutkan itu.

"Dan ingat, ini baru hidangan pembuka saja, Nadhira."

"Aku belum benar-benar melakukan apa-apa pada mereka secara fisik."

"Aku hanya ingin Dimas merasakan bagaimana rasanya saat seluruh dunia berbalik memusuhinya."

"Aku ingin dia ditinggalkan sendirian saat dia sedang jatuh."

"Sama persis seperti apa yang dia lakukan pada keluargaku lima tahun yang lalu."

Nadhira merinding mendengar nada suara Sony yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk tulang.

Di sisi lain kota Jakarta, tepatnya di lantai paling atas Gedung Utama Grup Dimas.

Suasana di sana benar-benar kacau balau seperti kapal pesiar yang akan segera tenggelam.

Kring kring kring.

Suara dering puluhan telepon menggema tiada henti di seluruh penjuru ruangan kantor staf.

Para karyawan berlarian ke sana kemari dengan wajah panik dan pakaian yang sudah berantakan.

Beberapa dari mereka bahkan sudah mulai memasukkan barang-barang pribadi ke dalam kardus untuk kabur.

Prang.

Di dalam ruang direktur utama, Dimas membanting teleponnya hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding.

"Sialan."

"Brengsek."

"Berani-beraninya mereka semua memblokir nomor teleponku pagi ini."

Dimas merutuk dengan wajah merah padam dan urat leher yang menonjol keluar seperti cacing.

Dia baru saja mencoba menghubungi Kapolda dan beberapa menteri kenalannya berkali-kali.

"Kau tahu berapa banyak uang yang sudah aku suapkan ke mulut Kapolda babi itu?" teriak Dimas entah pada siapa.

"Setiap bulan aku selalu mengirimkan milyaran rupiah untuk menutupi bisnis gelap kita di pelabuhan."

"Tapi sekarang saat aku butuh bantuan kecil saja, dia malah berani mematikan ponselnya."

Rina yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menangis ketakutan melihat kekasihnya mengamuk.

"Lalu menteri keuangan brengsek itu juga sama saja kelakuannya."

"Bulan lalu aku baru saja membelikannya villa mewah di Bali agar dia mau memuluskan proyek tender kita."

"Dan lihat balasan mereka semua sekarang padaku."

"Mereka semua memutus kontak denganku demi menyelamatkan karir mereka sendiri."

Dimas berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya yang disisir rapi.

"Sayang, apa yang harus kita lakukan sekarang?" rengek Rina melangkah mendekati Dimas.

"Wartawan sudah mengepung seluruh pintu masuk dan lobi bawah gedung kita."

"Kita tidak bisa keluar dari sini sama sekali."

Dimas menatap wajah Rina dengan pandangan nanar lalu mendadak tertawa sumbang.

Hahaha.

Suara tawanya menggema sangat keras di ruangan itu seperti orang yang baru saja kehilangan akal sehatnya.

"Ini semua pasti ulah si bajingan Sony itu."

"Hanya dia satu-satunya orang gila yang punya motif dan nyali untuk menghancurkanku seperti ini."

Rina menggelengkan kepalanya dengan cepat tanda tidak setuju.

"Tapi bagaimana mungkin dia bisa meretas sistem kita dan menyebarkan semua ini ke media massa?"

"Dia itu kan hanya sampah buangan yang baru saja keluar dari penjara, Dimas."

"Dia tidak mungkin punya uang atau koneksi sehebat itu."

Dimas mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.

"Aku tidak peduli siapa babi kaya raya yang membantunya dari belakang layar sekarang."

"Jika dia memang ingin mengajakku bermain kotor, maka aku akan melayaninya sampai mati."

Dimas berbalik dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah sebuah lukisan besar di dinding ruangannya.

Dia menggeser lukisan itu dengan kasar dan menampilkan sebuah brankas besi yang tertanam di balik dinding.

Tit tit tit.

Dimas menekan beberapa kombinasi angka dengan cepat lalu menarik tuas brankas tersebut.

Cklek.

Pintu baja itu terbuka dan Dimas langsung mengambil sebuah ponsel hitam tebal dari dalam sana.

Ponsel itu terlihat sangat tebal dan kuno dengan antena satelit yang panjang menyembul di atasnya.

"Sayang, kau mau menelepon siapa pakai ponsel aneh itu?" tanya Rina dengan suara yang semakin bergetar.

"Jika hukum negara dan uang suap sudah tidak bisa melindungiku lagi, maka aku akan menggunakan cara yang paling kotor."

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!