Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Digital dari Masa Lalu
Anya menatap layar laptopnya yang menyala terang. Di layar itu, sebuah notifikasi surel masuk berkedip lambat. Nama pengirimnya membuat gerakan tangan Anya yang sedang memegang pensil mekanik terhenti seketika: Joana Bramantyo.
Dengan tarikan napas panjang yang berat, Anya mengklik surel tersebut. Dia membaca baris demi baris kalimat panjang dari kakaknya. Joana menceritakan bahwa dia tidak tahu tentang perjodohan itu, tentang Papa yang terkena stroke malam itu, dan tentang Edgard yang enam bulan lalu secara resmi membatalkan perjodohan di depan Papa demi menyusul Anya ke Surabaya.
“Edgard membatalkan semuanya demi kamu, Anya. Dia mempertaruhkan posisi CEO-nya... Dia bilang hidupnya kosong sejak kamu pergi,” tulis Joana di akhir paragraf.
Anya membaca kalimat itu dengan sepasang mata yang menggelap. Bukannya tersentuh atau menangis haru, dada Anya justru bergemuruh oleh rasa amarah yang baru. Dia menutup laptopnya dengan dentuman keras.
"Kosong?" bisik Anya dengan senyum sinis yang sarat akan rasa sakit hati. "Lalu ke mana saja mereka saat duniaku yang hancur lebur? Kenapa mereka baru peduli setelah aku berhasil menata hidupku sendiri tanpa mereka?"
Surat dari Joana tidak meruntuhkan dinding pertahanan Anya. Surat itu justru menjadi konfirmasi bagi Anya bahwa kehadirannya di mata mereka selama ini hanyalah sebuah objek kasihan. Dan Anya menolak untuk dikasihani. Jika Edgard berpikir pembatalan perjodohan itu otomatis menghapus luka pengasingannya, maka pria itu salah besar.
Keesokan paginya, langit Surabaya tampak mendung, sewarna dengan suasana hati Anya yang dingin. Dia berjalan menyusuri koridor selasar kampus menuju ruang studio DKV.
"Anya! Hari ini ada jadwal peninjauan progres cetak maket oleh pihak Baskoro Logistic di studio dua. Pak Edgard sudah menunggu," ujar Pak Hermawan, dosen pembimbingnya yang berpapasan di koridor.
Anya mengangguk formal. "Baik, Pak. Saya ke sana sekarang."
Ketika Anya mendorong pintu kaca studio dua, dia mendapati Edgard sedang berdiri memperhatikan gulungan maket desain baliho raksasa yang terpasang di dinding papan pameran.
Hari ini Edgard terlihat sedikit berbeda. Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu melepaskan jas formalnya. Dia hanya mengenakan sweter rajut kasual berwarna abu-abu terang yang membingkai tubuh tegap atletisnya. Namun, ada bayangan halus di sekitar matanya yang tajam, menandakan pria itu tidak menikmati tidur yang nyenyak.
Mendengar langkah kaki, Edgard menoleh. Sepasang mata elangnya langsung mengunci pandangannya pada Anya. Tatapannya sarat akan kerinduan yang teramat dalam.
"Selamat pagi, Pak Edgard. Ini sisa berkas progres kerja tim kami minggu ini," ucap Anya, meletakkan map tebal di atas meja tanpa menatap mata Edgard secara langsung. Suaranya terdengar sedatar es.
Edgard tidak menyentuh map itu. Dia melangkah maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka hingga aroma parfum lili Anya yang dewasa memenuhi indra penciumannya.
"Anya," panggil Edgard dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar tulus. "Joana memberi tahu saya semalam... dia mengirim surel kepadamu. Apakah... apakah kamu sudah membacanya?"
Anya merapikan letak kertas di atas meja dengan gerakan yang teramat tenang, lalu membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Edgard. "Sudah. Saya sudah membaca semuanya, Pak Edgard."
Edgard menahan napasnya sejenak, jantungnya berdegup liar. "Lalu... bagaimana perasaanmu sekarang, Anya? Perjodohan itu sudah tidak ada. Saya membatalkannya karena saya tahu hati saya hanya milik—"
"Lalu Anda pikir saya akan bersujud syukur dan berlari ke pelukan Anda?" potong Anya dengan suara yang teramat tenang namun tajam, memotong kalimat Edgard seketika. Tidak ada air mata di mata Anya, yang ada hanyalah tatapan kosong yang mengintimidasi.
Edgard tertegun. "Anya, saya tidak bermaksud—"
"Dengarkan saya, Pak Edgard," Anya maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata elang pria itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Pembatalan perjodohan Anda di Jakarta sama sekali tidak mengubah apa pun di Surabaya. Anda membatalkannya karena ego Anda yang merasa bersalah, bukan karena Anda memikirkan saya. Jika Anda benar-benar peduli, Anda tidak akan membiarkan Papa mengusir gadis delapan belas tahun ke kota asing ini setahun yang lalu."
Edgard merasakan dadanya seperti dihantam oleh gada besi. Garis wajahnya yang kokoh tampak bergetar menahan rasa bersalah yang menyiksa. "Saya salah malam itu, Anya. Saya terlambat menyadari perasaan saya. Tolong beri saya kesempatan untuk menebusnya..."
Edgard mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh pergelangan tangan Anya. Namun, dengan gerakan yang cepat dan dingin, Anya menepis tangan pria itu dengan sentakan kasar.
"Jangan menyentuh saya dengan tangan yang sama yang dulu mendorong saya ke dalam jurang, Edgard Baskoro," bisik Anya dengan nada suara yang begitu dingin hingga membekukan udara di dalam studio. "Kesempatan Anda sudah habis. Sekarang, silakan periksa maket desain ini sebagai klien, atau silakan keluar dari studio saya."
Edgard berdiri terpaku, menatap tangannya yang menggantung di udara dengan rasa sunyi yang mencekam di dalam dadanya. Dia menyadari, dinding es yang kini membentang di antara mereka jauh lebih tebal dan kokoh dari yang dia bayangkan. Langkahnya untuk mendapatkan kembali hati Anya masih teramat panjang, berliku, dan penuh dengan kerikil tajam penyesalan.
semangat nulisnya 💪