Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusupan Anggun Dibalik Bayangan
Malam menyelimuti kota dengan kemewahan yang palsu. Gedung Opera Agung menyala terang, memancarkan gemerlap lampu kristal yang memantul di atas mobil-mobil mewah para tamu VIP. Di balik pintu kaca tebalnya, Marco sedang berdiri di panggung utama, tersenyum lebar menyapa para jenderal, pejabat korup, dan pengusaha yang menjadi sekutunya.
Beberapa ratus meter dari lokasi, di dalam salah satu van taktis kedap suara yang terparkir di gang gelap, suasana sangat tegang.
Aura berdiri di depan cermin kecil van. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan berpotongan tegas yang telah disiapkan Valerio. Rambutnya terikat rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang anggun, sementara di balik belahan gaun bagian dalam, sebuah pisau belati tipis berbahan titanium terikat erat di paha kanannya. Ia tak lagi tampak seperti gadis hutan yang rapuh, melainkan seorang wanita dari kelas atas yang penuh aura misterius.
Dante berdiri di sampingnya, mengenakan setelan tuksedo hitam buatan penjahit kelas dunia. Penampilannya luar biasa dominan dan mengintimidasi.
"Kau ingat rencananya, Aura?" tanya Dante seraya memasangkan sebuah earphone mikro nirkabel berukuran kecil di telinga kanan Aura, lalu merapikan helai rambut di dekat telinganya.
"Aku akan masuk dari pintu samping menggunakan identitas palsu sebagai utusan investor asing," jawab Aura dengan suara tenang namun tegas. "Anak buahmu yang menyusup sebagai staf katering akan mematikan kamera pengawas di lantai dua pada pukul sembilan tepat."
Dante menatap tajam ke dalam mata Aura. Tangannya yang besar memegang kedua bahu gadis itu.
"Tugasmu hanya satu: tanpakan dirimu di hadapan Marco di area balkon VIP lantai dua, pancing dia masuk ke ruang privat tanpa menimbulkan keributan," tegas Dante. "Begitu pintu ruang privat itu terkunci, aku dan Valerio yang akan mengambil alih sisanya. Jangan mengambil risiko sendiri, mengerti?"
Aura mengangguk pelan. Tangannya menyentuh dada tegap Dante. "Aku mengerti. Pastikan dia tidak lolos."
"Dia sudah berjalan menuju perangkapnya sejak dia menginjakkan kaki di gedung itu," bisik Dante dingin.
Pukul 20.45, Aura melangkah keluar dari van. Diiringi dua anak buah Dante yang menyamar sebagai pengawal pribadi bersetelan jas kemeja rapi, Aura berjalan anggun menuju pintu samping khusus tamu undangan penting. Dengan dokumen identitas canggih yang disiapkan Valerio, petugas keamanan pintu masuk menunduk hormat tanpa sedikit pun curiga dan membukakan pintu.
Langkah kaki Aura bergema halus di atas karpet merah Gedung Opera. Dari telinga mikronya, suara berat Dante terdengar memandu setiap gerakannya melalui pemantau CCTV yang telah diretas.
"Masuk ke aula utama lantai satu, ambil gelas minuman, lalu bergerak menuju tangga melingkar ke balkon lantai dua," instruksi Dante dari ruang kendali van. "Marco baru saja naik ke lantai dua sendirian untuk menemui senator."
Aura mengambil segelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat, lalu mengimbangi langkah anggunnya menuju tangga melingkar. Dadanya berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena gejolak dendam yang akhirnya mendapatkan jalannya.
Saat kakinya memijak anak tangga terakhir di lantai dua, matanya langsung menangkap sosok pria paruh baya bersetelan jas putih yang sedang tertawa berwibawa di dekat balkon VIP.
Marco.
Pria yang bertanggung jawab atas pembantaian keluarganya kini berada hanya belasan meter di hadapannya. Aura meremas tangkai gelas kaca di genggamannya, menarik napas panjang, lalu mulai melangkah mendekati sang target di balik keremangan lampu pesta.