NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU

​Pagi itu, suasana di Paviliun Barat terasa jauh lebih lengang daripada biasanya. Demam Elian sudah sepenuhnya mereda berkat racikan obat dari Tabib Master, dan anak itu kini tertidur lelap di kamar dalam bersama Mira yang menjaganya.

​Alena berdiri di sudut ruang duduk utama, meremas kain gorden renda tebal di dekat jendela batu. Mata hijau hazelnya menatap ke luar, mengamati dua prajurit pengawal pribadi Adrian yang baru saja ditempatkan secara terang-terangan di depan gerbang taman paviliun.

​Kabar burung yang disampaikan Mira tadi pagi membuat dada Alena terus berdebar kencang. Adrian telah menyelesaikan penyelidikan rahasianya. Pria itu telah memegang catatan perjalanan dari pos gerbang barat dan dokumen medis kelahiran Elian dari Bellmare.

​Adrian sudah tahu segalanya.

​Pikiran itu terus berputar liar di kepala Alena, memicu gelombang kepanikan yang sulit ia kendalikan. Jika Adrian melangkah lebih jauh—jika sang pangeran membawa bukti-bukti itu ke hadapan Dewan Kerajaan atau Raja Cedric—maka benteng pertahanan yang dirancangnya selama tujuh tahun akan hancur seketika. Keluarga Ardent tidak akan tinggal diam. Seraphina dan ayahnya akan menggunakan seluruh pengaruh militer mereka untuk menghancurkan Elian sebelum anak itu sempat diakui secara resmi.

​"Aku harus membawa Elian pergi..." bisik Alena pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat. "Sebelum semuanya terlambat... aku harus menemukan cara untuk kabur dari istana ini lagi."

​Namun, di tengah gejolak pikirannya yang sedang menyusun rencana pelarian baru, suara gemeretak kayu yang halus terdengar dari arah pintu samping yang menghubungkan Paviliun Barat dengan lorong rahasia Menara Selatan.

​Pintu rahasia itu—sebuah panel kayu berukir yang tersamar di balik rak buku tua—perlahan berderit terbuka.

​Alena terlonjak kaget, tubuhnya membeku seketika. Tangan kanannya secara refleks meraba bagian dalam sakunya, menggenggam erat pisau lipat kecil yang selalu dibawanya. Pintu itu adalah akses kuno yang hanya diketahui oleh segelintir pejabat senior istana.

​Dari balik bayangan lorong rahasia yang gelap dan berdebu, sesosok pria berjangkut tipis dengan jubah beludru hijau tua melangkah keluar secara perlahan. Langkah kakinya menyeret, dibantu oleh sebatang tongkat kayu berhulu perak.

​Alena membelalak lebar, napasnya tersengal di tenggorokan.

​"Duke Rowan...?" bisik Alena dengan ketidakpercayaan yang murni.

​Pria tua yang berdiri di hadapannya adalah Penasihat Senior Rowan—pria yang dua minggu lalu dikabarkan oleh Ratu Eleanor telah meninggal dunia di kediaman pribadinya di luar kota. Namun kini, pria itu berdiri hidup-hidup di dalam kamarnya, meski tubuhnya tampak jauh lebih kurus, bungkuk, dan wajahnya dipenuhi garis-garis kelelahan serta rasa sakit akibat penyakit tua.

​Rowan menghentikan langkahnya beberapa jengkal dari tempat Alena berdiri. Mata cokelat pua yang dulu begitu dingin dan penuh intimidasi saat mengancam Alena tujuh tahun lalu, kini meredup, memancarkan penyesalan yang mendalam.

​"Suaramu masih sama seperti tujuh tahun lalu, Nona Alena," ujar Rowan, suaranya parau, serak, dan terbatuk pelan.

​"Bagaimana bisa... Anda masih hidup?" desak Alena, suaranya menajam oleh kepanikan dan kemarahan yang membakar. "Ratu mengumumkan kematian Anda! Mengapa Anda ada di sini?!"

​"Kematianku dipalsukan oleh Baginda Ratu untuk melindungiku dari belati keluarga Ardent," jawab Rowan pelan seraya bertumpu erat pada tongkat kayunya. "Dan aku berada di sini hari ini... karena dosa dari masa lalu tidak pernah membiarkanku mati dengan tenang."

​Alena melangkah mundur satu garis, pisau lipat kecil di sakunya tetap tergenggam rapat. Ia tidak pernah mempercayai pria tua yang dulu memaksanya menulis surat kejam untuk Adrian dan mengusirnya dari Aveloria dalam keadaan hamil.

​"Jangan mendekat, Lord Rowan!" tegur Alena tegas. "Jika Anda datang ke sini untuk mengancam saya atau putra saya lagi seperti yang Anda lakukan tujuh tahun lalu—"

​"Aku tidak datang untuk mengancammu, Alena!" potong Rowan dengan napas tersengal. Pria tua itu menggelengkan kepalanya lemah, matanya berkaca-kaca menatap Alena. "Tujuh tahun lalu... aku memang bertindak kejam padamu. Aku memaksamu menulis surat itu dan membimbingmu keluar dari gerbang barat. Tapi aku melakukannya karena aku percaya aku sedang menyelamatkan nyawamu dan benih Putra Mahkota dari eksekusi langsung Raja Cedric."

​Alena mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Anda memisahkan saya dari Adrian! Anda membuat anak saya tumbuh tanpa seorang ayah selama tujuh tahun!"

​"Dan aku menanggung penyesalan itu di setiap detik sisa hidupku!" balas Rowan, suaranya pecah oleh emosi. "Tapi ketahuilah satu hal, Alena... aku bukan orang yang pertama kali membocorkan rahasia kehamilanmu kepada dewan tujuh tahun lalu. Aku bukan orang yang menahan dan menghancurkan surat kebenaran yang sempat kau tulis untuk Adrian sebelum kau pergi!"

​Darah di tubuh Alena serasa membeku seketika.

​Kalimat Rowan menghantam Alena bagai petir di siang bolong. Pernyataan itu merobek seluruh pemahaman yang diyakininya selama bertahun-tahun.

​Tujuh tahun lalu, sebelum Rowan memanggilnya ke Menara Selatan, Alena sempat menulis selembar surat jujur yang ditujukan kepada Adrian—sebuah surat yang memberitahukan kehamilannya dan memohon bantuan pangeran itu. Alena menyerahkan surat itu kepada seorang pelayan kepercayaan untuk disampaikan langsung ke tangan Adrian saat rapat dewan berlangsung. Namun surat itu tidak pernah sampai, dan beberapa jam kemudian, Rowan mendadak muncul dan mengancamnya dengan tuduhan pengkhianatan.

​Alena selalu mengira Rowan-lah yang mencegat surat itu dan menggunakannya untuk memerasnya.

​"Apa... apa maksud Anda?" bisik Alena, suaranya bergetar hebat. "Siapa yang mencegah surat itu sampai ke tangan Adrian?"

​Rowan menatap Alena dengan tatapan yang teramat dalam dan mengerikan—sebuah tatapan yang menyimpan rahasia terbesar yang telah membusuk di dalam dinding Istana Valerian selama bertahun-tahun.

​"Orang yang mencegat suratmu... orang yang memerintahkanku untuk memberimu pilihan antara melarikan diri atau dihukum mati..." bisik Rowan, suaranya merendah menjadi desesisan rahasia yang dingin. "...adalah orang yang sama yang mengirimkan surat teror misterius ke kamar ini dua hari lalu."

​Alena membelalak lebar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit fisik di dadanya. Surat teror berbunyi “Aku tahu apa yang terjadi tujuh tahun lalu” yang diterimanya kemarin kembali terbayang di ingatan.

​"Siapa?" desak Alena, suaranya parau oleh ketakutan yang luar biasa. "Katakan padaku, Rowan! Siapa orang itu?!"

​Rowan tidak langsung menjawab dengan sebuah nama. Pria tua itu melangkah mendekati pintu rahasia di belakangnya, membalikkan badan sedikit untuk menatap Alena dari balik bahunya.

​"Orang itu... masih berada di pusat kekuasaan istana ini," kata Rowan, suaranya dipenuhi peringatan yang mematikan. "Dia tidak pernah menginginkan anakmu mati tujuh tahun lalu, Alena. Dia hanya menginginkan anak itu tumbuh jauh dari Adrian sampai saatnya tiba untuk menggunakan darah Valerian di tubuh Elian sebagai alat untuk menjatuhkan sang Putra Mahkota."

​Rowan menyusup kembali ke dalam kegelapan lorong rahasia, meninggalkan satu kalimat terakhir yang membeku di udara kamar:

​"Waspadalah, Alena... musuh terbesarmu bukanlah keluarga Ardent, melainkan seseorang yang selama ini pura-pura melindungimu."

​Panel kayu berukir itu ditutup kembali dengan dentuman halus, meninggalkan Alena yang berdiri terpaku di tengah ruangan yang sunyi.

​Alena meremas dadanya yang sesak, air mata dingin meluncur melintasi pipinya. Kenyataan baru yang terungkap di balik pintu rahasia itu menghancurkan seluruh peta pikirannya. Selama tujuh tahun ini, ia pikir ia melarikan diri dari kemarahan kerajaan... namun kini ia menyadari bahwa dirinya dan Elian hanyalah pion dalam permainan catur raksasa yang dikendalikan oleh bayangan tersembunyi di dalam Istana Valerian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!