Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Ruangan mendadak hening. Tara refleks menoleh ke arah Sarif.
"Jangan-jangan Sarif sebenarnya sudah punya pacar."
Mata Tara langsung membulat sempurna. "Hah?" Ia spontan menoleh lagi ke arah Sarif dengan ekspresi yang membuat beberapa anggota sidang mulai menahan senyum. Sarif sendiri tampak sedikit terkejut, tetapi tetap berusaha mempertahankan wajah datarnya.
Tara mulai panik. "Astaga... jangan-jangan benar? Dia kan ganteng... Jangan-jangan selama ini aku cuma pemeran pengganti?" Belum sempat pikirannya berlari semakin jauh, atasan itu kembali bertanya dengan nada yang masih serius.
"Kalau ternyata dia sudah punya pacar, bagaimana?"
Tara mengerutkan dahi beberapa detik, lalu menjawab sejujur-jujurnya. "Ya... saya pulang, Pak."
Ruangan yang semula hening langsung dipenuhi tawa. Bahkan beberapa anggota sidang sampai menundukkan kepala sambil tertawa kecil. Atasan tadi ikut tersenyum. "Itu jawaban yang benar." Beliau kemudian menoleh ke arah Sarif. "Makanya, jangan macam-macam."
Sarif langsung menjawab tegas, "Siap, Pak. Saya tidak pernah memiliki hubungan lain selama proses ini."
"Bagus." Beliau kembali memandang Tara. "Pertanyaan tadi hanya menguji respons. Pernikahan harus dibangun di atas kejujuran. Kalau sejak awal ada kebohongan, rumah tangga akan rapuh."
Tara mengembuskan napas lega. "Ya Allah... ternyata cuma dites." Ia sampai menepuk pelan dadanya sendiri. Dalam hati ia menggerutu, Sidang BP4R ini benar-benar menguji mental. Baru lima belas menit masuk ruangan, jantungku sudah dua kali mau copot. Untung Bang Sarif bukan tipe yang suka bikin plot twist. Kalau iya, mungkin yang pingsan duluan bukan dia, tapi aku.
Saat sidang selesai dan mereka berjalan keluar ruangan, Tara melirik Sarif sambil menggeleng pelan. "Bang."
"Iya?"
"Tadi aku hampir percaya lho."
Sarif menoleh heran. "Percaya apa?"
"Kalau Abang punya pacar."
Sudut bibir Sarif terangkat membentuk senyum tipis. "Itu hanya pertanyaan penguji."
Tara mengangguk. "Iya sih... tapi lain kali kalau ada yang ngetes lagi, kasih kode dulu."
"Kode apa?" "Berkedip dua kali kek."
Untuk pertama kalinya hari itu, Sarif benar-benar tertawa kecil. Dan melihat tawa tipis itu, Tara merasa semua rasa gugup sejak pagi akhirnya terbayar lunas.
Di balik wajahnya yang selalu tenang dan sikapnya yang tegas sebagai seorang prajurit, Sarif ternyata menyimpan perasaan yang tidak pernah banyak diketahui orang. Sejak pertemuan pertama di rumah keluarga Bani, hatinya sudah lebih dulu jatuh kepada Tara.
Awalnya, ia mengira gadis yang akan dijodohkan dengannya akan datang dengan wajah penuh keterpaksaan. Maklum saja, perjodohan sering kali identik dengan air mata dan penolakan. Namun, yang ia temui justru seorang gadis berusia sembilan belas tahun dengan senyum lebar, mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu, dan sifat polos yang sama sekali tidak dibuat-buat.
Tara tidak berusaha terlihat anggun. Tidak pula sibuk menjaga citra. Ia tertawa ketika ingin tertawa, bercanda ketika suasana mulai canggung, bahkan berani menggoda neneknya sendiri dengan celetukan-celetukan yang membuat seluruh ruangan dipenuhi gelak tawa.
Bagi orang lain, tingkah Tara mungkin terlihat sedikit sembrono. Namun, di mata Sarif, justru itulah daya tariknya. Polos. Tulus. Apa adanya. Tidak banyak perempuan yang mampu membuatnya tersenyum hanya dalam hitungan menit. Tara berhasil melakukannya tanpa sadar.
Yang lebih membuat Sarif terkesan adalah cara Tara memandang hidup. Di balik candaan yang hampir tidak pernah putus, gadis itu ternyata menyimpan ketabahan yang luar biasa. Ia tidak pernah mengeluhkan masa lalunya, tidak mengasihani dirinya sendiri, dan tidak menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.
Ia kehilangan ayah di usia muda, membantu ibunya mencari nafkah, mengajar les, mengantar katering, bahkan rela menunda kuliah demi meringankan beban keluarga. Anehnya, semua itu tidak menghilangkan senyum di wajahnya. Justru senyum itulah yang perlahan mencuri hati Sarif.
Sejak pandangan pertama, ia sudah memiliki keyakinan yang sulit dijelaskan. Kalau Allah mengizinkan, gadis inilah yang ingin kuajak pulang dan kuhabiskan sisa hidup bersamanya.
Meski begitu, Sarif memilih menyimpan perasaan itu rapat-rapat. Baginya, cinta tidak harus diumumkan dengan kata-kata indah setiap hari..Ia lebih ingin membuktikannya lewat tanggung jawab, kesetiaan, dan perlakuan yang baik setelah mereka resmi menjadi suami istri. Sebab sebagai seorang prajurit, Sarif terbiasa menunjukkan kesungguhan melalui tindakan. Dan tanpa disadari Tara, sejak hari pertama mereka bertemu, hati Sarif sudah mantap memilihnya sebagai perempuan yang ingin ia lindungi seumur hidup.
Menjelang sore, Sarif akhirnya mengantar Tara pulang ke rumah keluarga Bani. Tadi siang, Tara datang bukan dijemput Sarif, melainkan oleh nenek Sarif. Saat itu Sarif masih menjalani piket di satuannya sehingga tidak bisa meninggalkan tugas. Begitu tugasnya selesai, barulah Sarif datang menjemput Tara untuk mengantarnya pulang.
Motor Ninja milik Sarif berhenti tepat di depan rumah keluarga Bani. Sarif mematikan mesin, lalu menunggu hingga Tara turun dengan aman.
Tara melepas helm dan menyerahkannya sambil tersenyum lebar. "Terima kasih ya, Bang. Udah nganter."
Sarif menerima helm itu. "Terima kasih juga."
Tara mengernyit. "Untuk apa?"
"Karena sudah menjalani sidang tadi dengan sangat baik."
Tara langsung tertawa kecil. "Ih... Kalau yang itu nggak usah dimakasihi."
Sarif menatapnya. "Lho?"
"Soalnya aku ngejalaninnya juga dengan senang hati." Ia menyeringai jahil. "Kalau sidangnya gagal, kan repot. Jadi aku belajar yang rajin, jawab pertanyaan yang benar, senyum yang manis..." Ia mengangkat kedua bahunya. "Semua demi masa depan."
Sarif menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Kamu memang..."
"Apa?"
"Selalu bisa membuat suasana jadi ringan."
Tara tertawa renyah. "Kalau ada yang bisa dibikin santai, ngapain dibikin tegang, Bang?" Ia melangkah mundur beberapa langkah menuju teras rumah. Sebelum masuk, Tara melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan ya." Lalu, dengan suara sedikit lebih keras agar Sarif mendengar, ia kembali menggoda, "Jangan kebanyakan bengong."
Sarif mengangkat alis. "Kenapa?"
"Nanti ketahuan lagi kalau lagi mikirin aku."nSesaat suasana hening. Tara sudah bersiap kabur sambil tertawa.
Namun, kali ini Sarif lebih cepat menjawab. "Kalau memang sedang memikirkan calon istri sendiri, sepertinya tidak masalah."
Tara yang sudah setengah berbalik langsung berhenti. Pipinya memerah seketika.n"Bang..." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil tertawa malu. "Abang mulai pinter ngebales, ya."
Sarif hanya tersenyum kecil, lalu mengenakan helmnya kembali. Melihat ekspresi malu Tara ternyata menjadi penutup hari yang jauh lebih menyenangkan daripada perjalanan pulang itu sendiri. Sarif hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa. Benar juga kata neneknya. Calon istrinya memang tidak pernah kehabisan cara membuat suasana menjadi lebih hidup.
Sementara Tara, diam-diam kembali melirik wajah Sarif. "Ya Allah... yang bawa motornya ganteng, motornya juga keren. Kayaknya aku benar-benar dapat jackpot."