NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Anak Genius
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.

Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Emily menghentikan langkahnya, tubuhnya gemetaran. Ia mendengar sedikit percakapan suami dan asistennya. Memutar pelan tubuhnya dan beralasan, "Saya belum bisa tertidur, jadi saya coba mengelilingi rumah ini untuk membuat rasa kantuk."

Beberapa menit lalu, Emily yang merasa bosan di kamar. Keluar dan berkeliling melihat isi bangunan megah milik suaminya. Ia pun sangat takjub dengan kemewahan di dalamnya. Ketika dirinya berada tepat di sebuah ruangan dengan pintu tak tertutup rapat, ia mendengar sayup-sayup pembicaraan suami dan asistennya. Sadar jika dirinya menguping, ia bergegas melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti kala mendengar suara asisten suaminya memanggilnya.

"Jika memang Nona ingin mengelilingi rumah ini, saya akan minta salah satu pelayan menemani Nona berkeliling biar tak menyasar," kata Charles.

"Ya, boleh!" ucap Emily cepat.

"Baiklah, besok pagi setelah sarapan saya akan menyuruh Karin menemani Nona!" janji Charles.

"Baiklah, kalau begitu saya mau kembali ke kamar!" Emily membalikkan badannya dan melangkah cepat menuju kamarnya. Ia takut suaminya keluar dari ruangan itu dan memarahinya.

Begitu di kamar, Emily mengatur napasnya karena dirinya hampir saja ketahuan menguping pembicaraan.

Charles kembali ke ruangan dan berkata kepada Leon, "Tuan, tadi Nona Emily ada di depan pintu. Saya tak tau apakah dia mendengar pembicaraan kita atau tidak. Apa Nona Emily harus saya berikan hukuman?"

"Biarkan saja aku yang menghukumnya!" kata Leon.

Leon balik ke kamar dibantu Charles, sesampainya ia melihat istrinya sudah berbaring di ranjang. Sekilas ia menarik ujung bibirnya. Ia yakin jika Emily hanya pura-pura tidur.

Leon menggerakkan kursi rodanya mendekati ranjangnya tepat di sisi istrinya berbaring. Ia menyentuh wajah Emily dengan jemari kanannya. "Sepertinya kau ingin aku memberikan hukuman."

Emily yang matanya terpejam begitu ketakutan.

"Kau mau membuka matamu atau aku buat kau tak dapat melihat lagi!" kata Leon yang jemarinya terus mengelus wajah istrinya.

Emily membuka matanya, bangkit dan duduk. Memegang kedua daun telinganya dan berkata, "Maafkan saya, Tuan. Saya sama sekali tak mendengar pembicaraan kalian!"

Leon tersenyum seringai.

"Saya tidak mau dihukum!" kata Emily ketakutan.

"Kenapa kau berani keluar kamar tanpa seizin dariku?" tanya Leon dengan tatapan dingin.

Emily meneguk salivanya, ia tak dapat menjawab.

"Ingat, kau di sini tawanan ku. Maka, jangan coba-coba bersikap seperti pemilik rumah!" kata Leon.

"Saya minta maaf, lain kali saya tidak akan melakukannya lagi!" janji Emily menurunkan kedua tangan dari telinganya.

"Sebagai hukuman kecil buatmu, bantu aku naik ke tempat tidur!"

Emily gegas turun dari ranjang dan membantu memindahkan suaminya ke ranjang. Meskipun berat, tetap dilakukannya tanpa mengeluh.

"Aku mau kau memijat kakiku lagi!"

Emily mengangguk mengiyakan, naik ke ranjang dan memijat kaki suaminya.

Hening beberapa detik...

"Maaf jika saya lancang, Tuan. Sejak kapan Tuan mengalami kelumpuhan?" tanya Emily penasaran sekaligus menghilangkan rasa kecanggungannya.

Leon sudah memejamkan matanya, membukanya kembali dan menjawab, "Kau tidak boleh tau."

"Kenapa? Apa pertanyaan saya salah?" tanya Emily.

"Kau tidak perlu tau penyebab aku seperti ini," jawab Leon.

"Apa memang Tuan akan selamanya lumpuh?" tanya Emily lagi.

Leon yang tak suka dengan pertanyaan itu menepis tangan Emily yang sedang memijat secara kasar menggunakan satu tangannya.

Emily terperanjat.

"Kau menghinaku?" bentak Leon.

Emily menggelengkan kepalanya.

"Apa kau ingin aku lumpuh selamanya, hah?" tanya Leon dengan nada tinggi.

"Saya hanya bertanya saja, bukan menghina," jawab Emily.

"Turun. Aku tak suka dengan pertanyaanmu itu!" usir Leon yang kesal.

Emily beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri dekat ranjang.

"Tidur di sofa atau lantai!" kata Leon.

"Tapi..."

"Tak ada penolakan!" potong Leon cepat.

Emily melangkah ke sofa, ia duduk dan menatap ke arah suaminya.

Leon melemparkan selimut kepada Emily dan berkata, "Kau harus lebih dulu bangun daripada aku!"

Mengangguk kecil, Emily lalu merebahkan tubuhnya di sofa.

Jarum jam terus berputar, Emily tak dapat tertidur nyenyak. Baru hari ini, dirinya tidur di sofa yang hanya cukup buat 2 orang duduk.

***

Tepat jam 6, Leon terbangun. Ia melihat Emily masih memejamkan matanya dengan posisi duduk dan tubuh dibalut selimut.

Rasa marah kembali muncul, penuh kehati-hatian Leon turun dari ranjang dan duduk di kursi rodanya. Ia menghampiri Emily dan menarik selimut secara kasar sehingga membangunkan tidur wanita itu.

"Apa kau tidak ingat yang aku katakan semalam, hah?" bentaknya.

Emily yang masih mengantuk berdiri sempoyongan dan berkata, "Maaf, Tuan. Saya baru saja bisa tertidur nyenyak."

"Alasan saja!!" hardik Leon lagi. "Masih lebih baik kau tidur di sofa daripada menjadi tahanan di ruangan bawah tanah rumahku ini!"

"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya janji takkan mengulanginya lagi." Emily menundukkan wajahnya yang masih menahan rasa kantuknya.

"Kali ini aku maafkan, jika terulang maka kau harus siap menerima hukuman!" Leon memberikan peringatan tegas.

Emily mengangguk kecil.

"Bawa aku ke taman, aku ingin menghirup udara segar pagi ini!" titah Leon.

Tanpa bicara, Emily segera mendorong pelan kursi roda suaminya menuju taman belakang.

Di taman, Emily berdiri di samping kursi roda suaminya. Berkali-kali, menyeka air mata kantuknya.

"Jam sepuluh kita ke rumah sakit!"

"Baik, Tuan."

"Kau tidak tanya kenapa kita ke rumah sakit?" Leon mendongakkan kepalanya ke arah sisi kanannya menatap istrinya.

"Bukankah Tuan melarang saya buat banyak bertanya?" singgung Emily.

"Kau!!" geram Leon.

Emily menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke depan dan sedikit menundukkan badannya. "Maaf, jika saya lancang!" ia tak mau menerima hukuman.

-

Sebelum berangkat ke rumah sakit, Emily ditemani Karin berkeliling rumah. Karin menjelaskan beberapa ruangan yang boleh dimasuki dan dilarang keras memasukinya.

"Jika Nona ingin membaca buku, di sini ada juga perpustakaan. Tapi, saya sarankan ketika jam delapan malam lebih baik Nona ke kamar dan tidur. Tuan Leon tak suka di jam segitu para penghuni rumah atau pelayan masih berkeliaran. Karena waktunya Tuan Leon bekerja."

"Bekerja di jam delapan malam? Sangat aneh!" cetus Emily.

"Tuan Leon tetap bekerja di pagi hari di kantor. Tapi, jika ada pelayan atau anak buahnya yang membuat masalah padanya maka akan diselesaikan malam itu juga," jelas Karin.

Emily mengernyitkan keningnya, ia tak terlalu paham dengan penjelasan Karin.

"Ayo kita lanjutkan lagi, Nona!" ajak Karin kembali melangkah.

"Apa sebenarnya pekerjaan Tuan Leon?" tanya Emily penasaran.

"Saya tidak tahu, saya hanya bekerja saja di sini," jawab Karin berbohong.

Emily pun percaya.

Selesai berkeliling rumah, Emily berangkat ke rumah sakit menemani suaminya. Emily pun diperkenalkan kepada seorang dokter pria paruh baya yang menangani penyakit Leon, Dokter John.

"Saya harap Nona dapat membantu pemulihan kesehatan kaki Tuan Leon." Kata Dokter John setelah melakukan pemeriksaan kepada Leon yang sedang berbaring di brankar.

"Apa yang memang bisa saya lakukan?" tanya Emily duduk berhadapan dengan sang dokter, keduanya dipisahkan meja kerja.

"Temani dan terus ajak Tuan Leon berlatih berjalan," jawab Dokter John.

"Apa Dokter sudah bicara dengan dia? Kami baru saja menikah dan saya tak mau dia salah paham atau menolak saya membantu pemulihannya?" tanya Emily sembari melirik suaminya yang kini duduk dekat meja kerja dokter.

"Saya selalu berulang kali bicara kepadanya dan kebetulan kalian sudah menikah maka itu lebih baik dan cepat menyembuhkannya," jawab Dokter John lagi.

"Baiklah, Dok. Saya bersedia membantunya, saya tak mau melihatnya terus berada di kursi roda!" singgung Emily tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!