NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

Mentari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, memantulkan cahaya di atas ranjang yang tampak berantakan.

Di balik selimut tebal, Arumi perlahan membuka matanya. Sebuah senyuman penuh kemenangan terukir jelas di wajah cantiknya. Ia meraba sisi ranjang, menatap interior kamar mewah yang selama ini ingin ia kuasai.

"Akhirnya, sebentar lagi aku akan resmi menikah dengan mas Hendra. Menikmati semua kekayaan ini, rumah megah ini, dan mendepak wanita kampungan itu ke jalanan. Semuanya akan jadi milikku!" batin Arumi bersorak kegirangan di dalam hati.

Arumi menoleh ke samping, menatap Hendra yang masih mendengkur halus. Mereka berdua masih berada di atas ranjang yang sama, setelah menghabiskan malam panas yang panjang hingga pagi menjelang, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.

Dengan gerakan sen-sual, Arumi mendekatkan wajahnya, lalu berbisik manja tepat di telinga Hendra sembari memainkan jemarinya di dada pria itu.

"Mas, bangun. Sudah pagi..."

Hendra melenguh pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya. Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya dan melihat cahaya matahari yang sudah terang benderang, matanya langsung membelalak sempurna. Ia tersentak kaget dan langsung terduduk di atas ranjang.

"Arumi?! Kamu... kamu kenapa masih di sini?!" pekik Hendra dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Astaga, ini sudah jam berapa? Bagaimana kalau Ningsih masuk dan melihat kita seperti ini, hah?!"

Hendra memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening. Detik itu juga, sebuah ingatan mendadak menghantam otaknya. Hari ini adalah tanggal tujuh Juni, hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke delapan!

Sial, rencana awal Hendra adalah bangun pagi-pagi, bersikap manis, dan mengajak Ningsih makan malam romantis di luar agar istrinya itu tidak curiga dan setuju di madu.

Tapi gara-gara permainan gila Arumi semalam, ia malah kesiangan dan mengacaukan semuanya.

Melihat kepanikan Hendra, Arumi justru mendengus kesal. Ia menarik selimut untuk menutupi dadanya, lalu bersandar di kepala ranjang dengan tatapan meremehkan.

"Apasih, Mas? Kenapa kamu panik begitu? Aku dari subuh tadi tidak mendengar ada suara langkah kaki di luar. Aku yakin istri kampungmu itu bahkan belum bangun dari tidurnya. Dia kan pemalas!"

"Kamu tidak mengerti, Arumi! Ningsih itu biasanya jam lima subuh sudah sibuk di dapur!" Hendra buru-buru menyambar celana dan kemejanya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan gerakan super cepat dan acak-acakan. "Hari ini ulang tahun pernikahan kami. Aku harus pura-pura baik di depannya!"

Arumi yang mendengar kata ‘ulang tahun pernikahan’ langsung merengut cemburu. Sikap gatalnya kembali kumat. Ia sengaja turun dari ranjang, berjalan mendekati Hendra tanpa canggung, lalu memeluk pria itu dari belakang, menempelkan tubuhnya dengan manja.

"Ulang tahun pernikahan apa, sih? Kan sebentar lagi Mas mau ceraikan dia dan nikah sama aku. Biarkan saja dia tahu, Mas. Biar dia sadar diri kalau posisinya sudah digantikan olehku."

"Lepas, Arumi! Jangan gila!" Hendra menyentak tangan Arumi dengan kasar hingga pegangan wanita itu terlepas. "Aku harus menemui Ningsih sekarang!"

Hendra langsung memutar kunci, membuka pintu kamar dengan jantung yang berdebar kencang. Ia melangkah keluar lorong, bersiap menghadapi amukan atau setidaknya tatapan curiga dari istrinya. Namun, pemandangan di luar kamar justru membuatnya mengernyitkan dahi.

Rumah itu terasa... teramat sepi. Sunyi senyap seperti rumah tak berpenghuni.

Hendra berjalan cepat menuruni anak tangga menuju dapur. "Ningsih! Ningsih!" panggilnya.

Tidak ada sahutan. Meja makan kosong mlompong, tidak ada sarapan yang tersaji, bahkan kompor pun dingin. Hendra semakin panik. Ia berbalik arah lalu berlari menuju lantai dua, menuju kamar tidur Luna.

Brak!

Hendra mendobrak pintu kamar anaknya. Ranjang Luna sudah rapi, boneka-bonekanya tertata, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan putri kecilnya maupun Ningsih di sana.

Arumi yang sudah memakai gaun merahnya kembali dengan santai berjalan menyusul Hendra ke atas.

"Kenapa, Mas? Tidak ada, kan? Mungkin dia sedang pergi ke pasar atau belanja."

"Tidak mungkin! Tas kerja Ningsih dan koper kecil milik Luna yang biasanya di dalam lemari tidak ada!" suara Hendra bergetar, matanya menatap nanar ke arah lemari Luna yang terbuka setengah. Ia segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan mencoba menghubungi nomor Ningsih.

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

"Sial! Nomornya tidak aktif!" umpat Hendra frustrasi. Ia mencoba menelepon berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Ningsih benar-benar lenyap bersama Luna tanpa meninggalkan pesan selembar pun.

Tepat di saat Hendra sedang dilingkupi kepanikan yang luar biasa, ponsel di tangannya mendadak bergetar hebat. Ada sebuah panggilan masuk, bukan dari Ningsih, melainkan dari sekretaris pengganti di kantornya.

Hendra buru-buru mengangkatnya.

"Halo! Ada apa?!"

"P–pak Hendra! Gawat, Pak!" suara seseorang di seberang telepon terdengar sangat histeris dan gemetar. "Baru saja PT Adiwangsa merilis pernyataan resmi! Mereka mencabut seluruh saham mereka di perusahaan kita malam ini juga, Pak! Dan tidak hanya itu, pihak kepolisian bersama kuasa hukum baru saja sampai di kantor membawa surat permintaan ganti rugi sebanyak sepuluh milyar atas nama bapak terkait kasus pengoplosan bahan material proyek! Bapak diminta segera datang sekarang juga!"

"A–apa kamu bilang, sepuluh milyar?!" pekik Hendra.

Ponsel di tangan Hendra seketika merosot jatuh ke atas lantai, layarnya retak seribu. Wajah Hendra berubah pucat pasi seketika, tubuhnya lemas hingga ia terduduk di lantai kamar Luna dengan tatapan kosong.

"Mas! Kamu kenapa?! Ada apa dengan perusahaan, Mas?" tanya Arumi panik begitu melihat Hendra jatuh terduduk dengan wajah sepucat mayat.

Hendra mendongak.

"PT Adiwangsa... mereka mencabut semua saham. Dan mereka menuntut kita sepuluh miliar karena kasus pengoplosan bahan baku!"

"Apa?! Sepuluh miliar?!" Arumi meneguk ludahnya dengan susah payah. Jantungnya berdegup menggila. Sepuluh miliar adalah angka yang bisa langsung memiskinkan mereka dalam sekejap.

Hendra tiba-tiba berdiri, lalu mencengkeram kedua bahu Arumi dengan sangat kencang. Tatapannya menuntut jawaban.

"Arumi! Kamu yang memegang laporan logistik selama ini! Kamu yakin kalau selama ini mencari bahan baku yang terbaik untuk proyek mereka, bukan?!"

"T–tentu saja, Mas!" jawab Arumi gugup, matanya bergerak gelisah ke segala arah. "Aku nggak mungkin menyelewengkan kepercayaan kamu! Aku selalu mengusahakan yang terbaik!"

Hendra melepaskan cengkeramannya, lalu mengepalkan tangannya begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol.

"Sialan! Kalau bukan kamu, lalu siapa yang berani bermain-main di belakangku?!"

Hendra tidak pernah tahu, bahwa di balik wajah panik Arumi saat ini, wanita itu sedang mati-matian menyembunyikan fakta bahwa sebagian uang bahan baku itu telah ia korupsi demi membeli tas-tas bermereknya.

Dan Ningsih, memegang semua bukti itu!

*****

Mampir yuk kak dikarya temen aku

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!