NovelToon NovelToon
Air Mata Di Ujung Penyesalan

Air Mata Di Ujung Penyesalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mabuok Hape

Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.

Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.

Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.

Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.

Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.

Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.

Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Cinta Yang Mulai Retak

Cahaya fajar yang pucat dan dingin perlahan menyusup melewati sela-sela tirai beludru kamar utama, membiaskan garis kemerahan yang kaku di atas seprai sutra. Nabila terbangun dengan kelopak mata yang berat dan dada yang terasa amat sesak. Kepala bahagian belakangnya berdenyut pelan—sisa dari kepanikan, tangisan, dan konflik batin yang menghimpitnya sepanjang malam.

Ia memutar tubuhnya perlahan. Sisi tempat tidur di sampingnya sudah kosong.

Permukaan kasur di area Arga berbaring sudah membal kembali dan terasa dingin, menandakan suaminya telah lama bangkit.

Nabila duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang dingin. Ucapan Arga semalam“Mas akan memastikan kamu berdiri di tempat paling depan untuk menyaksikan bagaimana seluruh bangunan ini runtuh”—terus bergaung berulang-ulang di kepalanya seperti gema di dalam gua kosong. Nada suara Arga begitu lembut, tatapannya begitu teduh, tetapi mengapa jiwanya merasa terancam? Mengapa kata-kata manis itu terasa seperti ancaman yang dibungkus dengan kain sutra?

Nabila berjalan menuju cermin rias besar. Di sana, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Bibirnya yang biasa tersenyum percaya diri kini tampak pasi. Lingkaran hitam tipis membingkai matanya. Topeng wanita sempurna—istri penyayang sekaligus kekasih penuh gairah yang berkuasa atas dua pria kaya—kini mulai menipis, memamerkan raut ketakutan yang sangat telanjang.

Ponsel di atas meja rias bergetar keras, mengejutkannya. Nama Reza menyala di layar.

Nabila menatap ponsel itu dengan rasa enggan berbaur jijik yang baru. Bentakan kasar Reza di restoran semalam masih membekas tajam. Namun, dorongan rasa butuh akan kepastian membuat jemarinya akhirnya menggeser tombol hijau.

"Halo..." suara Nabila terdengar parau dan defensif.

"Bi, kita harus ketemu sekarang," sambung Reza tanpa basa-basi, suaranya terdengar terengah-engah dan berantakan. Tidak ada lagi panggil keakraban yang hangat atau nada merayu. "Ada yang enggak beres. Rekening penampungan kita di Singapura mendadak minta verifikasi ulang dari penjamin utama. Tim bank minta konfirmasi fisik atau tanda tangan basah dari kamu dalam waktu dua puluh empat jam!"

Jantung Nabila serasa terhenti berdetak. "A-apa? Verifikasi apa lagi, Za?! Kamu bilang semua transaksi itu sudah ditutupi dokumen palsu yang kamu bikin?!"

"Jangan teriak, Nabila!" potong Reza dengan nada menekan yang sangat tajam. "Arga pasti mulai melakukan penataan ulang di sistem arus kas Pratama Group. Dia mungkin enggak curiga sama kita, tapi prosedur otomatis dari bank mitranya yang mengunci pergerakan kita! Kamu harus datang ke kantor aku siang ini. Kita harus tanda tangani surat pengalihan aset sebelum Arga menyadari ada kejanggalan di laporan bulanan!"

"Aku enggak mau, Reza!" bisik Nabila hysteris, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Mas Arga semalam ngomong hal yang aneh banget! Aku merasa... aku merasa dia tahu sesuatu!"

Di seberang telepon, Reza menghembuskan napas berat yang terdengar sangat frustrasi. "Dia enggak tahu apa-apa, Nabila! Jangan bodoh! Arga itu pria kaku yang cuma tahu kerja! Dia menyayangimu seperti orang gila! Ketakutan konyolmu itu cuma paranoid! Kalau kamu enggak datang siang ini buat tanda tangan, 60 miliar yang sudah kita amankan bakal dibekukan total, dan nama kamu yang bakal tersangkut pertama kali karena berkas penjamin itu sudah masuk ke otoritas!"

Klik.

Telepon diputus secara sepihak oleh Reza. Nabila menggenggam ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Chemistry gairah terlarang yang dulu terasa membakar dan manis kini telah berubah menjadi ikatan rantai yang mengikat lehernya, menariknya masuk ke dalam jurang yang makin dalam.

Siang harinya, lantai eksekutif kantor pusat Pratama Group terasa begitu tenang, namun dengan ketenangan yang menghimpit. Arga duduk di kursi kebesarannya, memandangi berkas grafik transaksi yang disajikan Bimo di tabletnya.

"Sistem pembekuan verifikasi di bank Singapura sudah berjalan sesuai rencana, Pak Arga," kata Bimo dengan nada datar. "Pak Reza baru saja menelpon Bu Nabila untuk memaksa penandatanganan berkas pengalihan darurat."

Arga menyandarkan punggungnya, memutar-mutar pena perak di jemarinya. Raut wajahnya sangat tenang, bagaikan seorang dalang yang sedang mengamati pergerakan wayang-wayangnya di atas panggung.

"Reza makin panik," ujar Arga halus. "Ketika seorang penipu berada di batas sudut ruang, dia tidak akan lagi berpikir panjang. Dia akan memakan pasangannya sendiri untuk menyelamatkan dirinya."

"Apakah Bapak akan membiarkan Bu Nabila pergi ke kantor Pak Reza siang ini?" tanya Bimo.

Arga menatap jendela kaca besar yang memperlihatkan awan mendung yang menyelimuti kota. "Biarkan dia pergi. Biarkan Nabila melihat dengan mata kepalanya sendiri... bagaimana bentuk 'cinta' dari pria yang telah dipilihnya untuk mengkhianatiku."

Satu jam kemudian, Nabila melangkah masuk ke ruang kerja Reza di gedung PT Nusantara Karya. Ruangan yang biasanya tertata rapi itu kini agak berantakan. Berkas-berkas menumpuk di meja, dan Reza berdiri di dekat jendela sambil mengisap rokoknya dengan terburu-buru—sebuah kebiasaan buruk yang jarang ia perlihatkan di depan Nabila.

Ketika Nabila melangkah masuk, Reza tidak menyambutnya dengan pelukan atau senyuman manis seperti biasanya. Pria itu langsung berjalan ke mejanya dan menghempaskan sebuah berkas tebal di depan Nabila.

"Tanda tangani di halaman 12 dan 18. Cepat," perintah Reza dingin.

Nabila mematung di tempatnya. Ia menatap berkas itu, lalu menatap Reza. Hatinya teriris oleh perubahan drastis pria di hadapannya. Pria yang dulu berjanji akan memberinya surga kini menatapnya seolah-olah Nabila hanyalah sebuah alat administrasi yang mengganggu.

"Kamu bahkan enggak nanya kabarku, Za?" suara Nabila bergetar, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Kamu cuma panggil aku ke sini buat jadi mesin penandatanganmu?"

Reza memutar matanya, menghembuskan asap rokoknya ke udara dengan raut wajah sangat jengkel. "Nabila, kita enggak punya waktu buat drama romantis sekarang! Waktu kita cuma tinggal beberapa jam sebelum sistem bank mengunci rekening itu! Tanda tangani sekarang!"

"Aku mau baca dulu isinya!" tegas Nabila, menarik berkas itu.

"Enggak usah dibaca! Kamu juga enggak bakal paham bahasa hukumnya!" bentak Reza seraya merebut kembali berkas itu dan menunjuk kolom tanda tangan dengan kasar. "Isinya cuma pengalihan hak tanggungan! Biar uang 60 miliar itu bisa cair ke rekening pribadi aku di Bali!"

Nabila tertegun. Matanya melebar, memandangi wajah Reza yang kini tampak begitu asing dan mengerikan. Topeng pria idaman yang selama ini dipakai Reza telah retak sepenuhnya, menyingkap wajah asli seorang pemangsa yang tak punya belas kasihan.

"Rekening pribadi kamu?" bisik Nabila dengan suara parau. "Bukan rekening bersama kita? Lalu... bagaimana dengan statusku sebagai penjamin di Pratama Group? Kalau uang itu masuk ke rekening pribadimu dan proyek ini macet... aku yang bakal ditagih oleh tim legal Mas Arga!"

Reza tertawa sinis—sebuah tawa dingin yang membuat seluruh darah di tubuh Nabila membeku.

"Kamu pikir Arga bakal tega memasukkan istrinya sendiri ke penjara?" bisik Reza, memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari wajah Nabila. Sorot matanya dipenuhi manipulasi yang kejam. "Arga itu cinta mati sama kamu, Nabila! Kalaupun semua ini terbongkar, Arga bakal menutupi kasus ini demi nama baikmu dan nama baik perusahaannya! Kamu aman! Tapi aku butuh uang itu sekarang buat mengamankan posisi bisnisku!"

Nabila melangkah mundur satu tapak, merapatkan tubuhnya ke pintu kayu yang tertutup. Air matanya menetes deras, membasahi pipinya yang pucat. Logika kejahatan yang meluncur mulus dari bibir Reza membuatnya menyadari sebuah kenyataan yang amat pahit :

Reza tidak pernah mencintainya. Reza hanya memanfaatkannya sebagai tameng hukum. Reza memanfaatkan kebaikan dan cinta tulus Arga pada Nabila sebagai senjata untuk merampok harta Arga, sementara Nabila dijadikan umpan yang siap dikorbankan.

"Kamu... kamu jahat banget, Reza..." bisik Nabila seraya menggelengkan kepalanya dalam tangisan yang pecah. "Kamu manfaatin aku... kamu manfaatin kebaikan Mas Arga..."

"Stop berlagak suci!" teriak Reza, emosinya meledak. Ia melangkah maju dan mencengkeram kedua bahu Nabila dengan sangat keras, menggoncang tubuh wanita itu. "Kamu yang datang ke aku! Kamu yang haus perhatian! Kamu yang menikmati setiap rupiah uang curian ini! Kita ini sama-sama penjahat, Nabila! Jadi jangan bertingkah seolah kamu korban di sini! Tanda tangani berkas ini sekarang, atau aku pastikan nama kamu yang pertama kali aku serahkan ke polisi kalau kapal ini tenggelam!"

Cengkeraman keras di bahunya dan ancaman telanjang dari mulut Reza meruntuhkan seluruh fondasi ilusi indah yang selama ini dibangun Nabila. Chemistry gairah terlarang yang dulu membuaianya runtuh menjadi serpihan tajam yang kini menusuk jiwanya sendiri. Topeng cinta yang dipakai Reza telah hancur berkeping-keping di depan matanya.

Nabila menepis tangan Reza dengan sisa tenaganya, menangis terisak-isak, lalu berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu tanpa menandatangani sepatah kata pun.

Reza mengutuk keras, memukul meja mahoninya hingga tempat pensil berjatuhan, memandangi punggung Nabila yang menghilang di balik pintu dengan napas memburu dan ketakutan yang kian membakar dadanya.

Sore hari, hujan deras kembali mengguyur kota, menciptakan irama monoton yang kelam di jalanan.

Nabila menyetir mobilnya dengan pandangan yang buram oleh air mata. Tubuhnya gemetar hebat. Penyesalan yang luar biasa dahsyat menyergap dadanya hingga ia sulit bernapas. Ia teringat bagaimana Arga selalu memperlakukannya bagai ratu—selalu menatapnya dengan pendar mata yang penuh rasa hormat, selalu memeluknya hangat saat ia lelah, dan selalu memasang dirinya sebagai pelindung Nabila dari masalah apa pun.

Sedangkan Reza... pria yang ia bela dan ia beri kesetiaan terlarangnya... justru menjadi sosok yang siap melemparnya ke dalam api demi menyelamatkan kulitnya sendiri.

Mas Arga... maafkan aku... batin Nabila menjerit dalam tangisnya. Aku salah... aku sungguh-sungguh salah...

Ketika mobilnya sampai di garasi rumah megah mereka, Nabila berlari masuk ke dalam rumah. Ia tidak peduli lagi pada gaun mewahnya yang basah terkena cipratan air hujan. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bersimpuh di kaki Arga, mengakui semua kesalahannya, memohon ampunan, dan berlindung di dalam pelukan suaminya yang dulu selalu menjadi tempat teraman baginya.

Nabila mendorong pintu ruang kerja Arga dengan kasar.

"Mas Arga!" panggil Nabila dengan suara serak yang patah-patah oleh isak tangis.

Di dalam ruangan yang remang itu, Arga sedang berdiri di balik mejanya. Ia mengenakan kemeja hitam yang rapi, berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Wajah Arga begitu tenang, dipenuhi aura dingin yang tak tersentuh.

Nabila berlari mendekat, lalu langsung menjatuhkan dirinya di atas lantai, berlutut tepat di depan kaki Arga. Tangannya terulur meraih celana Arga, menggenggamnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh tangisnya.

"Mas... Mas Arga... tolong aku, Mas..." isak Nabila histeris, mendongak menatap wajah suaminya. "Reza... Reza jahat banget, Mas! Dia manfaatin aku... dia mau celakakan aku! Tolong maafkan aku, Mas... aku khilaf... aku cuma mau sama Mas Arga... tolong lindungi aku, Mas..."

Arga menundukkan pandangannya. Ia menatap istrinya yang kini bersimpuh meratap di kakinya—seorang wanita yang dulu sangat ia agungkan, kini bersimbah air mata penyesalan karena baru saja dihantam oleh kenyataan pahit dari pengkhianatannya sendiri.

Namun, di dalam dada Arga, tidak ada pendar iba. Tidak ada lagi rasa hangat yang dulu selalu bergolak setiap kali melihat Nabila menangis. Hati Arga telah menjadi benteng es yang sempurna.

Arga tidak merangkul Nabila. Ia tidak mengangkat tubuh istrinya. Dengan gerakan yang sangat pelan, dingin, dan tanpa emosi, Arga menarik kakinya mundur—melepaskan cengkeraman jemari Nabila dari celananya, membiarkan tangan istrinya terjatuh lemas menampar lantai marmer yang dingin.

"Mengapa kamu menangis di kakiku, Nabila?" suara Arga mengalun begitu tenang, begitu merdu, tetapi memiliki kedalaman dingin yang sanggup membekukan darah.

Nabila terpana, mendongak dengan wajah basah, menatap Arga dengan tatapan tak percaya.

Arga menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang sangat indah, namun matanya berkilat hitam tanpa nyawa. Topeng cinta Arga pun kini telah perlahan retak, memperlihatkan sosok sang algojo yang siap mengetukkan palunya.

"Bukankah kamu sendiri yang memilih untuk berjalan menuju neraka itu bersama Reza?" bisik Arga sangat pelan, membiarkan keheningan malam menelan isak tangis istrinya yang kini menyadari bahwa tidak ada lagi tempat berlindung baginya di dunia ini.

1
Pinkan Aritra
sukurin
Pinkan Aritra
kapok
Idefdenko Channel
semogah Arga membalas perbuatan istri nya
Idefdenko Channel
mantap, mendebarkan ...
Idefdenko Channel
mantap
partini
konflik nya masih lama ya Thor
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt
Mabuok Hape: ya KK, maklum lah baru belajar buat novel .. he he he, kadang salah, kadang alur entah kemana perginya, jadi harap maklum 🙏
total 3 replies
partini
cari buktinya susah banget ya ga aihhhh
partini
ayo ga bikin kejutan buat mereka berdua yg sadis yah
partini
Arga kan terzolimi Thor istri selengkong ko ada kata suami kejam ?
partini: oh sperti itu ok ,tapi bukan kejam sih menurut ku harga yg harus di rasakan istri nya karena berani selengkong
jadi ga kejam 🤭
total 2 replies
partini
kumpulan bukti sebanyak"nya cari momen acara yg penting di hadiri kedua keluarga dan tamu play lah tuh bukti like boom
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus aku suka dan udah aku kasih like, yang semangat bikin novelnya 👍👍
Mabuok Hape: makacih😍
total 6 replies
partini
lain ini lelaki yg di selingkuhi,,aihhh jadi suami kejam Dong masa iya balik ke lobang yg sama plus terkontaminasi cairan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!