NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 — Rumah Sakit di Bawah Abu

Abu vulkanik mengubah siang menjadi senja.

Konvoi medis berhenti delapan kilometer dari zona merah. Jalan tertutup lahar dingin, listrik padam, dan jaringan telepon hanya muncul beberapa detik lalu hilang. Tim gabungan militer, Basarnas, dinas kesehatan, serta rumah sakit sipil membangun pusat triase di lapangan sekolah.

Surya tidak datang untuk melakukan semua operasi.

Dia membuka modul rumah sakit lapangan sesuai rancangan proyek: zona dekontaminasi abu, resusitasi, tindakan, observasi, farmasi, dan evakuasi. Alur pasien hanya satu arah agar korban bersih tidak kembali bercampur dengan pakaian penuh abu.

"Air bersih dan oksigen dihitung per jam," katanya. "Gunakan angka persediaan yang terukur. Beri nomor prioritas evakuasi kepada pasien merah sekarang, sebelum helikopter datang."

Seorang dokter militer mengulang perintah. Perawat sipil menulisnya di papan karena sistem komputer tidak hidup.

Setiap tenda memiliki pemimpin, pengganti, dan batas kapasitas. Saat zona merah penuh, pasien tidak ditumpuk di lorong tanpa penanggung jawab. Mereka masuk area stabilisasi sementara dengan satu petugas khusus. Surya memasang jam besar di papan untuk menandai waktu antibiotik, tourniquet, ekstrikasi, dan keberangkatan.

Debu abu menembus celah masker biasa. Tim mengganti pelindung sesuai paparan dan memutar petugas sebelum kelelahan membuat mereka salah membaca label. Tidak ada orang yang boleh bekerja dua belas jam hanya karena merasa paling kuat.

Surya sendiri menyerahkan meja triase setelah empat jam. Seorang kolonel dokter mengambil alih dengan checklist yang sama. Kepemimpinan proyek tidak berarti semua orang menunggu tangannya.

Korban datang dengan luka bakar, serangan asma, fraktur, hipotermia, dan mata teriritasi abu. Masker dibagikan berdasarkan risiko. Surya melarang penggunaan air terbatas untuk mencuci kendaraan ketika persediaan pasien belum aman.

Seorang ibu hamil mengalami kontraksi prematur setelah evakuasi. Tim obstetri membuat sudut bersalin terpisah. Seorang anak dengan asma membaik setelah bronkodilator dan oksigen. Tiga korban luka bakar dibersihkan dengan cairan hangat, ditutup, dan dipindahkan tanpa mengoleskan pasta tradisional yang dapat menahan panas.

Di sisi lain sekolah, pekerja sanitasi menggali jalur limbah dan memasang toilet darurat. Surya memasukkan mereka ke briefing yang sama. Rumah sakit lapangan dapat runtuh oleh diare dan air kotor meski semua operasi berhasil.

Di tenda tindakan, dia memasang selang dada pada korban yang tertimpa balok. Bayu melakukan fiksasi panggul. Rizki mengatur analgesia dan daftar darah.

Anindya berada di pusat komando Surabaya. Dia memantau tempat tidur rujukan, hasil laboratorium yang dikirim melalui radio data, dan kebutuhan obat. Hubungan mereka hanya profesional selama frekuensi terbuka.

"Tim Lapangan Satu, konfirmasi stok traneksamat dan kalsium," suaranya terdengar.

"Cukup untuk enam pasien prioritas," jawab Surya.

"Bukan jawaban romantis, tapi diterima."

Sinyal hilang setelah ledakan kedua dari puncak.

Gelombang abu panas tidak mencapai sekolah, tetapi jembatan komunikasi runtuh. Selama lima jam, Anindya tidak mendengar suara Surya.

Di desa sebelah, seorang pemuda terjebak di bawah rangka atap beton. Kaki kirinya terhimpit, tetapi masih hangat. Tim penyelamat memperkirakan pelepasan membutuhkan empat puluh menit.

"Potong saja sekarang," kata seorang relawan panik. "Kalau bangunan turun lagi, dia mati."

Surya merangkak masuk bersama petugas struktur. Dia tidak menjanjikan tungkai selamat. Dia memeriksa ruang, nadi, perdarahan, waktu himpitan, dan jalur evakuasi.

"Tidak ada perdarahan yang membutuhkan amputasi di tempat. Kita lakukan ekstrikasi terkendali."

Akses intravena dipasang sebelum beban diangkat. Cairan diberikan terukur. Monitor portabel menunjukkan gelombang T mulai meninggi, tanda kalium dapat meningkat akibat cedera remuk. Tim menyiapkan kalsium dan terapi hiperkalemia.

Beton terangkat sentimeter demi sentimeter.

Saat kaki bebas, tekanan darah turun. Nadi distal menghilang karena arteri poplitea tertekan fraktur dan bengkak.

Kalium pasien meningkat. Kalsium diberikan untuk melindungi jantung, kemudian terapi untuk memindahkan kalium ke dalam sel dijalankan sambil menyiapkan evakuasi dialisis bila perlu. Urine dipantau karena cedera remuk dapat merusak ginjal.

Surya menjelaskan bahwa mempertahankan kaki sekarang tidak menjamin terhindar dari amputasi kemudian. Pasien tetap memilih upaya penyelamatan tungkai selama risiko nyawanya dapat dikendalikan.

Di tenda operasi, Surya dan tim vaskular memasang shunt sementara untuk mengembalikan aliran, sementara ortopedi memberi fiksator eksternal. Mereka tidak melakukan rekonstruksi definitif dalam lingkungan berdebu.

Jari kaki kembali hangat.

Pasien dievakuasi ke Surabaya untuk perbaikan pembuluh final. Kakinya dipertahankan.

Krisis berikutnya datang dari tim sendiri. Dua petugas militer roboh dengan sesak setelah tabung oksigen bocor di ruang tertutup kendaraan. Protokol buddy-check yang baru dibuat membuat rekan mereka mengenali paparan sebelum seluruh kru masuk. Keduanya dikeluarkan tanpa menambah korban penyelamat.

Pada malam kedua, jaringan radio darurat pulih.

"Tim Lapangan Satu, lapor," kata Anindya. Suaranya terlalu tenang.

"Masih hidup. Delapan puluh tiga merah ditangani, enam puluh satu dievakuasi, dua petugas stabil."

Hening satu detik.

"Diterima," katanya. "Pulang setelah pengganti tiba. Dokter okupasimu yang memberi perintah itu."

Tiga hari kemudian, komando gabungan mengaudit protokol. Alur satu arah mencegah kontaminasi silang. Sistem buddy-check mencegah korban tambahan. Formulir kertas memungkinkan semua pasien dilacak meski listrik padam.

Audit juga menemukan kegagalan. Dua kotak obat tiba tanpa label suhu. Satu ambulans membawa pasien kuning melewati pasien merah karena daftar lama. Surya memasukkan semuanya ke revisi protokol. Tugas Level Sepuluh tidak boleh dinyatakan berhasil dengan menghapus kesalahan.

Versi akhir memiliki radio cadangan, titik pengisian oksigen, paket laboratorium mini, dan aturan kapan rumah sakit lapangan harus berhenti menerima pasien demi mencegah keruntuhan total. Militer menyetujui dokumen tersebut untuk penggunaan bersama.

Panel Level Sepuluh menyala.

『Tugas khusus kedua selesai. Protokol medis militer menyelamatkan warga dan penyelamat ketika sistem sipil runtuh. Progres Level Sepuluh: 2/3.』

Surya kembali ke RSUD Dr. Soetomo dengan rambut berabu, sepatu berlumpur, dan mata merah karena kurang tidur.

Anindya menunggunya di pintu ambulans.

Dia tidak berlari melewati zona dekontaminasi. Dia menunggu Surya melepas pakaian luar, mandi, dan lolos pemeriksaan paparan.

Baru setelah itu dia memeluknya.

"Kamu bau sabun rumah sakit," katanya.

"Lebih baik daripada abu."

"Sedikit."

Pak Hendra datang membawa berita lain.

Pasien sarkoma jantung berusia dua puluh satu tahun membaik setelah terapi, tanpa metastasis terdeteksi pada evaluasi berulang. Panel nasional menyetujui pertimbangan transplantasi eksperimental dengan risiko kekambuhan tinggi.

Surya baru saja menyelesaikan pemeriksaan paru dan membersihkan abu dari telinganya. Tubuhnya meminta tidur. Tanggung jawab berikutnya meminta penilaian jujur apakah dia masih layak berdiri di meja operasi.

Satu donor yang kompatibel baru saja teridentifikasi.

Jantung itu sudah dalam perjalanan dengan batas iskemia yang terus berjalan.

Waktu istirahat Surya tinggal sebanyak kejujurannya menilai diri sendiri.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!