Karena kejadian yang sangat membekas di masa lalunya. Serta korban iklan drama Korea. Akhirnya Naura Almira Atmajaya memutuskan untuk hamil melalui progam inseminasi tanpa menikah serta tak mau tahu siapa yang mendonorkan benih untuknya.
Beberapa bulan kemudian, permasalahan pun datang menghampirinya. Ternyata yang mendonorkan sperma untuknya adalah pria yang paling dihindarinya.
=========
Jangan lupa beri dukungan, vote, koment dan like.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24| Secangkir Cokelat Panas
Naura melayangkan pandangannya ke luar jendela sambil bertopang dagu. Memperhatikan orang-orang berlalu-lalang di jalanan kota Jeju yang tertutupi salju tebal. Pertengahan bulan ini puncaknya salju turun dan sedikit ekstrim cuacanya dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam semingu ini sering terjadi badai salju atau pun topan di sekitaran pulau Jeju.
Sudah lima menit berlalu, sosok manis ini duduk sendirian di cafe depan rumah sakit Universitas Nasional Jeju. Dua jam yang lalu Neil meneleponnya, mengajaknya hangeout bersama menikmati waktu sore di hari minggu. Hitung-hitung untuk membayar rasa bersalah dokter muda itu pada sosok manis ini, karena jarang sekali mengabulkan keinginan mengidamnya akhir-akhir ini. Itu pun sering kali dia menelepon Raka memberitahukannya.
Tak berapa lama akhirnya sosok yang ditunggu Naura pun datang. Neil mengedarkan pandangannya ke dalam cafe yang hanya diisi oleh beberapa pengunjung saja - menikmati lantunan suara merdu yang disuguhkan oleh penyanyi wanita.
Sudut bibir dokter muda ini tersungging senyuman menawan ketika mata elangnya mendapati sosok Naura telah duduk manis di sudut ruangan sembari menikmati minuman hangatnya.
🍃Dear, My Baby🍃
"Maafkan, Kakak, Na." Neil membuka percakapan setelah pesanannya datang.
"Untuk?" Naura menyeruput minuman cokelat panasnya.
Rasa hangat dari coklat panas membuat pikiran Naura sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tetapi masih belum mampu membuat hatinya merasa bahagia. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, sesuatu yang membuat hatinya tak merasa puas, entah itu apa. Seolah ia telah menyelesaikan pekerjaannya mati-matian namun tetap saja mendapatkan respon tak menyenangkan dari sang atasan.
"Soal mengidammu selama ini.” Neil mengambil smartphone di balik coat-nya dan mengetik sesuatu di sana.
"Memangnya kenapa?" Naura meletakkan mug-nya ke atas meja. Menatap mata sipit Neil di balik kaca mata minusnya ketika dokter muda ini sedang memperhatikan smartphone-nya. Neil tersenyum dan meletakkan kembali smartphone-nya ke atas meja. Dan fokus menatap sosok manis di depannya.
"Kakak jadi gak enak sama kamu. Akhir-akhir ini Kakak jarang mengabulkan keinginanmu."
"Oh, itu. Nggak apa-apa kok, Kak. Biasa saja," Sosok manis ini menyunggingkan senyuman lebar pada Neil, mengungkapkan bahwa dia memang baik-baik saja.
"Huft. Tapi tetap saja, Kakak merasa gak enak sama kamu." Neil mengembuskan napas. Tampak asap putih keluar dari cela mulutnya.
"Aku mengerti, Kak. Gak usah diambil hati. Benaran. Gak bo'ong." Naura tersenyum makin lebar sembari membentuk jarinya huruf V.
"Makasih, Na," tutur Neil dengan sudut bibir sedikit terangkat ke atas, ikut tersenyum tipis.
"Lagian, keinginan mengidamku masih terpenuhi juga, kok," kata sosok manis ini sembari memainkan badan mug-nya. Merasakan hawa panas mengalir dari badan mug ke jari-jarinya.
"Oya?" Neil menaikkan salah satu alisnya.
"Hu'um." Naura mengangguk kecil. "Kurasa Kakak juga tahu siapa yang sering mengabulkan keinginanku itu."
Neil mengelus dagu. Pandangannya tembus ke belakang sosok manis ini. Seketika sudut bibirnya tersungging senyum penuh arti. Tiga meja di belakang Naura. Ada sosok pria tampan bermata bulat berkaca mata berpura-pura menikmati minuman hangatnya sembari membaca koran. Tetapi dokter muda ini sangat tahu, di balik kaca mata hitam itu, mata elang pria tampan itu hanya terpaku pada punggung belakang sosok manis ini.
"Sunny?" tebak Neil kembali memandang wajah manis Naura.
Sosok manis ini memutar bola mata. "Ih, Kakak pura-pura nggak tahu deh. Errr ..."
Dokter muda ini terkekeh geli sambil membenahi letak kaca mata minusnya.
"Raka?" ujarnya dengan suara sengaja sedikit agak keras sembari melirik sekilas pada sosok di belakang Naura. Tampak pria bermata bulat itu tesentak dari duduknya, buru-buru membuang pandangannya ke arah lain.
"Iya, siapa lagi kalau bukan si kodok sawah. (︶︿︶)" Naura mencebik.
"Bukannya Kakak berpihak pada Raka, Na. Tapi menurut Kakak, beruntung ada dia. Mengidammu jadi terbantu." Neil berdeham kecil sambil mencuri pandang ke belakang Naura. Hum, Raka. Kau harus berterima kasih padaku karena membelamu.
Sedangkan pria yang jadi bahan obrolan itu tersenyum mendengar penuturan dokter muda ini sembari mengacungkan jempolnya pada Neil.
Naura menengadah, memperhatikan Neil menyeruput sebentar minuman kopinya yang mulai mendingin. Ia menghela, kehabisan kata-kata untuk berdebat. Memang benar apa yang dikatakan oleh dokter muda ini. Berkat Raka, ia tidak terlalu repot memenuhi mengidamnya ini.
"Bagaimana hubunganmu dengan Raka?" tanya Neil tiba-tiba.
Naura tidak serta merta menjawab. Menarik napas panjang terlebih dahulu. Barulah menjawab pertanyaan dokter muda ini.
"Tak ada apa-apanya," sahut Naura enteng.
"Kau masih belum mempertimbangkan niat baiknya?" Neil bertanya hati-hati.
"Belum." Naura mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Na---"
"Sudah deh, Kak. Gak usah bahas masalah itu lagi. Sudah bosan aku dengarnya. Atau memang Kakak ..." Naura menyipitkan mata ke arah dokter muda ini. Neil menelan air liur dengan susah payah.
"Disuruh Raka buat jadi kompor, membujukku agar berubah pikiran. Begitukan."
"He he he. Tentu saja ... enggak." Neil tercengir lebar.
"Gak bo'ong?"
"Iy-ya." Neil mengelus kerah kemejanya. Samar sudut mata dokter muda ini melotot tajam pada sosok di belakang Naura.
**, kau Raka. Hampir saja disemprot Naura karena curiga. Sebagai sogokannya aku minta belikan jam tangan Patek Philippe limited edition sebanyak lima biji.*
🍃Dear, My Baby🍃
Karena Neil tidak bisa berlama-lama berada di luar dengan jadwal operasinya yang begitu padat, jadilah Naura sendirian menikmati pulau Jeju.
Awalnya dia kepingin dokter muda itu menemaninya berkeliling menikmati wisata di pulau Jeju. Mengingat Neil bukan kali pertama inilah datang ke sini. Tetapi sudah berkali-kali liburan ke pulau ini. Berbeda dengannya, yang baru dua bulan berada di sini. Itu pun selama dua bulan ini belum sempat untuk berkeliling sepenuhnya ke pulau Jeju, disebabkan pekerjaannya yang sangat menyita waktu.
Dan niatnya dia urungkan. Tak ingin Neil kembali merasa bersalah untuk kesekian kalinya karena keinginan mengidamnya ini. Jalan-jalan di kebun bunga Canola.
Ketika sampai di sana, sosok manis ini sedikit kecewa, sebab bunga Canola-nya kini tertutupi salju tebal. Sepanjang jalan yang dilewatinya, hanya padang salju berwarna putih bukan berwarna kuning dari bunga Canola.
Naura terus berjalan menembus cuaca dingin bersalju sembari mengeratkan mantel berbulu ke tubuh berisinya. Menelusuri jalan beraspal yang tak terlalu lebar, dengan di kiri kanannya adalah kebun bunga Canola.
Tiba-tiba saja sosok manis ini menghentikan langkahnya. Seketika memutar tubuh. Mengedarkan pandangan pada sekitar. Mungkin hanya perasaannya saja. Naura merasa sedari dia berjalan ke luar dari cafe dan berpisah dari Neil sampai tiba di kebun bunga Canola, dia merasa diikuti oleh seseorang. Namun, entah siapa itu. Naura tak menemukan orang mencurigakan di antara pengunjung kebun bunga Canola lainnya.
"Hm, mungkin hanya perasaan gue saja," gumam Naura kembali melanjutkan langkahnya. Kemudian berhenti di bawah pohon rindang yang tertutupi salju. Dia duduk di kursi kayu panjang yang sedikit basah akibat tetesan dari pohon yang menaunginya.
"Huft. Dingin-dingin begini enaknya minum yang panas-panas. (=^▽^=)"
"Tapi ... gak ada yang jual minuman hangat di sekitar sini. (︶︿︶)"
"Sabar, ya Baby. Mommy sekarang lagi malas jalan kembali."
"Iya, Mommy tahu dedeknya lagi ngidam minum cokelat panas, kan."
"Sayangnya, gak ada orang yang mau ngabulin keinginanmu sekarang ini."
Naura berdialog sendiri seraya mengelus perut buncitnya. Menengadah, memperhatikan sepasang kekasih --tak jauh darinya-- sedang bermesraan.
"Aih. Bikin iri saja, (︶︿︶)" sungut Naura mengalihkan perhatiannya ke arah lainnya. Lebih baik dia membayangkan adegan yang ada di film Canola saja. Membayangkan ketika dia sedang berjalan, ada cowok tampan sedang bersepeda menghampirinya dengan senyuman lebar.
"He he he." Naura terkikik geli bagai orang kasmaran membayangkan adegan romantis yang ada di dalam film Canola itu.
Tak ingin disebut gila oleh orang sekitar, Naura menghentikan kikikannya, kemudian melayangkan pandangannya ke kejauhan. Sosok manis ini menyipitkan mata. Di balik belakang sepasang kekasih yang berjalan bergandengan tangan ada sosok Raka dengan membawa dua cup cokelat panas di tangannya.
Ngapain dia di sini? Naura tak berkedip menatap Raka. Pelan tapi pasti pria itu berjalan ke arah sosok manis ini.
"Cokelat panas untuk Debay-nya."
Naura tertegun manakala Raka menyodorkan satu cup cokelat panas padanya.
Astaga! Apa sebenarnya Raka ini punya indera ke enam. Tahu saja aku lagi ngidam pingin minum cokelat panas sekarang.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai lagi di next chap 🤗💜💜.
tolong digali lagi referensinya, jadi tidak salah