Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenyataan...
Elna membuka mata, dia melirik ke arah suster yang memegang ponsel, suster langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
dokter Dito dan tim langsung masuk ke ruang rawat Elna, dia pun memeriksa kondisi cucunya itu.
Elna pun memegang perutnya, "opa ...."
dokter Dito sadar sesuatu, "tolong ambilkan alat USG, cepat!" bentaknya.
Elna pun meneteskan air matanya, dia merencanakan semuanya, agar keluarganya tak bisa menolak keinginannya.
dan dengan bantuan dokter Dito, Elna berdo'a agar keinginannya bisa berhasil.
dokter Dito mengeleng pada Elna, dan gadis itu menangis karena ternyata usahanya belum bisa berhasil.
Elna pun runtuh, tapi dia ingat jika sebelum pingsan dia melihat kondisi Ben yang sangat parah.
"om ..."
"tenang ya Elna, dia baik-baik saja, kamu harus sehat, nanti jika sudah baik kita bisa ke ruangan Ben," kata dokter Dito.
Elna mengangguk lemah, dokter Dito pun keluar untuk menemui Naura.
"om," panggil Naura yang sedang bersama Oma Ratna.
"dia baik, dan kondisinya sudah membaik, dan kita akan memindahkannya ke ruang rawat, kamu harus tegar dan jangan membuat dia sedih, mengerti Naura," kata dokter Dito.
Naura mengangguk, Elna di tempatkan di ruang VVIP khusus di lantai atas.
bahkan Elna di jga oleh perawat khusus yang di pekerjakan oleh Samuel.
papa David dan mama Mei masih menunggu keadaan dari Ben yang belum ada perkembangan sedikit pun.
"ini salahku," kata mama mei sedih.
"bukan mama, jangan menyalahkan dirimu, semua ini bukan kehendak kita," jawab papa David.
dokter Dito pun memeriksa kondisi Ben, dan ternyata pria itu sudah lepas dari masa kritis.
dokter Dito sedikit merasa lega, setidaknya Ben sudah selamat, tapi mungkin akan sangat lama untuk bisa membuatnya pulih.
dokter Dito menghampiri papa David dan mama Mei, "bagaimana keadaan Ben? apa kondisinya sudah membaik?" tanya papa David dengan cemas.
"dia sudah melewati masa kritis, tapi mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk dia kembali sehat seperti awal, apalagi benturan di kepala juga cukup parah," jawab dokter Dito.
"sebaiknya kami harus bagaimana?" tanya mama Mei.
"kalau bisa, sebaiknya bawa dia ke Singapura untuk perawatan lebih intensif," jawab dokter Dito.
"baiklah,kalau begitu biar kami berusaha untuk mencari sewa pesawat medis untuk membawa Ben, dan besan, aku mohon tolong selamatkan Ben," kata papa David.
"pasti, aku juga seorang dokter," jawab dokter Dito.
papa David menghubungi semua teman-temannya untuk mencari rumah sakit di Singapura.
dokter Dito memberikan referensi beberapa rumah sakit yang bisa jadi rujukan.
akhirnya papa David memutuskan satu rumah sakit yang cukup tersohor, dan akan memberikan uang terbaik pada Ben.
dan untuk sementara dia yang akan memegang kendali atas perusahaan dari Ben.
sedang Devan akan memegang perusahaan Gusman Grub bersama Samuel.
papa David juga meminta semua orang merahasiakan semuanya dari Elna, setidaknya sampai gadis itu benar-benar sehat.
akhirnya malam itu juga mereka pun memindahkan Ben mengunakan helikopter dan juga pesawat medis.
Elna sedang tidur karena pengaruh obat yang di berikan oleh dokter Dito agar tak bertanya saat mendengar helikopter.
keesokan harinya, Elna bangun dan melihat Naura yang sedang duduk bersama Oma Ratna.
"mama ...." lirih Elna.
Naura pun langsung menghampiri putrinya itu, "iya sayang, kamu lapar, atau haus?" tanya Naura.
"air..."
Oma Ratna pun mengambilkan air dan membantu Elna minum, sedang Naura mengambil air untuk membasuh tubuh Elna yang terlihat berkeringat.
Oma Ratna di minta oleh dokter Dito untuk merahasiakan apapun tentang Ben yang di bawa ke Singapura.
"Oma ..." lirih Elna.
tak lama datang teman-teman Elna yang datang, Lila, Nana dan Fafa, ketiga gadis itu masuk setelah mendapatkan penjelasan dari Lila.
karena semalam pengawalan di lakukan oleh Chan dan beberapa anak buahnya agar perjalanan di rumah sakit Singapore aman.
"Elna!" teriak ketiganya.
Oma Ratna dan Naura pun menyingkir dan memberikan ruang pada teman-teman Elna.
"kamu ya tuhan,sudah seperti mumi begini, perban dimana-mana, bahkan wajah cantik mu juga terluka," kata Fafa heboh
"ya tuhan tutup mulutmu, ini rumah sakit, kamu bisa menganggu pasien lain di lantai ini dengan suaramu," protes Lila.
"ah iya maaf, habis aku tak menyangka," bela Fafa mengerucutkan bibirnya.
"apa ini sakit," kata Nana menyentuh luka Elna.
"ya!! kau gila Nana, kau bisa membunuhnya, sudah tau itu luka kenapa kau sentuh sih," protes Lila.
"sudah-sudah, kalian tadi kesini bolos dari sekolah atau?" tanya Elna pada ketiga wanita muda itu.
"bolos mama he-he-he, tadi kami ganti di SPBU karena sekolah tak asik tanpa Elna," jawab Lila
"huh dasar kalian ini, sudah sini minum dulu, Elna mau sarapan dulu, sama Oma ya sayang," kata Oma Ratna
"siap Oma," jawab ketiganya.