NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBAHAGIAAN SEPERTI MASAKAN YANG CUKUP RASA

Hidup mereka kini berjalan seperti mesin yang sudah disetel dengan sempurna – setiap bagian bergerak sesuai dengan yang direncanakan, tanpa gesekan yang menyakitkan, tanpa suara yang mengganggu. Pagi hari datang dengan suara burung yang berkicau seperti orkestra alami, menggantikan bayangan kegelapan yang pernah mengikuti langkah mereka. Murni terbangun dengan senyum di wajahnya seperti bunga yang mekar saat disentuh sinar matahari, merasakan kehangatan tubuh Khem yang masih tertidur di sebelahnya seperti selimut yang menghangatkan tanpa perlu dipaksakan.

Khem terbangun beberapa saat kemudian, matanya yang baru saja terbuka seperti matahari yang mulai menyinari dunia. "Hari ini akan menjadi hari yang baik," katanya dengan suara yang masih berat karena tidur seperti getaran mesin yang baru mulai dinyalakan. Murni sudah menyiapkan sarapan – bubur ayam yang gurih seperti kenangan tentang kampung yang selalu hangat, dengan bawang merah goreng yang renyah seperti kebahagiaan yang datang dalam bentuk kecil. Mereka makan bersama di meja kecil ruang kontrakan yang seperti meja makan keluarga yang penuh dengan cinta.

Setelah sarapan, mereka berangkat bekerja dengan sepeda motor yang berjalan mulus seperti kuda yang senang membawa pemiliknya. Di persimpangan jalan yang memisahkan dua pabrik, mereka berhenti sebentar seperti pelaut yang berpisah sementara untuk menjelajahi lautan yang berbeda. Khem mencium bibir Murni dengan lembut seperti angin yang menyentuh bunga, "Jangan lupa makan siang ya," ucapnya seperti pesan yang penuh dengan perhatian. Murni tersenyum dan mengangguk, "Kamu juga ya – jangan terlalu lama bekerja sampai lupa istirahat."

Di pabrik makanan ringan, Murni bekerja dengan semangat yang tinggi seperti burung yang sedang mencari makan untuk anak-anaknya. Tangan nya cepat dan terampil seperti tari yang sudah dipelajari dengan baik, setiap produk yang dia kemas dengan rapi seperti karya seni yang dibuat dengan cinta. Rekan kerja nya sering melihatnya dengan senyum seperti orang yang melihat kebahagiaan yang tulus, tahu bahwa dia sudah menemukan kedamaian seperti danau yang tenang setelah badai berlalu.

"Murni seneng ya sekarang," ucap Ibu Yanti sambil mengusap pundaknya seperti ibu yang melihat anaknya bahagia. "Kamu seperti beras yang sudah matang – jadi lebih manis dan berguna." Murni tersenyum dan memberikan Ibu Yanti sepotong kue yang dia bawa dari rumah seperti bagian kebahagiaan yang ingin dibagikan. Di jam istirahat, mereka duduk bersama di bawah pohon beringin yang sudah seperti teman lama yang selalu ada, bercerita tentang kehidupan masing-masing seperti orang yang berbagi cerita tentang perjalanan yang sudah dilewati.

Sementara itu, di pabrik besi dan baja, Khem bekerja dengan fokus yang tinggi seperti tukang emas yang sedang membuat perhiasan. Tangannya yang kasar tapi hati-hati seperti alat yang tepat untuk membentuk besi menjadi sesuatu yang indah, setiap las yang dia buat rapi seperti jalinannya yang menghubungkan dua benda menjadi satu. Rekan kerja nya sering memanggilnya untuk membantu memperbaiki mesin yang rusak seperti orang yang mencari dokter yang handal, tahu bahwa dia bisa dipercaya seperti batu bata yang kokoh untuk membangun rumah.

"Kamu jadi lebih bahagia sejak bersama Murni ya," ucap Pak Joni, rekan kerja Khem yang sudah lama bekerja di pabrik seperti pohon yang sudah tumbuh lama di satu tempat. "Seperti besi yang menjadi lebih kuat setelah diberi campuran logam yang tepat." Khem tersenyum dan mengangguk, tangannya masih sedang memperbaiki mesin yang seperti teman yang perlu diperhatikan. Di jam istirahat, dia sering duduk di sudut bengkelnya, membuat karya kecil dari besi dan baja untuk Murni seperti cara untuk menyampaikan cinta tanpa kata-kata.

Setelah jam kerja berakhir, mereka bertemu lagi di persimpangan jalan seperti dua orang yang tidak bisa hidup tanpa bertemu setiap hari. Kadang mereka pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan seperti orang yang menyusun persediaan untuk kehidupan yang baik, memilih sayuran segar yang hijau seperti harapan untuk masa depan, dan daging yang segar seperti energi untuk menghadapi hari esok. Kadang mereka pergi ke taman kota yang rindang seperti oasis di tengah kota yang sibuk, duduk di bangku yang sudah tua seperti tempat untuk berbagi cerita tentang hari yang telah berlalu.

Suatu hari libur, mereka pergi ke pantai yang jauh dari kota seperti orang yang mencari tempat untuk berlindung dari kebisingan dunia. Pantai itu tenang seperti karpet pasir yang luas dan damai, ombaknya menyapu pantai seperti tangan yang menyapu lantai dengan lembut. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai seperti dua orang yang sedang menjelajahi dunia baru, kaki mereka menyentuh pasir yang hangat seperti tanah yang menyambut kedatangan mereka.

Khem membawa sebuah kotak kecil yang dibuat dari besi yang dipoles halus seperti kotak harta karun yang indah. Di dalamnya ada sebuah patung kecil berbentuk hati yang dibuat dari baja dan diberi aksen dari logam lain seperti cinta yang terbuat dari berbagai pengalaman. "Ini untukmu," katanya sambil memberikannya. "Setiap bagian dari hati ini mewakili sesuatu – besi untuk kekuatan, tembaga untuk kehangatan, perak untuk kemurnian. Semuanya menyatu menjadi satu, seperti kita berdua."

Murni menerima patung itu dengan tangan yang penuh dengan cinta seperti orang yang menerima hadiah terindah di dunia. Dia meletakkannya di atas batu besar yang menghadap laut seperti tugu cinta yang akan selalu ada di sana. Mereka duduk bersama melihat matahari terbenam seperti bola api yang perlahan tenggelam ke dalam lautan, langit berubah warna menjadi oranye dan merah seperti kain yang dicelup ke dalam pewarna yang indah.

"Kehidupan kita sekarang seperti masakan yang sudah cukup rasa ya," ucap Murni dengan suara yang lembut seperti nyanyian anak-anak yang sedang bermain. "Ada rasa manisnya, ada rasa gurihnya, tidak terlalu asin dan tidak terlalu pedas." Khem mengangguk dan memeluk pinggangnya seperti pelindung yang selalu ada, "Ya, karena kita saling melengkapi seperti bumbu dan makanan. Tanpa kamu, hidupku seperti nasi yang tidak ada lauknya – hampa dan tidak nikmat."

Di malam hari, mereka pulang dengan hati yang penuh dengan kedamaian seperti danau yang tidak ada ombak sama sekali. Mereka memasak makanan bersama di kamar kontrakan yang kecil tapi penuh dengan cinta seperti rumah yang sempurna untuk dua orang yang mencintai satu sama lain. Murni memasak ikan bakar yang aroma nya meresap ke seluruh kamar seperti kebahagiaan yang menyebar ke setiap sudut, sementara Khem membantu memotong sayuran seperti teman yang selalu siap membantu.

Mereka makan bersama sambil melihat film di hp kecil seperti orang yang menikmati malam yang indah bersama. Kadang mereka tertawa bersama seperti anak-anak yang menemukan hal lucu, kadang mereka diam dan hanya saling melihat seperti dua orang yang sudah mengerti satu sama lain tanpa kata-kata. Setelah makan, mereka membersihkan tempat makan bersama seperti pasangan yang bekerja sama dengan baik, setiap gerakan mereka selaras seperti tarian yang sudah dipelajari dengan sempurna.

Sebelum tidur, Murni mengenakan kalung besi yang diberikan Khem – sekarang ia tidak hanya sebagai perisai, tapi juga sebagai simbol cinta yang kuat seperti cincin yang dikenakan oleh pasangan suami istri. Khem membacakan cerita yang dia tulis sendiri di atas potongan besi yang sudah dipoles halus seperti kertas emas, cerita tentang cinta yang tumbuh di tengah dunia industri seperti bunga yang tumbuh di celah batu.

"Kita akan selalu bahagia seperti ini kan?" tanya Murni dengan suara yang hampir terdengar seperti bisikan. Khem mengangguk dan mencium dahinya seperti janji yang diberikan dengan tulus, "Selama kita bersama, hidup akan selalu seperti ini – penuh dengan cinta, kerja keras, dan kebahagiaan yang tulus. Kita seperti besi dan baja yang sudah menyatu – tidak akan pernah terpisahkan lagi."

Mereka tertidur bersandar di bahu masing-masing seperti dua orang yang menemukan tempat yang tepat untuk diri mereka, hati mereka berdebar dengan irama yang sama seperti mesin yang berjalan dengan mulus. Luar kamar, kota sudah tenang seperti bayangan yang sudah kembali ke tempatnya, bintang-bintang bersinar seperti jendela yang melihat ke dalam dunia yang penuh dengan kemungkinan. Hidup mereka sudah kembali normal seperti jalan yang sudah lurus setelah lama berliku-liku, penuh dengan kebahagiaan yang sederhana tapi tulus seperti air yang jernih dan segar.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Ada hari-hari ketika kedua pabrik harus bekerja ekstra seperti tentara yang sedang mempersiapkan perang besar – pabrik makanan ringan menerima pesanan besar untuk keperluan acara kota, sementara pabrik besi & baja harus menyelesaikan proyek pembuatan rangka rumah untuk hunian murah. Lembur yang dulu terasa seperti beban berat di pundak kini menjadi menyenangkan seperti tarian yang dinanti-nantikan, karena mereka tahu bahwa setiap jam kerja ekstra adalah langkah lebih dekat ke impian mereka.

Murni datang ke pabrik lebih pagi dari biasanya seperti burung yang terbang lebih awal untuk mencari makanan terbaik. Ruangan produksi yang biasanya sunyi kini penuh dengan aktivitas seperti pasar pagi yang ramai, mesin berdecak dengan ritme yang stabil seperti alunan musik yang mengiringi kerja mereka. Dia bekerja dengan tangan yang cepat tapi hati-hati seperti penari yang mengikuti irama dengan sempurna, setiap kemasan yang dia buat rapi seperti bungkus kado yang dibuat dengan cinta.

"Kita bisa selesai lebih cepat kalau kita bekerja bersama!" teriak Murni dengan semangat yang menular seperti api yang menyebar ke seluruh tempat. Rekan kerja nya merespons dengan senyum dan semangat yang sama seperti keluarga yang bekerja sama untuk panen raya. Mereka berbagi makanan dan minuman seperti orang yang berbagi hasil kerja keras, cerita dan candaan mereka terdengar seperti tawa yang menghangatkan ruangan yang penuh dengan mesin dingin.

Sementara itu, Khem dan rekan kerja nya di pabrik besi & baja sedang bergelut dengan besi-besi besar yang seperti prajurit yang harus dilatih dengan keras. Mereka memotong, melas, dan membentuk besi dengan keahlian yang luar biasa seperti tukang emas yang membuat mahkota kerajaan. Mesin las menyala dengan warna biru yang cantik seperti pelangi yang muncul di tengah kerja keras, percikan api yang keluar seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.

"Rangka ini harus kokoh seperti gunung!" ucap Khem sambil memeriksa hasil lasannya dengan cermat seperti dokter yang memeriksa pasiennya. Rekan kerja nya mengangguk dan memberikan dukungan seperti teman yang selalu siap membantu. Mereka bekerja dengan koordinasi yang sempurna seperti tim pemain sepak bola yang sudah bermain bersama lama, setiap gerakan mereka selaras tanpa perlu banyak kata-kata.

Pada malam hari yang sudah larut seperti malam yang hampir pergi ke pagi, mereka bertemu di persimpangan jalan yang sepi seperti tempat pertemuan yang hanya mereka tahu. Murni membawa makanan yang dia siapkan dengan cinta – nasi goreng yang aroma nya meresap ke udara malam seperti kehangatan yang datang dari jauh, dengan telur mata sapi yang matang sempurna seperti mata yang melihat kebaikan dalam segala hal.

Mereka makan bersama di atas alas kain yang mereka bentangkan di tanah seperti orang yang makan di tengah alam bebas, bintang-bintang di langit seperti lampu yang menerangi makan malam mereka. Khem menceritakan tentang bagaimana mereka berhasil menyelesaikan rangka rumah pertama seperti pemandu yang berhasil membawa kelompoknya sampai ke tujuan, sementara Murni bercerita tentang bagaimana pesanan makanan mereka disetujui dengan pujian seperti seniman yang karya nya dihargai.

"Lembur ini menyenangkan bukan?" tanya Khem sambil memberika Murni suapan nasi goreng. "Seperti kita sedang merajut impian kita dengan setiap benang kerja keras yang kita lakukan." Murni tersenyum dan mengangguk, "Ya benar – dulu aku berpikir lembur itu hanya membuat lelah. Tapi sekarang aku tahu, setiap jam yang kita habiskan bekerja adalah seperti menambahkan batu bata ke rumah masa depan kita."

Setelah makan, mereka berjalan-jalan keliling area pabrik yang sunyi seperti jelajah yang menjelajahi wilayah mereka sendiri. Lampu penerangan pabrik menyala seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi, menerangi jalan yang mereka lalui seperti jalan yang membawa mereka ke masa depan yang cerah. Kadang mereka berhenti untuk melihat mesin yang sudah berhenti bekerja seperti teman yang sudah lelah dan beristirahat, menyapa mereka dengan senyum seperti orang yang menyapa teman lama.

Suatu malam lembur, Khem mengajak Murni ke bengkel kecilnya yang sudah dia dekorasi dengan lilin-lilin kecil seperti tempat ibadah yang penuh dengan cinta. Di tengah bengkel itu ada sebuah meja kecil yang dibuat dari besi dan kayu yang indah seperti meja yang digunakan untuk acara penting. Di atasnya ada sebuah kue kecil yang dibeli Khem dari toko kue dekat pasar seperti hadiah kecil yang penuh dengan makna.

"Untukmu," ucap Khem dengan suara yang penuh dengan cinta seperti nyanyian yang dinyanyikan untuk satu orang saja. "Untuk merayakan keberhasilan kita dalam menyelesaikan proyek besar ini. Dan untuk merayakan setiap hari yang kita lalui bersama – baik yang mudah maupun yang sulit." Murni menangis senyum seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah yang selalu diinginkannya, merasakan bahwa kebahagiaan yang dia rasakan tidak bisa diukur dengan apa-apa seperti nilai cinta yang tidak punya angka.

Mereka memotong kue bersama seperti pasangan yang memulai babak baru dalam hidup, setiap suapan yang mereka berikan satu sama lain seperti pemberian cinta yang tak terbatas. Di bengkel yang penuh dengan alat-alat dan karya-karya besi, mereka merasakan kehangatan yang seperti rumah yang penuh dengan cinta, jauh dari kebisingan dan kesibukan dunia luar.

Keesokan harinya, mereka kembali bekerja dengan semangat yang lebih tinggi seperti burung yang terbang lebih tinggi setelah istirahat. Pabrik makanan ringan berhasil menyelesaikan pesanan besar dengan sempurna seperti seniman yang menyelesaikan karya besarnya, sementara pabrik besi & baja menyelesaikan rangka rumah yang kokoh seperti benteng yang tidak bisa ditembus. Kepala kedua pabrik memberikan bonus dan pujian seperti raja yang memberikan penghargaan kepada prajurit yang berani.

Mereka menggunakan bonus tersebut untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan seperti orang yang membeli bahan untuk membangun rumah. Mereka membeli sebuah lemari pakaian baru yang dibuat dari kayu yang kokoh seperti tempat untuk menyimpan kenangan mereka, sebuah kompor baru yang lebih efisien seperti alat untuk memasak makanan yang lebih lezat, dan beberapa buku baru untuk Murni yang sedang kuliah malam seperti kunci untuk membuka pintu pengetahuan.

Di malam hari, setelah pulang dari kuliah, Murni belajar di meja kecil mereka seperti siswa yang ingin meraih masa depan yang cerah. Khem duduk di sebelahnya, membuat karya kecil dari besi sambil membantu Murni ketika dia mengalami kesulitan seperti guru yang sabar dan penuh perhatian. Cahaya lampu kecil mereka menerangi kamar seperti cahaya yang menerangi jalan di tengah kegelapan, menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bisa ditemukan dalam kerja keras bersama dan impian yang sama.

"Hidup kita sekarang seperti lagu yang indah ya," ucap Murni sambil menutup buku pelajarannya. "Setiap nada nya memiliki makna sendiri, tapi ketika disatukan menjadi sebuah lagu yang indah." Khem tersenyum dan mengeluarkan sebuah karya baru yang dia buat – sebuah patung berbentuk buku yang dibuat dari besi seperti simbol pengetahuan yang abadi. "Ya, dan kita akan terus menyanyikan lagu ini bersama-sama, sampai akhir hayat kita."

Mereka tertidur dengan hati yang penuh dengan rasa syukur seperti orang yang mendapatkan segalanya yang mereka inginkan, tubuh mereka saling bersandar seperti dua pohon yang saling memberikan kekuatan satu sama lain. Luar kamar, kota masih sibuk dengan kehidupan nya seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar, tapi di dalam kamar kecil mereka, ada kedamaian dan kebahagiaan yang seperti oase yang tenang di tengah gurun yang besar – sebuah kebahagiaan yang sederhana tapi tulus, yang diraih dengan kerja keras dan cinta yang kuat.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

*Akhir pekan datang seperti hadiah yang dinanti-nantikan setelah hari-hari berkerja keras – matahari bersinar lebih cerah seperti lampu yang khusus dinyalakan untuk mereka, dan udara terasa lebih segar seperti air yang baru saja dituangkan dari sumber mata air. Khem datang ke kamar Murni dengan jas baru yang dia beli dari pasar bekas tapi tetap terlihat rapi seperti pakaian yang dibuat khusus untuknya, rambutnya diatur dengan rapi seperti helai benang yang disusun dengan cermat.

"Kita pergi ke bioskop ya," katanya dengan senyum yang lebih cerah dari matahari seperti anak kecil yang akan pergi ke taman bermain. Murni sudah siap dengan baju batik yang diberikan oleh Siti – warna nya merah muda yang cantik seperti bunga melati yang sedang mekar, rambutnya diikat dengan pita kecil seperti hiasan yang membuatnya semakin cantik. Mereka pergi dengan sepeda motor yang sudah dicuci bersih seperti kuda yang siap untuk acara khusus, angin yang menyapu wajah mereka seperti sapaan hangat dari dunia luar.

Bioskop itu terletak di pusat kota yang ramai seperti pasar yang selalu penuh dengan orang, gedungnya berdiri tegak seperti pintu gerbang ke dunia lain. Lampu neon di depan bioskop berkedip-kedip seperti mata yang berbinar dengan kegembiraan, nama film yang tayang ditampilkan dengan huruf besar seperti panggilan untuk datang dan menikmati cerita indah. Mereka membeli tiket untuk film romantis yang baru saja dirilis seperti orang yang membeli tiket untuk masuk ke dunia cinta.

Di dalam bioskop yang gelap seperti malam yang penuh dengan misteri, kursi yang empuk seperti kasur yang menyambut kedatangan mereka. Khem membeli popcorn yang renyah seperti kenangan yang menyenangkan dan minuman bersoda yang dingin seperti kesejukan di tengah hari yang panas. Mereka duduk berdampingan seperti dua orang yang sudah saling mengenal sejak lama, bahu mereka bersentuhan seperti dua benda yang memang dibuat untuk saling mendekati.

Ketika film mulai dimulai dan layar menjadi terang seperti matahari yang muncul setelah malam, mereka terbenam dalam cerita yang sedang berlangsung – tentang pasangan yang menghadapi berbagai rintangan seperti pelaut yang menghadapi ombak besar, tapi akhirnya bisa bersama karena cinta yang kuat seperti besi yang tidak akan patah. Murni menangis sedikit seperti anak kecil yang merasakan emosi yang mendalam, tangan nya mencari tangan Khem dan menggenggamnya erat seperti ikat tali yang tidak akan pernah putus.

Khem menyeka air mata Murni dengan lembut seperti pelindung yang selalu ada, "Kita tidak akan seperti mereka ya – kita sudah melalui semua rintangan dan sekarang kita bahagia," bisiknya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Murni mengangguk dan tersenyum seperti bunga yang mekar setelah hujan, tahu bahwa kata-kata Khem adalah janji yang akan selalu ditepati seperti janji yang tertulis dengan besi yang kuat.

Saat adegan romantis di film terjadi dan karakter utama saling mengucapkan cinta seperti nyanyian yang dinyanyikan dengan penuh emosi, Khem memalingkan wajahnya ke arah Murni, matanya penuh dengan cinta yang seperti laut yang dalam dan tidak ada ujungnya. "Murni," panggilnya dengan suara yang penuh dengan perasaan, "aku cinta kamu lebih dari semua besi dan baja di dunia ini. Lebih dari semua karya yang pernah kubuat. Lebih dari semua impian yang pernah kurencanakan. Kamu adalah segalanya bagiku."

Murni melihatnya dengan mata yang penuh dengan kebahagiaan seperti langit yang penuh dengan bintang, "Aku juga cinta kamu, Khem. Lebih dari semua makanan yang pernah kubuat. Lebih dari semua buku yang pernah kubaca. Lebih dari kampung dan kota yang pernah kumiliki. Kamu adalah rumah bagiku." Mereka saling melihat satu sama lain seperti dua orang yang menemukan dunia baru dalam mata masing-masing, lupa dengan film yang sedang tayang dan orang-orang di sekitar mereka seperti orang yang terbenam dalam mimpi yang indah.

Setelah film selesai dan lampu bioskop menyala seperti matahari yang muncul kembali, mereka keluar dengan hati yang penuh dengan kebahagiaan seperti anak-anak yang baru saja mendapatkan mainan impian. Mereka berjalan di sekitar kawasan pusat kota yang ramai seperti dua orang yang sedang menikmati momen terbaik dalam hidup mereka, tangan mereka saling memegang erat seperti dua benang yang terjalin menjadi satu.

Mereka berhenti di warung makan malam yang kecil tapi penuh dengan rasa seperti tempat yang menyimpan kenangan indah. Mereka memesan makanan khas daerah yang rasa nya kaya seperti hidup yang penuh dengan makna, bercerita tentang adegan-adegan favorit di film seperti orang yang berbagi cerita tentang mimpi yang sudah jadi kenyataan. Kadang mereka tertawa bersama seperti anak-anak yang menemukan hal lucu, kadang mereka diam dan hanya saling melihat seperti dua orang yang sudah mengerti segalanya tanpa kata-kata.

Saat malam semakin larut dan kota mulai tenang seperti bayangan yang kembali ke tempatnya, mereka pulang dengan sepeda motor yang melaju dengan lambat seperti orang yang tidak ingin momen indah ini berakhir. Khem menyanyikan lagu dari film yang baru saja mereka tonton seperti nyanyian yang menghangatkan malam yang dingin, dan Murni menyanyi bersama dengan suaranya yang lembut seperti angin yang menyanyi bersama dedaunan.

Di kamar kecil mereka yang penuh dengan cinta seperti rumah yang sempurna, mereka duduk bersama di tepi kasur seperti dua orang yang sedang merenung tentang kehidupan. Murni mengambil patung hati yang diberikan Khem dan meletakkannya di atas meja di samping patung burung besi dan kalung yang selalu dikenakannya seperti koleksi cinta yang selalu ada. "Hari ini adalah hari yang sangat indah," ucapnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur.

Khem memeluknya dari belakang seperti pelindung yang selalu ada, dagunya menyandar di bahunya seperti tempat yang paling nyaman di dunia. "Setiap hari bersamamu adalah hari yang indah bagiku, Murni," katanya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang menyentuh hati. "Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, selalu melindungimu, selalu mencintaimu dengan sepenuh hati. Seperti besi yang tidak akan pernah berubah bentuknya, cintaku padamu akan selalu tetap sama – kuat, tulus, dan abadi."

Mereka tertidur dengan senyum di wajah mereka seperti dua orang yang hidup dalam mimpi yang tidak pernah ingin berakhir, tubuh mereka saling bersandar seperti dua pohon yang saling memberikan kekuatan. Luar kamar, kota masih sibuk dengan kehidupan nya seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar, tapi di dalam kamar kecil mereka, ada kedamaian dan kebahagiaan yang seperti oase yang tenang di tengah gurun yang besar – sebuah kebahagiaan yang sederhana tapi tulus, yang diraih dengan kerja keras dan cinta yang kuat, dan yang akan terus bertahan seperti besi yang tidak akan pernah karatan.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!