Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 8.
Calista berdiri dari kursinya dengan gerakan mendadak. Tumitnya menghentak lantai marmer saat ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang terlalu luas untuk seorang diri. Selama ini, ia selalu berada di posisi aman. Selalu ada pria yang mengejar, selalu ada kendali di tangannya. Tapi kali ini, semuanya runtuh bersamaan.
Lucca pergi tanpa menoleh, dan Damian memutuskan hubungan mereka seolah ia tak pernah berarti.
Tangannya mengepal.
“Viera…” gumamnya lirih, nama itu keluar bersama kebencian yang tidak lagi ia sembunyikan. “Pasti karena kau!”
Calista meraih ponselnya, menyalakannya kembali. Puluhan notifikasi masuk, tapi ia mengabaikan semuanya. Ia membuka satu kontak yang selama ini jarang ia sentuh—seseorang yang pernah ia bantu, dan yang masih berutang budi padanya.
Calista: [Aku butuh informasi. Tentang Viera, sedetail mungkin.]
Pesan itu terkirim.
Sementara itu, beberapa hari ini Damian duduk sendirian di apartemen yang terasa asing meski ia telah tinggal di sana bertahun-tahun. Lemari yang setengah kosong, ranjang yang kini hanya menyisakan satu sisi yang hangat, semuanya menamparnya dengan satu kenyataan pahit—Viera benar-benar pergi darinya.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan, ia mengingat kembali setiap percakapan mereka berdua yang dulu ia potong. Setiap keluhan Viera yang ia anggap berlebihan, setiap kali ia memilih diam daripada mendengarkan wanita itu. Dan kini, tidak ada lagi kesempatan untuk sekadar berkata... aku akan mencoba.
Ponselnya bergetar. Bukan dari Viera, melainkan pesan dari pengacaranya.
Pengacara: [Tuan Damian, jika Nyonya Viera mengajukan gugatan cerai sepihak dengan alasan penelantaran emosional, posisimu lemah. Kita perlu bersiap-siap untuk kalah.]
Damian menatap layar, kata lemah itu terasa ironis. Selama ini ia pikir dialah yang memegang kendali.
Sementara di apartemen lantai delapan, Viera berdiri di depan cermin setelah mandi. Rambutnya masih basah, wajahnya polos tanpa riasan. Ia tampak lebih pucat, tapi matanya jernih. Ada ketenangan baru di sana, lahir dari penerimaan bukan keputusasaan.
Ia kembali menyentuh perutnya. “Mama akan melindungi mu, Nak... dari siapa pun.”
Hari-hari berikutnya, Viera semakin menghilang dari lingkaran sosial lama. Ia mengganti nomor pribadi, hanya menyisakan satu jalur komunikasi resmi melalui pengacaranya.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore saat Viera baru saja pulang dari kontrol kandungan, ia mendapati sebuah amplop cokelat tebal terselip rapi di bawah pintu apartemennya. Tidak ada nama pengirim, hanya alamatnya yang tertulis jelas.
Ia membukanya dengan waspada, di dalamnya ada beberapa lembar foto.
Foto dirinya masuk ke rumah sakit, foto dirinya di minimarket saat berbelanja. Foto dirinya memasuki apartemen ini. Dan satu lembar kertas terakhir, dengan tulisan singkat yang dicetak rapi.
Kebenaran selalu menemukan jalannya. Jangan berpikir kamu telah menang!
Tangan Viera sedikit mengencang menggenggam kertas itu.
Di gedung perusahaan miliknya, Lucca menerima laporan baru dari asistennya. Ia membaca cepat, lalu alisnya mengeras.
“Ada pihak lain yang mulai mengawasi Nyonya Viera, Tuan.” Ujar asistennya pelan.
“Calista,” jawab Lucca tanpa perlu berpikir lama.
Asistennya terdiam. “Apa Anda akan tetap diam?”
Lucca menutup map itu dengan suara pelan namun tegas. “Tidak!”
Ia menatap keluar jendela, rahangnya mengeras dan sorot matanya dingin. “Aku bilang aku tidak akan memaksa masuk dalam hidupnya, tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun mengancam ibu dari anakku.”
Di sisi lain kota, Calista menatap layar laptopnya yang menampilkan foto-foto Viera. Senyumnya tipis, penuh racun.
“Viera, kau punya rahasia. Dan aku... punya banyak waktu!”
Dan di antara keputusan, dendam, dan kebenaran yang perlahan merangkak ke permukaan, satu hal menjadi pasti... ini bukan lagi sekadar perselingkuhan dan perceraian. Ini adalah awal dari pertarungan yang sesungguhnya.
.
.
.
Lucca selalu percaya bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti nama… dan menunggu waktu yang tepat untuk menagih masa lalu.
Di balkon apartemen penthouse-nya, Lucca berdiri dengan segelas minuman yang tak tersentuh. Kota membentang di bawah, berkilau seperti kemewahan yang kini melekat padanya. Tapi pikirannya jauh dari gemerlap itu.
Ia kembali ke satu nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras—David.
Nama yang sudah ia bunuh bertahun-tahun lalu. Dulu, ia hanyalah David—lelaki tanpa apa-apa selain tekad dan cinta yang terlalu polos. Lelaki miskin yang berani mencintai putri keluarga terpandang. Lelaki yang terlalu yakin bahwa perasaan cukup untuk melawan dunia.
Namun, ia salah.
Keluarga wanita itu mengambil Viera darinya dengan cara paling kejam, tanpa memberi ruang bagi perlawanan. Keluarga Viera tidak sekadar menolak. Mereka memutus akses dan menghancurkan peluang bagi keduanya bisa bersama. Lucca dikirim pergi, dan ketika ia kembali, Viera sudah menjadi istri orang lain.
Damian—nama itu membuat rahang Lucca mengeras. Ia tidak membenci Damian karena pria itu menikahi Viera, ia membenci Damian karena gagal menjaga wanita yang dia cintai.
Lucca mengeluarkan ponsel. Layar menyala, menampilkan foto terbaru Viera yang dikirimkan asistennya. Wajah wanita hamil itu pucat, tubuhnya terlihat lebih kurus, tapi matanya… tidak lagi kosong.
Lucca tahu tanda itu, mata seseorang yang sudah mengambil keputusan besar.
Kini, Viera bukan lagi gadis yang dulu menunggunya di bawah hujan dengan senyum polos. Wanita itu seorang istri yang ditinggalkan, seorang wanita hamil yang berdiri sendirian. Ia masih mengingat wajah Viera yang tertawa tanpa beban, jauh sebelum luka-luka hidup menempel di tubuh dan hati mereka.
“Bagus,” gumamnya pelan.
Kali ini, ia akan memastikan setiap langkahnya tidak menyisakan celah baginya untuk kehilangan Viera lagi.
Dan, jika Damian benar-benar kehilangan Viera… itu bukan karena Lucca yang merebut. Itu karena perbuatannya sendiri.
Lucca meneguk minumannya.
Di kejauhan, kota tetap menyala. Dan permainan semua orang... baru saja dimulai.