Hanya Chanel yang bisa memperkosa suaminya sendiri supaya mendapat pengakuan sebagai istri.
Akibat perbuatan tidak senonohnya itu akhirnya Chanel hamil dan membuat masalah semakin rumit di pernikahan siri antara Valentino dan Dior.
Kok bisa gitu? Simak kisah cinta segitiga antara Chanel, Valentino dan Dior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Hati
Kalau saja dari awal dulu Valentino mengucapkan kata cinta padanya pasti Chanel akan bahagia hingga ke awang-awang tapi sekarang situasinya berbeda. Saat Dior memohon padanya untuk menjaga bayinya dan memilih mengobarkan dirinya dari situlah Chanel sadar jika Dior wanita berhati malaikat.
Pantas saja Valentino mencintai Dior pasti karena kebaikan hatinya dan itu membuat Chanel merasa tidak pantas diantara mereka.
Saat masih kalut dalam pikirannya, tubuhnya tersentak kaget karena Valentino menggendongnya dan menurunkan dirinya ke atas ranjang hotel.
Valentino mulai membuka kancing kemejanya satu persatu membuat Chanel memalingkan wajahnya dengan merona.
“Kenapa? bukankah kau sudah melihat semuanya saat memperkosaku?“ goda Valentino yang melihat tingkah malu-malu istrinya.
Valentino merangkak naik keatas ranjang untuk mendekati Chanel dan meraih dagu istrinya supaya bertatapan dengannya.
“Kita lupakan semua yang telah berlalu, Chanel. Kita mulai yang baru!“ ucap Valentino sambil mengecup bibir Chanel.
“Aku akan membuatmu jadi istri yang sesungguhnya!“
Valentino mulai meraba tubuh Chanel dan ingin melepas pakaian yang istrinya itu kenakan. Tapi tangannya ditahan oleh Chanel supaya suaminya itu berhenti melakukan aksinya.
“Aku tidak bisa kak Valen!“ tolak Chanel.
Chanel turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya, dia menahan dirinya supaya tidak jatuh kepelukan Valentino yang akan lebih menyakiti Dior.
“Lebih baik kak Valen lebih memperhatikan kak Dior karena dia tengah hamil dan sebaiknya luangkan waktu yang banyak untuk dia!“ ucap Chanel dengan berjalan kearah pintu kamar.
“Kenapa kau lakukan ini, Chanel?“ tanya Valentino yang membuat langkah Chanel berhenti.
“Kau menggodaku dan memperkosaku, membuatku selalu mencemaskanmu! Setelah aku jatuh cinta padamu justru kau menolakku!“
Chanel menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya, dia tidak boleh goyah. Walaupun sebelumnya Dior juga mengajaknya tinggal bersama pasti tidak akan semudah itu. Bagaimana dengan Amelia? Bagaimana dengan keluarga Dior? Apa mereka semua akan menerima pernikahan poligami?
Dan sekarang ditambah ada Hermes yang membuat keadaan semakin rumit. Satu-satunya jalan, harus ada yang mengalah dan Chanel akan berusaha mengubur cintanya pada Valentino.
“Anggap aku bukan istrimu lagi kak Valen!“ ucap Chanel tegas.
Dia mulai melangkah lagi dan Valen bertanya lagi padanya. “Apa setelah kau menolakku, kau akan datang ke pelukan Hermes?“
Chanel tidak menjawab, dia terus melangkah dan suara Valentino kembali terdengar.
“Jika kau berbalik dan datang ke pelukanku, aku akan berusaha adil, Chanel!“
Tapi Chanel mengabaikan semua itu, karena untuk saat ini dia juga butuh waktu untuk berpikir.
*****
Di apartemen, Hermes duduk termenung sendirian sambil memikirkan tentang pernikahan poligami adiknya.
Dior sudah menceritakan semuanya kecuali gangguan hamil yang dideritanya. Dan itu membuat Hermes menjadi serba salah, bagaimana mungkin dia menyukai madu adiknya sendiri?
Akhirnya Hermes mengambil kunci mobilnya untuk menemui Chanel di mes karyawan, dia berharap Chanel ada disana. Dia akan meminta Chanel menjelaskan semuanya dan Hermes akan memberi perhitungan pada Valentino.
Sementara Dior yang kembali ke apartemennya, tidak mendapati suaminya ada disana. Dia berpikir kini Valentino dan Chanel sudah menghabiskan malam panas berdua.
“Kenapa sesakit ini, Tuhan,“ lirihnya.
Tapi dugaan Dior salah, saat ini justru Valentino duduk di pinggir ranjang kamar hotel dengan frustasi. Dia merasa menjadi pria pecundang, dia tidak bisa menepati janjinya dengan Dior yang justru jatuh hati pada Chanel.
Chanel sendiri kembali ke mes dan bersiap pergi dari sana. Dia hanya mengambil barang yang dianggapnya penting setelah itu pergi entah kemana.