Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih
Kila dan Rico menatap lekat wajah putra sulungnya, helaan nafas berat terdengar dari mulut Daffa, beban berat yang menghimpit dadanya hilang sudah, dia sudah menyampaikan semua permasalahan asamaranya pada umi dan abi.
"Kenapa Patimah Daf?" tanya Rico menatap putra sulungnya dengan intens.
"Mas," tegur Kila seraya menggamit lengan suaminya pelan.
Kila beralih menatap Daffa, senyum mengembang di bibir Kila.
"Bersiaplah, nanti malam kita kerumah mbak Nana, untuk menanyakan Patimah," ujar Kila.
"Terimakasih mi."
"Sama-sama sayang." sahut Kila.
"Kalau gitu, aku kembali lagi kekantor ya mi."
"Iya hati-hati nak," sahut Kila.
Kila menatap Daffa yang sudah menghilang dari pandangan, kemudian beralih menatap Rico yang tengah fokus pada gawainya.
"Mas."
"Heemm."
"Apa harus mas bertanya begitu pada Daffa?"
Rico mengalihkan pandangannya dari gawainya, menatap wajah ayu istrinya.
"Aku maunya dia mencari istri yang paham dengan bisnisnya sayang. Dia pemimpin prusahaan harusnya mencari wanita yang sejalan bukan sebaliknya."
"Begitu menurut mas?"
"Tentu sayang," sahut Rico.
"Lalu kenapa mas melamarku saat itu, bukan Dita atau rekan bisnis mas lainya, yang sepaham dengan mas, bukan malah memilihku yang sama sekali buta akan dunia bisnis," tanya Kila menatap lekat manik hitam milik suaminya.
Rico tediam, bukan karena tak ingin menjawab tapi dia juga tak tau kenapa, yang dia tau dia tertarik dengan Kila dan ingin menjadikannya istri, bukan Dita atau yang lain.
"Atau mas tidak ingin kelak Daffa akan menyesal karena menikahi Patimah, seperti mas menyesal menikahi aku bukan menikahi teman bisnisnya mas?" tanya Kila. walau dengan nada yang lembut tapi mampu membuat Rico meradang.
"Kenapa membahas kita, dan sejak kapan aku menyesali pernikahan kita, apa terlihat di wajahku aku menyesal menikahimu sayang. kata-kata mu membuatku marah," sentak Rico kesal. Bisa-bisanya kalimat seperti itu keluar dari mulut Kila, apa dia tidak tau cintanya sedari dulu hingga sekarang tak pernah berkurang, apa dia tidak tau berapa banyak wanita yang ingin jadi istrinya tapi sama sekali tak diliriknya, itu semua demi cintanya pada Kila, dimatanya cuma ada Kila. Begitupun hatinya hanya ada tempat untuk Kila.
"Apa yang ada di pikiran dan hati mas saat menikahiku, begitu juga yang ada di pikiran dan hati Daffa saat ini, jadi mas juga harus merestui Daffa, Anak ku takakan sembarang menilih wanita, aku percaya pada pilihan putraku, dan aku yakin Patimah layak jadi pendamping Daffa," ujar Kila. mata bulatnya tak lepas dari menatap Rico, lelaki yang semakin tampan di usia yang sudah tak muda lagi.
Rico menghela nafas berat, bagaimana bisa dia melamar anak dari pelayannya hatinya masih tak Rela, tapi melihat ke teguhan Kila Rico tak kuasa menolaknya. Bukankah sedari dulu Kila memanglah kelemahannya, apa pun yang menyangkut dengan Kila pasti membuatnya lemah seketika, Kila adalah jantungnya, Kila adalah deru nafasnya, kila adalah aliran darahnya, menyakiti Kila sama saja menyakiti dirinya.
"Baiklah sayang, tapi perlu sayang tau aku terpaksa melakukan ini."
"Mas," tegur Kila lembut.
"Baiklah!"
Senyum Kila mengembang sempurna, ini yang di sukai Rico, senyumnya yang ceria mencerminkan hatinya yang besih dan penuh keikhlasan.
"Bersipalah kita akan melamar calon mantu nanti malam," ujar Kila seraya memberi usapan lembut di lengan Rico.
***
Nana membuat persiapan penyambutan di rumahnya, siang tadi nyonya Kila menelpon, dia mau berkunjung kerumah. walau nyonya Kila tak menyebutkan maksud kedatangan mereka, Nana yakin ini berkenaan dengan putrinya, Patimah.
Bukan saja Patimah yang dilanda nerves seisi rumah merasakannya.
Tepat jam sembilan malam Kila dan Erico datang. Kila membawa umi rukayah beserta Ustadz thalhah, Ustadz Kila waktu di pesantren dulu. Tak tampak Daffa di antara mereka.
Erico beserta rombongan di sambut hangat oleh Nana. di ruang keluarga yang cukup luas ini mereka semua berkumpul.
Sebelum membahas maksud dan tujuan kedatangan Erico sekeluarga, mereka ngobrol ringan terlebih dahulu guna mencairkan suasana.
"Begini Alan, kedatangan kami kemari sebenarnya atas permintaan putra kami Daffa. Menurut Daffa dia memiliki hubungan dengan putrimu Patimah, dia meminta kami melamar putrimu Patimah, untuk putra kami Daffa," tutur Daffa membuka percakapan.
Alan dan Nana saling pandang, keringat dingin tampak membasahi kening mereka. Rico melamar putri mereka, entah harus senang atau takut.
"Sebelumnya kami mohon maaf tuan, atas kelancangan putri kami yang tidak tau diri, berani menjalin hubungan dengan putra tuan," ucap Alan sembari tertunduk dalam.
"Saya juga minta maaf nyonya atas lelancangan Patimah, saya benar-benar tidak tau dia menjalin hubungan dengan tuan Daffa," tutur Nana merasa sangat bersalah atas tingkah putrinya.
Kila menghela nafas berat, pantas Daffa prustasi ini ternyata masalahnya.
"Maaf mbak Nana, tujuan kemari mau meminang Patimah jadi menantu saya, dia bersedia atau tidak?"
Tak ada yang berani memjawab pertanyaan Kila. Mereka tak berani mengiyakan ataupun menolak, hanya tertunduk saja yang mereka lakukan. Hal ini membuat Kila sangat marah.
Sebenarnya Rico lah yang punya wewenang berbicara, tapi melihat situasi ini Kila harus angkat bicara.
"Mbak Nana, saya sangat marah mendengar ucapan mbak Nana tadi, saya merasa tersindir oleh kalimat mbak nana," ujar Kila terdengar keras.
Nana mengangkat wajahnya menatap Kila dengan mimik muka bingung, kalimat yang mana yang membuatnya tersinggung?
"Maaf nyonya saya tidak bermaksud menyinggung nyonya," sahut Nana.
"Tidak bermaksud mbak? mbak bilang Patimah tidak tau diri menyukai Daffa, lalu apa bedanya Patimah dengan saya, saya juga anak pelayan yang nekat menerima lamaran mas Rico lalu menikah dengannya, menurut mbak dimana bedanya saya dan patimah, status sosial kami sama mbak," tutur Kila seraya menatap lekat bola mata Nana.
"Maaf nyonya."
"Daffa memilih Patimah karena Akhlak nya bukan status sosialnya, mereka saling munyukai mbak. Kalau kita memisahkan mereka betapa jahatnya kita," ujar Kila masih menatap Nana lekat.
"Jadi bagaimana Alan, lamaranku untuk putrimu apakah kau terima?"
Alan dan Nana saling pandang, mendengar ucapan Nyonya Kila tadi, tidak ada keberanian untuk menolak lamaran Daffa.
"Kami menerima lamaran Daffa untuk Patimah tuan," ujar Allan dengan suara bergetar.
"Alhamdulillah," ucap Rico dan Kila bersamaan.
****
Patimah baru akan memejamkan mata saat ponsel yang baru dua hari dia miliki berdering. Ponsel pemberian Daffa, yang di antar melalui jasa kurir.
"Asalamualaikum sayang," sapa Daffa di ujung telpon.
"Wa'alaikumsalam mas."
"Sudah baca qur'an sebelum tidur?"
"Sudah mas, cuma sepuluh ayat," sahut Patimah tertunduk malu seakan berbicara langsung dengan Daffa.
"Tidak apa, bacalah minimal sepuluh ayat agar tak tergolong orang-orang yang lalai, bukan begitu patimah?"
"Benar mas, mas kenapa baru kasih kabar sekarang, kemarin kemana aja?"
Sudah dua hari setelah lamaran itu kabar Daffa tak terdengar, dia mengirimi Patimah ponsel tapi tak pernah menghubunginya, ini kali pertama Daffa menelpon setelah dua hari.
"Aku menghukumu sayang, karena berani menolak seorang Daffa, bukankah itu keterlaluan!" ujar Daffa terdengar tegas.
"Ooo begitu, aku terima hukuman mu dengan ikhlas mas, semoga dengan ini dapat menghilangkan rasa marah mas."
"Aku berniat menghukummu lebih lama, tapi nyatanya baru dua hari aku sudah rindu, bagaimana bila harus menunggumu setahun lamanya," keluh Daffa, dengan suara yang terdengar begitu merdu di telinga Patimah.
Inilah kenapa dalam sunnah dikatakan bahwa suara wanita adalah aurat, sebab mampu mengundang imajinasi seseorang saking merdunya. terutama pasangan kekasih seperti Daffa.
Gak semua orang berpikiran seperti itu! gak semua orang mendengar suara merdu langsung berimajinasi.
Tapi gak semua orang juga mendengar suara kekasihnya biasa saja seperti suara kang cilok atau kang gorengan.
Bagaimana bila seperti Daffa, orang yang mampu mengendalikan syahwatnya tapi mendengar suara patimah yang merdu, memompa aliran darahnya, mendebarkan jantungnya, menggetarkan jiwanya, dahsat bukan. Walau tak sampai membuat Daffa berimajinasi.
"Bersabarlah mas, setahun bukanlah waktu yang lama bila di isi dengan hal yang bermanfaat, jangan terpaku hanya menungguku."
"Kau benar sayang, jadi bagaimana rasanya menerima lamaranku sayang?"
Patimah tersenyum, bagaimana rasanya? tentu saja sangan senang, bukankah impian semua wanita bisa menikah dengan pangeran berkuda putih impiannya.
"Tentu suatu anugrah bagiku, bisa memiliki lelaki impianku," sahut Patimah lembut.
"Patimah, bukankah wanita yang sudah bertemu jodohnya harus di segerakan menikah, bagaimana menurut mu?"
"Mas ingin kita segera menikah?"
"Jangan ditanya lagi sayang, tapi aku sudah janji memberimu waktu untuk mengabdi. Jadi aku harus bersabar demi menunaikan janjiku," tutur Daffa.
"Sayang sudah malam, udah dulu ya, terimakasih sudah menerima lamaranku, istrahatlah nanti kesiangan tahajud."
"Iya mas, Asalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. "
.
.
Happy reading
Hay dukungannya emak tunggu ya🥰🙏🙏
sukses sll 😇😇😇