Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Amukan di Lautan Es
Udara di perbatasan Lautan Embun Beku bukan lagi sekadar dingin, namun adalah kematian yang berwujud uap.
Setiap helaan napas Wira meninggalkan jejak kristal es yang langsung jatuh ke permukaan air.
Di hadapannya, Gurita Purba Raksasa, sang penjaga abadi wilayah utara, terlihat menjulang seperti gunung daging dan es yang terbangkitkan dari mimpi buruk ribuan tahun.
Delapan tentakel raksasanya, yang masing-masing berukuran lebih besar dari kapal perang kerajaan, dan dilapisi oleh cangkang es bening yang berkilau tajam serta duri-duri es setebal pohon jati mencuat di sepanjang lengannya, siap mencabik apa pun yang berani mendekat.
GROOOAAAAAARRRR!
Raungan monster itu menggetarkan molekul air, menciptakan gelombang kejut yang membuat sekoci kecil Wira terombang-ambing hebat.
Salah satu tentakel raksasa itu melesat turun dari langit, membelah awan kelabu dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi makhluk sebesar itu.
"Huhh.. Siwa, bersiaplah! Kita akan berdansa di atas es!" teriak Wira dengan nada yang sedikit menggigil.
Setelah itu, Wira pun langsungmelompat tepat sebelum tentakel itu menghantam sekocinya.
BOOM!
Sekoci kayu itu hancur menjadi serpihan dalam sekali pukul, namun Wira sudah berada di udara.
Ia mengalirkan energi sukma melalui telapak kakinya, dan sesaat sebelum ia menyentuh permukaan laut yang cair, ia membekukan air tersebut secara paksa.
TUK.
Wira mendarat di atas permukaan laut yang kini telah menjadi lantai es selebar lima meter.
Namun, sang Gurita Purba tidak membiarkannya bernapas. Tentakel kedua dan ketiga menyapu dari arah samping, menciptakan jepitan maut yang akan meremukkan tulang siapa pun.
"Bocah, suhunya turun drastis! Monster ini menyedot panas dari sekelilingnya untuk memperkuat zirah esnya! peringat Siwa. Jika kau terus bertarung dalam kondisi suhu minus seperti ini, gerakanmu akan melambat dan kau juga akan membeku sebelum sempat menyerang!" jelas Siwa dalam pikirannya dengan sedikit panik.
Wira merasakannya. Sendi-sendinya mulai kaku. Energi sukma yang biasanya mengalir lancar seperti sungai kini terasa seperti lumpur yang kental.
Ia berhasil menghindar dengan melompat tinggi, namun embun beku mulai menempel di bulu matanya, dan mengaburkan pandangan.
"Sial, dia benar-benar menguasai medan ini," gumam Wira.
Saat ia melayang di udara, ia teringat akan pemberian Raja Tirta di dalam cincin dimensinya.
Dengan satu pikiran, Wira menjangkau ruang di dalam cincin itu dan menarik keluar sebuah batu hitam legam yang sebelumnya disebut tak berguna.
Begitu batu itu berada di genggaman Wira, ia merasakan getaran panas yang sangat halus namun sangat murni.
Melalui penglihatan batinnya, Wira menyadari bahwa ini bukanlah batu pusaka biasa.
"Ini bukan batu pemberat... ini sepertinya Batu Penahan Suhu!" seru Wira sembari mengingat kekuatan Pendeta Bayangan yang berubah menjadi Monster Pasir di benua Pasir Emas sebelumnya yang bisa mengubah suhu panas menjadi sangat tinggi.
Pusaka kuno ini adalah peninggalan dari zaman sebelum peradaban gurun terbentuk, sebuah artefak yang mampu menciptakan kubah suhu konstan di sekitarnya.
Wira pun tanpa berpikir lagi segera mengalirkan energi ke dalam batu tersebut.
WUNGGG!
Seketika, sebuah lingkaran cahaya merah redup meluas dari tangan Wira, membentuk bola pelindung transparan dengan radius sepuluh meter di sekelilingnya.
Di dalam kubah itu, suhu udara mendadak menjadi hangat, persis seperti musim semi di Ayodya Pala.
Kristal es yang menempel di baju Wira mencair seketika, dan aliran energinya kembali meluap-luap.
"Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau menghadapi panas yang tak terduga ini, Gurita Besar!" teriak Wira kemudian setelah energinya stabil.
Wira segera meluncur turun dari udara. Ia tidak lagi menghindar.
Saat tentakel raksasa penuh duri es itu mencoba menghantam kubahnya, terjadi reaksi yang luar biasa.
Bagian tentakel yang masuk ke dalam radius kubah suhu Wira mendadak kehilangan kekuatan esnya. Es abadi yang melapisi kulit monster itu mencair dengan cepat, meninggalkan daging lunak yang rentan.
CRAAAASSS!
Wira mengayunkan Siwa yang kini berpendar biru terang.
Tanpa pelindung es, tentakel itu terpotong seperti pisau panas membelah mentega. Darah biru pekat menyembur, mewarnai lautan yang putih menjadi biru tua yang mengerikan.
Gurita Purba itu menjerit kesakitan, suaranya memecah bongkahan es di kejauhan. Marah karena terluka, monster itu menyelam ke bawah, lalu muncul kembali dengan kekuatan penuh.
Ia memutar seluruh tubuhnya, menciptakan pusaran air raksasa yang berisi ribuan kepingan es tajam yang berputar seperti gergaji mesin.
"Bocah, ini seperti Badai Pemotong Sukma! Jangan biarkan kubahmu pecah! teriak Siwa mengingatkan
Wira memantapkan kuda-kudanya di atas sebongkah es besar. Ia menggenggam Batu Penahan Suhu di tangan kiri dan Siwa di tangan kanan. Ia tidak hanya mempertahankan suhu hangat, ia justru membalikkan fungsinya.
"Siwa, bantu aku memadatkan energi panas ini ke ujung tongkat!"
Wira memusatkan seluruh panas dari pusaka pemberian Raja Tirta ke ujung Siwa.
Tongkat kayu itu kini membara merah, mengeluarkan uap yang sangat tebal saat bersentuhan dengan udara dingin laut utara.
"Jurus Penyeimbang, Matahari yang Terbit di Tengah Malam!" ucapnya mengeluarkan jurus dengan nama yang ia buat mendadak.
Wira menghujamkan Siwa ke tengah pusaran air raksasa itu dan ledakan uap panas yang dahsyat pun terjadi seketika.
Pertemuan antara panas ekstrem dari pusaka dan dingin ekstrem dari lautan menciptakan tekanan gas yang luar biasa besar.
BOOM!
BOOM!
Ledakan uap beruntun itu mementalkan ribuan kepingan es ke segala arah, namun yang paling fatal adalah hantaman energi panas yang langsung mengenai kepala Gurita Purba tersebut. Cangkang es di kepalanya retak dan pecah berkeping-keping.
Tak berselang lama, monster itu langsung terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangannya.
Wira tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melesat menggunakan langkah cahaya, berlari di atas tentakel-tentakel yang masih menggeliat, menuju langsung ke arah mata monster tersebut.
"Ini untuk perjalanan yang tenang!" gumamnya lirih.
Wira pun segera mengayunkan Siwa secara horizontal, dan sebuah gelombang energi panas berbentuk sabit melesat, memotong bagian pangkal mata dan otak sang monster.
Gurita Purba Raksasa itu seketika berhenti bergerak. Tubuhnya perlahan-lahan mulai tenggelam ke dalam kegelapan lautan utara, meninggalkan permukaan air yang kembali tenang namun penuh dengan uap yang mengepul.
Wira mendarat di atas bongkahan es yang stabil, dengan napasnya yang terengah-engah.
Ia kemudian menatap tangannya yang memegang Batu Penahan Suhu.
"Paman Tirta... kau benar-benar memberiku sesuatu yang berharga," gumam Wira.
Tanpa batu ini, ia mungkin sudah membeku menjadi patung sebelum bisa memotong satu pun tentakel tadi.
Wira duduk sejenak di atas es, mencoba menstabilkan kembali detak jantungnya. Ia meraba cincin dimensi di jarinya.
"Sekar, kau merasakan itu? Kita sudah melewati gerbang pertama," ucapnya pelan, berharap suaranya bisa menembus ruang dimensi.
"Benua Salju Abadi sudah terlihat di depan sana." lanjut gumamnya menenangkan dirinya sendiri.
Perjalanannya terasa sepi setelah Sekar terbaring di ruang dimensinya, itu membuatnya hanya bisa mengeluh, namun juga membuatnya kembali memiliki semangat agar bisa segera menyembuhkan Sekar.
Memang benar. Di kaki langit utara, sebuah daratan putih yang luas mulai muncul dari balik kabut. Pegunungan es yang puncaknya menembus awan berdiri dengan angkuh, seolah menantang siapa pun yang mencoba mencuri Jantung Kristal Es dari pelukannya.
Wira berdiri, menyimpan kembali Batu Penahan Suhu ke dalam cincinnya agar energinya tetap terjaga.
Namun, ia menyadari sesuatu. Di dalam dimensi cincin itu, di dekat tempat Sekar berbaring, batu hitam misterius lain yang diberikan Raja Tirta, yang bukan batu suhu, mulai bergetar halus.
"Bocah, perhatikan batu hitam lainnya yang ada di dalam cincinmu," suara Siwa terdengar penasaran.
"Sejak kau mengalahkan Gurita Purba tadi, batu itu mulai bereaksi terhadap hawa dingin yang masuk sedikit melalui celah energi saat kau membuka dimensi." lanjut ucap Siwa sedikit menjelaskan tentang apa yang ia rasakan.
Wira memejamkan mata, memfokuskan pikirannya ke dalam cincin. Benar saja, batu hitam yang menurut Raja Tirta tidak berguna itu kini memancarkan cahaya ungu tipis.
"Apa ini, Siwa? Jangan-jangan ini adalah kunci lain?" tanya Wira penasaran.
"Aku belum yakin. Tapi satu hal yang pasti, Benua Salju Abadi bukan hanya berisi es. Ada sesuatu yang sangat tua dan sangat lapar yang bersembunyi di balik pegunungan itu. Gurita purba tadi mungkin hanyalah anjing penjaga di depan pintu." jelas Siwa dengan nada serius.
Wira kemudian menatap daratan putih di depannya. Tantangan yang ia hadapi di Benua Pasir Emas terasa seperti permainan anak-anak jika dibandingkan dengan aura yang ia rasakan dari arah utara.
Di sana, tekanan energinya terasa sangat berat, seolah-olah seluruh benua itu adalah satu kesatuan makhluk hidup yang sedang mengawasinya.
"Tidak peduli apa yang bersembunyi di sana," ucap Wira dengan tekad yang semakin mengeras.
"Jika aku harus membekukan seluruh samudera atau membakar seluruh benua ini untuk menyembuhkan Sekar, aku akan melakukannya." lanjutnya dengan mengepalkan tangannya erat.
Wira kembali melompat, kali ini ia menciptakan papan es tipis di bawah kakinya dan meluncur dengan kecepatan tinggi menuju daratan utama Benua Salju Abadi.
Sambil meluncur, pikiran Wira sesaat melayang kembali ke wajah Dewi Ratnawati dan Putri Arum Sari.
Ia tersenyum tipis, merasakan kehangatan pelukan mereka yang masih tertinggal di jiwanya. Kehangatan itulah, bersama dengan cintanya pada Sekar, yang menjadi bahan bakar utamanya untuk tetap bertahan hidup di negeri yang tak mengenal matahari ini.
"Tunggu aku, Sekar. Aku akan membawamu kembali melihat matahari yang paling indah," bisik Wira saat ia akhirnya menyentuh bibir pantai Benua Salju Abadi yang tertutup salju setebal lutut manusia.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara terompet es yang ditiup dengan nada yang menyayat.
Suku-suku penjaga es telah menyadari kehadirannya.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁