Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Lintang mencoba mengatur napasnya yang sedikit memburu saat tiba di depan pagar sebuah rumah asri.
Setelah kejadian di taman tadi, ia tak punya waktu untuk meratapi perih di pelipisnya.
Baginya, setiap jam adalah rupiah yang sangat berharga untuk bertahan hidup.
Ia merapikan seragamnya sejenak, memastikan bercak darah tadi tidak terlihat mencolok, lalu mengetuk pintu dengan sopan.
Assalamualaikum, Bu Rani," sapa Lintang saat pintu terbuka.
Seorang wanita paruh baya dengan daster batik yang tampak nyaman menyambutnya. Namun, baru saja Lintang hendak melangkah masuk, langkah Bu Rani terhenti.
Matanya memicing, menatap lekat ke arah wajah Lintang.
"Lho, Mbak Lintang! Itu kenapa keningnya? Kok merah begitu, seperti ada bekas luka?" tanya Bu Rani dengan nada khawatir yang tulus.
Beliau memang pelanggan setia yang sudah menganggap Lintang seperti kerabat sendiri.
Lintang refleks menyentuh pelipisnya, lalu tertawa kecil untuk menutupi rasa canggung sekaligus melindungi pria asing yang tadi ia temui di taman.
Ia tidak ingin memperpanjang urusan, apalagi menceritakan tentang batu yang dilempar oleh pria yang sedang patah hati.
"Nggak apa-apa, Bu. Tadi saya pas jalan nggak lihat kalau ada pohon, jadi sedikit menabrak dahan," jawab Lintang berbohong kecil.
Senyumnya tetap mengembang, meski luka itu sebenarnya masih berdenyut nyeri.
Bu Rani menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan dari Lintang.
"Aduh, Mbak Lintang ini ada-ada saja. Hati-hati kalau jalan, jangan melamun terus. Ya sudah, ayo masuk. Saya sudah siapkan minyaknya, badan saya rasanya pegal semua."
"Iya, Bu. Mari saya mulai," ucap Lintang pelan.
Lintang memberikan kimono agar Bu Rani lebih leluasa.
Di dalam kamar yang sejuk itu, Lintang mulai bekerja. Jemarinya yang terampil mulai menari di atas punggung Bu Rani, memberikan pijatan yang mantap namun menenangkan. Namun, di tengah keheningan itu, bayangan pria di taman tadi mendadak melintas di pikirannya.
Pria itu tampak begitu hancur. Lintang sudah sering memijat banyak orang dan mendengar berbagai keluh kesah, tapi sorot mata pria tadi memiliki jenis kesedihan yang berbeda—seperti seseorang yang baru saja kehilangan dunianya.
'Semoga pria itu baik-baik saja," batin Lintang singkat, sebelum ia kembali fokus pada pekerjaannya, memendam rasa sakit di kepalanya sendiri demi meringankan beban orang lain.
Bu Rani memejamkan mata, mendesah lega saat jemari Lintang menekan titik-titik saraf di pundaknya yang kaku.
Keheningan di dalam kamar itu hanya dipecah oleh suara kipas angin yang berputar pelan dan aroma minyak urut yang menenangkan.
"Mbak Lintang," panggil Bu Rani pelan, suaranya terdengar berat karena rasa kantuk yang mulai menyerang akibat pijatan yang nyaman.
"Iya, Bu?" sahut Lintang lembut tanpa menghentikan gerak tangannya.
"Mbak ini kan masih muda, wajahnya juga ayu, tenaganya kuat. Kenapa tidak kepikiran untuk menikah lagi saja? Biar ada yang menafkahi, Mbak. Jadi tidak perlu kepanasan di jalan sampai nabrak pohon begitu buat cari uang," tanya Bu Rani, dengan nadanya terdengar seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
Lintang terdiam sejenak. Gerakan tangannya melambat, namun ia segera menguasai diri.
Ia menarik napas panjang, menghirup aroma rempah dari minyak yang ia gunakan.
"Belum kepikiran ke sana, Bu," jawab Lintang pelan, tetap dengan nada bicara yang santun.
"Bagi saya, bisa menghidupi diri sendiri tanpa membebani orang lain itu sudah cukup. Menikah itu bukan cuma soal ada yang kasih uang, Bu, tapi soal kecocokan hati. Dan jujur saja, saya masih takut kalau harus kecewa lagi."
Bu Rani mengangguk-angguk kecil meski matanya masih terpejam.
"Ya memang benar, Mbak. Tapi kan tidak semua laki-laki itu sama. Kasihan Mbak Lintang kalau harus berjuang sendirian terus."
"Mungkin memang jalannya begini, Bu. Gusti Allah pasti kasih rezeki lewat cara lain, salah satunya ya lewat pelanggan baik seperti Ibu ini," balas Lintang sambil tersenyum tulus, meskipun Bu Rani tidak melihatnya.
Lintang kembali fokus pada pekerjaannya, menekan setiap bagian tubuh Bu Rani dengan penuh perasaan. Namun, di sudut hatinya, pertanyaan itu sempat memicu sedikit getaran. Benaknya kembali memutar ingatan singkat tentang pria di taman tadi—pria yang terlihat memiliki segalanya namun tampak begitu hampa.
Bagi Lintang, kemandirian adalah pelindungnya. Ia lebih memilih lelah karena bekerja daripada harus kembali bergantung pada janji lelaki yang belum tentu bisa ia pegang.
Ia tidak tahu bahwa tak jauh dari sana, ada seorang pria bernama Jati yang sedang menatap kartu namanya dengan harapan kecil untuk sekadar menemukan ketenangan yang sama.
Jati memacu mobilnya menjauh dari lingkungan perumahan yang selama ini ia anggap sebagai istana, namun kini tak lebih dari sarang pengkhianatan.
Ia mengarahkan kendaraannya menuju sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota—sebuah unit yang ia beli setahun lalu sebagai investasi, dan keberadaannya sama sekali tidak diketahui oleh Mila.
Sesampainya di dalam unit yang sunyi itu, Jati melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer.
Ia terduduk di sofa, lalu dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi pemantau CCTV rumahnya melalui ponsel.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan sudut ruang tamu dan kamar utama mereka.
Jantung Jati serasa diremas saat melihat pemandangan di layar.
Di sana, di atas sofa yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya, Mila dan Andre sedang duduk berdampingan.
Tidak ada lagi rasa malu. Mila tertawa manja, menyandarkan kepalanya di bahu Andre, sementara tangan Andre dengan berani mengelus rambut istri Jati itu.
"Sabar ada batasnya, Mila..." bisik Jati dengan suara serak.
Matanya terasa panas menahan amarah yang membuncah.
Selama ini, Jati mencoba bertahan. Ia menelan semua hinaan Mila tentang kondisinya yang "tidak berdaya" pasca kecelakaan itu karena ia merasa bersalah tak bisa memberikan kebahagiaan biologis. Namun, melihat Mila dengan teramat berani membawa selingkuhannya masuk ke dalam rumah dan memamerkan kemesraan seolah Jati sudah mati, adalah penghinaan yang tak bisa lagi dimaafkan.
Ia mematikan layar ponselnya. Ruangan apartemen itu kembali gelap dan sunyi.
Jati menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Bayangan Andre yang menghinanya sebagai "lelaki tidak perkasa" terus terngiang seperti kaset rusak.
Dalam kesunyian itu, tangannya merogoh saku celana.
Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar kartu nama yang sudutnya sudah agak tertekuk dan terkena sedikit noda darah.
"Lintang – Jasa Pijat Tradisional & Refleksi"
Jati mengusap nama itu dengan ibu jarinya.
Entah mengapa, di tengah badai pengkhianatan istrinya, ingatan tentang wanita yang tetap tegar meski pelipisnya berdarah itu terasa sedikit menenangkan.
Ia merasa mereka memiliki kesamaan: sama-sama terluka oleh kerasnya hidup, namun tetap mencoba untuk berjalan.
Dengan napas berat, Jati mulai mengetikkan nomor telepon yang tertera di kartu itu ke ponselnya.
Ia butuh seseorang untuk bicara, atau setidaknya, ia butuh sentuhan tangan yang tidak menghakiminya.
Jati menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggil.
Di seberang sana, Lintang baru saja melangkah masuk ke rumah kontrakannya yang sederhana.
Ia baru saja melepas sepatu dan mengusap pelipisnya yang masih terasa sedikit berdenyut ketika ponsel di tasnya bergetar.
"Halo, assalamualaikum," suara Lintang terdengar lembut namun menyimpan nada lelah.
"Halo, apa benar ini Lintang? Saya, pria yang di taman tadi," ucap Jati.
Lintang terdiam sejenak, mencoba mengingat suara itu, lalu sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya.
"Oh, Mas pelempar batu ya? Ada apa, Mas? Kepalanya masih pusing atau mau minta maaf lagi?"
Jati sempat tertegun mendengar gurauan ringan Lintang yang tidak menghakiminya.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
"Besok, apa bisa kamu ke apartemen di Jalan Kemang? Saya mau pijat. Badan saya rasanya kaku semua," ujar Jati.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan, "Kalau bisa, besok anak buah saya yang akan menjemputmu. Saya tidak ingin kamu kesulitan mencari alamatnya."
Lintang mengernyitkan dahi. Jalan Kemang adalah kawasan elit, dan tawaran jemputan itu terdengar sangat formal. Namun, ia teringat sorot mata pria itu di taman—sorot mata yang tidak tampak seperti orang jahat, melainkan orang yang sedang tersesat.
"Besok jam berapa, Mas?" tanya Lintang, mulai membuka buku catatan kecil di atas meja makannya.
"Jam sepuluh pagi. Bagaimana?"
"Bisa, Mas. Kirimkan saja titik lokasinya nanti. Mas tidak perlu repot-repot menjemput, saya bisa naik motor sendiri," tolak Lintang halus. Ia sudah terbiasa mandiri dan tidak ingin merasa berutang budi.
"Tidak, Lintang. Biar dijemput saja. Ini area privat, akan lebih mudah kalau kamu bersama orang saya. Saya tunggu besok ya," ucap Jati dengan nada yang tidak menerima penolakan, namun tetap sopan.
Setelah sambungan telepon terputus, Jati meletakkan ponselnya di atas meja.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan dikelilingi kemarahan Mila, ia merasakan sedikit harapan.
Bukan harapan untuk sembuh secara fisik, tapi harapan untuk mendapatkan ketenangan sesaat dari seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang kegagalannya sebagai seorang pria.
Sementara itu, di rumahnya yang kecil, Lintang menatap kartu namanya sendiri. Ia menyentuh luka di keningnya yang mulai mengering.
Ada rasa penasaran yang aneh tentang pria bernama Jati itu.
Pria yang memiliki apartemen di Kemang, namun terlihat lebih menderita daripada dirinya yang hanya seorang janda pemijat.