Sekarang bukan lagi zaman Siti Nurbaya yang harus menerima perjodohan untuk memiliki seorang pasangan.
Bagi Dewa, jangankan menikah apalagi di jodohkan, bahkan ia tak pernah mengenal yang namanya cinta. lebih tepatnya tak mau mengakui apa yang di sebut cinta.
Namun Dewa justru terperangkap dalam perjodohan yang dengan seorang gadis yang mengatas namakan cinta dalam syarat utamanya. Sedangkan dirinya pun tak mampu menolak karena itu adalah perintah mutlak yang menentukan masa depannya.
Menolak, bukan perkara yang mudah. Menerima, juga tak bisa di katakan mudah.
Pasrah, tetap harus berjuang.
Apa yang akan dilakukan oleh seorang gadis sehingga mampu membuat Dewa bertekuk lutut dan membuka mata tentang arti sebuah hubungan???
Bukan tentang CEO kejam sombong dan dingin tapi hanya kisah cinta manis yang di bumbui sedikit komedi.
Revisi bertahap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chanda Kirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang
Happy Reading...
Tinggalin Cintya". singkat padat jelas dan tanpa basa-basi. Pria di hadapannya memintanya untuk meninggalkan orang yang akhir-akhir ini memberi warna dalam hidupnya.
"Never!" jawab dewa tak kalah tegas dengan pancaran mata yang tak kalah tajam.
"Memangnya apa yang membuat mu menerima ide konyol dan tak masuk akal ini?"
Dewa tak menjawab. dia hanya menatap tajam pada orang yang duduk di seberang meja nya sambil menyunggingkan seulas senyum di sudut bibirnya. seolah sedang mengejek.
"Apa lu pikir gue akan membiarkan pria brengsek macem lu, miliki adek gue. jangan mimpi!" Leo berkata ketus.
"Ingat Dewa lu itu sama sekali gak pantes dapetin gadis seperti Cintya. Lu itu bajingan!" Kata-kata Leo Memang benar adanya. dia adalah laki-laki brengsek yang tak pantas mendapatkan gadis baik seperti Cintya. kata-kata Leo cukup menamparnya.
Dewa masih bergeming, ia membiarkan Leo meluapkan amarahnya.
"Jadi, menurut Lo, Lilian lebih pantes buat gue?" Dengan senyum mengembang Dewa berkata.
Sedikit kata yang Dewa rangkai dalam kalimatnya cukup membuat Leo bungkam.
Lilian? Mengingat nama itu kepalan Leo yang sudah siap mendarat di rahang kokoh Dewa kembali mengendor.
"Bagaimana jika kita barter. berikan Cintya dan ambil kembali Lilian." Ucapan Dewa membuat kobaran di dada Leo semakin membesar.
"Jika gue bisa miliki dua-duanya kenapa harus satu?" Dewa tersenyum miring seolah mengejek.
"Gue kasih kesempatan buat Lo miliki Lilian kembali."
Brakk!!!
Leo menggebrak meja dengan kuat. mati-matian Leo menahan amarahnya namun akhirnya ia berada di titik tertinggi dari kesabarannya. dan berakhirlah kepalan tangannya di atas meja tak berdosa.
"Ternyata selain brengsek, Lo juga bajingan." Leo mencengkeram Krah kemeja Dewa dan mengepalkan tangannya hendak melayangkan tinjunya.
"Asal Lo tau, tidak salah satu pun dari mereka yang pantas buat bajingan brengsek seperti Lo." Leo menekan kan kata-katanya. Kepalan tangannya semakin meninggi, tandanya ia sudah di rundung emosi di level tertinggi.
"Kakak!" Suara cempreng dari seorang gadis yang begitu di kenal nya memaksa Leo menurunkan kembali kepalan tangannya. ia tak mau jika adiknya mengetahui dia dan calon suaminya memiliki masalah pribadi.
"Dek!" Leo memaksakan senyumnya.
"Sayang." Cintya mengernyit mendengar panggilan Dewa terhadapnya.
Tumben ada apa nih!
Batin Dewa dan Cintya bertanya pada diri sendiri. Dewa yang memanggilnya Sayang maupun Cintya yang memanggilnya kakak tidak seperti biasanya, 'Om sableng'
"Kakak sama kak Dewa kok bisa ketemuan disini?" Cintya bertanya sambil melihat ke arah Dewa dan Leo bergantian.
" Kakak tadi habis meeting, gak sengaja ketemu sama Dewa di sini. benarkan?" Leo menendang kaki Dewa agar masuk dalam kebohongannya.
"Oh!" Cintya hanya ber oh ria.
"Lalu kemana klien yang tadi kakak bilang mau ketemuan?" Cintya bertanya pada Dewa. sambil mendaratkan tubuh nya di antar Dewa dan Leo.
"Udah pulang. tadi dia cuma minta tanda tangan doang." Jawab Dewa enteng tanpa menimbulkan kecurigaan.
Cintya manggut-manggut.
"Lu dari shopping dek?" tanya Leo melihat Cintya menenteng tas belanjaan di tangannya.
"He em." Cintya mengangguk.
"Oh ya Kak, ini Cintya balikin. makasih ya." Cintya menyodorkan credit card nya pada Dewa.
"Balik yuk!" Ajak Dewa memegang pergelangan tangan Cintya pelan.
Cintya mengangguk dan berdiri, namun sebelumnya ia menyambar gelas jus Dewa yang tinggal separuh membuat Leo menatap heran pada adiknya.
Sudah sedekat itukah mereka? batinnya..
"Gue balik dulu ya, pikirkan penawaran gue." Dewa menepuk ringan bahu Leo sambil sebelah tangan kirinya menggamit pinggang Cintya.
Leo mengangguk dan tanpa Dewa ketahui tangan Leo kembali mengepal dengan rahangnya mengeras melihat Dewa dengan santainya memeluk pinggang Cintya. rasanya ia tak terima. jika ini buka tempat umum dan tak ada Cintya betapa inginnya ia kembali menghajar Dewa sampai babak belur seperti waktu itu.
"Udah lepas ih." Cintya memberontak melepaskan diri dari tangan Dewa yang masih melingkari pinggangnya setelah memastikan mereka jauh dari Leo.
"Napa sih cil!" Dewa tak terima.
"Ini nih! apa nih peluk.. peluk." Cintya menunjuk tangan Dewa di pinggang nya.
"Elah cil, cuma pegang doang, pelit amat sih lu." Dewa masih tak menjauhkan tangannya.
"Itu tadi tumben panggil gue kakak. apa maksudnya tuh?" Dewa memandang Cintya dengan sedikit menunduk yang masih dalam pelukan tangan kirinya.
"Oh itu, biar kak Leo gak curiga aja.!" Jawab Cintya sekenanya.
"Maksud lu?"
"Ya bukan apa-apa, masa iya aku panggil Om di depan kak Leo, yang ada entar dia ngamuk di rumah, ngadu sama ibu." Dewa menggeleng.
"Om tadi juga panggil sayang tadi, apaan tuh coba ?"
"Kan gue emang sayang sam lu cil."
Jleb!
"Bohong banget deh!" cibir Cintya.
"Tuh buktinya gue udah belanjain elu, tapi apa nih? kok elu belanja pakaian ginian." Dewa mengangkat tas belanjaan Cintya yang kebetulan di tenteng olehnya. membuat Cintya menelan Saliva nya susah.
"Buat cowok gue." Cintya nyengir.
"Apaan lu belanjain cowok lain pake duit gue." Dewa sewot.
"Duit om apaan? kan pinjem Om. ngutang, pasti Cintya balikin deh kalau gajian. kalau inget tapi ya." Cintya kembali nyengir.
Sebelum Dewa membalas ucapan Cintya, ponselnya berteriak.
"Iya gue balik sekarang."
(...)
"Kapan?"
(..)
"Oke! lu atur deh!"
Dewa mematikan ponselnya.
"Siapa Om?"
***
kalo kawin pake aurat
🤣🤣🤣
perjodohan Arini