Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban yang berbeda
Rumah mulai terasa sunyi setelah Tya pergi ke sekolah. Mama Alin berdiri menatap luar melalui jendela, memandang langit yang berwarna biru cerah tanpa awan, gunung Sindoro dan gunung Sumbing dapat terlihat dengan sangat jelas dari sana.
"Adit, Arumni, mama sudah merasa benar-benar sehat. Mama juga sudah sangat rindu pada butik mama, entah seperti apa kabar butik tanpa kehadiran mama di sana. Mama ingin sekali memastikan semuanya berjalan dengan lancar."
"Jadi maksudnya mama sedang pamit pulang ke Bandung?" tanya Adit.
Arumni merasa kehilangan sesuatu saat mendengar mama Alin mengatakan niatnya ingin pulang ke Bandung. "Aku merasa sangat nyaman dengan kehadiran mama di sini," untuk sesaat napasnya tercekat. "Tiga minggu ini, aku sudah terbiasa ada mama, aku masih butuh banyak bimbingan dari mama dengan nasihat-nasihat yang bijak dalam mengurus anak." Ucapnya sambil menunduk, mencoba menyembunyikan rasa kehilangannya.
Arumni tahu, mama Alin harus kembali ke Bandung untuk mengurus butiknya, namun tetap saja, ia tidak bisa untuk tidak merasa sedih, kehadiran mama Alin selalu membuatnya merasa nyaman dan aman.
"Adit, Arumni, jangan bersedih. Mama cuma mau ke Bandung, ini sudah biasa mama lakukan, kan? Kalian bisa mengunjungi mama kapan pun kalian sempat, begitupun dengan mama." Ucap mama Alin seraya berpelukan dengan mereka.
"Sebenarnya kita masih ingin mama tetap di sini, tapi kita juga tahu butik mama sangat penting. Kita akan selalu mendukung mama, jangan lupa untuk beristirahat dan jaga kesehatan mama." Kata Adit.
Mama Alin mengangguk, "iya." Lirihnya dengan suara tercekik emosi, "kalian tak perlu khawatir seperti ini, mama akan baik-baik saja."
Suasana haru membekali Adit yang hendak pergi bertugas. "Aku berangkat dulu ya, ma?" Ucap Adit sambil mencium kening mama Alin, lalu berganti ke Arumni.
"Semangat, Dit!" Seru mama Alin saat Adit beranjak pergi.
* *
Beberapa tahun, bu Susi hanya melihat kiosnya yang dioperasikan oleh orang lain. Bu Susi masih ingat, saat-saat dimana ia berjualan di pasar, mengelilingi diri dengan berbagai macam pakaian dewasa dan anak-anak, baik pria maupun wanita. Berinteraksi dengan pelanggan yang datang untuk melarisi dagangannya—ataupun hanya sekedar bersilaturahmi.
Bu Susi masih berdiri di samping Galih yang sedang memarkirkan motornya, tersenyum bahagia menatap pasar yang bersih dengan kios-kios yang tersusun rapi.
"Ibu sangat bahagia, Galih. Ibu akan membantu pelanggan untuk menemukan apa yang mereka cari."
"Cuma pelanggan yang mencari pakaian, ibu." Balas Galih.
"Iya, memangnya apa lagi?"
"Lah tadi ibu bilang akan membantu pelanggan mencari apa yang mereka cari, kalau ternyata mereka cari aku gimana?"
"Diam, kamu. Kalau ada yang nyari kamu, pasti ibu langsung kasih!" Tegas bu Susi sambil memberikan helm yang baru saja ia lepas.
Galih tersenyum menerima helm ibunya, lalu mereka berjalan bersama menuju kiosnya yang berada di lantai 2.
Semua orang yang berada di sekitar, menyambut kedatangan bu Susi dengan begitu hangat. Terlihat ada rindu yang mereka simpan bertahun-tahun.
"Ini Galih kan, bu?" Tanya bu Neli yang kiosnya berdampingan, mereka sama-sama menjual pakaian.
Galih tersenyum, lalu mencium tangan bu Neli. "Ibu masih ingat aku?"
"Iya, kemana aja kamu, Galih? Selama ini aku nggak pernah melihat mu." Kata bu Neli.
"Aku di rumah saja kok, bu Neli."
"Oh iya, terakhir ibu mu bilang gitu. Gimana kabar anak dan istri mu? Lama juga aku nggak pernah lihat. Anak mu laki-laki kan? aku pernah lihat waktu ibu mu bawa anak mu datang ke sini. Pasti sekarang dia sudah besar, ya?" Sederet pertanyaan dari bu Neli yang hanya dijawab senyuman oleh Galih.
"Kok cuma senyum, Galih?" Ucap bu Neli setelah tidak mendapat satupun jawaban dari Galih.
"Aku harus jawab yang mana dulu, bu?"
Bu Neli menutup mulutnya, "eh iya, kebanyakan pertanyaan ya, Galih?"
Galih melanjutkan membantu ibunya membereskan ruangan.
* *
Arumni dan mama Alin berjalan-jalan di pasar, mencari oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang untuk keluarga di Bandung.
Mereka melewati kios-kios yang menjual berbagai macam barang, dari makanan, hingga kerajinan tangan.
Tanpa sengaja, mereka melewati kios bu Susi, mata mereka tertahan saat melihat Galih dan bu Susi sedang membereskan kiosnya.
"Ibu." Panggil Arumni seraya menghampiri bu Susi.
Bu Susi dan Galih menoleh, sementara mama Alin masih berdiri di depan kios bu Susi.
"Ibu mau jualan lagi?" tanya Arumni.
"Iya, Arumni, ibu baru mulai beberes. Kamu di sini mencari apa?" Bu Susi menoleh ke arah mama Alin, "sama bu Alin juga?" Ucap bu Susi lalu menghampiri mama Alin yang masih berdiri di sana.
"Rama sekolah, mas?" Tanya Arumni basa-basi. Meski sudah bertahun-tahun, obrolan mereka terkadang masih terdengar kaku dan canggung.
"Iya, Adit nggak ikut?"
Arumni menghela napas demi mengurangi kecanggungan, ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil memberi senyum tipis.
Bu Susi dan mama Alin tampak asyik mengobrol, lalu bu Susi meninggalkan mama Alin di sana, entah kemana.
Bu Neli yang kebetulan mengenal Arumni, mendekati mereka bersamaan dengan mama Alin.
"Arumni, apa kabar?" Tanya bu Neli sembari cipika-cipiki.
"Baik, bu Neli sendiri bagaimana?" balas Arumni.
"Aku juga baik." Bu Neli menatap Galih lalu ke Arumni secara bergantian, "kalian sedang membantu ibu?"
"Nggak, bu Neli." Jawab Arumni, "aku hanya kebetulan lewat sini."
Alis bu Neli saling bertaut, menatap mereka penuh keheranan. "Kebetulan lewat?" Tanya bu Neli yang langsung mempertanyakan hal lain, "oh ya, anak kalian pasti sudah besar ya? Sudah kelas berapa?"
"Empat." Jawab Arumni.
"Tujuh," jawab Galih.
Mendengar jawaban berbeda dari keduanya membuat bu Neli bingung, ia menggaruk punggung lehernya. "Kok kalian nggak kompak? Kalian punya dua anak?"
Arumni menatap mama Alin yang berdiri di sebelahnya, lalu memperkenalkan mama mertua yang sekarang. "Maaf bu Neli, aku sama mas Galih sudah lama berpisah, dan ini mama Alin, ibunya suami ku yang sekarang."
Bu Neli menatap mama Alin, usianya mungkin tidak jauh dari bu Susi, namun masih terlihat jauh lebih muda, dan gaya pakaiannya tetap modis di usia mapan.
Mama Alin tersenyum ramah saat berjabat tangan bu Neli. Keduanya mengobrolkan banyak hal, dan mereka terasa nyambung karena sama-sama menjual pakaian.
"Kita pulang sekarang, ma!" ajak Arumni.
"Tunggu sebentar, Arumni. Bu Susi meminta mama untuk menunggunya kembali ke sini."
Arumni mengangguk, lalu membantu Galih menyusun barang-barang agar terlihat rapi. Sementara mama Alin masih membicarakan tentang bisnisnya di Bandung dengan bu Neli si penjual pakaian.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/