NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status Berpacaran

"Pie? Kau tidur?" Mama mengetuk pintu kamar Pie.

"Tidak, Ma. Masuk saja."

Mama membuka pintu kamar dan masuk. Pie sedang mengerjakan tugas sekolah.

"Kau masih ingin ikut latihan karate?" Pie diam menatap sang Mama. Ia tahu Mama ingin dirinya berhenti ikut karate.

"Tidak, Ma." Jawab Pie berbohong. Pie sangat menyukai karate, ia ingin berlatih hingga menjadi Sensei yang hebat.

"Benar begitu?"

"Ya. Kenapa, Ma?"

"Tadinya Mama ingin kau berhenti jika Pie masih ingin melanjutkannya."

"Ada apa, Ma?"

"Mama ingin kamu fokus pendidikan saja dan Mama kasihan jika kau kelelahan setiap kali pulang berlatih."

"Ya. Aku akan berhenti. Lagi pula, tugas di SMA semakin banyak tidak seperti di SMP." Pie tersenyum menenangkan Mama.

"Ya. Belajarlah." Mama mengusap pelan kepala Pie lalu keluar dari kamar.

Hujan turun dengan lebat kala jam pulang sekolah. Saat itu, Pie baru saja keluar dari kelasnya. Area sekolah sudah sepi karena kelas Pie yang terakhir aktif. Caca dan Ezti dipastikan sudah pulang mengikuti jadwal kelas mereka.

Pie mengusir kebosanan menunggu hujan reda dengan chatting di facebook.

Ia mendapatkan beberapa kenalan dari luar daerah. Pie sangat senang jika mengenal teman-teman baru dari luar daerahnya, membuat dirinya bisa belajar bahasa daerah lain.

Namun, tak sedikit yang menjalin kasih dengan Pie secara singkat saat mereka lebih intens mengobrol. Pie menganggap mereka hanya pengisi waktu yang kosong. Dirinya tak benar-benar serius. Pie menganggap dunia maya hanya ilusi yang tak perlu dianggap serius.

"Apa kau baru masuk SMA?"

"Ya. Bagaimana denganmu?"

"Aku baru saja lulus dari sekolah itu."

"Benarkah? Kau lebih tua dariku jika begitu."

"Ya. Tapi jangan memanggilku Kakak. Anggap saja kita sebaya."

"Mengapa?"

"Aku tak suka. Itu mengingatkanku akan usiaku yang lebih tua. Hahaha." Pie tersenyum membaca pesan tersebut.

Ponselnya bergetar panjang menandakan telepon masuk. Pie segera mengangkatnya.

"Pie? Kau di mana? Kenapa belum pulang?"

"Aku menunggu hujan reda, Yah."

"Di sini tidak hujan."

"Benarkah? Di sini hujan. Sangat deras."

"Kau di mana?"

"Di depan kelas, Yah."

"Tunggu di sana, Ayah akan menjemputmu."

"Ya, ayah. Hati-hati."

Telepon dari Ayah terputus. Pie merasa lega karena ayah akan menjemputnya. siswa yang bersamanya semakin sedikit, mereka memilih menerobos hujan dari pada menunggu hujan reda.

Suasana sekolah yang semakin sepi membuat Pie mengantuk. Beberapa anggota OSIS yang baru keluar dari ruang OSIS pun langsung bergerak pulang tanpa berteduh dahulu.

Beberapa menit kemudian, sebuah sepeda motor bebek masuk ke halaman sekolah hingga ke depan kelas Pie. Dia mengenali motor tersebut adalah milik Ayahnya.

Ayah turun dengan mengenakan jas hujan dan menghampiri Pie yang seorang diri di sana.

"Sudah sepi?"

"Ya. Mereka memilih menerobos hujan dari pada menunggu."

"Ayo pulang. Pakai ini." Ayah memberikan sebuah jas hujan untuk Pie.

Lalu mereka meninggalkan area sekolah dengan mengendarai sepeda motor.

"Ma, kau tahu Pie menunggu sendirian di sekolah."

Ayah berucap saat makan di dapur ditemani oleh sang istri. Sedangkan Pie sedang tidur siang.

"Kenapa?"

"Karena yang lain memilih pulang dengan hujan-hujanan. Aku khawatir jika Pie tak kujemput."

"Apa memang benar-benar sepi? Tak ada seorang pun?"

"Ada beberapa, tapi di area depan. Pie di area kelas yang merujuk ke dalam. Di sana sepi, semua kelas sudah terkunci."

"Aku ingin membelikannya sepeda motor, tapi belum ada uang." Keluh sang istri.

"Kita bisa meminta Kakak untuk meminjamkan Pie sepeda motor saat siang. Anak itu juga tidak kemana-kemana kecuali malam."

"Benar juga."

Secara kebetulan, sang Kakak masuk ke dapur dan melihat kedua orang tuanya sedang menatapnya dengan serius.

"Ada apa? Kenapa menatapku begitu?"

"Sini, duduk dulu, Kak." Ucap Mama. Kakak menurut duduk.

"Kak, pinjami Pie motormu untuk dia sekolah."

"Kenapa? Apa tidak ada angkutan lagi?"

"Adikmu sering pulang terlambat karena menunggu angkutan umum. Dan tadi hanya dia seorang diri di sekolah menunggu hujan reda. Apa jadinya jika hujan sampai sore?" Ucap Ayah.

"Kakak mau ya? Kasihan Pie." Bujuk Mama.

Kakak terdiam. Dia tidak mau sepeda motor yang susah payah ia minta pada Ayah dipakai oleh Pie.

"Aku akan menjemputnya kalau begitu."

"Kenapa tidak pinjamkan saja? Toh kau tak perlu repot menjemputnya atau Pie menunggu kau menjemput." Ucap Ayah. Kakak sedikit kesal karena Ayah memaksa.

"Ya, ya. Baiklah. Terserah kalian saja."

Kakak berlalu pergi, Mama merasa tak enak menatap anak lelakinya yang berubah raut wajahnya.

"Kakak.." Mama mencoba memanggil namun anak lelakinya tak memedulikan.

"Sudahlah, Ma. Anak itu kan memang keras."

"Ya, seperti dirimu." Sahut Mama.

"Pie, tunggu." Mama memanggil Pie ketika hendak berangkat sekolah.

"Ada apa, Ma?"

"Ini, pakai motor Kakak untuk sekolah."

Mama memberikan kunci motor pada Pie.

"Kenapa? Apa Kakak tidak perlu?"

"Kau sering pulang terlambat. Ayahmu khawatir. Sudah, pakai itu dan berangkatlah. Ini sudah siang."

"Apa Kakak tidak apa-apa?"

"Tidak. Mama sudah bicara pada Kakakmu. Dia setuju."

Pie yang masih bingung hanya menuruti perintah Mama. Ia sedikit merasa tak enak pada Kakak. Pie belum meminta izin padanya.

Pie merasa tak enak dan juga merasa senang. Dia tak perlu lagi menunggu lama angkutan umum untuk pergi dan pulang sekolah.

"Kenapa akhir-akhir ini aku tak melihatmu berangkat sekolah?" Fang mengirimi pesan karena beberapa hari ini dirinya tak melihat Pie lewat.

 Rumah Fang berada di jalur Pie ke sekolah. Mantan gadis manis itu tiap hari dapat melihat Pie.

"Aku mengendarai motor."

"Kau membeli motor?"

"Tidak. Milik abangku."

"Apa kau berangkat lebih pagi?"

"Lebih siang."

"Ah, begitu ya."

Berbulan-bulan Pie bermain facebook, dirinya sudah mendapatkan beberapa teman luar daerah. Pie mudah berteman dengan orang baru membuatnya mudah mendapatkan teman.

Kini Pie memiliki dua akun Facebook, satu untuk teman-teman sekolahnya, satu lagi ia hanya iseng namun akun iseng yang sering Pie mainkan.

Sekitar dua minggu dia tak membuka akun facebook pertamanya yang khusus teman sekolah. Pie begitu terkejut dengan status hubungannya di facebook menjadi 'berpacaran dengan akun milik Kim'

Ia memeriksa inbox yang masuk, namun di sana tak ada inbox dari Kim.

"Apa yang kau lakukan, Kim?" Pie tentu tak suka sikap Kim yang seenaknya seperti ini. Tanpa menghubungi Pie, Kim membuat keputusan sendiri setelah hilang ditelan bumi.

Pie mengirimkan pesan pada Kim melalui inbox.

"Kenapa status kita berpacaran? Bukankah sudah putus sejak lama?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!