Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Keesokan harinya, Arga mengajak Samira pergi ke panti asuhan untuk mencari anak yang bisa mereka adopsi.
Panti asuhan itu berdiri di ujung jalan kecil, diapit oleh pepohonan tua yang daunnya sudah gugur sebagian. Bangunannya tidak buruk, tapi jelas tidak terawat dengan baik. Cat dindingnya sudah banyak memudar, beberapa bagiannya telah mengelupas, bangunan itu seolah ikut menua bersama kisah-kisah anak yang keluar masuk tanpa pernah benar-benar pulang.
Samira melangkah pelan ketika Arga membimbingnya turun dari mobil.
“Pegang lenganku,” ujar Arga lembut. “Jalanannya tidak begitu rata, tolong hati-hati saat melangkah.”
Samira mengangguk, jemarinya melingkar di lengan Arga.
Dari luar, mereka tampak seperti pasangan suami istri yang harmonis, seorang istri dengan keterbatasan, dan suami yang setia mendampingi. Padahal di dalam dada Samira, segalanya berkecamuk.
Ia melihat bangunan itu dengan jelas. Melihat papan nama yang sudah kusam. Melihat beberapa anak kecil mengintip dari balik jendela, wajah mereka penuh rasa ingin tahu sekaligus waspada.
Inilah tempatnya, batinnya. Tempat sandiwara kalian akan dilanjutkan.
Kepala panti, seorang perempuan paruh baya bernama Kinara menyambut mereka dengan senyum ramah. “Selamat datang,” katanya. “Silakan masuk.”
Arga menjabat tangannya dengan percaya diri. “Terima kasih sudah menerima kami.”
Samira tersenyum kecil, lalu menunduk sopan. “Terima kasih. Mohon bantuannya.”
Mereka berdua kemudian diajak ke ruang bermain. Di sana, sekitar sepuluh anak duduk di lantai, beberapa bermain balok, dan yang lainnya terlihat menggambar dengan alat seadanya. Begitu menyadari ada tamu, beberapa anak menoleh. Ada yang tersenyum, ada yang segera menunduk.
Samira berdiri diam di sana, memperhatikan dengan hati yang terasa diremas. Ia mengedarkan pandangannya pada beberapa anak. Lalu … ia melihatnya.
Seorang anak perempuan duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Rambutnya dikuncir dua sederhana. Gaunnya terlihat terlalu besar, seolah warisan dari anak lain. Wajahnya pucat, dan matanya yang kecil itu menatap Samira dengan ketakutan yang tidak wajar.
Bukan rasa malu ataupun rasa asing saat bertemu dengan seseorang yang belum dikenalnya. Tatapannya menunjukkan ketakutan.
Jantung Samira berdegup lebih kencang. “Kenapa dia terlihat seperti sudah mengenaliku?” pikirnya pendek.
Anak itu kemudian segera mengalihkan pandangan, menunduk dalam-dalam dan bahunya tampak menegang saat menyadari Samira menatapnya.
Arga memperhatikan anak-anak itu satu per satu, lalu tanpa ragu, langkahnya berhenti tepat di depan anak perempuan yang memeluk lututnya itu.
“Anak ini saja,” kata Arga mantap. “Aku suka anak perempuan yang satu ini.”
Samira menoleh cepat. “Yang mana? Bolehkah aku menyentuh pipinya?” tanya Samira berpura-pura ingin mengenal anak perempuan itu.
Arga kemudian mengajaknya mendekati Samira. “Jangan menakutinya. Dia kelihatannya seperti anak yang pendiam,” bisik Arga pelan. “Anak ini terlihat kesepian dan membutuhkan keluarga.”
Bu Kinara tersenyum ragu. “Namanya Alya. Dia memang agak tertutup. Tapi anaknya baik.”
Nama itu menggema di kepala Samira. Nama yang selama ini hanya ia baca di laporan detektif. Nama yang menjadi kunci semua kebohongan.
Samira berjongkok perlahan, menjaga ekspresi wajahnya tetap lembut. “Halo,” katanya pelan. “Namaku Samira.”
Alya tidak menjawab. Tangannya mencengkeram ujung gaun, napasnya tersengal dan memburu.
Samira bisa melihat air mata yang tertahan di mata kecil itu.
“Tidak apa-apa,” kata Samira lembut. “Aku tidak akan menyakitimu.”
Kalimat itu membuat Alya mendongak sebentar, hanya sedetik, namun cukup bagi Samira untuk melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Ada kebingungan serta rasa bersalah yang terlalu besar di mata anak seusianya. Anak-anak seusianya seharusnya memiliki mata yang cerah dan ceria, namun Samira tidak menemukannya di satupun tatapan anak-anak itu.
“Dia sepertinya belum siap,” kata Samira hati-hati pada Arga. “Bagaimana kalau kita—”
“Tidak,” potong Arga cepat. “Aku yakin. Anak ini cocok untuk kita.” Nada suaranya terdengar tegas, namun Samira justru tersenyum tipis.
Kinara tampak ragu, namun saat melihat tatapan Arga ia akhirnya mengangguk. “Kalau begitu, kita bisa mulai prosesnya.”
Samira terdiam di tempatnya. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tahu anak ini akan dipilih. Namun ketika semuanya benar-benar terjadi di depan mata, rasa sesak itu tetap tak bisa dihindari.
Proses administrasi berlangsung beberapa jam. Samira duduk di kursi, mendengarkan semua itu dengan kepala sedikit tertunduk. Di hadapannya, Arga berbicara lancar tentang kesiapan finansial, kondisi rumah, dan masa depan anak itu.
Dia anakmu sendiri, pikir Samira tersenyum pahit. Tapi kau berbicara seolah dia adalah benda yang baru dibeli.
Alya duduk tidak jauh dari mereka. Sepanjang waktu, anak kecil itu tidak berbicara. Ia hanya sesekali melirik Arga dengan tatap takut dan lebih sering menunduk ketika pandangannya bertemu Samira.
Akhirnya, Kinara berdiri. “Secara administrasi, anak ini akan ikut kalian hari ini. Proses selanjutnya akan menyusul.”
Arga tersenyum puas. “Terima kasih.”
Samira berdiri, mendekati Alya perlahan. “Kita pulang, ya.”
Alya terlihat mengangguk pelan, tapi matanya langsung mencari-cari sesuatu, atau seseorang yang tidak ada di sana.
Mobil melaju meninggalkan panti asuhan. Alya duduk di kursi belakang dengan gugup. Samira sesekali menoleh lewat kaca di depan dashboard, memastikan anak itu baik-baik saja di tempatnya.
“Kau boleh duduk di dekatku,” ujar Samira lembut.
Alya ragu, lalu perlahan pindah ke samping Samira. Tangannya kecil, dingin. Samira membiarkannya menggenggam ujung bajunya.
“Tidak apa-apa,” bisik Samira. “Kau akan aman bersamaku.”
Alya tidak menjawab, tapi genggamannya sedikit mengendur. Untuk sesaat, Samira benar-benar merasa senang. Bukan karena rencananya berhasil, melainkan karena di sampingnya, ada seseorang yang meski berasal dari kebohongan, akan menjadi bagian dari hidupnya.
Setidaknya aku tidak sendiri lagi, batinnya.
Di rumah, Larissa berdiri kaku di ruang tengah ketika pintu terbuka. “Selamat datang,” sapa Larissa pelan.
Samira masuk lebih dulu. “Nanti tolong persiapkan kamar untuk anakku, ya.” Ia sengaja menekankan kata anakku untuk melihat reaksi Larissa..
Alya berhenti melangkah ketika melihat Larissa. Anak itu berlari kecil lalu dengan tiba-tiba memeluk pinggang Larissa.
“Ibu,” lirih Alya pelan.
Larissa terlihat menegang. Tangannya terangkat, lalu berhenti di udara. Wajahnya tampak pucat dengan keringat yang menuruni pelipisnya.
Samira melihat dan mendengar semuanya. Ia tersenyum tipis, cukup puas karena menyadari bahwa rencananya berhasil. Untuk membuat ibu dan anak itu dekat.
“Alya,” Larissa berdeham pelan. “Ayo aku antar kau masuk ke kamar tamu dulu, ya.”
Alya menoleh ke arah Samira, matanya penuh ketakutan dan permohonan.
Samira kemudian tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Kau bisa istirahat.”
Alya berjalan pelan menuju kamar, bahunya gemetar.
Larissa berdiri kaku, lalu menunduk. “Maaf, Nyonya. Aku rasa, dia pasti melihat sosok ibunya dalam diriku,” kata Larissa memberi alasan.
Samira mengangguk pelan. “Aku mengerti.” Namun di dalam hatinya, Samira tersenyum pahit.
Seorang anak tidak bisa berpura-pura, pikirnya.
•••
Malam itu, Samira duduk di sisi ranjang Alya. “Kau tidak perlu takut,” katanya pelan. “Aku tidak akan menyakitimu.”
Alya menatapnya lama, lalu berbisik hampir tak terdengar, “Maaf .…”
Satu kata itu menghantam Samira lebih keras dari apa pun.
Ia mengulurkan tangan, mengusap rambut Alya dengan lembut. “Kau tidak salah.”
Dan di luar kamar, Larissa berdiri diam, mendengar semuanya. Ia menahan kesal melihat Samira perlahan mengambil semua miliknya.