Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Tega
Delano membuka pintu kamar Canna dengan keras hingga menimbulkan bunyi bedebum. Mengamati setiap sudut kamar Canna, tetapi wanita itu tidak terlihat batang hidungnya.
"Tuan, Nona Canna sedang berada di dapur. Sejak tadi dia menunggui para koki selesai memasak!" ucap Oryza menunduk hormat.
Tanpa sepatah katapun, Delano berjalan cepat kearah dapur, menghampiri Canna yang sudah siap menyantap semangkok sup ayam. Keinginan Delano untuk memarahinya sirna sudah setelah melihat wanita itu menyuap makanannya dengan tidak sabaran.
"Makan itu harus pelan-pelan, tidak ada orang yang akan merebut makananmu."
Canna melirik keasal suara, Delano duduk tepat di sisi kanannya. Ia tidak menghiraukan Delano dan kembali menyuap makanannya.
"Pelayan. Aku ingin semangkok sup seperti milik Canna!" perintah Delano.
"Ini Tuan supnya, apakah ini untuk Tuan?" tanya Oryza bergerak cepat.
"Tidak. Ini untuknya, kelihatannya dia sangat lapar setelah lama keluar rumah."
Canna menghentikan suapannya, meraih segelas air putih. Hampir saja ia tidak mampu menelan makanannya mendengar sindiran Delano. Ia bahkan keluar rumah lebih dari 2 jam bersama Pinus. Apakah Delano mengetahuinya?
"Tapi Tuan, piring yang dimakan Nona Canna adalah piring kelima," ucap Oryza pelan. Ia meringis saat melihat tatapan tajam Canna padanya. Wanita itu seperti orang kesetanan saat berhadapan dengan makanan.
"Apa!!? Kamu... makan sebanyak itu?" Delano berdiri dari tempat duduknya, menatap Canna dengan tatapan kaku.
"Kenapa? Apakah kamu keberatan?" Canna menghentikan suapannya, melirik pada Delano. "Kalau keberatan, hitung sebagai hutangku saja. Lagi pula, aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok denganku," sahut Canna enteng. Ia berdiri membawa piring kotor kearah wastafel.
"Pekerjaan apa?" Delano masih berdiri sambil mengamati pergerakan Canna dengan ekor matanya.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang penting pekerjaannya cocok denganku dan gajihnya mahal," sahut Canna.
"Aku tidak mengizinkanmu bekerja diluar. Walaupun cocok denganmu tetapi tidak denganku!" sahut Delano keras.
Canna menghentikan kegiatannya, berbalik menghadap Delano.
"Aku janji akan membagi waktuku dengan benar. Aku hanya ingin membayar hutangku dalam waktu yang cepat."
Wajah Delano mengeras mendengarnya, aura hitam pekat mengelilingi dirinya. Seluruh pelayan dan koki, pura-pura tidak mendengarnya.
"Seingin itukah kamu menjauh dariku?" gumam Delano pergi meninggalkan Canna dengan wajah frustasinya.
"Kenapa dia marah padaku?" gumam Canna kembali meneruskan pekerjaannya. Beberapa pelayan sibuk melarangnya untuk bekerja tetapi ia sangat keras kepala.
"Nona Canna! Tuan Delano membanting seisi kamarnya. Tolong Nona tenangkan Tuan Delano." Oryza berjalan cepat kearahnya.
Canna terkejut mendengarnya, berpaling menatap Oryza dan mendapati seluruh pelayan dan koki menatap dirinya dengan wajah memucat.
"Kenapa harus aku? Bukankah pelayan di rumah ini tidak hanya aku seorang?" tanya Canna bingung. Para pelayan dan koki masih menatap dirinya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Nona. Bukankah Tuan Delano marah karena Nona melawan padanya. Nona menolak keinginannya. Jadi, hanya Nona lah yang mampu untuk membujuknya. Kalau tidak, maka habislah semua pelayan yang ada di rumah ini." Fiore memegang tangan Canna erat. Membuat Canna meneguk ludahnya kasar, menatap ragu kearah semuanya.
"Yakinlah Nona. Kalau Nona pasti bisa menenangkan hati Tuan Delano," bisik Fiore lagi.
"Baiklah. Aku akan mencobanya!" Canna berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Dengan perasaan tidak menentu, bahkan wajah Canna tampak berkeringat dingin saat ia sudah berada di depan kamar Delano.
Entah hukuman apa yang akan ia terima setelah menghadapi Delano. Tangannya terulur meraba perut ratanya, menguatkan dirinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Ceklek
Canna melongo saat mendapati ruang kamar Delano kosong, tidak ada Delano disana. Bahkan kamarnya terlihat baik-baik saja. Tidak ada barang pecah dan berantakan seperti yang dikatakan oleh Oryza padanya tadi. Ia tahu sekarang, kalau Oryza sedang mempermainkannya.
Canna berbalik membuka pintu, tetapi suara Delano menghentikan pergerakannya.
"Mau kemana?" suara bass Delano terdengar begitu dekat. Meremangkan bulu halus di tengkuknya. Canna menegang tanpa berani membalik badannya.
"Kenapa tegang?" Delano meraih tubuh Canna, membawanya kedalam pelukannya. Rasanya wanita ini begitu hangat untuknya.
"Kamu. Kamu. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Canna terbata. Dadanya terasa bergemuruh hebat.
"Memangnya aku kenapa hingga kamu bertanya seperti itu?" tanya Delano melepaskan pelukannya.
"Bukankah tadi kamu sedang marah dan membanting semua barang yang ada di kamar ini!" sahut Canna.
"Aku hanya menipumu. Kalau tidak maka kamu pasti tidak akan menghampiriku kesini."
Canna menatap Delano kesal, lelaki ini sudah menipu dirinya.
"Aku ingin ke dapur. Masih banyak pekerjaanku disana!" Canna kembali berbalik tetapi langkahnya terhenti saat Delano kembali memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi. Temani aku malam ini. Biarkan aku berada di posisi ini sebentar saja."
Canna kembali membeku, menahan napas saat napas Delano menerpa kulit lehernya.
"Tidak. Ini salah." Canna menggeleng, mencoba menyingkirkan tangan Delano dan mendorongnya kuat.
"Kenapa? Apakah saat bersamaku tidak semenyenangkan saat bersama Pinus?" tanya Delano kesal. Ia kembali mengingat tujuan awalnya saat memanggil Canna kekamar ya. Ingin menghukum wanita itu karena sudah berani bersama lelaki lain dibelakangnya. Delano menarik tangan Canna keras hingga wanita itu membentur dadanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Canna panik, berusaha melepaskan genggaman tangan Delano.
"Apa yang aku lakukan? Sudah seharusnya aku melakukannya sejak tadi. Untuk menghukum wanita yang membangkang dari perintahku!"
Canna terdiam, ia tahu kalau dia salah. Sudah menemui Pinus di belakang Delano.
"Tapi, aku tidak salah apa-apa," cicitnya saat mendapati kemarahan Delano.
"Tidak salah kamu bilang. Kamu bahkan bertemu pria lain di belakangku. Apanya yang tidak salah!?" suara Delano terdengar menusuk.
"Dan sekarang, aku ingin menghukummu!"
Canna terbelalak saat Delano meraih bibirnya dan menciumnya dengan sedikit kasar. Membuat wanita itu meringis kesakitan. Ia tidak mau melakukan hal yang membuatnya kembali menyesal.
"Lepaskan aku!" teriak Canna setelah ciuman Delano terlepas. "Kamu sudah menghukumku dengan sangat keras hari ini, bahkan dengan menyuruhku mandi berulang kali hingga 7 kali."
"Itu pantas kamu dapatkan, karena kamu bersentuhan terlalu lama dengan lelaki lain. Dan beruntung kamu tidak aku ikat tangan dan kakimu sebagai hukumannya."
"Kamu gila!" sahut Canna terbelalak. "Kenapa kamu mengekangku seperti itu? Bukankah keberadaanku disini hanya untuk membayar lunas utangku."
Delano terdiam mendengarnya, tidak mampu mengatakan yang sebenarnya kalau Canna adalah istrinya. Ia merasa bersalah karena membuat wanita itu kembali sedih karenanya.
Dengan cepat Canna berlari keluar kamar Delano dengan mata yang memerah. Keinginannya untuk menahan diri agar tidak menangis ternyata sia-sia. Dia menjadi sangat sensitif sekarang, bahkan akan sangat mudah mengeluarkan airmata hanya dengan melihat sesuatu yang menyentuh hatinya.
"Kenapa aku seperti ini?" Canna bersandar di balik pintu kamarnya. Menguncinya dengan rapat, menghambur naik ke tempat tidurnya. Mengeluarkan semua kesedihannya.
Tok tok tok
Canna memgangkat kepalanya saat mendengar pintu kamarnya di ketok dari luar. Bergerak dengan lambat dan membuka pintu kamar dengan malas.
"Kakak ipar, apa yang sebenarnya terjadi? Aku lihat tadi kakak ipar berlari cepat kesini." Key langsung masuk kedalam kamarnya dan duduk di kursi single miliknya.
Canna berdecak melihat Key yang tidak sopan padanya.
"Kenapa kamu tidak sopan padaku, adik ipar?" geram Canna.
"Tidak sopan? Bukan, aku hanya khawatir saja pada keadaan kakak ipar. Sebab itu aku datang kemari," sahut Key tersenyum manis hingga terdapat lipatan di bawah matanya.
"Baiklah!" Canna menghela napasnya. Baru saja ia ingin tenang sebentar. Lelaki kecil ini datang mengganggunya. "Apa yang kamu inginkan dariku?"
Key terkekeh mendengarnya. "Kakak ipar sangat lucu. Aku tidak ingin apa-apa, hanya khawatir saja!"
"Baiklah. Kalau begitu kamu boleh keluar kamarku setelah melihatku baik-baik saja, bukan?" usir Canna halus. "Aku lelah dan ingin istirahat!" ucapnya lagi.
Bruk.
"Apa yang kamu lakukan disini!?" suara Delano terdengar menggelegar. Canna menggenggam tangannya erat, masih berdiri membelakangi pintu kamar miliknya.
"Kenapa kamu datang kesini juga? Tidak tahukah kalian berdua kalau sekarang adalah waktunya istirahat!" kesal Canna.
"Baiklah. Baiklah. Aku akan pergi. Aku hanya khawatir saja pada kakak ipar. Sepertinya kakak ipar sedang bersedih." Key berjalan melewati Delano. "Kakak, hiburlah kakak ipar dan tenangkan lah dirinya," bisiknya pelan.
"Apanya yang bersedih? Sudah aku katakan kalau aku sedang mengantuk!!" teriak Canna marah.
"Bersenang-senanglah kak dengan wanita yang manis seperti macan."
Canna melempar sandal rumahnya kearah Key tetapi tidak tepat.
"Kabur!!!" teriak Key berlari cepat menghindari amukan singa betina. Rasanya benar-benar mengerikan menghadapi wanita yang sedang marah.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu, Tuan Delano? Bukankah kamu sudah mendengar semua yang aku ucapkan tadi!" ucap Canna dengan suara keras. Tadinya ia tidak bermaksud berkata kasar seperti itu, entah kenapa ia tidak mampu menahan rasa marahnya saat melihat Delano datang padanya.
"Keluarkan saja semua amarahmu, setelah itu cepatlah tidur. Tidak baik saat tidur dalam keadaan marah."
Canna terdiam mendengarnya. Benar yang dikatakan oleh Delano. Tidak baik tidur dalam keadaan marah. Ia mendengus dan berjalan ke atas ranjangnya. Menutupi dirinya dengan selimut. Membuat Delano kembali terkekeh.
"Tidurlah! Aku akan menemanimu hingga kamu tertidur," Delano duduk disisi ranjangnya. Menarik selimut Canna hingga sebatas leher. Membelai rambutnya dengan lembut. Hingga membuat wanita itu benar-benar tertidur karena menikmatinya.
"Aku marah padamu karena aku mencintaimu. Dan aku membatasi pergaulanmu karena aku takut kehilanganmu." Delano menatap sendu wajah Canna yang tertidur pulas.
"Kapan kamu akan sepenuhnya menjadi milikku, memberikan hatimu. Apakah aku harus membuatmu hamil dulu agar kamu tidak mampu untuk pergi dariku?"
Delano menaiki ranjang Canna dan memposisikan dirinya di samping Canna. Memeluk wanita itu dengan erat dan ikut memejamkan matanya.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?