NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu tidak tertarik melihat ibu seperti ini?

Sedari tadi Irfan diam saja. Ia seolah sedang mengumpulkan emosi sembari menggenggam tangannya sendiri dan sesekali tersenyum kaku.

"Kenapa sih Fan?" tanya Dika lagi.

"Tadi Guno bilang apa?" tanya Irfan datar.

Dika menghela napas. Ia menatap temannya satu per satu, lalu kembali fokus pada Irfan "Lo suka sama Tama?"

"Bukan gue yang suka, tapi Guno. Tadinya gue enggan bicara begini tapi, karena dia yang mulai, kayaknya gue memang harus blak-blakan" tegas Irfan.

Guno yang disinggung tentu menunggu apa yang akan dikatakan Irfan. Dari posisi duduk bersandar, ia kini menegakkan tubuh dan membenarkan sweternya.

"Mau blak-blakan soal apa lo?" tanya Guno menantang.

"Yang tadi piket di kantor guru, Bu Etik kan?"

Irfan mengingatkan kejadian siang tadi.

"Ya!" jawab Guno tegas.

"Kalau sampai satu sekolah tahu dan lo didepak, jangan salahkan gue. Karena yang menyebar rumor duluan pasti Bu Etik!" ancam Irfan.

"Rumor apa?" sela Fahri.

"Rumor tentang kedekatan Tama sama Guno!" jelas Irfan.

"Mereka dekat hanya sebatas guru dan murid, kan? Toh, Guno juga sudah menghapus semua postingan soal Tama di beranda akunnya, ya kan Gun?" Fahri berusaha menengahi.

Merasa dibela, Guno mengangguk tegas sembari melipat kedua tangan di dada. Namun, Irfan justru tersenyum sinis, membuat semua orang kebingungan.

"Bicara yang benar! Jangan asal menyinggung tapi enggak tahu tujuannya ke mana" protes Dika.

"Coba tanya Guno!" Irfan malah melempar sebilah kayu ke danau. Ia tidak langsung menjelaskan, membiarkan mereka menatap Guno dan menunggu jawaban yang Guno sendiri tidak tahu harus bagaimana.

Guno hanya mengangkat bahu dengan wajah bingung. Dika dan Fahri semakin jengah. Sampai-sampai Fahri menyerah.

"Ah, sudahlah, malas! Berbelit-belit kayak perempuan!" gerutu Fahri.

"Iya, jadi kepengen chat mantan kalau begini jadinya" sahut Dika.

"Ngapain?" tanya Fahri.

"Kasih tahu dia kalau Irfan bikin bingung!" seloroh Dika.

"Akal-akalan!" timpal Guno.

Mereka tertawa ringan, sedangkan Irfan masih memainkan jari-jarinya sembari menatap asbak. Tak lama kemudian, Irfan membuka mulut untuk menyampaikan fakta mengenaskan.

"Bu Etik lihat lo Gun, di ruang musik sama Tama!"

Suasana yang tadinya ramai mendadak hening. Masing-masing fokus kepada Irfan.

"Lo cium Tama kan?" tanya Irfan tajam.

Guno menelan ludah, lalu menjawab dengan sedikit ketakutan. "Enggak. Itu bukan cium, cuma tiup mata katanya kelilipan."

"Tapi di CCTV jelas banget Gun!"

Guno mengepalkan tangan kanannya. Yang lain terdiam, tak menyangka Guno bisa seberani itu kepada muridnya sendiri.

"Serius Gun?" Dika tak percaya.

"Terus Tamanya bagaimana? Trauma enggak dia?" tanya Fahri khawatir.

"Tadi gue antar dia pulang, sepanjang jalan dia nangis. Pas ditanya, jawabannya dia mau pindah sekolah karena enggak kuat diancam Guno" tutur Irfan.

Dika menatap langit kafe sembari mengembuskan napas berat, lalu menatap Guno yang mematung. "Diancam bagaimana? Anak orang lo ancam Gun?"

"Katanya kalau Tama teriak, dia enggak bakal dapat nilai sampai ujian nasional" Irfan yang menjawab.

Semua tercengang!

"Gun, itu sudah termasuk pelecehan loh!" tegur Fahri.

"Apalagi kalau anaknya enggak mau dan diancam. Kalau lapor polisi, lo bisa kena pasal berlapis!" tambah Dika.

Malu karena teman-temannya tidak mendukung perbuatannya, Guno langsung berdiri dan pergi tanpa sepatah kata pun.

"Heh! Kita belum selesai bicara!" teriak Dika sampai pengunjung lain menoleh.

Namun, Guno menghiraukan mereka dan segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang jalan, ia menggerutu.

"Sialan, bikin malu saja! Kalau mau bicara begini harusnya berdua saja, ngapain di depan Dika sama Fahri. Gue harus hapus rekaman CCTV itu sebelum Bu Etik mengadu ke yang lain!"

Emosinya memuncak. Tujuannya sekarang adalah sekolah. Sampai di sana, ia bertemu satpam. Awalnya ia tidak diizinkan masuk, namun karena ia menyogok dengan sejumlah uang, satpam itu memberikan kunci akses.

"Saya janji hanya menghapus CCTV!"

"Malam ini saja ya, selanjutnya saya tidak akan memberi izin!" peringat satpam.

Guno segera beraksi. Ia tidak paham betul cara menghapus file, sehingga ia harus riset cepat melalui YouTube dan artikel di ponselnya. Setelah beberapa percobaan, ia berhasil!

"Yes! Akhirnya... aman" Guno menghela napas lega. Ia menyandarkan tubuh di kursi dan menyadari waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

"Buset!" Guno langsung berdiri. Sebelum pergi, ia mematikan seluruh CCTV termasuk diruangan yang ia pakai sekarang agar keberadaannya tidak terlacak. Ia mengembalikan kunci ke pos satpam.

"Terima kasih, Pak!"

"Iya, semua aman?" tanya satpam memastikan.

"Aman, Pak!"

...*********************...

Guno sampai di rumah dan ternyata pintu sudah dikunci dari dalam oleh ibu mertuanya.

Clek! Clek!

"Yah!" Guno mencoba menelepon telepon rumah sambil memanggil mertuanya. "Bu! Buka, Bu, ini Guno!" Tak lama, pintu terbuka. Guno tertegun melihat pemandangan di depannya. Ibu mertuanya memakai pakaian minim yang tampak familier.

"Kayak baju Hana?" ucap Guno sekilas, lalu fokus melepas sepatu.

"Iya. Ibu ambil dari lemarinya karena rindu sekali. Bagaimana, Ibu masih cocok tidak pakai baju dinas Hana?" ucap mertuanya sembari berlenggak-lenggok. Guno berusaha membuang muka.

"Cocok saja buat wanita umur lima puluh tahun mah" jawab Guno ketus.

Ia segera masuk ke rumah, namun ibu mertuanya menarik lengan bajunya.

"Gun!"

Dengan sisa lelah yang menumpuk, Guno menjawab dengan nada lembut yang dipaksakan.

"Ya Bu, ada apa?"

"Kamu tidak tertarik melihat Ibu seperti ini?"

Guno mengernyitkan kening. Secara sigap, ia langsung menepis tangan ibu mertuanya.

Srak!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!