NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Pagi menyapa dengan cahaya lembutnya, seolah enggan mengejutkan setiap insan yang masih menyimpan sisa-sisa kegelisahan semalam.

Senja berdiri di depan lemari. Matanya memindai beberapa potong pakaian dengan ragu. Tangannya berhenti pada gaun sederhana berwarna krem. Tidak terlalu mencolok, tidak pula terlalu pucat.

Ia ingin terlihat pantas. Bukan cantik berlebihan. Hanya... layak berdiri di samping Sagara.

Ketika ia keluar kamar, Sagara sudah menunggu di ruang tengah. Kemeja biru gelap, celana panjang rapi, jam tangan terpasang seperti biasa. Tampilan seorang pria dewasa yang siap menghadapi dunia, bukan hanya urusan rumah.

“Sudah siap?” tanyanya.

Senja mengangguk kecil. “Sudah.”

Sagara menatapnya sejenak, bukan menilai, tapi memastikan. “Kalau pusing atau mual, bilang.”

“Iya, Om.”

Widuri muncul dari arah dapur sambil membawa bekal kecil. “Ini roti dan air hangat. Kalau mual di jalan, jangan ditahan.”

Senja menerimanya dengan dua tangan. “Terima kasih, Nek.”

Di belakang Widuri, Adam muncul sambil menyeruput kopi. “Wah. Seperti mau kencan pertama.”

Sagara melirik. “Ke klinik.”

“Kencan juga bisa di klinik. Romantis versi orang dewasa,” celetuk Adam, lalu melirik Senja. “Hati-hati. Kalau dia tegang, biasanya karena takut kamu kenapa-kenapa.”

Sagara berdeham. “Kakek terlalu banyak bicara pagi-pagi.”

“Tanda sehat, usia panjang,” balas Adam ringan.

Sagara memilih tidak lagi menanggapi. Tapi Senja melihat telinganya sedikit memerah.

Di dalam mobil, suasana sunyi tapi tidak kaku. Senja duduk tegak, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Ia sesekali melirik keluar jendela, memperhatikan lalu lintas, orang-orang, kehidupan yang berjalan seperti biasa. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu, ia merasa sedang kembali menjadi bagian dari dunia.

“Takut?” tanya Sagara tanpa menoleh.

“Sedikit,” jawab Senja jujur.

“Kenapa?”

“Karena ini terasa nyata.”

Sagara mengangguk pelan. “Memang sudah nyata.”

Di klinik, Senja langsung merasakan tatapan-tatapan kecil. Bukan tajam, hanya penasaran. Pria dewasa, berwibawa, berjalan di samping gadis muda yang tampak rapuh tapi tenang.

Sagara tidak menggenggam tangan Senja. Tidak menariknya. Tidak pula berjalan terlalu cepat. Ia menyesuaikan langkahnya dengan Senja. Sederhana, tapi terasa seperti perlindungan paling alami.

Di ruang tunggu, Senja duduk dengan punggung agak kaku. Sagara duduk di sampingnya, jarak mereka sopan. Tangannya memegang map berisi dokumen.

Di sana terlihat juga beberapa pasangan duduk. Ada yang tertawa kecil, ada yang sibuk memotret hasil USG, ada yang tampak gugup seperti dirinya saat ini.

Senja memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk. Ia belum tahu akan jadi pasangan seperti apa kelak. Tapi ia tahu satu hal bahwa ia tidak ingin menjadi perempuan yang hanya ikut hidup. Ia ingin hadir dalam hidupnya sendiri.

“Om sering ke tempat seperti ini?” tanya Senja pelan.

“Tidak.”

“Kelihatan.”

“Kenapa?”

“Om duduknya seperti sedang rapat penting.”

Sagara menoleh. “Begitu serius?”

“Lebih serius.”

Sudut bibir Sagara bergerak sedikit. “Ini lebih penting dari rapat apapun.”

Senja terdiam. Lalu tersenyum kecil, lebih hangat.

Saat nama Senja dipanggil, ia refleks berdiri terlalu cepat. Sagara langsung menahan lengannya.

“Pelan.”

“Maaf.”

“Kamu tidak perlu minta maaf setiap kali tubuhmu bereaksi.”

Senja mengangguk kecil. Ia masih belajar.

Sagara bangkit. “Kita masuk.”

“Iya.”

Di ruang periksa, dokter menyapa ramah.

“Suaminya?”

Sagara terdiam sepersekian detik. “Calon,” jawabnya tenang.

Dokter tersenyum memahami.

“Silakan duduk.”

Perawat perempuan mendekati Senja yang berbaring di ranjang periksa dengan senyum tenang. “Sebentar ya, Mbak. Bajunya sedikit dinaikkan supaya perutnya bisa terlihat.”

Senja menegang seketika. Tangannya refleks menahan ujung bajunya. “Oh… iya.”

Gerakannya canggung, ragu, seperti seseorang yang belum sepenuhnya terbiasa tubuhnya menjadi pusat perhatian medis.

Perawat dengan lembut membantu, mengangkat kain gaunnya perlahan sampai atas perut Senja yang putih dan masih terlihat datar.

Sagara yang duduk tidak jauh dari Senja, langsung mengalihkan pandangan kala matanya tanpa sengaja menangkap kulit putih itu.

Matanya berpindah cepat. Terlalu cepat untuk disebut sopan biasa, terlalu sadar untuk disebut kebetulan. Ia memandang ke arah jendela kecil di ruangan itu, rahangnya sedikit mengeras.

Bukan karena tidak ingin melihat. Justru karena ia tahu, ada batas yang masih harus dijaga sebelum hubungan mereka sah di mata negara maupun agama.

Senja merasakan perubahan kecil itu. Wajahnya memanas, bukan karena malu berlebihan, tapi karena situasi yang terasa sangat pribadi. Ia menelan ludah pelan.

Perawat mengoleskan gel dingin di perutnya. “Sedikit dingin ya.”

Senja mengangguk. “Iya...”

Sagara tetap memalingkan pandangan, duduk tegak seperti penjaga, bukan penonton. Tangannya bertumpu di atas paha, napasnya teratur, tapi pikirannya penuh kesadaran bahwa tubuh Senja sekarang bukan sekadar tubuh seorang gadis muda. Di sanalah kehidupan lain sedang tumbuh.

“Bapak boleh melihat ke monitor,” kata dokter.

Sagara baru menoleh setelah itu. Matanya tidak langsung ke perut Senja, melainkan ke layar, ke gambar hitam putih yang samar, tapi sarat makna.

Perawat tersenyum kecil, seolah mengerti kecanggungan halus di antara mereka. Bukan canggung yang aneh. Melainkan canggung yang lahir dari rasa menghargai.

Senja melirik Sagara sekilas. Ia melihat pria itu menatap layar dengan serius, bukan tubuhnya. Dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa lebih tenang.

Ketika suara detak terdengar, Senja membeku. Matanya membesar. “Itu…?”

“Detak jantung,” jawab dokter. “Normal. Kuat.”

Air mata Senja berkaca-kaca.

Sementara Sagara diam-diam membatu. Untuk pertama kalinya, semua teori, logika, dan kendali yang ia bangun runtuh di hadapan suara kecil itu. Itu bukan konsep, tapi kehidupan.

Pemeriksaan berjalan perlahan.

“Semua terlihat baik,” kata dokter. “Janinnya sehat. Tapi mual masih wajar di usia kehamilan ini.”

Senja menghela napas lega. “Terima kasih, Dok.”

Sagara bertanya beberapa hal teknis, dengan nada serius seperti biasa. Tapi kali ini, bukan soal teori atau mesin, tapi tentang vitamin, nutrisi, jam istirahat.

Dokter sampai tersenyum. “Bapak teliti sekali.”

“Ini penting,” jawab Sagara singkat.

Saat keluar ruangan, Senja terlihat lebih ringan.

“Om…”

“Ya?”

“Terima kasih sudah ikut.”

“Aku memang harus ikut.”

Di lorong klinik, Senja tiba-tiba berhenti. “Om… boleh aku ke toilet sebentar?”

“Pergi. Aku tunggu di sini.”

Beberapa menit kemudian, Senja keluar dengan wajah sedikit pucat. Sagara langsung mendekat.

“Pusing?”

“Sedikit.”

Tanpa ragu, Sagara meraih botol air mineral dari tas.

“Minum.”

Gerakannya otomatis, refleks. Baru setelah itu ia sadar, ia sedang berdiri di tempat umum, memperhatikan seseorang dengan begitu jelas. Dan entah kenapa, ia tidak merasa canggung.

Senja meneguk air pelan. “Om kelihatan seperti seorang ayah.”

“Aku belum.”

“Tapi sudah terlihat seperti itu.”

“Oh.”

Senja terkekeh kecil. “Ayah Profesor.”

“Senja.”

“Iya, Om?”

“Jangan menambahkan jabatan aneh.”

Di parkiran, angin pagi bertiup ringan. Senja berhenti sejenak sebelum masuk mobil.

“Om…”

“Ya?”

“Aku… senang hari ini.”

“Hanya karena hasilnya baik?”

“Bukan. Karena aku keluar rumah. Aku merasa… seperti manusia normal lagi.”

Sagara menatapnya lama. “Itu memang seharusnya.”

Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, Sagara berkata, “Setelah ini, kita mampir beli buah. Dokter menyarankan.”

Senja tersenyum kecil. “Om tahu banyak sekali.”

“Aku belajar.”

“Untuk siapa?”

“Untuk orang yang duduk di sampingku.”

Senja menunduk, pipinya sedikit hangat.

Tidak malu. Lebih seperti… dihargai.

Mobil melaju perlahan, meninggalkan klinik. Kali ini perjalanan mereka bukan tentang menyelamatkan diri dari masa lalu, tapi tentang menyiapkan masa depan.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!