Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Istana Ke Ladang Desa
Hujan turun tanpa suara ketika sebuah koper lusuh tertutup rapat.
Alina Grace, gadis itu berdiri di tengah kamar luas yang selama delapan belas tahun ini ia tempati.
Lampu kristal di langit-langit masih menyala terang, tirai sutra masih tergantung rapi, dan aroma parfum mahal masih melekat di udara.
Semuanya tampak sama, kecuali dirinya.
“Mobil yang akan mengantarmu sudah menunggu di luar!”
Suara dingin itu datang dari pria yang dulu ia panggil Ayah.
Tidak ada lagi kehangatan ataupun tatapan lembut seperti yang dulu pernah ia rasakan.
Yang tersisa sekarang hanya jarak, seolah-olah keberadaan Alina adalah kesalahan yang baru saja disadari keberadaannya.
Alina menggenggam gagang koper.
Jemarinya bergetar, bukan karena dingin, tetapi karena kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.
Ia bukan putri kandung keluarga Kalingga, salah satu keluarga konglomerat di ibukota.
Satu kalimat itu telah merobohkan seluruh dunianya.
Tidak ada pelukan perpisahan.
Tidak ada air mata yang ditahan.
Ia diantar keluar seperti barang yang dikembalikan ke tempat asal.
Pria yang pernah ia panggil Ayah, wanita yang pernah dipanggilnya Ibu, serta dua pemuda yang pernah dipanggilnya Kakak.
Tidak ada satupun dari mereka yang mengantar kepergiannya.
Mereka sudah menerima kehadiran Lilia, putri kandung yang tertukar karena kesalahan pihak rumah sakit.
***
Mobil melaju menjauh dari gerbang besi yang menjulang tinggi, membawa Alina meninggalkan kehidupan mewah menuju sebuah desa yang bahkan tak pernah ia ingat.
Desa tempat tinggal orangtuanya
Desa yang seharusnya menjadi rumah baru baginya andai saja kedua orangtua kandungnya masih hidup.
***
Enam jam kemudian mobil yang membawa Alina tiba di sebuah Desa yang sangat sunyi.
Rumah kayu tua berdiri sendirian di tepi ladang, cat rumah itu mengelupas di sana-sini, atapnya bocor di beberapa bagian.
Alina berdiri terpaku di depan rumah itu di saat hujan yang turun mulai membasahi rambut dan bajunya.
Tidak ada yang menyambut kepulangannya.
Tidak ada yang memanggil namanya dengan hangat.
Ia benar-benar hanya berteman dengan keheningan.
“Jadi~, sekarang ini rumahku?”
Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh kerasnya suara hujan.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Ia telah kehilangan segalanya.
Status, keluarga, masa depan, bahkan kesempatan untuk mengenal orang tua kandungnya pun telah direnggut sebelum sempat terwujud.
Alina berjongkok di depan rumah, memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya ia menangis tanpa menahan diri.
Tangis seorang gadis yang dibuang oleh dunia.
Namun, tepat saat air mata gadis itu jatuh ke tanah, sesuatu yang aneh terjadi.
[Ding!]
Alina seketik tersentak.
Suara asing dan juga misterius tiba-tiba terdengar jelas di dalam kepalanya, suara yang mirip dengan sebuah mekanis, namun entah kenapa suara itu terasa~, nyata!
[Sistem Perdagangan Dunia Pararel berhasil diaktifkan.]
[Pengguna terdeteksi: Alina Grace.]
[Status Pengguna : Tidak memiliki aset. Tidak memiliki modal. Tidak memiliki perlindungan.]
Alina terdiam. Air matanya seketika berhenti mengalir.
“Apa~, apa yang barusan aku dengar?”
Layar transparan tiba-tiba muncul di hadapannya, melayang di udara.
“Degh~”
Jantung Alina berdegup kencang.
Bukan karena takut, melainkan karena terkejut, dan saat itu juga ia merasa sebuah firasat aneh yang tak bisa dijelaskan.
Saat ini yang ia ketahui adalah sesuatu telah terbangun di tengah kehancuran hidupnya.
Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Alina mengepalkan tangan.
Jika dunia telah membuangnya, maka ia akan membangun dunianya sendiri, bahkan jika harus dimulai dari ladang paling miskin sekalipun.
***
Pagi datang begitu cepat.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah atap rumah kayu, jatuh tepat ke wajah Alina Grace.
Ia perlahan terbangun dengan tubuh pegal dan perut kosong.
Lantai keras beralas tikar tipis menjadi saksi malam pertama tidurnya sebagai gadis desa, tanpa pelayan, tanpa selimut tebal, tanpa kemewahan.
Alina duduk perlahan, menatap sekeliling.
Rumahnya benar-benar kosong.
Tidak ada foto keluarga. Tidak ada perabot berarti, hanya meja kayu tua, satu kursi reyot, dan aroma lembap yang menempel di udara.
Semua terasa asing, namun semua itu nyata.
Satu yang tidak diketahui Alina, semua barang-barang yang seharusnya bisa digunakannya, semua telah dijual oleh Lilia sebelum gadis itu kembali ke keluarga kandungnya.
“Hah, ini lah hidupku sekarang,” gumamnya.
Ia bangkit berdiri dan melangkah pelan keluar rumah.
Begitu pintu rumah dibuka, di hadapannya terbentang ladang luas, tanahnya yang tampak subur namun tak terurus.
Rumput liar tumbuh tinggi, seolah sedang menunggu seseorang untuk kembali menghidupkan ladang yang lama mati.
Alina menarik napas dalam.
Setidaknya, ia masih hidup.
[Ding!]
Suara aneh itu kembali terdengar di kepala Alina
[Sistem Perdagangan Dunia Pararel aktif.]
[Memulai pemindaian lingkungan sekitar…]
Alina terkejut mendengar suara kaku mirip robot, namun kali ini ia tidak begitu terkejut ataupun panik seperti malam tadi.
Tiba-tiba sebuah layar transparan muncul di hadapannya, lebih jelas dar apa yang muncul semalam.
[Aset terdeteksi: Ladang kosong (kualitas rendah).]
[Sumber daya: Tanah subur tingkat dasar.]
[Modal saat ini: Rp0.]
Alina menghela napas panjang
“Sepertinya aku memiliki Sistem seperti yang ada di Novel.”
Namun sebelum ia sempat menanyakan lebih jauh tentang kegunaan Sistem miliknya, tiba-tiba saja~.
[Misi Awal: Perdagangan Pertama.]
Deskripsi: Lakukan transaksi lintas dunia pertama.]
[Syarat: Tidak memerlukan modal uang.]
[Hadiah: Akses pasar dasar, 10 Poin Sistem.]
“Tidak perlu modal?”
Alina mengerjap. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, secercah harapan itu muncul di hidupnya.
“Apa kira-kira yang bisa dijual tanpa uang?”
Ia menatap sekeliling ladan, menatap tanah, rumput, batu, dan, hasil alam lainnya.
Alina berjongkok, meraih segenggam tanah hitam yang lembap.
Tanah itu lembut, subur, dan beraroma khas tanah yang tentunya jarang ditemui di kota.
“Kalau di dunia ini tak berharga, belum tentu di dunia lain ini juga tidak berharga,” gumamnya.
[Ding!]
[Konfirmasi barang dagangan.]
Alina tersentak saat secara tiba-tiba, layar sistem menampilkan pilihan.
[Barang yang dapat diperdagangkan : Tanah subur (mentah), bibit rumput liar, Air sumur alami]
Ada tiga pilihan, dan saat akan memilih, tiba-tiba tangan Alina gemetaran.
“Tanah subur,” ucapnya pelan sambil menunjuk tulisan Tanah subur di layar Sistem.
[Ding!]
[Menghubungkan ke Pasar Dunia Pararel: Zona Pemula.]
Udara di sekeliling Alina tiba-tiba bergetar. Sekejap kemudian, layar berubah menampilkan deretan simbol aneh, bahasa asing, dan angka-angka yang terus bergerak.
[Permintaan tinggi terdeteksi.]
Dunia Tujuan: Dunia Arid-7 (dunia tandus).
Penawaran: 1 unit Tanah Subur \= 10 Poin Sistem.]
Seketika sepasang mata Alina membesar.
“Hanya segenggam tanah bisa menghasilkan sepuluh poin?”
Walau belum tau pasti kegunaan Poin Sistem, tanpa ragu ia langsung mengonfirmasi transaksi.
[Ding!]
[Transaksi berhasil.]
[Saldo diperbarui: 10 Koin Sistem.]
[Misi Awal selesai.]
Alina terdiam cukup lama.
Angin berhembus lembut, ladang miliknya tetap sama, begitu juga dengan dunianya yang tetap sunyi, tapi dalam diam ia yakin hidupnya akan segera berubah.
Tiba-tiba Alina menatap telapak tangannya.
Memulai hidup dari nol, bahkan memulainya dari menjual segenggam tanah.
Seketika itu juga ia tersenyum kecil.
“Kalau satu genggam tanah saja bisa laku sepuluh poin, bagaimana kalai aku menjual seluruh dunia? Mungkin aku bisa mendapatkan poin tidak terbatas!”
Ia tentu saja hanya berangan-angan, dan lagi Sistem tidak akan membantu menjual barang yang bukan miliknya, jadi hampir mustahil ia bisa menjual Dunia.
Di kejauhan, matahari perlahan naik, menyinari ladang yang selama ini terlupakan.
Dan untuk pertama kalinya, ladang itu bukan lagi simbol keterpurukan,
melainkan awal dari sebuah kehidupan baru seorang Alina.