NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 The Bleeding Silence

​Malam itu, Mansion Caelum terasa lebih dingin dari biasanya. Leo tidak bisa tenang. Keheningan Liora selama beberapa hari terakhir telah berubah menjadi siksaan psikologis baginya. Ia merasa seperti sedang berteriak di depan tembok yang kokoh; tak peduli seberapa tajam hinaannya, Liora tidak lagi memberikan reaksi. Tidak ada air mata, tidak ada balasan sengit, hanya tatapan kosong yang membuat Leo merasa seolah dirinya tidak eksis.

​Leo berjalan menuju paviliun belakang, tempat Liora sering duduk sendirian setelah pulang dari toko buku. Ia ingin mengganggu gadis itu, ingin memaksanya bicara, ingin memicu emosi apa pun—bahkan jika itu kemarahan—agar ia merasa masih memiliki kuasa atas Liora.

​"Masih mencoba menjadi martir yang malang, Liora?" suara Leo menggema di lorong sunyi.

​Liora sedang duduk di kursi kayu kecil, punggungnya menghadap Leo. Bahunya tampak sangat ringkih, turun karena kelelahan yang luar biasa. Ia baru saja pulang bekerja lembur dan berjalan kaki dari halte bus karena sengaja menghindari jemputan sopir yang dipaksakan Leo.

​"Kau terlihat sangat menyedihkan. Pakaian kusam, tubuh kurus, dan wajah yang seolah menanggung beban seluruh dunia. Kau pikir dengan bersikap seperti ini Ibu akan semakin mengasihanimu? Kau hanya membuat rumah ini terlihat seperti bangsal rumah sakit," Leo terus menghujat, melangkah perlahan mengitari kursi Liora.

​Liora tidak bergerak. Ia bahkan tidak berkedip. Matanya menatap lurus ke kegelapan taman di depannya.

​"Jawab aku, Liora! Jangan bertingkah seolah kau tuli!" Leo membungkuk, wajahnya tepat di samping telinga Liora. "Apa kau begitu menikmati penderitaan ini? Kau sangat egois. Kau membiarkan dirimu hancur hanya untuk membuatku terlihat sebagai penjahat. Bicaralah!"

​Leo hendak menyentuh bahu Liora untuk memaksanya berbalik, namun gerakannya terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang berkilau di bawah cahaya lampu taman yang temaram.

​Di tangan kanan Liora yang terkulai di atas lututnya, ada sebuah pecahan kaca besar dari vas bunga yang pecah tadi sore. Liora tidak hanya memegangnya, ia menggenggamnya. Sangat erat.

​Leo terpaku. Matanya membelalak saat melihat cairan kental berwarna merah gelap mulai menetes dari celah jemari Liora, jatuh satu per satu ke atas lantai marmer putih yang mahal.

​"Liora... apa yang kau lakukan?" suara Leo mendadak hilang kekuatannya. Getaran ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merambat di punggungnya.

​Liora masih terdiam. Ia tidak meringis kesakitan. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat ujung tajam kaca itu semakin menusuk telapak tangannya. Darah yang menetes semakin deras, menciptakan pola merah yang mengerikan di bawah kakinya.

​"Lepaskan! Liora, lepaskan kaca itu!" Leo panik. Ia segera berlutut di depan Liora, mencoba meraih tangan gadis itu.

​Saat tangan Leo menyentuh jemari Liora, ia merasakan betapa dinginnya kulit gadis itu. Liora akhirnya menoleh, menatap Leo dengan mata yang begitu hampa, seolah nyawanya sudah lama meninggalkan raga itu.

​"Sakitnya di sini," bisik Liora lirih, suaranya sangat datar hingga terdengar mengerikan. Ia menunjuk dadanya dengan tangan kirinya yang bebas, sementara tangan kanannya tetap menggenggam kaca itu hingga darah mengalir ke lengan bajunya. "Sakitnya di sini sudah terlalu banyak, Tuan Leo. Luka di tangan ini... tidak terasa apa-apa dibanding setiap kata yang Anda lemparkan setiap hari."

​"Lepaskan, kubilang!" Leo berteriak, suaranya pecah oleh keputusasaan. Dengan gemetar, ia mencoba membuka paksa jemari Liora satu per satu. Ia tidak peduli jika tangannya sendiri teriris, ia hanya ingin kaca itu keluar dari telapak tangan Liora.

​Saat kaca itu akhirnya jatuh ke lantai dengan bunyi denting yang memuakkan, Leo melihat luka yang cukup dalam di telapak tangan Liora. Ia segera merobek bagian bawah kemeja mahalnya sendiri dan membalut tangan Liora dengan kasar namun penuh kehati-hatian.

​"Kau gila! Kau benar-benar sudah gila!" umpat Leo, namun matanya berkaca-kaca. Ia mencengkeram bahu Liora, mengguncangnya pelan. "Kenapa kau melakukan ini?! Kau ingin menghukumku dengan cara seperti ini?"

​Liora hanya menatap perban darurat di tangannya, lalu kembali menatap Leo. "Anda ingin saya bereaksi, bukan? Anda ingin melihat saya menderita? Ini yang Anda inginkan, Tuan Leo. Melihat saya hancur berantakan. Sekarang Anda sudah mendapatkannya. Apakah Anda merasa senang?"

​Leo terdiam. Lidahnya kelu. Amarahnya yang biasanya meledak-ledak kini padam, digantikan oleh rasa bersalah yang mencekik tenggorokannya. Melihat darah Liora di tangannya, melihat kehancuran total di mata gadis itu, membuat Leo menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal: ia bukan sedang menghancurkan seorang musuh, ia sedang membunuh satu-satunya hal yang membuat dunianya yang gelap terasa memiliki warna.

​"Aku tidak..." Leo mencoba bicara, namun suaranya hilang.

​"Pergilah, Tuan," ucap Liora dingin, menarik tangannya dari genggaman Leo. "Biarkan saya tenang di dalam kehancuran saya sendiri. Anda sudah menang. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk Anda sakiti."

​Liora bangkit dan berjalan masuk ke dalam, meninggalkan Leo yang masih bersimpuh di lantai taman. Leo menatap noda darah di telapak tangannya sendiri, napasnya terasa pendek. Malam itu, untuk pertama kalinya, sang penguasa Caelum Empire menyadari bahwa keheningan Liora bukan sekadar mogok bicara itu adalah suara dari sebuah jiwa yang sudah benar-benar patah.

​"Bagi Liora, rasa sakit fisik adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia masih bisa merasakan sesuatu di tengah mati rasa yang diciptakan Leo."

​"Leo baru menyadari bahwa kemenangan yang ia dambakan adalah kekalahan paling mematikan bagi nuraninya."

​"Darah di lantai marmer itu adalah tanda tangan dari sebuah penderitaan yang tidak lagi butuh kata-kata untuk dijelaskan."

​"Leo ingin memiliki Liora sepenuhnya, namun ia justru mendapatkan sebuah cangkang kosong yang sudah tidak lagi takut pada kematian."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!