Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Hutan Terlarang
Langkah kaki Lin Xi terasa sangat ringan saat ia melintasi perbatasan Hutan Terlarang yang legendaris. Jika seminggu lalu ia masuk sebagai gadis penyaitan yang nyawanya di ujung tanduk, kini ia keluar dengan dagu tegak. Jubah kulit serigala hutan yang ia buat sendiri menutupi tubuhnya yang kini tampak lebih atletis dan berisi.
Di hadapannya, sebuah desa kecil bernama Desa Awan Kelabu terlihat dari kejauhan. Desa ini merupakan pemukiman terakhir sebelum memasuki wilayah Ibu Kota. Karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Hutan Terlarang, desa ini menjadi tempat berkumpulnya para tentara bayaran, pemburu binatang buas, dan pedagang obat-obatan.
"Hmm, baunya sangat khas. Bau keringat, darah, dan ambisi," gumam Lin Xi sambil menghirup udara luar hutan.
Saat berjalan, Lin Xi merenungkan perubahan pada tubuhnya. Pengetahuan medis masa depannya memberinya keunggulan, tetapi dunia ini berjalan dengan aturan yang berbeda: Energi Qi. Melalui ingatannya yang mulai pulih dan pengamatannya selama di hutan, ia mulai memetakan tingkatan kultivasi di dunia ini.
Memahami Tangga Kekuatan: Tingkatan Kultivasi
Di dunia ini, kekuatan seseorang tidak hanya diukur dari teknik bertarung, melainkan seberapa besar dan murni energi Qi yang tersimpan dalam Dantian (pusat energi di bawah pusar). Lin Xi mencatat ada beberapa tahapan besar yang harus dilalui:
Tingkat Penguatan Tubuh (Body Refining): Ini adalah tahap dasar bagi setiap manusia.
Tahap Penguatan Kulit: Kulit menjadi keras seperti kayu tua.
Tahap Penguatan Otot: (Posisi Lin Xi saat keluar dari gua) Otot memiliki daya ledak sepuluh kali lipat manusia biasa.
Tahap Penguatan Sumsum: (Posisi Lin Xi sekarang) Energi mulai meresap ke dalam tulang, membuat tubuh sangat ringan dan regenerasi luka menjadi sangat cepat.
Tingkat Pengumpulan Qi (Qi Condensation): Kultivator mulai bisa menarik energi alam ke dalam tubuh dan mengeluarkannya dalam bentuk serangan jarak jauh atau pelindung tubuh.
Tingkat Inti Bumi (Earth Core): Di tahap ini, energi Qi memadat menjadi sebuah bola kristal di dalam Dantian. Seseorang di tingkat ini bisa menghancurkan sebuah bangunan besar hanya dengan satu pukulan. (Jenderal Feng berada di tingkat ini).
Tingkat Inti Langit (Heavenly Core): Tahap di mana kultivator bisa mulai melayang di udara dan memiliki umur hingga ratusan tahun.
Tingkat Transformasi Roh (Soul Transformation): Sangat jarang ditemukan. Mereka adalah legenda yang bisa membelah gunung.
"Jadi aku baru di akhir tahap pertama? Menarik," pikir Lin Xi. "Meskipun aku baru di tingkat Penguatan Sumsum, dengan pengetahuan titik saraf dan racunku, aku berani menjamin bahwa kultivator Tingkat Pengumpulan Qi sekalipun bisa kubuat lumpuh dalam tiga detik."
Begitu memasuki Desa Awan Kelabu, penampilan Lin Xi yang eksentrik—gadis muda cantik dengan jubah kulit serigala—langsung menarik perhatian. Ia menuju sebuah kedai paling ramai untuk mencari informasi. Ia butuh tahu apa yang terjadi di Ibu Kota setelah hilangnya sang Kaisar.
"Pelayan, berikan aku air putih dan daging panggang paling cepat!" seru Lin Xi sambil duduk di pojok kedai.
Baru saja ia hendak menyandarkan punggungnya, tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian seragam berwarna hijau lumut mendekat. Di dada mereka terdapat bordir bunga lili—lambang Keluarga Cabang Lin yang bertugas mengawasi wilayah pinggiran.
"Hei, gadis hutan! Siapa kau? Beraninya kau membawa hasil buruan dari Hutan Terlarang tanpa membayar pajak pada keluarga Lin?" bentak salah satu pria yang memiliki bekas luka di pipinya.
Lin Xi tidak menoleh. Ia tetap asyik menuangkan air ke cangkirnya. "Pajak? Aku tidak tahu kalau hutan liar punya pemilik. Sejak kapan anjing-anjing kecil mulai berani menggonggong pada serigala?"
Suasana kedai seketika senyap. Para pemburu di meja lain menahan napas. Mereka tahu siapa orang-orang berbaju hijau itu—mereka adalah preman resmi keluarga Lin yang sering menindas penduduk desa.
"Kau cari mati!" Pria itu melayangkan tinjunya yang dilapisi sedikit cahaya kuning (Qi dasar tingkat penguatan kulit).
Sret!
Lin Xi bergerak dengan sangat tenang. Tanpa bangkit dari kursinya, ia menggeser kepalanya sedikit ke samping. Di saat yang sama, jemarinya bergerak secepat kilat, menusukkan sebuah jarum kayu yang sudah diolesi getah tanaman lumpuh tepat ke ketiak pria itu.
"Argh!" Pria itu mematung. Tangannya yang terkepal berhenti di udara, gemetar hebat sebelum akhirnya seluruh tubuhnya jatuh berdebum seperti nangka busuk.
"Kakak!" dua temannya yang lain kaget dan langsung mencabut pedang. "Beraninya kau menyerang pengawal keluarga Lin! Kau tahu siapa tuan kami?!"
Lin Xi berdiri perlahan. Aura dari Tingkat Penguatan Sumsum dilepaskannya sedikit, membuat suhu di sekitar meja itu terasa menekan. "Aku sangat tahu siapa tuanmu. Jenderal Lin, kan? Katakan padanya, jika anjing-anjingnya tidak tahu cara bersikap, aku tidak keberatan menyembelih mereka satu per satu untuk dijadikan santapan malam."
"Kau... siapa kau sebenarnya?!" tanya salah satu pengawal dengan suara gemetar.
Lin Xi melemparkan keping emas perak (hasil rampasan dari kantong salah satu penjahat yang ia temukan di hutan) ke atas meja. "Namaku? Kalian tidak perlu tahu. Cukup ingat wajah ini, karena sebentar lagi, Ibu Kota akan menjadi sangat berisik."
Setelah meninggalkan kedai dan para pengawal yang ketakutan itu, Lin Xi menuju ke sebuah apotek kecil di sudut desa. Ia butuh menjual beberapa Rumput Embun Surga untuk mendapatkan modal uang yang lebih banyak dan membeli pakaian yang lebih layak.
Ia tahu bahwa perjalanannya ke Ibu Kota akan penuh rintangan. Kabar tentang "Gadis Misterius yang melumpuhkan orang Lin" pasti akan sampai ke telinga keluarga utama lebih cepat dari perjalanannya.
"Biarkan saja mereka tahu," gumam Lin Xi sambil melihat lencana naga hitam milik Yan di dalam sakunya. "Lebih baik mereka bersiap-siap. Karena hantu dari jurang maut ini tidak datang untuk sekadar menyapa, tapi untuk meruntuhkan singgasana mereka."
Lin Xi tersenyum dingin. Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia telah menemukan cara untuk menjadi hakim, juri, sekaligus algojonya.