Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Bayu melihat anak buahnya yang bertingkah ceroboh tengah mengeroyok Ferry. Melihat anak buahnya dibawa pergi oleh anak buah Linda. Bayu pun membuntuti dari belakang. Hingga sampai di sebuah gedung.
Ternyata ini markas kalian? Tunggu kehancuran tempat ini.
Bayu tersenyum sinis menatap beberapa mobil memasuki halaman gedung itu.
Gedung sebuah komplotan motor bisa sebagus itu? Bayu meninggalkan gedung itu, tanpa peduli nasib anak buahnya. Karena ia tau, Linda tidak akan menghabisi mereka.
*Rose alias Linda, jangan menyesal telah menolak menikah dengan ku.
☘☘☘*
Kruuuyyyuuuukkkk
Terdengar nyanyian dari perut Linda. Satria yang tengah fokus menyetir, menoleh kearah Linda yang memegang perutnya.
Tanpa bertanya, Satria membawa mobilnya ke sebuah rumah makan terdekat.
Linda sedikit malu dengan perutnya yang sedang meminta perhatian itu.
Sampai di area parkir, Satria segera turun diikuti Linda. Keduanya menuju sebuah meja kosong lalu memesan beberapa makanan.
Sambil menunggu makanan datang, Linda memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu kepada Satria.
"Mmmmm, boleh aku tanya sesuatu?" Pinta Linda dengan wajah memelas
"Apa?"
"Apakah setelah menikah nanti, aku harus melayanimu di tempat tidur?" Sebenarnya Linda sangat malu menanyakan pertanyaan konyol ini.
"Kamu pikir tujuan kita menikah untuk apa?" Singkat Satria.
"Tapi,"
"Jangan bicara yang tidak masuk akal. Kalau kita tidak melakukannya, bagaimana akan ada bayi?" Ucap Satria dengan entengnya tanpa melihat ke arah Linda yang sudah menggembungkan kedua pipinya.
Mendengar kata bayi, Linda sudah mengkhayal kemana-mana. Dia merasa ini terlalu berlebihan untuk sebuah hubungan yang dinamakan nikah kontrak. Bukankah hanya menikah kontrak? Kenapa harus ada bayi?
"Apakah kamu sudah tidak sabar?" Goda Satria.
"Hahh eh em bukan begitu, aku hanya bertanya saja." Sambil menunduk malu, Linda mengalihkan pandangannya kesamping.
"Makanlah..." Tanpa terasa pelayan sudah menata rapi hidangan di meja mereka.
Sedikit rasa canggung membuat Satria mempunyai ide gila untuk menggoda Linda.
Dia menarik kursi ke samping Linda, lalu menarik wajah Linda kearahnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Jarak keduanya sangat dekat, sehingga membuat dada Linda sangat sesak seperti tertahan batu besar. Jantungnua semakin tidak terkendali. Seakan ingin melompat dari tempatnya karena terlalu gelisah.
Melihat wajah Linda yang memerah, Satria tersenyum lalu menjauh.
"Ayolah, jangan kaku seperti itu. Sebentar lagi kita akan menikah." Satria mencoba mencairkan suasana canggung itu, dengan omongan tidak jelas menurutnya.
"Kedudukan mu apa di genk itu?" Tanya Satria untuk mengalihkan rasa kesalnya. Karena usahanya tadi gagal, untuk menggoda Linda.
"Ketua," jawab Linda dengan entengnya sambil mencicipi hidangan di depannya.
"Apa nama genk mu?" Satria masih saja mengintrogasi calon istrinya.
"Scorpion." Kembali Linda menyuapkan makanan ke mulutnya, tanpa menatap Satria yang terlihat memikirkan sesuatu.
Satria tidak melanjutkan tanyanya lagi. Karena baginya itu tidaklah penting. Lagi pula semua informasi tentang Linda sudah ia dapatkan. Dia hanya mengetes apakah Linda akan jujur atau bohong.
Setelah memastikan bahwa Linda sepenuhnya jujur dan tidak menutupi apa pun padanya. Satria merasa senang dan sangat lega. Dipeluknya tubuh Linda yang tengah menyendok makanan.
Uhuk uhuk
Linda menepuk dadanya karena terkejut akan pelukan Satria yang tiba-tiba ini.
Satria segera melepas pelukannya dan meraih air minum untuk Linda. Kemudian mengusap lembut punggung Linda.
"Tolong jangan mengagetkan ku lagi dong. Kalau aku mati tersedak kan nggak lucu..." Protes Linda setelah merasa lega.
"Oke, lain kali tidak akan diulangi lagi." Satria kembali menghabiskan makanan di piringnya. Setelah berjanji tidak akan mengulangi tindakannya yang ceroboh ini.
Usai makan, keduanya kembali ke mobil untuk segera pulang.
"Mel..." seru Satria, saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Mmmm," jawab Linda singkat.
"Bagaimana kalau kita nikah besok aja?" Satria mengusulkan sesuatu dengan begitu santainya tanpa memikirkan perasaan Linda sama sekali.
Linda terkejut dengan ide gila Satria. Dikira nikah segampang beli kacang goreng apa? Main putusin besok aja. Emang ya kalo orang kaya itu bebas. Mau apa pun tinggal ucap. Duit tinggal gesek. Mau ini tinggal tunjuk. Dunia orang kaya memang menyenangkan. Pikir Linda.
"Hahhh kamu gila ya? Undangan, gedung, kathering. Semua sudah dipesan." Linda mencak-mencak menanggapi ide gila Satria.
"Iya itu kan resepsinya. Lagi pula kita sudah mendaftarkan ke KUA tinggal ijab kabul. Dipercepat pun tidak masalah." Satria masih kukuh dengan kemauannya. Kemauan yang menurut Linda di luar nalar manusia dari kasta bawah, seperti keluarganya.
"Nggak, pokoknya semua harus sesuai jadwal. Jangan main rubah gitu aja dong!" Protes Linda dengan mata melotot karena merasa dipermainkan oleh Satria.
"Ya gimana dong, aku sudah tidak bisa menahan untuk memciummu..." ucap Satria dengan enteng.
Satria mendekatkan wajahnya setelah tiba di halaman rumah Linda.
Belum sempat mengelak, Satria sudah mencium singkat bibir Linda. Serangan tiba-tiba. Itulah gaya Satria. Dimana pun dia selalu membuat Linda kesal dengan kejahilannya.
Wajah Linda langsung memerah, lalu segera keluar dari mobil diikuti oleh Satria yang tersenyum puas setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Melihat tingkah Linda yang berbanding terbalik dengan tadi saat dia mengajar orang dijalan, Satria merasa sangat senang. Karena yang dinikahinya adalah perempuan istimewa. Perempuan tangguh. Perempuan kuat. Dan teledor tentunya.
Keduanya pun sudah sampai di depan pintu rumah. Dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Mendengar suara pintu dibuka, kedua orang tua Linda segera ke ruang tamu.
"Kalian sudah kembali?" Ucap ibu Linda lembut.
"Sudah bu," jawab Linda dan Satria bersamaan kompak. Mencium punggung tangan orang tua Linda.
Lalu Satria pun segera pamit.
"Tidak makan dulu nak?" Tanya Ibu Linda.
"Terimakasih bu. Tadi kami sudah makan di jalan. Saya pamit dulu," Dengan sopan Satria meninggalkan rumah Linda.