NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Gelap yang Mendekatkan

Pukul delapan malam lewat sedikit. Makan malam sudah selesai, dan piring-piring kotor juga sudah dibantu bereskan oleh Keira bersama Bik Ani.

Sebagai pengasuh yang tahu tugasnya, Keira kini berada di kamar lantai dua yang disiapkan khusus untuk Mika.

Bocah kecil itu sudah berganti piyama dan sedang sibuk memeluk boneka kelincinya di atas kasur.

"Mbak Keira! Nanti Mbak Keira tidur di sebelah kiri, Mika di tengah, terus boneka kelinci di sebelah kanan, ya!" oceh Mika riang.

Keira baru saja keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi. Sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, dia menghampiri kasur.

"Iya, Mika. Tapi tidurnya yang anteng, ya. Jangan nendang-nendang."

"Gak bakal! Mika tidur anteng kok!" jawab Mika penuh percaya diri.

Keira terkekeh. Dia sudah cukup mengenal kebiasaan anak itu. Janji tidur anteng biasanya hanya bertahan sampai Mika benar-benar terlelap. Setelah itu, kaki kecilnya bisa bergerak ke mana-mana.

Belum sempat Keira naik ke kasur, terdengar langkah kaki dari koridor. Pintu kamar yang terbuka sedikit kemudian didorong lebih lebar.

Ian berdiri di ambang pintu dengan piyama yang sudah dikenakannya. Rambut hitamnya tampak sedikit berantakan, membuat penampilannya terlihat lebih santai dibandingkan saat mengenakan pakaian kantor.

Di tangannya ada sebuah selimut tambahan.

"Belum tidur?" tanyanya singkat.

Tatapannya bergantian melihat Mika dan Keira.

"Belum, Mas Ian. Ini baru mau nemenin Mika tidur," jawab Keira sopan sambil berdiri dari tepi kasur.

Mika langsung menoleh begitu melihat kakaknya.

"Mas Ian mau ikut tidur di sini gak? Kasurnya muat, lho, buat Mas Ian juga!"

Keira langsung salah tingkah mendengar pertanyaan polos itu. Dia buru-buru meletakkan telunjuk di depan bibir.

"Eh, Mika... gak boleh bicara begitu. Mas Ian kan beda kamar."

Sementara itu, wajah Ian mulai memerah.

Bukan karena memikirkan hal aneh-aneh, melainkan karena panik. Dia takut Keira salah paham dan menganggap dirinya punya niat macam-macam terhadap pengasuh adiknya sendiri.

Aduh, ini bocah kalau ngomong gak disaring dulu! Nanti si Keira mikir gua cowok mesum yang mau macam-macam lagi!

"Apaan sih, Dek..." Ian tergagap.

Karena terlalu panik, gaya bicara formal yang sejak tadi berusaha dipertahankannya langsung berantakan.

"G-gua tidur di kamar sebelah lah! Kasurnya sempit kalau ada gua. Nanti lu kegencet!"

Keira berkedip beberapa kali.

Lho? Kok Mas Ian tiba-tiba ngomong lu-gua?

Belum sempat Keira menanggapi, Ian sudah melangkah masuk dan meletakkan selimut yang dibawanya di ujung kasur.

"Nih, selimut tambahan. Udara di luar dingin banget. Entar lu berdua menggigil."

Keira menatap selimut itu, lalu tersenyum kecil.

"Terima kasih banyak, ya, Mas Ian. Sudah repot-repot bawa selimut."

Ian langsung mendelik kaku.

"Gua cuma gak mau adek gua sakit, bukan repot-repot buat lu! Udah, ya. Gua ke sebelah!"

Dia buru-buru berbalik, berusaha mengakhiri percakapan sebelum wajahnya semakin sulit disembunyikan.

Namun, baru saja Ian hendak melangkah keluar—

CRET!

JEGELAK!

Terdengar suara mesin genset dari luar vila yang mendadak berbunyi tidak beraturan. Lampu gantung di kamar berkedip beberapa kali, disertai bunyi denging pendek.

Lalu...

CKEK!

Seluruh lampu padam.

Kamar, koridor, bahkan seluruh bagian vila langsung gelap gulita. Tidak ada lagi cahaya yang tersisa selain kilatan petir sesekali dari balik jendela.

Suara hujan deras yang sebelumnya terdengar samar kini terasa jauh lebih nyaring dan mencekam.

"ASTAGA!"

Keira menjerit refleks.

Gadis itu memang tidak tahan berada di tempat gelap. Tanpa sempat berpikir panjang, dia langsung melangkah cepat ke arah sosok tinggi yang berdiri paling dekat dengannya.

GREB!

Kedua tangannya spontan mencengkeram lengan baju Ian. Keira merapatkan tubuhnya ke sisi pria itu, berusaha mencari pegangan di tengah kegelapan.

"M-Mas Ian... takut... ini gelap banget!"

Genggamannya semakin erat. Napasnya terdengar tidak beraturan.

"Aja lunga-lunga, inyong ora bisa ndeleng apa-apa!"

Ian langsung membeku.

Tunggu.

Dia barusan mendengar apa?

Keira yang biasanya berbicara sopan dengan kata 'saya' sekarang malah menggunakan 'inyong'.

Dia... dia ngomong inyong? Dia beneran setakut itu sampai gak mikirin sopan santun lagi?

Ian bahkan sempat lupa bahwa mereka sedang berada dalam keadaan gelap gulita.

Perhatian pria itu justru tertuju pada kedua tangan Keira yang mencengkeram lengannya. Jemari gadis itu terasa sedikit gemetar. Aroma lembut rambutnya juga tercium karena posisi mereka yang begitu dekat.

Jantung Ian berdetak jauh lebih cepat.

Sebagai pria yang sudah lama tidak membiarkan perempuan mendekatinya, situasi seperti ini benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat.

Kedua tangannya sempat menggantung kaku di udara. Ian bingung harus berbuat apa. Dia ingin menenangkan Keira, tetapi tubuhnya sendiri justru terasa canggung.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia mengumpulkan keberanian.

Perlahan, Ian menggerakkan tangannya dan menepuk punggung tangan Keira yang masih mencengkeram lengannya.

"Lu... lu gak usah panik."

Suaranya terdengar pelan di tengah suara hujan.

"Tangan lu gemeteran gini..."

Ian menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya.

"Gua di sini. Jangan takut."

Entah kenapa, kata-kata itu keluar begitu saja tanpa perlu dia pikirkan terlebih dahulu.

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!