Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Saat rumahnya mulai terlihat di kejauhan, bangunan sederhana dengan cat warna krem, pagar putih yang rapi, dan taman kecil di halaman depan tempat Rara biasa bermain, mata Erlyn kembali berkaca-kaca.
Ini rumahnya. Ini tempat paling aman di dunia baginya. Tapi kini, bayangan gelap dari masa lalu telah menemukan jalan menuju ke sini, berdiri tepat di ambang pintu, mengetuk dengan ancaman yang tidak bisa ia abaikan.
Erlyn berdiri sejenak di depan gerbang, menarik napas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya perlahan berulang kali. Ia merapikan rambutnya, mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dan menyusun senyum, senyum yang terasa begitu berat dan asing di bibirnya.
Jangan sampai mereka tahu. Jangan sampai mereka melihat betapa hancurnya dirinya saat ini. Demi mereka, ia harus kuat. Setidaknya untuk hari ini.
"Ibu..!"
Suara Rara terdengar riang dari halaman depan. Anak perempuannya berlari kecil menyambutnya, rambutnya yang dikepang dua terlihat berantakan di ujungnya, wajahnya berseri-seri seolah ibunya adalah orang yang paling ditunggu-tunggu di dunia ini.
Erlyn berlutut, menyambut pelukan hangat putrinya, dan memeluknya erat-erat, lebih lama dari biasanya. Menghirup aroma sabun mandi dan kehangatan tubuh kecil itu, mencoba menyerap sedikit pun kekuatan dari kehadiran anaknya yang polos dan tulus.
"Hai sayang," ucapnya lembut, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Tadi pulang sekolah nggak sama ibu nggak apa-apa kan ya? Maaf ya Ibu tadi agak lama keluar sebentar."
"Nggak apa-apa Bu. Ayah sudah pulang juga," jawab Rara ceria sambil menggandeng tangan Erlyn masuk ke dalam rumah. "Ayah lagi di dapur, katanya mau bantu siapkan makan malam."
Erlyn tersenyum tipis. Iqbal. Selalu ada di sana, tenang dan stabil seperti biasa.
Saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, ia melihat punggung suaminya bergerak di dapur, pria yang memberinya kehidupan baru, yang tidak pernah bertanya terlalu banyak tentang masa lalunya, yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat.
Rasa bersalah di hatinya semakin berat, menekan dadanya hingga ia nyaris tidak sanggup berdiri.
Bagaimana jika Iqbal tahu? Bagaimana jika ia tahu bahwa wanita yang ia cintai ini sedang diancam oleh masa lalu yang gelap, dan bahwa kebahagiaan mereka tergantung pada keputusan yang harus Erlyn ambil besok sore?
"Kamu sudah pulang," sapa Iqbal sambil berbalik, senyumnya yang hangat menyambutnya seperti biasa. Namun seketika itu juga, kerutan halus muncul di dahinya.
Ia meletakkan pisau dan sayuran di tangannya, lalu berjalan mendekat. "Kamu baik-baik saja? Wajahmu kelihatan pucat banget. Seperti habis melihat hantu."
Erlyn tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit dipaksakan bahkan oleh telinganya sendiri. Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu berjalan mendekat untuk memeriksa panci di atas kompor sekadar untuk mengalihkan perhatian.
"Cuma sedikit capek kok, Mas. Tadi jalanan agak macet, dan aku berjalan cukup jauh," jawabnya, berusaha menjaga nada bicaranya tetap tenang. "Nggak apa-apa. Nanti istirahat sebentar saja pasti sudah enakan lagi."
Iqbal menatapnya sejenak, matanya yang tajam namun lembut seakan meneliti setiap perubahan kecil di wajah istrinya.
Erlyn menahan napas, takut suaminya bisa membaca kebohongan yang tersembunyi di balik matanya yang mungkin terlihat cemas berlebihan. Namun Iqbal hanya mengusap bahunya pelan, lalu tersenyum lembut.
"Kalau begitu duduk dulu saja. Biar aku yang selesaikan dulu masaknya. Nanti makan malam siap dalam sepuluh menit lagi."
Sepanjang makan malam, Erlyn berusaha sekuat tenaga untuk terlihat seperti biasanya. Ia tersenyum saat Rara bercerita tentang teman-temannya di sekolah, mengangguk saat Iqbal berbicara tentang pekerjaannya, dan sesekali menyendok nasi ke mulutnya meskipun rasanya seperti menelan pasir.
Pikirannya terus berkelana ke kertas kecil di saku jaketnya, ke alamat yang tertulis di sana, ke ancaman Hendi yang terngiang-ngiang di telinganya: tepat pukul empat lewat lima belas menit, aku akan menekan tombol kirim.
Setelah makan, saat Rara sudah tertidur pulas di kamarnya dan Iqbal sedang mencuci piring di dapur, Erlyn duduk sendirian di teras belakang rumah. Langit sudah gelap, hanya ada sedikit cahaya bulan yang menembus awan.
Angin malam terasa dingin di kulitnya, membuatnya memeluk tubuhnya sendiri erat-erat.
Jika ia pergi besok sore, ia kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan. Ia kembali menjadi milik orang lain, dihina, dipaksa, diancam, dan mungkin tidak akan pernah bebas lagi.
Ia membohongi suaminya, menyembunyikan kebenaran hari demi hari, dan hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari nanti semuanya akan terungkap juga.
Tapi setidaknya, untuk sementara waktu, keluarganya aman. Rara tumbuh tanpa dibayangi rasa malu. Iqbal tidak hancur karena penampakan foto-foto yang memalukan. Kehidupan yang ia bangun tetap utuh.
Namun jika ia tidak pergi... semua foto lama itu akan tersebar. Iqbal akan melihatnya. Semua orang akan melihatnya. Cerita yang tidak adil akan tersebar, dan tidak ada yang akan mendengarkan penjelasannya.
Kepercayaan Iqbal yang selama sepuluh tahun ia jaga dengan susah payah akan hancur seketika. Rara mungkin akan ditatap aneh oleh teman-temannya. Kehancuran itu akan terjadi begitu cepat, begitu menyakitkan, dan ia tidak akan mampu menghentikannya.
Dua pilihan. Keduanya sama-sama menyakitkan.
Erlyn menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata akhirnya jatuh bebas tanpa bisa lagi ditahan. Bahunya terguncang hebat oleh tangis yang ia tahan agar tidak terdengar ke dalam rumah.
Mengapa setelah dua belas tahun berlalu, ia masih tidak bisa lepas dari bayangan pria itu? Mengapa pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup? Mengapa kebahagiaannya selalu tergantung di ujung benang yang dipegang oleh orang lain?
"Erlyn?"
Suara Iqbal terdengar pelan dari pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan teras belakang. Erlyn buru-buru menghapus air matanya, menoleh dengan senyum yang berusaha ia kumpulkan kembali.
Iqbal berdiri di sana, mengenakan pakaian tidurnya, dengan wajah yang terlihat khawatir. Ia melangkah mendekat, lalu berdiri di samping kursi tempat Erlyn duduk.
"Kamu menangis?" tanyanya lembut, suaranya tidak menghakimi, hanya penuh perhatian yang tulus.
Erlyn menggeleng, namun suaranya serak dan pecah sebelum ia bisa menahannya. "Cuma... terharu saja, Mas. Melihat Rara tidur nyenyak, melihat kita seperti sekarang. Kadang aku takut... takut semua ini hanya mimpi, dan suatu saat nanti aku akan bangun sendirian di tempat yang gelap dan asing."
Iqbal duduk di kursi sebelahnya, merangkul bahu Erlyn dan menariknya mendekat ke dada bidangnya. Kehangatan itu begitu menenangkan, hingga Erlyn semakin merasa dirinya pengecut karena menyembunyikan kebenaran darinya.
"Itu tidak akan pernah terjadi," bisik Iqbal. "Kamu nggak sendirian lagi, Erlyn. Ada aku. Ada Rara. Rumah ini bukan mimpi. Dan apa pun yang terjadi di masa depan, kita hadapi bersama. Jangan pernah memikul beban sendirian, ya? Aku suamimu. Kita satu tim. Selamanya."
Kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya. Satu tim. Selamanya.
Ia ingin berbicara. Ia ingin membuka mulutnya dan menceritakan semuanya. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan, tertimbun oleh ketakutan yang begitu besar.
"Makasih, Mas," ucapnya pelan, air mata masih menetes di pipinya, namun kali ini bukan hanya karena sedih, tapi juga karena rasa berterima kasih yang bercampur dengan rasa bersalah yang luar biasa besar. "Aku beruntung sekali memilikimu. Jaga Rara... jaga dirimu. Selalu."
Iqbal mencium keningnya, tidak menyadari betapa berat makna di balik kata-kata istrinya malam itu. "Selamanya. Sekarang masuklah, malam makin dingin. Jangan sampai sakit."
Malam itu, Erlyn berbaring di samping Iqbal yang tidur pulas. Ia menatap langit-langit kamar yang remang, menghitung detik demi detik yang berlalu.
Setiap detik yang berlalu berarti semakin dekat waktunya. Pilihan itu harus dibuat. Dan sekeras apa pun ia mencarinya, sepanjang malam itu, ia tidak menemukan jalan keluar yang tidak menyakitkan.
***
Pagi harinya, ia bangun seperti biasa. Menyiapkan sarapan, menyisir rambut Rara, mencium kening putrinya sebelum berangkat sekolah.
Setiap sentuhan terasa seperti perpisahan yang panjang. Setiap senyum terasa seperti yang terakhir.
Iqbal menatapnya sekali sebelum berangkat kerja, tersenyum seperti biasa, dan melambaikan tangan dari pintu depan. Erlyn berdiri di sana sampai kendaraan suaminya menghilang di tikungan jalan, lalu menutup pintu perlahan.
Erlyn duduk sendirian di sofa, menatap kosong ke arah jendela. Ia tahu ke mana ia akan pergi sore ini. Ia tahu apa yang akan korbankan. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih berharap ada keajaiban yang datang sebelum waktu itu tiba.
kuat2 ya kalian menghadapi orang kayak hendi 😖
kasih pencerahan biar otaknya gak mampet ngelanjutin service berkala untuk si hendi
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/