Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
— Daniel Mahendra —
Ketika kukatakan pada Emira agar kami berpacaran, aku sungguh-sungguh. Tapi setelah melihat reaksinya dan menimbang keadaannya saat ini, aku sadar telah salah langkah.
Pernyataanku terlalu mendadak, dan tentu saja bakal ditolak. Tapi aku tak ingin orang lain merebutnya dariku. Maka aku harus berimprovisasi cepat, memutar situasi canggung yang kuciptakan sendiri gara-gara dorongan bodohku.
Aku berdeham. "Ehem, ehem... maksudku bukan menjadi pasangan sungguhan."
"Maaf?... Lalu apa maksudmu?" tanya Emira.
Wajahku serius. "Bukankah kamu ingin membalas dendam atas semua yang membuatmu menderita? Dimulai dari keluargamu yang tak pernah memperlakukanmu layaknya manusia."
Emira mengepalkan tangan hingga membentuk tinju, dahinya berkerut marah. "Tentu saja aku ingin melakukannya..." Ia menunduk memandang lantai dengan tak berdaya. "Tapi bagaimana caranya, aku tak punya pengaruh, tak punya kuasa."
"Kalau begitu, manfaatkan aku."
Ia memandangku bingung. "Apa? Apa maksudmu?"
"Kalau kamu jadi kekasihku, kujamin seluruh harta keluarga Prawira akan jadi milikmu seorang."
Ia ragu. "Apa untungnya buatmu menolongku?... Dan apa jaminanmu bahwa kamu takkan mengkhianatiku seperti yang lain?"
Aku tersenyum. "Untungku banyak... tapi kalau kamu takut aku mengkhianatimu, mari kita buat kontrak, kamu boleh menambahkan apa saja yang kamu mau dan menghapus apa saja yang tak berkenan."
"Kontrak?"
Setelah dipikirkan masak-masak, Emira menyetujuinya, sebab ada kontrak yang mengikat di antara mereka, dan lagi pula tawaran yang kuajukan tak terdengar buruk baginya.
Setelah ia setuju, kuambil selembar kertas dan kuminta ia menuliskan pasal-pasal kontrak lebih dulu, lalu menyerahkannya kepadaku agar aku bisa menambahkan pasal-pasalku.
"Baik, sudah selesai, tinggal tanda tanganmu saja," ujarku.
________ KONTRAK _______
Pihak A dapat memperoleh 10% saham ketika Pihak B mengambil alih kendali perusahaan keluarga.
Pihak A dan Pihak B tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi masing-masing.
Pihak B akan tinggal terpisah dari Pihak A.
Jika Pihak A mengkhianati Pihak B, ia harus memberikan 20% dari keuntungan saham dan investasinya.
Pihak A dan Pihak B tidak boleh menjalin kontak dalam bentuk apa pun, meskipun "pasangan" hanya di atas nama.
Pihak A tidak menyetujui pasal 2, 3, dan 5 dari Pihak B.
Pihak A harus mengetahui segala hal yang dilakukan Pihak B, baik urusan pribadi maupun pekerjaan.
Pihak B harus tinggal dan tidur bersama Pihak A, meskipun keduanya sedang bertengkar.
Pihak A dan Pihak B harus melakukan kontak fisik dan bersikap mesra, baik di dalam maupun di luar rumah.
Selama menjalin hubungan, Pihak A dan Pihak B tidak boleh mencintai atau menyukai orang lain.
Jika Pihak A dan Pihak B melanggar kesepakatan ini, mereka wajib membayar denda dua belas triliun rupiah dan menyerahkan 90% saham perusahaannya kepada pihak yang dirugikan.
__ Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx __ ______________________
Daniel Mahendra (Pihak A) Emira Prawira (Pihak B)
Emira tersentak dan merona. "Daniel, apa maksud semua ini... aku menolak membuat kontrak ini kalau isinya aturan-aturan seperti ini."
Aku menjawab sinis. "Jadi kamu pikir kamu bisa mengelabui seluruh dunia, dengan tanpa menunjukkan kemesraan di depan publik?"
"Kamu bilang ini cuma di atas nama. Bukan berarti kita harus mela—"
Aku serius. "Kalau kamu tak bisa membuat orang-orang di sekitarmu percaya kita menjalin hubungan, kamu takkan bisa meyakinkan musuh-musuhmu."
Ia ragu. "K-kamu ada benarnya juga, tapi tak perlu sejauh itu. Pasal 8 dan 9 tidak perlu."
"Emira, supaya perannya meyakinkan, kita harus benar-benar menjadi sepasang kekasih. Lagi pula, kita tak boleh terlihat kaku atau merasa canggung saat harus menunjukkan kemesraan di depan orang lain. Kita harus tampak dan bersikap alami dalam situasi apa pun. Karena itu kita harus mulai dengan mengelabui para staf rumah ini."
Ia tampak tak nyaman. "Kamu benar..." Wajahnya merona dan ia berkata lirih, "tapi kamu harus memberiku waktu untuk menyiapkan mental menghadapi kontak fisik."
Aku mengangkat sebelah alis. "Apa?... Kenapa kamu perlu menyiapkan mental, memangnya aku menjijikkan di matamu?" Aku jengkel. "Atau karena kamu belum bisa melupakan mantanmu?"
"Bukan karena itu." Ia kesal. "Lagi pula aku tak punya perasaan padanya. Aku sadar rasa sayang yang dulu kumiliki padanya cuma pengaruh orang tuaku yang menggemblengku untuk menyukai apa saja yang ia sukai." Ia ragu-ragu. "Cuma... aku, cuma... aku..."
"Cuma apa?... Kamu, kenapa?"
Pasti dia akan bilang kalau aku menyentuhnya atau kami bermesraan, dia akan teringat mantannya. Kurasa aku belum siap mendengar kata-kata itu.
Hanya membayangkan Marko mencium bibirnya, dan bahwa sepanjang malam pria itu bisa menyentuh tubuhnya, aku dilanda amarah. Rasanya aku ingin pergi menghajarnya saat itu juga. Tapi wajar saja mereka pernah melakukan kontak semacam itu, bagaimanapun mereka pasangan resmi yang tinggal selangkah dari pernikahan.
Emira gugup sambil memilin-milin jarinya. "A-aku tak punya pengalaman, satu-satunya kontak fisik yang pernah kualami..." Ia malu, memejamkan mata erat-erat, lalu berbisik jelas, "adalah saat kamu menciumku."
Daniel terkejut sekaligus bingung. "Apa?... tidak, aku tidak mendengar bagian akhir ucapanmu."
Emira memalingkan wajah yang merona sambil memberengut. "Aku takkan mengulanginya. Kalau tadi kamu dengar ya syukur, kalau tidak ya biar saja."
"Baiklah... tak masalah, cukup tanda tangani saja." Setelah selesai menandatangani, kuberikan salinan kontrak itu kepadanya dan berkata dengan serius dan tenang, "Untuk kali ini kamu boleh tidur di kamar ini, tapi mulai besok kamu harus tidur bersamaku. Akan kusuruh makan malam diantar ke kamar sementara kamu mandi. Istirahatlah yang baik."
"T-terima kasih. Selamat malam," ujarnya.
Aku menjawab lembut, "Selamat malam, Emi."
Sekeluarnya dari kamar, kuperintahkan agar makanan diantar ke kamar tempatnya berada, dan agar pagi harinya pakaian kami dipindahkan ke kamar utama rumah ini.
Aku masuk ke kamar setelah makan. Lalu naik untuk mandi, dan setelahnya menghubungi Rocky, informanku.
* * *
Panggilan video.
"Bos, unggahan yang beredar sore tadi dibuat oleh orang tua Marko. Marko sendiri tak tahu. Setelah Anda pergi bersama Nona Emira, barulah ia tahu soal unggahan itu," lapor Rocky.
"Tak peduli bagaimana urutannya, aku tetap berniat merebutnya... Blokir segala informasi dan spekulasi apa pun tentang dirinya," ujarku.
"Baik, Bos. Tapi kenapa Anda begitu melindungi seorang gadis yang sudah bertunangan?"
"Gadis itu akan menjadi satu-satunya nyonya rumah ini, dan calon nyonyamu."
Rocky bertepuk tangan. "Plok, plok! Selamat, Bos, akhirnya Anda terbebas dari julukan si kasim." Ia mengejek. "Saya bahkan sempat meragukan orientasi seksual Anda. Soalnya Anda tak pernah tertarik atau bereaksi pada perempuan mana pun."
Aku geram. "Rocky, kamu mau mati, ya?"
"He he he... akan saya rayakan demi kehormatan Anda." Ia mengangkat gelas anggur. "Bahwa Anda sebentar lagi kehilangan kesucian."
"RO-CKY!"
* * *
Berani-beraninya orang gila itu menutup panggilanku. Tunggu saja sampai kamu ada di depanku.
Setelah menyelesaikan beberapa dokumen, Daniel merebahkan diri di ranjang. Ia tersenyum mengingat reaksi dan kata-kata Emira. Bahwa ia tak berpengalaman, dan bahwa ciuman Daniel adalah kontak fisik pertamanya. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa berterima kasih pada Marko yang tak pernah menyentuh Emira selama bertahun-tahun ini.