NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. Kesaksian Setengah Benar

Mei'er datang tidak lama kemudian. Ia memasuki Aula Qinzheng dengan langkah gemetar, mengenakan pakaian pelayan sederhana berwarna hijau pucat. Rambutnya disanggul rendah, tanpa perhiasan selain tusuk kayu. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua tangannya saling menggenggam erat di depan tubuh.

Begitu melihat raja, ia segera berlutut.

"Hamba Mei'er memberi hormat kepada Yang Mulia." Pelayan muda itu membungkuk dengan tubuh gemetaran.

Raja memandangnya dari atas singgasana.

"Apa benar kau pernah bertugas di sekitar Paviliun Fengyi?"

"Benar, Yang Mulia."

"Apakah kau mengenal pengawal bernama Shen Rui?" Cecar Raja Han Quan.

Mei'er menelan ludah.

"Hamba mengenalnya sebagai pengawal pribadi permaisuri." Jawabnya kemudian.

"Apakah kau pernah melihatnya memasuki Paviliun Fengyi pada malam hari?"

Mei'er terdiam.

Seketika, seluruh aula terasa semakin sunyi.

Lan Zifey berdiri di sisi kiri aula, menundukkan wajah seolah tidak ingin mencampuri pemeriksaan. Namun, dari sudut matanya, ia mengamati setiap gerakan pelayan itu.

Mei'er menunduk semakin dalam.

"Hamba..." Suaranya bergetar.

"Hamba pernah melihat Shen Rui berada di dekat paviliun pada malam hari, Yang Mulia." Lanjutnya dengan takut-takut

Raja menyipitkan mata.

"Seberapa sering?"

Mei'er menggenggam tangannya lebih erat. Kegelisahannya kentara tetapi saat sudut matanya melihat ke asrah selir Lan Zifey, ketakutannya lebih besar.

"Hamba tidak dapat memastikan jumlahnya. Tetapi hamba pernah melihatnya beberapa kali."

"Apakah kau melihatnya masuk ke paviliun permaisuri?" Pertanyaan Raja Han Quan membuat setiap orang yang berada di dalam ruangan itu menarik nafas.

Pelayan itu membeku. Di dalam dadanya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia merasa seluruh aula dapat mendengarnya. Ia teringat ibunya yang terbaring sakit. Teringat adiknya yang menunggu obat. Teringat janji yang diberikan Selir Lan Zifey. Dan teringat pula ancaman yang tidak pernah diucapkan secara langsung, tetapi cukup jelas untuk membuatnya takut. Ia menutup mata sejenak.

Kemudian, dengan suara yang nyaris patah, ia menjawab,

"Hamba... pernah melihatnya memasuki bangunan Paviliun Fengyi, Yang Mulia."

Hening.

Semua orang menahan nafas seolah sebilah pedang sedang menikam harga diri sang raja dan mereka dapat menyaksikan wajah raja penuh kemurkaan yang hampir meledak.

Raja tidak segera berbicara.

"Apakah...kau melihatnya memasuki kamar pribadi permaisuri?" Pertanyaan itu seolah tepat di jantungnya.

Mei'er merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia tidak pernah melihatnya. Ia tahu bahwa jawaban yang benar seharusnya adalah tidak.

Namun, di sudut aula, Lan Zifey perlahan mengangkat saputangan ke wajahnya.

Sebuah gerakan kecil.

Sebuah pengingat tanpa kata.

Mei'er menunduk hingga dahinya hampir menyentuh lantai.

"Hamba... tidak berani memastikan, Yang Mulia." Jawaban itu membuat beberapa pejabat mengerutkan kening.

Raja mengetuk sandaran singgasana, terlihat tak sabar.

"Aku bertanya apakah kau melihatnya memasuki kamar permaisuri?!"

Mei'er menggigil.

"Hamba tidak melihatnya secara langsung, Yang Mulia."

Lan Zifey menurunkan saputangannya. Wajahnya tetap lembut, tetapi matanya mengeras. Ia tidak menyangka pelayan itu akan mengucapkan kalimat tersebut di hadapan raja. Ia segera memahami bahwa masih ada jalan lain. Sebuah kesaksian yang setengah benar dapat diputarbalikkan menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Raja Han Quan memandang Mei'er dengan tajam.

"Kalau begitu, apa yang sebenarnya kau lihat?"

Mei'er mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca.

"Hamba hanya melihat Shen Rui berada di sekitar Paviliun Fengyi pada malam hari. Hamba tidak mengetahui apa yang dilakukannya setelah memasuki bangunan tersebut."

"Dan kau tidak melihatnya berada di dalam kamar permaisuri bersama permaisuri?"

"Tidak, Yang Mulia."

Keheningan kembali menyelimuti aula. Lan Zifey merasa dadanya menegang. Untuk sesaat, ia ingin menarik pelayan itu keluar dan memaksanya mengulang kesaksian sesuai rencana. Namun, ia tidak dapat melakukannya di hadapan raja. Ia harus mengubah arah. Maka, ia melangkah maju dan berlutut.

"Yang Mulia, hamba memohon agar Mei'er tidak dihukum karena ketidaktahuannya. Ia hanyalah pelayan kecil yang mungkin takut berbicara di hadapan begitu banyak pejabat."

Ia mengangkat wajah, membiarkan air mata kembali mengalir.

Ia mengangkat wajah, membiarkan air mata kembali mengalir.

"Hamba pun tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Hamba hanya berharap perkara ini diselidiki dengan saksama, demi kehormatan Yang Mulia dan ketenteraman seluruh istana." Kata-kata itu terdengar penuh kebajikan.

Ia seolah membela Mei'er. Ia seolah melindungi Wang Laoyin dari tuduhan yang belum terbukti.

"Tapi rumor yang beredar tak dapat kita redam, saya hanya mengkhawatirkan apa yang diketahui oleh pelayan ini, di ketahui lebih oleh orang lain. Dan ini bisa menjatuhkan nama baik kerajaan kita yang mulia dan kehormatan Tuanku Raja Yang Mulia..."

Raja Han Quan mengedarkan pandangan pada semua pejabat dalam ruangan itu, dia tahu benar dari wajah mereka terlihat kecurigaan yang membuat rajas Han Quasn merasa mual. Namun, justru dengan berpura-pura menjadi orang yang paling berhati-hati, Lan Zifey berhasil membuat seluruh aula memusatkan perhatian pada satu hal: Shen Rui memang sering berada di sekitar Paviliun Fengyi. Bukti itu belum membuktikan apa pun.

Namun, benih kecurigaan telah ditanam.

Dan benih tidak membutuhkan kebenaran untuk tumbuh, Ia hanya membutuhkan waktu sedikit untuk itu.

...***...

Setelah pemeriksaan Mei'er selesai, Raja Han Quan memerintahkan agar pelayan itu ditempatkan di bawah pengawasan kepala kasim sampai penyelidikan berlanjut. Menteri Kehakiman diperintahkan memeriksa seluruh catatan penjagaan, sementara para pejabat diminta tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Tetapi ketika orang-orang mulai meninggalkan aula, bisikan telah lebih dahulu menyebar.

"Pengawal itu sering terlihat di Paviliun Fengyi."

"Mengapa ia berada di kamar permaisuri?"

"Apa yang mereka lakukan di belakang raja?"

"Apakah ada sesuatu yang selama ini disembunyikan?"

Tidak seorang pun memiliki jawaban. Tetapi banyak orang telah mulai menyusun kesimpulan. Lan Zifey berjalan keluar dari Aula Qinzheng dengan langkah pelan. Wajahnya masih tampak muram, seolah-olah ia ikut menanggung beban kehormatan kerajaan.

Di bawah naungan koridor, seorang kasim muda telah menunggu. Ia membungkuk ketika Lan Zifey mendekat.

"Yang Mulia."

Lan Zifey tidak berhenti berjalan.

"Bagaimana keadaan di luar?"

Para pelayan mulai membicarakan kesaksian Mei'er. Kabar itu telah sampai ke beberapa kediaman bangsawan." Jawab kasim muda itu setengah berbisik.

"Bagus."

Satu kata itu keluar begitu lirih hingga hampir tertelan oleh suara angin. Kasim itu mengangkat kepala sedikit.

"Apakah Yang Mulia menghendaki hamba melakukan sesuatu lagi?" Tanyanya dengan mimik menjilat.

Lan Zifey berhenti di dekat sebuah pilar merah. Di halaman, beberapa pelayan sedang menyapu daun-daun gugur. Mereka bergerak tanpa mengetahui bahwa nasib seorang permaisuri sedang dipertaruhkan oleh percakapan-percakapan kecil yang tidak pernah mereka dengar secara langsung.

Lan Zifey memandang langit. Matahari telah naik lebih tinggi. Cahaya keemasannya menyentuh atap-atap istana, membuat seluruh bangunan tampak seperti istana para dewa.

"Ada kalanya," katanya perlahan, "sebuah kebohongan tidak perlu diteriakkan. Cukup dibisikkan kepada orang yang tepat, lalu biarkan mereka mengulanginya sampai mereka sendiri percaya bahwa itu adalah kebenaran."

Ia menoleh kepada kasim muda itu.

"Jangan lakukan apa pun untuk sementara. Biarkan mereka berbicara. Jangan hentikan rumor yang menguntungkan kita." Ucapnya sambil menyungging senyum tipis.

"Titah diterima." Kasim itu membungkuk dan pergi.

Lan Zifey kembali berjalan menuju Paviliun Zhaoyang. Ia tidak lagi menangis. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, dan senyum tipis mulai muncul di bibirnya.

Namun, sebelum mencapai pintu kediamannya, ia mendengar suara lonceng dari arah Paviliun Fengyi. Satu dentang. Panjang dan berat.

Lonceng itu dibunyikan untuk menandai dimulainya pemeriksaan resmi terhadap kematian Shen Rui. Lan Zifey berhenti.

Untuk sesaat, ia memandang ke arah paviliun yang tersembunyi di balik pepohonan. Ada sesuatu yang mengganggunya. Mei'er tidak memberikan kesaksian seperti yang telah direncanakan. Pelayan itu tidak berani mengatakan bahwa ia melihat Shen Rui memasuki kamar permaisuri.

Artinya, penyelidikan masih memiliki celah. Dan selama celah itu ada, Wang Laoyin masih memiliki kesempatan untuk membela diri. Lan Zifey menggenggam saputangannya erat-erat.

Tidak.

Ia tidak akan membiarkan perempuan itu lolos begitu saja. Ia telah menunggu terlalu lama untuk membiarkan satu pelayan ketakutan menghancurkan rencana yang disusun dengan begitu teliti.

"Qian Bei," bisiknya. Nama penasihat itu terasa seperti sebuah janji. Mereka harus berbicara. Segera. Sebab, jika Wang Laoyin berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, maka seluruh rencana yang telah dibangun selama bertahun-tahun akan runtuh.

Dan jika rencana itu runtuh, bukan hanya mahkota yang akan hilang. Nyawanya pun mungkin menjadi harga yang harus dibayar. Lan Zifey melangkah kembali ke dalam paviliunnya. Di belakangnya, sinar matahari menyinari Istana Weishan dengan keindahan yang hampir tidak masuk akal. Bunga-bunga mekar di taman. Air mengalir di kolam teratai. Burung-burung berkicau di antara pepohonan.

Namun, di balik dinding merah dan tirai sutra, perang yang jauh lebih berbahaya telah dimulai. Bukan perang dengan pedang. Bukan perang dengan panah melainkan perang dengan air mata, kesaksian palsu, dan kehormatan seorang perempuan yang perlahan-lahan sedang dikubur hidup-hidup. Dan pagi itu, Selir Lan Zifey telah memastikan bahwa ketika seluruh istana mulai mencari seorang pelaku, nama pertama yang mereka curigai adalah Wang Laoyin.

(Bersambung...🥰)

1
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
Rara
lanjut marathon
🌼EmeLBy🌼
lahir sudah putriku🤣🤣🤣
Suesant SW: iyaaaaa🤭
total 1 replies
Salsa
ratu yang di makzulkan
Salsa
panjang lagi tor💪
Li Ce
real banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!