NovelToon NovelToon
Terikat Takdir

Terikat Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Menikahi tentara / Perjodohan
Popularitas:158.9k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.

Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.

Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.

Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.

Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.

Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Ma_ti Lampu

"Saya kuliah di Universitas Brawijaya-Malang di fakultas ekonomi, jurusan kewirausahaan."

Faktanya memang benar seperti itu. Walaupun Alea lulus kuliah sedikit molor setahun karena saat itu ia sedang fokus pdkt pada Bisma.

"Bu komandan sekarang kerja atau buka usaha apa?"

"Siapa tau nanti bisa saling berbagi informasi lowongan kerja karena sebagian besar istri prajurit di sini cuma jadi ibu rumah tangga saja. Hanya beberapa orang saja yang kerja kantoran," lanjutnya.

"Saya juga sama seperti teman-teman sekalian di sini. Saya hanya ibu rumah tangga biasa dan memutuskan ke Jakarta untuk mengikuti serta mendampingi suami," jawab Alea.

Selanjutnya mereka semua terlibat dalam obrolan santai dan saling berjabat tangan untuk berkenalan dengan Alea. Sepanjang acara kecil itu Alea selalu menebarkan senyum kejujuran pada rekan sesama istri prajurit semuanya.

Bagi Alea, mereka semua adalah kawan seperjuangan dan tak ada perbedaan apapun baik pangkat yang disandang suami masing-masing. Kaya atau miskin, pendidikan sesama lulusan sarjana atau tamatan SMA bagi Alea semua itu tak penting karena hati yang tulus akan menemukan jalan sebuah persahabatan sejati.

"Bu Yuni ayo diukur dulu tubuh bu komandan agar punya seragam yang sama seperti kita," titah Bu Ratu.

"Baik, Bu Ratu."

Bu Yuni pun segera mendekat pada Alea dengan membawa sebuah buku tulis, pena dan meteran yang biasa digunakan penjahit pakaian.

"Maaf ya, Bu komandan. Izin mengukur," sapa Bu Yuni seraya meminta izin alias permisi.

"Silahkan, Bu Yuni."

"Bu Yuni ini istrinya Lettu Sigit. Rumahnya di sebelah rumah bu komandan," ucap Bu Dinda yang menjawab sebagai wakil di sana.

"Maaf saya belum sempat berkeliling sekitar rumah dinas karena semalam baru tiba di Jakarta," ucap Alea ke arah Bu Yuni.

"Enggak apa-apa Bu komandan. Saya mengerti. Maklum habis perjalanan jauh. Harusnya acara ini juga bisa diundur biar bu komandan bisa istirahat dulu barang sehari," cibir Bu Yuni sengaja dengan ekor matanya sedikit melirik ke arah tempat duduk Bu Ratu.

"Malang-Jakarta aku rasa masih dekat. Toh kita bisa lihat sendiri Bu komandan sehat dan segar bugar juga bisa hadir siang ini di sini," sahut Bu Ratu dengan tatapan sedikit tajam.

Alea pun akhirnya sedikit demi sedikit memahami situasi yang terjadi.

Alea menduga sepertinya ibu-ibu Persit di sana terbagi dua kubu. Satu yang berempati dengan kondisinya dan satu kubu yang tampak egois atau kurang menyukainya.

Alea tak mau terlalu ambil pusing karena di masa lalunya ia sudah terbiasa dibenci atau dicaci maki orang lain bahkan tetangga hingga teman-temannya akibat kejadian masa lalunya yang pahit. Hanya keluarganya sebagai tempat terbaik untuk berpulang dan selalu merangkulnya penuh cinta yang tulus apapun keadaan dirinya.

Acara pun selesai. Ibu-ibu Persit satu per satu telah pergi dari aula kecil itu termasuk Bu Ratu. Hanya menyisakan Bu Dinda dan Bu Yuni di sana bersama Alea.

Mereka bertiga sibuk membereskan sisa makanan dan sampah serta menyapu lantai aula.

"Biar kami saja yang bersihkan. Bu komandan bisa langsung pulang dan istirahat," ucap Bu Yuni yang tampak peduli pada kondisi Alea.

"Enggak apa-apa, Bu. Di rumah juga gak ada pekerjaan yang lain. Biar saya bantu-bantu di sini," sahut Alea.

"Oh ya bu komandan, nanti kurang lebih seragamnya baru jadi seminggu lagi. Semoga tidak mo_lor di penjahitnya," ucap Bu Dinda.

"Iya, Bu Dinda. Terima kasih banyak sebelumnya,"

"Kebetulan minggu depan ada acara pisah-sambut secara resmi di aula besar antara komandan yang lama ke Mayor Prabu dan Bu Alea. Semoga sebelum acara tersebut, seragam bu komandan sudah selesai."

"Semoga, Bu. Aamiin..." sahut Alea.

"Saya ucapkan selamat atas pernikahannya dengan Mayor Prabu. Semoga langgeng selalu sampai akhir hayat dan segera diberi momongan," ucap Bu Dinda.

"Aaminn..."

"Makasih banyak Bu Dinda atas doanya,"

Lalu, Bu Yuni juga turut serta memberi ucapan serta doa yang tulus atas pernikahan Alea dengan Mayor Prabu. Alea pun ikut terharu mendengarnya.

"Sebelumnya saya minta maaf sekali karena pertemuan hari ini tak membawa buah tangan apapun," ucap Alea.

"Ah, enggak apa-apa Bu komandan. Acara ini juga dadakan. Bener kan Bu Yuni?" sahut Bu Dinda.

"Iya, bener banget. Bu komandan tak perlu merasa bersalah. Santai saja bu," timpal Bu Yuni.

Lalu Bu Dinda meminta nomor ponsel Alea agar bisa dimasukkan ke dalam grup WA ibu Persit di komplek tersebut. Dengan senang hati Alea memberikannya.

☘️☘️

Malam hari tiba. Saat ini jam menunjukkan pukul sebelas malam. Prabu belum tampak batang hidungnya di rumah.

Alea sejak tadi ingin sekali menghubungi atau mengirim pesan pada Prabu hanya untuk sekedar bertukar kabar. Tangan Alea maju mundur di atas ponselnya. Namun pada akhirnya hal itu diurungkan.

Alea takut mengganggu kesibukan Prabu dalam bertugas menjaga para demonstran di Senayan.

Bik Sari sudah mengatakan agar Alea tidur saja karena Prabu terbiasa pulang larut malam jika ada demo seperti ini.

Kini Alea sudah berada di dalam kamarnya. Ia pun menyeka keringatnya yang bercucuran sejak tadi.

"Mas Prabu belum pulang juga sampai jam segini. Eh listrik mati pula! Udah dua jam lebih belum juga nyala!" keluh Alea yang perlahan merasa kegerahan.

Terlebih cuaca di Jakarta jauh berbeda dengan Malang. Jakarta panas, sedangkan di Malang terbiasa hawa dingin.

Ya, ada pemadaman listrik mendadak dari PLN. Alhasil kondisi komplek rumah dinas gelap gulita.

Beruntung Alea membawa lampu kecil yang menggunakan baterai sebagai sedikit pencahayaan di dalam kamar tidurnya. Walaupun remang-remang tak masalah baginya daripada gelap. Dikarenakan gelap sering kali membuatnya teringat akan kenangan pahit masa lalunya.

Sedangkan di kamar mandi, Alea sudah menyalakan lilin dari aromaterapi miliknya.

Bunyi kipas kecil yang berada di genggaman tangannya seketika memenuhi kamar tidur utama. Beruntung daya isi baterainya masih ada sehingga berfungsi sekali bagi Alea untuk mengurangi rasa gerah saat ini yang menimpa tubuhnya.

"Mandi saja lah. Siapa tau gerah ini semakin hilang," ujar Alea seraya bermonolog sendiri.

Hampir setengah jam Alea mandi dalam kondisi remang-remang karena listrik masih padam.

Ceklek...

Derit pintu kamar mandi dibuka oleh Alea.

Saat ini Alea hanya memakai handuk yang menutupi area tubuhnya mulai bawah ketiak sampai pa_ha atas saja. Sebab, tadi Alea terlupa membawa baju ganti ketika masuk kamar mandi. Sedangkan baju yang dipakainya tadi terkena cipratan air saat mencuci wajahnya di wastafel yang berujung basah.

Langkah kaki Alea begitu ringan dan santai layaknya di kamar pribadinya sendiri yang ada di Malang. Ia bergerak menuju lemari pakaiannya tanpa melihat sekitarnya.

Tanpa basa-basi Alea melepas handuknya. Kondisi polos tanpa sehelai benang pun. Seseorang yang kini tengah berbaring rebah di atas ranjang menatap dengan seksama yang dilakukan Alea di depan lemari baju.

Dalam cahaya remang itu, ia mampu melihat jelas kulit Alea yang putih mulus tanpa cacat atau goresan. Bahkan dari arah samping saja, ia bisa melihat dan memastikan bahwa area vi_tal di bawah perut istri barunya itu tampak bersih mirip bayi tanpa sehelai rambut, sepertinya Alea baru mencukurnya.

Dua mahoni kembar dengan pucuk membu_sung tampak padat menggantung di bagian da_da sang istri juga tak luput dari pandangan mata elang Prabu. Ia menelan salivanya dalam-dalam.

Prabu sama sekali tak menduga malam ini ia akan mendapati pemandangan tubuh Alea di bawah temaram redup kamar mereka seperti ini.

Suasana kamar yang gerah karena pemadaman listrik, mendadak terasa semakin panas. Entah mengapa di bagian resleting celananya, Prabu merasa penuh sesak. Sesuatu rasanya ingin meminta bebas.

Padahal dulu Prabu sering melihat Kinan telan_jang, bahkan mereka beberapa kali mandi bersama. Namun anehnya, si adik kecilnya di bawah sana tak bereaksi seperti malam ini.

Prabu pun tak habis pikir. Bingung sekaligus resah akan gai_rah dalam tubuhnya sendiri.

Alea saat ini sedang memakai celana da_lam warna hitam serta piyama tidur jenis terusan selutut tanpa lengan. Dikarenakan suasana listrik padam, Alea khawatir kegerahan jika harus tidur dengan piyama lengan panjang.

Selesai acara berganti baju, Alea menutup pintu lemarinya.

Deg...

Tiba-tiba tatapan kedua mata Alea seketika terkejut dan mendadak dunianya berhenti.

Alea mendapati sosok Prabu yang tengah berbaring di atas ranjang mereka dari pantulan cermin.

Sungguh ia tak menduga Prabu sudah pulang, bahkan ada di dalam kamar mereka. Otaknya segera berputar cepat ke belakang penuh tanya.

Sejak kapan suaminya itu pulang?

Apa suaminya melihat semua tadi yang dia lakukan di depan lemari baju?

Seketika Alea membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah sang suami yang tengah mematung melihatnya.

"Mas Pra_bu..." cicit Alea terbata.

Bersambung...

🍁🍁🍁

*Lanjut hari ini apa besok update nya?

1
Tuti Tyastuti
𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘭𝘦𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘢𝘣𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘨 𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢
Patrick Khan
hemmmz kan hamil lea
Patrick Khan
alea marah bawah an orok nya prabu😁😁
Tuti Tyastuti
𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘢𝘫𝘫 𝘱𝘳𝘢𝘣𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶 𝘢𝘭𝘦𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
semoga Saja Alea bahagia dengar berita kehamilannya 🤲
kalau masih marah sama Prabu mending pulang tempat ortu mu aja Alea 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
akankah terjadi perang 🤔
Ruwi Yah
semoga dengan kehamilannya membuat alea berpikir dia kali untuk pergi
Ruwi Yah
mending jujur aja mas Prabu sebelum alea benar2 kecewa dan memilih pulang ke malang
dyah EkaPratiwi
semoga Alea bisa menerima
Maharani Rani
lanjutt🥲🥲🥲🥲
Maharani Rani
lanjutttt
Lia Sakking
semoga cepat sembuh
Ariany Sudjana
selalu senang membaca novel kehidupan anggota TNI, karena almarhum papi saya juga anggota TNI, jadi banyak memori sewaktu masih tinggal di asrama dulu 😄🙏
Sugiharti Rusli
dan kalo pada akhirnya Alea dinikahi oleh Prabu, itu bisa jadi mereka sudah ditakdir kan berjodoh yah, apalagi yang pertama kali mengambil kehormatan Alea yah Prabu yang sekarang jadi suaminya dan bukan para preman,,,
Sugiharti Rusli
mungkin saat itu Prabu salah sudah menodainya, tapi dia juga kan dalam kondisi tidak sadar karena obat, dan setelah nya sang ayahlah yang berperan dan membohonginya selama ini,,,
mariammarife
Alhamdulillah Alea hamil mngkn si debay bisa meredakan kemarahan Alea
Sugiharti Rusli
bisa jadi emosi yang keluar karena hormon kehamilan si Alea sih yah, jadi dia ga berpikir dengan jernih sih,,,
Sugiharti Rusli
cuma sepertinya sekarang Alea sedang sangat sensi dengan kehamilan yang belum dia sadari sih, jadi bisa memicu pertengkaran kalo Prabu salah ucap,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Alea juga hanya mendengar separuh dari percakapan Prabu dan ayahnya dan semua masih belum utuh
Sugiharti Rusli
mau bagaimanapun kondisi mereka sekarang, mereka haris duduk bersama sih yah,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!