Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 terjebak di tengah pesta
Suara tembakan misterius yang mendadak memecah lampu sorot utama membuat halaman panti asuhan seketika gelap gulita.
Dalam kepanikan kilat, Rian dan pasukan setia Reza langsung memanfaatkan kegelapan dengan menembakkan granat asap pekat ke tengah barisan pengawal dewan.
"Amankan Maya! Cepat!" perintah Reza dengan suara menggelegar di tengah asap tebal.
Sebelum pasukan Sora sempat menguasai keadaan, Rian berhasil menerobos barisan penjaga, membekap pengawal yang memegang Maya, dan menarik gadis itu ke dalam jip lapis baja yang langsung tancap gas melesat pergi meninggalkan area panti asuhan di bawah hujan peluru bayangan.
Tiga hari kemudian. Situasi di kota berubah drastis. Alih-alih perang terbuka, dewan tetua mafia di bawah tekanan klan Burhan mengubah strategi.
Mereka mengadakan sebuah pesta malam perjamuan tahunan kelas atas di sebuah hotel termegah di pusat kota—sebuah acara formal yang wajib dihadiri oleh seluruh elite dunia bisnis dan hitam.
Tujuan mereka jelas: mempermalukan Reza di muka publik, memamerkan pencabutan kekuasaannya, sekaligus menunjukkan bahwa Sora kini berdiri sebagai ratu tunggal di sisi suaminya.
Di dalam sebuah kamar suite hotel mewah, Maya duduk terpaku di depan meja rias. Beberapa penata busana bayaran pesanan Sora tampak sibuk mendandani Maya secara paksa.
Gaun malam panjang berwarna merah darah dengan potongan elegan namun mencolok dipakaikan ke tubuh Maya, membuat penampilannya terlihat sangat kontras dengan isi hatinya yang hancur.
Pintu kamar mendadak terbuka. Sora melangkah masuk dengan balutan gaun malam putih berlian yang sangat mewah. Senyuman kemenangan terukir sempurna di wajah cantiknya.
Ia menyuruh para penata busana keluar, lalu berdiri di samping Maya melalui pantulan cermin meja rias.
"Cantik sekali..." puji Sora dengan nada mengejek. "Gaun itu cocok untuk seorang buronan yang sebentar lagi akan menjadi tontonan seluruh orang penting di kota ini."
Maya mengepalkan jemarinya di atas meja rias, menatap tajam bayangan Sora dari cermin. "Mau apa lagi kamu, Nyonya? Kenapa kamu memaksa aku datang ke pesta ini?"
Sora menepuk pelan pundak Maya. "Aku cuma mau memperlihatkan kepada dunia, bagaimana nasib seorang cewek biasa yang berani bermain-main di area para penguasa. Malam ini, di hadapan ratusan tamu undangan elite, suamiku akan berdiri di sampingku sebagai mitra bisnis dan suami yang sah. Dan kamu... akan dipajang sebagai buktinya."
Maya menelan ludah dengan susah payah, dadanya sesak luar biasa.
Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk, dan seorang pengawal menjemput Maya untuk turun ke ballroom utama.
Ballroom hotel itu sangat megah. Ratusan lampu kristal berkilauan menerangi ruangan yang dipenuhi oleh para pengusaha kaya, pejabat korup, dan para petinggi dewan mafia.
Musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan suara obrolan berkelas dari para tamu undangan.
Maya berjalan menuruni tangga utama dengan langkah berat dan gemetar. Kehadirannya langsung menarik perhatian seluruh orang di ruangan itu. Bisikan-bisikan tajam mulai terdengar dari para tamu.
“Itu kan cewek buronan yang jadi selingkuhan Reza...”
“Berani sekali dia muncul di sini...”
Maya menundukkan kepalanya, merasa telanjang dan terhina di tengah puluhan pasang mata yang menatapnya sinis.
Di ujung tangga, Sora sudah berdiri anggun berdampingan dengan Tuan Burhan dan para tetua dewan. Dan di samping Sora... berdiri Reza.
Pria itu tampak sangat memukau dengan setelan jas hitam formal berkerah tinggi. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, memancarkan aura dominasi yang tidak luntur sedikit pun meski kekuasaannya baru saja dibekukan dewan. Namun, saat tatapan mata hitam Reza menangkap sosok Maya yang turun mengenakan gaun merah di ujung tangga, sorot matanya berubah tajam—menyimpan badai kemarahan yang luar biasa besar.
Sora melangkah menyambut Maya, lalu dengan sengaja merangkul lengan Reza secara mesra di depan mikrofon panggung utama.
"Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat," sapa Sora dengan suara manis yang menggema ke seluruh penjuru ballroom.
"Malam ini, kita merayakan kembalinya stabilitas di kota kita tercinta, sekaligus meluruskan berbagai gosip murahan yang sempat beredar."
Sora menoleh ke arah Reza, lalu tersenyum manis ke arah Maya yang berdiri kaku di hadapan panggung.
"Suamiku, Reza, telah membuktikan kesetiaannya pada keluarga dan dewan tetua," lanjut Sora dengan nada penuh kemenangan.
"Dan sebagai bentuk pelajaran bagi kita semua, mari kita sambut malam perjamuan ini dengan kehadiran wanita yang sempat tersesat... si pelayan yang mencoba menjadi nyonya."
Seluruh tamu tertawa kecil mengejek. Wajah Maya memerah padam, air matanya mendesak ingin keluar karena rasa malu yang teramat sangat. Ia merasa hancur berkeping-keping.
Reza mengepalkan tangannya di balik jas hitamnya. Rahangnya mengeras sampai garis wajahnya menajam.
Ia menatap Sora dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, lalu mengalihkan pandangannya pada Maya yang berdiri tertunduk di bawah panggung.
Sora mendekati Maya, lalu berbisik tajam tepat di telinga gadis itu, "Bagaimana rasanya menjadi badut di hadapan orang-orang kaya ini, Maya?"
Maya mengangkat kepalanya, menatap Sora dengan mata berkaca-kaca namun penuh keteguhan.
"Aku memang cewek biasa, Nyonya... Tapi setidaknya, aku tidak perlu hidup dalam kepalsuan dan topeng kebohongan sepertimu."
Wajah Sora seketika berubah kaku, senyumannya meluntur mendengar balasan telak dari Maya
Sebelum Sora sempat melayangkan tamparan, Reza tiba-tiba melangkah maju menerobos panggung, menepis tangan Sora dengan kasar.
"Cukup, Sora!" bentak Reza dengan suara berat yang menggelegar ke seluruh ballroom, membuat musik berhenti seketika dan para tamu terdiam ketakutan.
Reza berjalan menuruni panggung, mengabaikan teriakan protes dari Tuan Burhan dan para tetua dewan. Ia menghampiri Maya, lalu tanpa ragu sedikit pun melepaskan jas mahalnya dan memakaikannya di pundak Maya untuk menutupi gaun mencolok itu.
"Reza! Apa yang kamu lakukan?!" murka Tuan Burhan dari atas panggung.
"Di hadapan dewan dan para tamu, kamu mempermalukan istrimu sendiri demi perempuan rendahan itu?!"
Reza menoleh sedikit, menatap tajam ke arah panggung dengan senyuman miring yang sangat mematikan. Ia merangkul pinggang Maya erat-erat, menarik gadis itu rapat ke sisinya.
"Istri?" ucap Reza dingin penuh penekanan. "Kalian semua salah besar kalau mengira saya tunduk pada permainan busuk kalian."
Reza merogoh saku jasnya, melempar sebuah map dokumen tebal tepat ke tengah lantai dansa ballroom.
"Mulai malam ini," kata Reza lantang dengan suara yang mencengkeram seluruh isi ruangan, "saya menyatakan keluar secara resmi dari sindikat dewan tetua... dan membubarkan seluruh aliansi keluarga Burhan!"
Semua tamu membelalakkan mata kaget. Sora dan Tuan Burhan pucat pasi.
Belum sempat para pengawal dewan bergerak, lampu ballroom mendadak berkedip padam, dan suara sirene peringatan bahaya berbunyi nyaring dari seluruh penjuru hotel mewah tersebut.
Bersambung.....