Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Ketakutan Raina
Kepala sekolah semakin panik. "Tuan, tolong!" Ia bahkan mencoba merangkak mendekati Sion. "Saya punya keluarga!"
Sion mundur selangkah. "Raina dan anak-anakku juga punya keluarga." Kalimat itu membuat kepala sekolah terdiam.
"Bedanya," lanjut Sion, "selama delapan tahun tidak ada seorang pun yang membelanya."
Tatapannya mengeras. "Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi."
Kepala sekolah kembali menundukkan kepala. Namun keputusan telah dibuat. Tidak ada permohonan, tidak ada alasan dan yang lebih penting tidak ada kesempatan kedua. Penyesalan memang selalu datang terlambat bersama karmanya.
Tidak sampai satu jam kemudian, perubahan besar terjadi di sekolah tersebut. Pihak yayasan segera mengirim beberapa guru pengganti. Seorang kepala sekolah baru juga tiba untuk mengambil alih posisi tersebut.
Seluruh proses pergantian dilakukan hari itu juga. Raina yang menyaksikan semuanya dari ruang administrasi hanya bisa menghela napas. Ia tidak menyangka Sion dan Kakek Edwin akan melakukan sejauh itu untuk membelanya dan juga anak-anak. Sean dan Shia duduk di sampingnya. Keduanya sudah kembali ceria. Apalagi Sion menjadikan bahwa mereka akan pergi ke taman hiburan bersama-sama.
"Jadi kita jadi sekolah di sini?" tanya Sean.
Raina tersenyum. "Kalau kalian mau."
"Aku mau!"
Shia ikut mengangguk. "Aku juga."
Sion yang berdiri di belakang mereka tersenyum kecil. "Kalau begitu selesai."
Dokumen pendaftaran akhirnya diselesaikan tanpa hambatan. Tidak ada lagi guru yang mempersoalkan status keluarga mereka. Tidak ada lagi tatapan merendahkan. Tidak ada lagi pertanyaan menyakitkan. Sean dan Shia resmi menjadi siswa baru sekolah tersebut, bahkan menjadi siswa yang akan paling disegani baik oleh guru maupun murid lainnya.
Ketika mereka keluar dari aula, Shia menggenggam tangan Raina. "Mamah."
"Hm?"
"Aku suka sekolah baru."
Raina tertawa kecil. "Padahal baru mendaftar, kalian bahkan belum masuk sekolah secara resmi."
"Hehehee… karena ada Papah di sini yang akan melindungi kita."
Sion yang mendengar itu langsung tersenyum. "Begitu? Bilang saja kalau kalian hanya ingin menjadikan aku sebagai tameng."
Sean mengangguk. "Papah memang galak dan cocok jadi tameng."
"Hei."
"Tapi sangat keren juga. Papah terkeren dan terhebat hanya kami yang punya. "
Sion terkekeh, sementara Kakek Edwin hanya menggeleng sambil tersenyum. Setelah urusan sekolah selesai, mereka kembali masuk ke mobil. Kali ini tujuan mereka berbeda. Rumah sakit… tempat hasil tes DNA Sean dan Shia telah menunggu.
“Sion, sudah waktunya kita pergi ke rumah sakit sekarang,” ujar Kakek Edwin mengingatkan.
Sion menatap Raina, lalu beralih pada kedua anak kembar mereka. Raina kemudian mengangguk pelan seolah mengatakan bahwa ia sudah siap untuk membuktikan identitas kedua anaknya sebagai anak kandung Sion.
...****************...
Beberapa puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah sakit. Sion turun lebih dulu. Ia membukakan pintu untuk Raina dan kedua anak mereka. Kakek Edwin turun terakhir. Namun begitu Raina mengangkat wajah menuju pintu utama rumah sakit… langkahnya terhenti.
Di dekat ruang tunggu, dua sosok sudah berdiri, Calista dan Lea. Keduanya menoleh hampir bersamaan. Tatapan Calista terlihat tenang, bahkan terlalu tenang seakan sudah menyiapkan sesuatu. Sementara Lea berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang membuat Raina merasa tidak nyaman. Seolah keduanya telah mengetahui sesuatu. Atau sedang menunggu sesuatu. Raina tanpa sadar menggenggam tangan Shia lebih erat.
Sion menyadarinya. "Ada apa?"
Raina tidak menjawab, tapi matanya masih tertuju kepada Calista. Kakek Edwin pun ikut melihat. "Kenapa mereka ada di sini?"
Calista tersenyum tipis. "Kami juga ingin mengetahui tentang kebenaran identitas kedua anak ini, Ayah."
Sion menyipitkan mata. "Kalian tahu darimana?"
"Dokter…" Lea kesulitan menjawab. "Dokter keluarga yang memberitahu kalau hasil tes nya sudah keluar. Jadi, kami datang untuk ikut melihatnya."
Sion tidak membalas. Ia hanya memandang keduanya dengan tatapan penuh kecurigaan. Sementara itu, Raina semakin gelisah. Hasil tes DNA nya pasti ada masalah, apalagi Calista dan Lea sudah berada di sini. Dan keduanya menunjukkan sikap yang sulit dibaca.
Pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya. Bagaimana jika... mereka mencoba melakukan sesuatu? Bagaimana jika hasilnya diubah? Bagaimana jika mereka telah menyuap seseorang? Raina menelan ludah, tangannya mulai dingin karena merasa tegang sekaligus takut.
Sion kembali menatapnya. "Raina."
Raina akhirnya menoleh. "Ya?"
"Kau kenapa?"
Raina ragu sejenak, kemudian berbisik, "Aku takut mereka melakukan sesuatu pada hasil tes."
Sion langsung memahami maksudnya, tatapannya berubah dingin. Ia berdiri lebih dekat kepada Raina. "Jangan khawatir."
"Tapi—"
"Aku akan memastikan sendiri." Sion menatap pintu ruang laboratorium. "Tak seorang pun akan menyentuh hasil itu sebelum kita melihatnya."
Kakek Edwin mengangguk. "Benar." Ia kemudian memandang Calista dan Lea. "Kalau memang kalian hanya ingin mengetahui hasil tes nya tanpa sembunyikan apapun, kalian tidak perlu gelisah."
Calista tersenyum. “Siapa yang gelisah, Ayah?"
"Justru aku penasaran untuk itu," jawab Kakek Edwin. Tatapannya tajam. "Kenapa kalian datang tepat sebelum kami mengambil hasil tes?"
Senyum Calista perlahan menghilang, Lea pun terdiam. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Sampai kemudian pintu ruang laboratorium terbuka. Seorang dokter keluar sambil membawa sebuah amplop putih.
"Tuan Sion?"
Sion maju. "Ya."
Dokter itu mengangguk. "Hasil tes DNA sudah selesai."
Tatapan semua orang langsung tertuju kepada amplop tersebut. Raina menahan napas. Sean dan Shia tidak memahami apa yang sedang terjadi. Kakek Edwin berdiri tegak. Sion mengambil satu langkah maju.
Namun sebelum dokter menyerahkan amplop itu, tatapan Raina kembali bertemu dengan tatapan Calista. Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di bibir Calista. Dan entah kenapa senyum itu justru membuat firasat buruk Raina semakin kuat.
Raina masih menatap amplop putih di tangan dokter itu. Entah kenapa, semakin dekat mereka dengan jawaban, semakin kuat kegelisahan yang memenuhi dadanya. Tatapan Calista tadi tidak bisa ia lupakan. Senyum perempuan itu seolah mengatakan bahwa semuanya sudah berada dalam kendalinya.
“Bagaimana kalau dugaannya benar? Bagaimana jika hasil tes DNA itu sudah dipalsukan?” Raina menelan ludah. "Sion..."
"Hm?"
"Kalau mereka benar-benar..."
"Tenang." Sion bahkan tidak terlihat panik. Ia justru berdiri dengan tenang di samping Raina.
"Kenapa kau bisa setenang itu?"
Sion meliriknya. "Karena aku sudah menduganya."
Raina terdiam sampai Sion kembali menjelaskan. "Sejak awal aku sudah tahu Calista tidak akan tinggal diam."
Tatapan Sion beralih kepada Calista. "Dia tidak akan membiarkan hasil tes ini menentukan posisi mereka tanpa mencoba mengubahnya. Karena itu, aku sudah mengambil tindakan."
"Apa?"
"Kau akan tahu nanti."
Raina mengerutkan kening. Ia sungguh tidak mengetahui bahwa beberapa hari sebelumnya, Sion telah memberikan perintah khusus kepada Falleo untuk memastikan tidak ada seorang pun yang dapat menyentuh sampel maupun hasil pemeriksaan.
Bersambung….