Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Apakah Semua Suami Sama?
Galih memiringkan posisinya di atas kasur, berusaha menutupi kedua telinganya menggunakan bantal kusam yang agak berdebu. Namun, sekat papan kayu yang terlalu tipis membuat suara-suara di sebelah kamar tetap menembus pendengarannya tanpa hambatan. Bayangan liar yang sempat hinggap di kepalanya membuat tubuhnya terasa sangat kaku dan tidak nyaman.
Akan tetapi, situasi di balik dinding itu mendadak berubah drastis hanya dalam hitungan menit.
Suara desahan lembut yang semula terdengar ritmis kini berganti menjadi nada suara tinggi dan sarat akan emosi. Nadanya tak lagi mendayu, melainkan ketus dan penuh amarah.
"Sudah kubilang, jangan sekarang! Kamu ini mengerti bahasa manusia atau tidak, sih?!" bentak suara wanita dari kamar sebelah.
"Alah! Banyak alasan kamu! Biasanya juga kamu tidak pernah se-rewel ini!" sahut suara pria dengan nada membentak tak kalah keras.
PRANG!
Suara benda berbahan kaca atau keramik menghantam dinding kayu terdengar menyengat. Bunyi pecahan yang berdenting keras di atas lantai semen membuat Galih tersentak kaget. Ia langsung terduduk di atas kasurnya, jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari sebelumnya. Rasa berdesir akibat imajinasi liar seketika sirna, berganti dengan ketegangan yang amat membekukan.
"Aww! Sakit! Lepasin tanganku! Jangan main kasar ya!" teriak wanita itu, disusul oleh suara tangisan yang mulai pecah dan tertahan.
"Makanya jangan memancing emosiku! Kamu yang mulai duluan!" gertak sang pria.
Isakan tangis yang semakin pilu bergema menerobos celah-celah sekat kayu. Galih mematung. Tangisan wanita yang disakiti itu memukul kesadarannya dengan sangat telak. Pikirannya melayang secara refleks, langsung bernostalgia pada bayang-bayang kelam di rumahnya sendiri.
Suara bentakan pria itu... nada dominan yang penuh paksaan... rasa tidak mau disalahkan... semuanya terasa begitu familiar. Itu adalah suara bentakan Hilman, ayahnya. Dan tangisan wanita di sebelah... terasa persis seperti tangisan Lastri, ibunya, setiap kali diseret atau ditampar oleh ayahnya di depan matanya sendiri.
Galih mencengkeram sprei kain yang ia duduki hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya, bercampur dengan rasa nyeri pada lebam di wajahnya. Rasa iba dan simpati mendalam menyelimuti dadanya. Ia ingin sekali menggedor dinding atau melabrak kamar sebelah untuk menolong wanita itu, namun posisinya sebagai penghuni baru yang tak punya kekuatan membuat niatnya tertahan.
'Apakah semua lelaki memang memiliki naluri untuk menjadi kasar?' batin Galih kelam. 'Apakah sifat pemarah, ringan tangan, dan keras kepala itu terpatri otomatis di dalam darah setiap pria?'
Pertanyaan itu berputar-putar liar di dalam kepalanya, menjelma menjadi ketakutan baru yang membayangi jiwanya. Galih memandangi kedua telapak tangannya yang gemetar. Ia takut. Sangat takut jika suatu hari nanti, ketika ia tumbuh dewasa dan memutuskan untuk memiliki pasangan atau berkeluarga, sosok raksasa pemarah seperti ayahnya akan bangkit dari dalam dirinya. Ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh menjadi monster seperti Hilman. Tapi melihat bagaimana pria di kamar sebelah dengan mudahnya membentak dan membuat wanita menangis, Galih merasa dunia ini seolah dipenuhi oleh pria-pria yang suka bertindak sewenang-wenang.
Cengkeraman rasa cemas dan perdebatan batin Galih mendadak terinterupsi oleh gejolak dari perutnya sendiri. Rasa lapar yang amat sangat menyengat pencernaannya. Maklum saja, sejak kemarin malam ia tidak menyentuh makanan sama sekali. Perjalanan jauh, ketakutan, serta energi yang terkuras akibat berlari membuat tubuhnya menuntut haknya.
Galih menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia sadar, memikirkan kerumitan dunia tidak akan mengisi perutnya yang kosong.
Galih bangkit berdiri dari kasur. Ia merogoh kantong kemejanya dan mendapati selembar uang lima puluh ribu rupiah pemberian Aldi. Dengan langkah pelan, ia membuka kunci pintu dan melangkah keluar dari kamarnya. Rencananya sederhana: ia ingin mencari warung kelontong terdekat di luar gang untuk membeli beberapa bungkus mie instan dan telur agar bisa mengganjal perutnya hingga malam nanti.
Saat ia baru saja mengunci pintu kamar dari luar dan membalikkan badan di lorong, langkahnya mendadak terhenti.
Dari arah pintu masuk depan kosan, terlihat sosok Indri sedang berjalan melintasi lorong. Namun, kali ini Indri tidak sendirian. Di sampingnya, berjalan seorang lelaki bertubuh agak tegap yang mengenakan jaket jins dan celana panjang. Lelaki itu merangkul pinggang Indri dengan cukup erat, sementara Indri menyandarkan kepalanya di bahu lelaki tersebut sambil tersenyum manja.
Galih terperanjat pelan. Pandangannya terpaku pada pasangan itu.
Indri yang menyadari keberadaan Galih di lorong memelankan langkahnya sejenak. Ia melempar senyuman tipis yang manis ke arah Galih, senyuman yang sama seperti saat ia menyapa Pak Yono tadi pagi, tanpa sedikit pun merenggangkan pelukannya pada lelaki di sampingnya.
"Mari, Mas..." sapa Indri ramah dengan suara lembutnya yang khas.
Galih yang kaget hanya mampu mengangguk patah-patah seraya mengumbar senyum canggung. "I-iya, Mbak..."
Galih memperhatikan langkah Indri dan lelaki berjaket jins itu. Mereka terus berjalan menyusuri lorong, melewati pintu kamar Galih, lalu berhenti di depan pintu kamar di ujung. Indri merogoh kunci dari tas kecilnya, membuka pintu kamarnya di ujung lorong, lalu masuk bersama lelaki tersebut.
Galih menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan pikirannya yang sempat kalut. Rasa ingin tahu tentang siapa sosok tetangga sebelah kamarnya tetap ada, namun rasa lapar mengalahkan segalanya. Ia merapatkan jaketnya, melangkah menyusuri lorong remang-remang itu, lalu berjalan keluar menuju area gang.
Atmosfer di luar kosan terasa sedikit lebih segar. Matahari siang mulai meninggi, memancarkan sinar hanGat yang menembus sela-sela dedaunan pohon mangga besar di halaman depan. Galih berjalan menelusuri jalanan paving gang sempit, memperhatikan deretan rumah warga sekitar sampai akhirnya menemukan sebuah warung kelontong sederhana di sudut jalan.
Seorang ibu-ibu setengah baya tampak sedang merapikan dagangannya saat Galih melangkah mendekat.
"Permisi, Bu... Beli mie instan sama telurnya," sapa Galih penuh kesopanan.
Ibu pemilik warung menoleh dan tersenyum ramah. "Eh, iya Mas. Mau mie apa? Goreng apa rebus?"
"Mie goreng dua bungkus, Bu. Sama telurnya dua butir," jawab Galih.
Sembari menyiapkan pesanan, mata ibu pemilik warung tak sengaja tertuju pada luka lebam kebiruan di pipi dan sudut bibir Galih. Raut wajahnya berubah sedikit prihatin, namun ia berusaha tak bertanya berlebihan.
"Totalnya jadi empat belas ribu rupiah ya, Mas," ucap ibu warung seraya menyerahkan kantong plastik hitam berisi pesanan Galih.
Galih menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari saku kemejanya. "Ini uangnya, Bu."
"Kembaliannya tiga puluh enam ribu ya, Mas. Terima kasih," kata ibu itu sambil menyerahkan uang kembalian.
Galih mengantongi sisa uangnya dengan cermat. Uang tunai ini terasa begitu berharga baginya saat ini. Tiap rupiah harus ia hemat sampai ia mendapatkan pekerjaan pertamanya di kota.
Dengan kantong plastik di tangan, Galih melangkah kembali menuju rumah kosan. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan.